Faktor Yang Menyebabkan Kekalahan Pasangan Ahok-Djarot Dalam Pilkada DKI

Ada lima faktor penyebab Ahok sampai kalah dalam putaran kedua, yang telah dibeberkan Eep Saifullah Fatah. Salah satunya adalah pemilih Ahok-Djarot yang terkarantina. Jumlah pemilih (orang yang memilih) Ahok-Djarot mengalami penurunan hingga hampir 14 ribu pemilih.

Kelihatannya Ahok-Djarot gagal merebut suara dari pendukung Agus-Sylvi yang dibawa oleh oknum kader PD untuk merapat ke Ahok. Dari hasil ini dapat dipastikan sebagian besar pemilih Agus-Sylvi menjatuhkan pilihannya kepada Anies-Sandi.

Kenaikan partisipasi jumlah pemilih justru menambahkan pundi suara Anies-Sandi. Pemilih beragama Islam yang berstatus floating mass, atau pun pemilih muda kelihatannya lebih condong meninggalkan Ahok.

Sementara itu juga, terjadi pergeseran pemilih nonmuslim yang justru lebih terkesan kepada pasangan Anies-Sandi dari pada Ahok-Djarot. Salah satu penyebabnya adalah faktor internal dari pasangan petahana itu sendiri yang kurang mempertimbangkan strategi perang secara baik.

Pilkada DKI 2017

Ketua KPU DKI, Sumarno, memberikan keterangan pers di hadapan para jurnalis yang terus ikut mengawal pelaksanaan Pilkada DKI 2017

Dalam debat, Ahok-Djarot tampil tidak maksimal. Sebaliknya, Anies-Sandi tampil elegan dengan bahasa-bahasa yang cukup baik. Kemampuan seperti ini tidak dimiliki oleh Ahok dan Djarot.

Anies dengan mudah melalap semua pertanyaan dan mengembalikan secara jitu setiap ada tanggapan yang diarahkan kepada mereka. Anies yang malang melintang di berbagai lembaga dalam dan luar negeri, menempanya menjadi komunikator ulung.

Di bawah tekanan

Pemilih Anies bukan hanya kaum terpelajar, akan tetapi hampir semua lapisan masyarakat semakin terkesan terhadap penampilan Anies yang dingin.

Sementara Ahok seperti seorang yang berada di bawah tekanan ketika tampil di depan kamera. Ekpresi wajah Ahok mengesankan sikapnya yang sulit menerima tantangan. Gaya bicaranya selalu dalam nada tinggi.

Banyak sisi baik yang dimiliki Ahok, akan tetapi menjadi sirna akibat ulah dari cara-cara pada “cyber” mereka dalam mengampanyekan Ahok. Isi pesan yang bertebaran di media sosial malah menjadi bumerang sehingga pemilih yang semula belum memantapkan pilihan, beralih kepada Anies-Sandi.

Cara-cara berlebihan yang dilakukan timnya justru menghancurkan reputasi Ahok. Ini boleh jadi sebuah blunder yang menimbulkan eksodus pendukung Ahok ke Anies.

Yang dilakukan, sebagian sangat tidak pada tempatnya, yaitu, dengan mempermainkan dan melecehkan agama. Baik melalui foto-foto, meme, maupun melalui kata-kata yang bertebaran di dunia maya. Entah facebook, twitter, line instagram dan lain sebagainya, yang diungguh secara masif.

Langkah ini banyak merugikan Ahok sendiri. Itu lantaran banyak isu-isu sensitif yang tidak perlu ditampilkan dalam postingan, namun dipaksakan.

Langkah antisipatif

Bukan hanya pemilih muslim, yang nonmuslim juga merasa jengah dengan cara yang ditempuh timses Ahok-Djarot; akibatnya malah menghilangkan simpati.

Faktor agama dianggap salah satu yang juga menjadi penyebab kekalahan Ahok-Djarot. Tapi hal tersebut tidak menjadi faktor yang paling dominan dalam kemenangan Anies.

Karena pihak Ahok juga melakukan berbagai langkah antisipatif. Salah satunya dengan memerbanyak wanita berjilbab dalam barisan pendukungnya. Peran tokoh berbagai agama dan tokoh masyarakat dalam barisan Ahok, juga tidak berhasil membangun citra Ahok di mata pemilih. Meskipun efektif, tapi ikut menggemingkan suasana.

Pendukung Anies-Sandi juga banyak melakukan kesalahan, akan tetapi mereka tidak masuk ke wilayah yang terlarang. Tidak sekali-kali pun menyinggung masalah keyakinan orang lain. Terutama terkait dengan agama petahana dan mayoritas pendukung Ahok.

Bukan menghujat agama pihak lain seperti banyak ditampilkan oleh pendukung Ahok. Yang diangkat adalah masalah penampilan “pribadi” Ahok, predikat kepada pendukung Ahok dan menyerang pendukung Ahok dengan bermacam cara. Terjadi perang gambar; perang meme dan perang kata-kata. Namun itupun sangat berlebihan untuk ukuran budaya.

Secara “de facto

Satu hal lagi yang tidak boleh dilupakan adalah peran Megawati. PDIP yang datang belakangan ke dalam koalisi, secara “de facto” mengambil alih kendali pimpinan koalisi yang sudah berjalan.

Dengan jumlah kursi yang sangat signifikan tidak ada masalah jika Mega bersama PDIP memimpin koalisi, akan tetapi penampilan dan ucapan Megawati, dinilai banyak orang, terlalu banyak porsi.

Peran Megawati, sebagai ketua umum PDIP, yang terlalu dominan, menimbulkan respons negatif dari masyarakat. Megawati yang pamornya mulai meredup semakin tenggelam ke dalam segara yang dibuat bersama elit PDIP lainnya.

Ada satu hal lagi yang ikut memengaruhi, yaitu, sikap pers Indonesia yang cenderung berada di belakang Ahok. Ini bisa terjadi karena ada kesamaan di antara mereka dalam beberapa hal. Jadi tidak heran, lawan Ahok menjadi bulan-bulanan pers yang disebut-sebut berkategori mainstream.

Yang menggelikan lagi adalah pers selalu menutup mata atas segala kebaikan yang dilakukan Anies-Sandi bersama pengikutnya. Sehingga masyarakat hanya memperoleh informasi dari sumber yang sangat terbatas.

Reaksi yang timbul adalah masyarakat menganggap pers tidak lagi objektif dan telah meninggalkan visi misinya untuk mencerdasakan dengan menyajikan berita yang berimbang; “check and cross check“.

Sikap pers ini menjadi mata panah yang berbalik arah menghunjam seluruh perangkat serta modal politik yang dimiliki Ahok, yang sebetulnya telah terbangun bertahun-tahun.

Running well

Kekalahan Ahok menjadi lengkap ketika mesin partai koalisi tak berdaya mengimbangi mesin partai Partai Gerindra dan PKS bekerja efektif dan “running well“.

Pilkada DKI memang baru saja berlalu. Semula KPU dan Bawaslu diragukan akan dikendalikan, ternyata tidak terbukti. Pertemuan dengan masing-masing pasangan calon gubernur dan wakil, di tempat yang berbeda,  sebelum pelaksanaan pemilihan putran kedua, tidak memengaruhi pendirian KP dan Bawaslu DKI.

KPU dan Bawaslu DKI dapat bekerja all out dan menempatkan diri pada posisi yang netral, serta mampu membebaskan diri dari iming-iming politik uang. Meskipun masing-masing pasangan, baik Ahok-Djarot maupun Anies-Sandi, sempat menyampaikan keraguan mereka.

Ahok-Djarot mencurigai agenda pertemuan KPU dan Bawaslu DKI dengan Anies-Sandi; sebaliknya Anies-Sandi juga merasa tidak nyaman terhadap langkah KPU dan Bawaslu DKI bertemu dengan Tim Ahok bersama petinggi partai koalisi.

KPU dan Bawaslu DKI saat ini, pantas mendapatkan apresiasi. Bukan hanya dari masyarakat Jakarta, melainkan juga dari masyarakat nusantara. Profesionalisme yang ditunjukkan KPU dan Bawaslu DKI kiranya perlu dicontoh oleh seluruh KPU dan Bawaslu yang ada di seluruh Indonesia…*.