Antiklimaks Petualangan Politik Ratna Sarumpaet

Jejak perjuangan aktivis ini sangat bervariasi. Di awal reformasi Ratna jadi sosok yang selalu berseberangan dengan “Islam”. Dia lebih dikenal sebagai aktivis “merah”.

Beberapa kali dia tampak memimpin demonstran yang menolak setiap undang-undang yang yang didukung umat Islam. Di antaranya adalah undang-undang antipornografi.

Dia bukan hanya frontal, tidak hanya lantang. Tapi juga punya nyali. Dia sosok perempuan pemberani. Pemikiran keagamaan, baginya bukan pemikiran demokrasi. Sehingga ianya tidak bisa dicampuradukkan. Tidak jalan.

Sebaliknya, umat Islam juga punya persepsi tentang Ratna. Mereka terpaksa menempatkannya sebagai salah seorang Indonesia yang sangat memusuhi Islam.

Topeng monyet

Topeng sering dimanfaatkan untuk menutup identitas diri manusia yang asli

Apa pun yang berupa aspirasi umat pasti salah di matanya. Pasti tidak cocok dengan situasi kekinian. Pasti ditentangnya.

Pejuang emansipasi wanita

Ratna adalah seorang aktivis Hak Asasi Manusia. Dia mengakui selalu memposisikan diri saya melawan kekuatan apa pun yang menghancurkan kemanusiaan, alam, kebebasan. Dan banyak lagi.

Tapi dia bukan sekadar bicara. Bukan cuma wacana. Dia memang betul-betul bekerja. Menyuarakan dengan keras hak-hak masyarakat yang dibelanya.

Boleh dibilang, dia adalah pejuang emansipasi wanita terdepan di negeri ini. Karena posisinya yang demikian, maka dia pun punya pandangan politik.

Sejak pemilu langsung pertama, Ratna sudah jelas kecenderungannya. Dia dengan tegas memosisikan dirinya sebagai pendukung aliran ultranasionalis. Dalam pilkada DKI, Ratna ada dalam barisan “kotak-kotak”. Ini ciri khas pasangan Jokowi-Ahok.

Waktu itu, Partai Gerindra ada di sana. Prabowolah yang membawa Basuki Tjahja Purnama (Ahok) menjadi wakil Jokowi. Mungkin ini awal persentuhan politik antara Ratna Sarumpaet dan Prabowo bersama Partai Gerindranya.

Muncul berita tentang persekusi Ratna benar-benar booming. Konteksnya masuk ke dalam arus politik. Media pun jadi gonjang ganjing.

Timbul keprihatinan di mana-mana. Mulai pegiat hukum dan feminisme hingga para tokoh ikut berkomentar. Indonesia seperti sedang bersedih.

Menciptakan antiklimaks

Belum sembuh luka Lombok dan Palu, kini muncul luka baru. Belum tuntas masalah penyerangan Novel, kini muncul kasus penyerangan terhadap Ratna Sarumpaet. Hukum dan keadilan di negeri ini seperti benar-benar sedang diuji.

Kejadian itu berlangsung begitu cepat. Puncaknya Ratna bikin pernyataan. Bahwa dia bohong. Ini sesuatu yang gila. Setelah membiarkan orang-orang tertipu dia dengan mudah meminta maaf.

Padahal dampak dari perbuatan Ratna sudah sangat jauh. Belum lagi hal ini ini telah memicu perang serapah di media sosial begitu meluas.

Mungkin kita tak perlu berandai-andai lagi. Meski belum gamblang, tapi si “pencipta hoax”, sudah minta maaf. Mencari penyebab juga sudah tak begitu penting. Hanya Ratna yang tahu alasan dirinya berbohong.

Adakah ini berkaitan dengan pengkhianatan, infiltrasi, atau sebagai upaya mencemarkan nama baik….? Entahlah, yang jelas Ratna telah menciptakan antiklimaks dari sebuah permainan yang diperankannya.

Dia bukan hanya membedah wajahnya, tapi juga telah membedah identitas aslinya. Dan yang terlebih penting, sebetulnya, sejak dulu Ratna memang sudah memiliki habitatnya tersendiri…*.

Menyongsong Pemilihan Umum Indonesia 2019

This is the 4th presidential and vice presidential election in the post-reform era. Or the ninth president of the Indonesian Republic.

Determination of the vice-presidential candidate was clear. Petahana Jokowi paired up with Ma’ruf Amin, an elder kyai from the Nahdhiyin circles; NU. This pair is carried by 8 parties.

While Prabowo-Sandiaga was carried by a four-party coalition, namely: Gerinda, PAN, PKS and Democrats.

Prabowo-Sandi is supported by scholars from various understandings. While the incumbent besides the ulama (especially NU), is also still supported by a group of businessmen who are classy as the conglomerates.

General election

Mascot of the 2019 Republic of Indonesia general election

They are also media owners. Financially, the incumbent’s position is very strong. The number of supporting political parties is also large.

Prabowo-Sandi has a support base of most Muslims to grassroots.

The call of scholars who joined in “Movement 212”, was very influential.

Joko-Ma’ruf also has an age-base of alit. Plus some of the residents of Nahdhiyin and other elements.

This is ideal polarization. But it is not an inter-religious contestation of religion. Religion is just a coincidence. Also departing from the party fusion color of the incumbent owner.

Academic reflection

Prabowo’s camp has already received a declaration of commitment from dozens of retired generals who are ready to support him.

Prabowo’s figure is very phenomenal in the military. Especially in the red beret corps environment. He was once the Commander of the Kopassus General (Danjen).

Eforia “miss the military” was also a factor. And Prabowo’s figure is suitable to represent that. His personality is identical to an intelligent military.

Sandi’s figure can represent young people. Educated millennials are attracted to Password. Her quality is excellent. S1 and Masters in America, he obtained with the title “summa cum laude”.

Interestingly, the password has now become a celebrity among mothers and women. That is also because it is supported by its flamboyant and straightforward appearance.

The campus element is not seen in the figure competition. Plans to include Prof. Dr. Mahfud MD canceled. So there is no reflection of academics there. Campus becomes a floating period ready to be contested.

Jokowi, who in the previous minutes appointed Professor Mahfud, changed the injury time without cause.

Before the final, the 8 party coalition sat down with incumbents, to decide on the vice president. And apparently Mahfud’s name didn’t come out. So Jokowi paired up with Ma’ruf Amin.

Prime Mover

Prabowo presidential candidate and vice president Sandiaga Salahuddin Uno were made moderate choices. The results of Ijtima ‘Ulama II, September 16, 2018, became a new momentum for this pair.

The agreement to support the Prabowo-Password is final coming from the National Movement for Fatwa Guards (GNPF). This is like being a ” prime mover “, which brings new energy. The majority of Indonesian Muslims will follow this decision.

But to win it does need a long way to go. The competition will be interesting. Incumbent attitudes and unfulfilled promises backfire for Jokowi. Its popularity was eroded due to several steps that were considered inappropriate.

Attractions in the opening of the 2018 Asian Games, give a bad impact. The President of the Republic of Indonesia, represented by a stuntman to give a welcome greeting to the participants and invitation when opening.

That night the president and the people of Indonesia were represented by a free styler , Saddum So, from Thailand. This is considered by observers as a choice of blunders.

When the presidential election is still seven months away. Everything can change in the course of time. What is expected in every election party is honesty. Including the professionalism of the organizing body and election supervisors.

Will Indonesia get a new president, or will the incumbent sit back as president …? People can determine … *.

“One Way Ticket” (3 – habis)

(Kisah Inspiratif)

Oleh Sandiaga Uno

 

Sandiaga Salahuddin

Hidup di antara sport, entrepreneurship dan dunia politik

Pada awal tahun 1997, krisis ekonomi mulai merambat dan perlahan melilit beberapa negara Asia. Dimulai dari terpukulnya mata uang Baht Thailand akibat aksi spekulasi besar-besaran, krisis ini kemudian menjalar ke negara-negara Asia lainnya. Perusahaan tempat saya bekerja benar-benar mengalami pukulan hebat akibat krisis ini.

Sejak pertengahan tahun 1997, bisa dikatakan saya tidak pernah lagi menerima gaji dari tempat saya bekerja walaupun masih menjalankan tanggung jawab sebagai salah satu eksekutif perusahaan. Tanpa gaji, mungkin saya masih bisa bernafas dengan mengandalkan tabungan yang ada. Sayangnya, mungkin karena kepercayaan diri yang terlalu tinggi karena berhasil mengelola dana investasi orang lain, saya menginvestasikan sebagian besar tabungan di pasar modal yang kemudian ambruk.

Saya pulang ke Indonesia nyaris tanpa membawa apa-apa. Bahkan di Jakarta saya belum sempat menyiapkan sebuah rumah untuk keluarga sehingga harus menumpang di rumah orang tua. Sempat terlintas dalam pikiran saya, betapa kejamnya kehidupan ini, menerbangkan dan kemudian menghempaskan saya dalam tempo yang begitu cepat. Tetapi lambat laun saya mulai bisa menerima ujian hidup itu dengan keikhlasan. Hingga kemudian saya mengubah cara pandang terhadap ujian yang datang ini.

Betapa murah hatinya kehidupan, memberikan pelajaran nyaris lengkap dalam tempo singkat kepada saya. Dalam tempo hampir sepuluh tahun sejak ayah memberikan one way ticket, saya telah melewati begitu banyak hal. Bertahan dalam keterasingan di Wichita, bergumul dengan mimpi yang nyaris sirna, menikmati impian masa remaja hingga sekarang saya seolah memulai segala sesuatunya kembali dari nol. Bila saya tidak pernah jatuh dengan keras maka saya tidak akan pernah belajar untuk bisa berdiri dengan kokoh.

Di tengah badai krisis ekonomi yang menerjang tanah air, mustahil bagi saya untuk menemukan peluang kerja baru. Sementara saya tidak lagi hidup sendiri. Ada istri dan anak yang masih bayi yang harus saya hidupi. Saya tidak mungkin menghabiskan waktu duduk menunggu badai krisis ini berlalu. Satu-satunya pilihan untuk bertahan pada waktu itu adalah dengan keluar dan berjuang di tengah-tengah badai. Pada saat semua pintu pekerjaan tertutup, saya harus menciptakan lapangan pekerjaan untuk diri saya sendiri.

Menjadi pengusaha dengan cara berwirausaha tidak pernah terlintas di benak saya sebelumnya. Tetapi saya tidak punya pilihan lain untuk bertahan pada waktu itu. Berbeda dengan sebagian besar pengusaha muda lainnya, dalam darah saya tidak mengalir darah pengusaha. Ayah saya adalah seorang karyawan perusahaan minyak, sementara Ibu seorang pendidik. Dalam lingkaran keluarga dekat, juga tidak seorang pun yang menjalani kehidupan sebagai pengusaha. Dari seorang karyawan menjadi pengusaha seperti perantauan baru bagi saya. Dunia wirausaha menjadi kanvas putih yang akan saya lukis dalam rentang usia berikutnya.

***

Seringkali dalam berbagai kesempatan saya mengatakan, bahwa saya menjadi seorang pengusaha adalah karena kecelakaan. Bila saya boleh jujur, alasan yang lebih pantas sebenarnya, saya menjadi pengusaha demi bisa memenuhi kebutuhan susu anak saya. Pada saat memulai usaha bersama sahabat saya sejak SMA Rosan Perkasa Roslani, kami lebih mengandalkan insting untuk bertahan hidup ketimbang perencanaan bisnis yang komprehensif. Sesuai dengan bidang yang saya tekuni, perusahaan yang kami dirikan pada tahun 1997 itu, Recapital, awalnya bergerak dalam jasa penasihat keuangan. Kantor kami luasnya tidak lebih dari lima puluh meter persegi dengan karpet berwarna merah muda.

Pernah suatu hari saya berniat meminjam uang kepada Rosan untuk kebutuhan keluarga sehari-hari sebesar tiga juta rupiah, ternyata Rosan cuma punya lima puluh ribu rupiah. Untuk bertemu dan rapat dengan klien terpaksa kami menggunakan mobil Suzuki Katana pinjaman dari orang tua. Saya coba membuka kontak kembali dengan klien-klien dari luar negeri yang dulu saya dapatkan ketika bekerja di luar. Sementara di dalam negeri, pergaulan ibu saya yang luas, membuka banyak pintu bagi kami walaupun itu belum berarti kesepakatan bisnis. Semua perjuangan itu perlahan membuahkan hasil ketika kami mendapatkan klien-klien pertama kami, Ramako Group dan Jawa Pos Group.

Saya memantapkan diri untuk menjadi pengusaha. Bukan semata-mata karena Recapital mulai menunjukkan hasil tetapi karena saya mulai percaya bahwa saya pulang ke tanah air bukan sebagai orang yang gagal. Justru sebaliknya, saya pulang sebagai orang yang berhasil ditempa oleh waktu dan nasib. Pengalaman adalah modal penting dalam dunia usaha, tidak bisa didapatkan di bangku sekolah dan juga tidak bisa didapatkan dengan uang.

Pengalaman berharga hanya bisa didapatkan sepanjang kita hidup dalam prinsip-prinsip yang secara utuh diterapkan dalam menghadapi berbagai keadaan. Prinsip hidup yang kuat tidak sekedar tumbuh dari sikap melainkan kebiasaan. Disiplin, loyalitas, target, prioritas serta keikhlasan, Alhamdulillah, sikap itu mengakar jadi kebiasaan hidup saya. Inilah nilai-nilai yang banyak membantu saya di masa-masa sulit. Tabungan dalam bentuk harta kekayaan suatu saat mungkin habis atau berkurang, tetapi tabungan pengalaman senantiasa akan bertambah sepanjang hayat dikandung badan.

Recapital bukanlah akhir dari perantauan saya. Perjalanan hidup mengajarkan, dunia tidak pernah memberi ruang yang cukup bagi saya untuk berhenti dan sekedar menikmati kenyamanan. Dia selalu datang menggoda lewat tantangan dan ujian. Pada tahun 1998, ketika mengunjungi mentor saya Om Willem di kantornya jalan Teluk Betung, saya bertemu dengan salah satu putra Beliau Edwin Soeryadjaya melalui kolega lama dari NTI, Andreas Tjahjadi. Dari pertemuan tidak sengaja itu, Edwin mengajak saya untuk terlibat membantu sebuah transaksi bisnis yang tengah dilakukannya.

***

Ternyata pekerjaan itu jauh lebih sulit dari yang saya pikirkan karena di tengah krisis kepercayaan dunia terhadap Indonesia kami harus meyakinkan investor asing untuk kembali menanamkan modalnya disini. Butuh waktu enam bulan untuk menyelesaikan transaksi ini. 2 Desember 1998 adalah tanggal yang tidak mungkin saya lupakan, karena bertepatan dengan kelahiran putri kedua saya Amyra Atheefa Uno di rumah sakit Medistra, kami berhasil melakukan transaksi. Itulah inisiasi awal untuk kemudian saya memutuskan secara penuh bergabung bersama Edwin di bawah bendera Saratoga.

Dua orang putri saya ternyata membawa jejak peruntungan sendiri-sendiri. Recapital rejeki Atheera dan kemudian Saratoga rejeki Amyra. Alhamdulillah, sekarang kebagiaan keluarga kami bertambah lengkap dengan hadirnya Sulaiman Saladdin Uno, anak ketiga saya yang baru lahir. Saya tidak mau menduga-duga, jejak seperti apa yang akan dibawa oleh Sulaiman. Saya ingin hidup tetap menjadi kado penuh misteri yang indah pada waktunya nanti. Sekarang Recapital dan Saratoga telah menjelma menjadi salah satu kekuatan swasta nasional. Bukan licin jalan beraspal yang kami lalui untuk sampai seperti sekarang ini. Tetapi belukar penuh duri dimana kata penolakan akrab di telinga.

Saya tidak pernah menghapus kata gagal dari kamus hidup saya. Sebab saya percaya bahwa kegagalan adalah komplemen serasi dari kesuksesan. Recapital di awal berdirinya, seringkali gagal mendapatkan pinjaman dari Bank. Bahkan di tengah kemajuannya, beberapa kali kami juga gagal dalam transaksi penting. Saratoga di awal tahun saya bergabung malah mendapatkan ujian yang menguras emosi kami. Betapa tidak, pada tahun 1999 kami memiliki kesempatan untuk mengelola kembali “the dream Company”, Astra Group , melalui pelelangan BPPN, tetapi kami gagal. Rendezvous Edwin dan saya yang memiliki keterikatan dengan Astra tidak pernah terjadi. Keberhasilan tidak lebih dari persekutuan positif kita dengan kegagalan.

One Way Ticket. Saya percaya bahwa kehidupan hanya menyediakan satu tiket pergi tanpa kembali. Tidak ada tempat untuk kembali, yang bisa kita lakukan hanyalah membuka lembaran baru dengan belajar dari pengalaman di masa silam. Karena hanya ada satu tiket pada setiap kita, kenapa kita harus menumpang pada mimpi orang lain. Itulah yang mendasari gagasan saya tentang kewirausahaan. Dimana kita tidak hanya membuat diri sendiri berdaya tetapi juga saling memberdayakan sesama manusia.

Kita merantau atau berdiaspora untuk sepetak tanah yang dijanjikan. Luasnya hanya kurang lebih dua meter persegi. Satu tiket yang kita miliki sekarang lah yang menentukan apakah di atas permukaan tanah itu akan tumbuh semak belukar atau sebuah nisan sederhana yang senantiasa mengundang mata. Ingatlah, bumi itu bulat, kita hanya butuh satu tiket untuk bisa mengelilinginya…*. (Selesai)