Menyongsong Pemilihan Umum Indonesia 2019

This is the 4th presidential and vice presidential election in the post-reform era. Or the ninth president of the Indonesian Republic.

Determination of the vice-presidential candidate was clear. Petahana Jokowi paired up with Ma’ruf Amin, an elder kyai from the Nahdhiyin circles; NU. This pair is carried by 8 parties.

While Prabowo-Sandiaga was carried by a four-party coalition, namely: Gerinda, PAN, PKS and Democrats.

Prabowo-Sandi is supported by scholars from various understandings. While the incumbent besides the ulama (especially NU), is also still supported by a group of businessmen who are classy as the conglomerates.

General election

Mascot of the 2019 Republic of Indonesia general election

They are also media owners. Financially, the incumbent’s position is very strong. The number of supporting political parties is also large.

Prabowo-Sandi has a support base of most Muslims to grassroots.

The call of scholars who joined in “Movement 212”, was very influential.

Joko-Ma’ruf also has an age-base of alit. Plus some of the residents of Nahdhiyin and other elements.

This is ideal polarization. But it is not an inter-religious contestation of religion. Religion is just a coincidence. Also departing from the party fusion color of the incumbent owner.

Academic reflection

Prabowo’s camp has already received a declaration of commitment from dozens of retired generals who are ready to support him.

Prabowo’s figure is very phenomenal in the military. Especially in the red beret corps environment. He was once the Commander of the Kopassus General (Danjen).

Eforia “miss the military” was also a factor. And Prabowo’s figure is suitable to represent that. His personality is identical to an intelligent military.

Sandi’s figure can represent young people. Educated millennials are attracted to Password. Her quality is excellent. S1 and Masters in America, he obtained with the title “summa cum laude”.

Interestingly, the password has now become a celebrity among mothers and women. That is also because it is supported by its flamboyant and straightforward appearance.

The campus element is not seen in the figure competition. Plans to include Prof. Dr. Mahfud MD canceled. So there is no reflection of academics there. Campus becomes a floating period ready to be contested.

Jokowi, who in the previous minutes appointed Professor Mahfud, changed the injury time without cause.

Before the final, the 8 party coalition sat down with incumbents, to decide on the vice president. And apparently Mahfud’s name didn’t come out. So Jokowi paired up with Ma’ruf Amin.

Prime Mover

Prabowo presidential candidate and vice president Sandiaga Salahuddin Uno were made moderate choices. The results of Ijtima ‘Ulama II, September 16, 2018, became a new momentum for this pair.

The agreement to support the Prabowo-Password is final coming from the National Movement for Fatwa Guards (GNPF). This is like being a ” prime mover “, which brings new energy. The majority of Indonesian Muslims will follow this decision.

But to win it does need a long way to go. The competition will be interesting. Incumbent attitudes and unfulfilled promises backfire for Jokowi. Its popularity was eroded due to several steps that were considered inappropriate.

Attractions in the opening of the 2018 Asian Games, give a bad impact. The President of the Republic of Indonesia, represented by a stuntman to give a welcome greeting to the participants and invitation when opening.

That night the president and the people of Indonesia were represented by a free styler , Saddum So, from Thailand. This is considered by observers as a choice of blunders.

When the presidential election is still seven months away. Everything can change in the course of time. What is expected in every election party is honesty. Including the professionalism of the organizing body and election supervisors.

Will Indonesia get a new president, or will the incumbent sit back as president …? People can determine … *.

“One Way Ticket” (3 – habis)

(Kisah Inspiratif)

Oleh Sandiaga Uno

 

Sandiaga Salahuddin

Hidup di antara sport, entrepreneurship dan dunia politik

Pada awal tahun 1997, krisis ekonomi mulai merambat dan perlahan melilit beberapa negara Asia. Dimulai dari terpukulnya mata uang Baht Thailand akibat aksi spekulasi besar-besaran, krisis ini kemudian menjalar ke negara-negara Asia lainnya. Perusahaan tempat saya bekerja benar-benar mengalami pukulan hebat akibat krisis ini.

Sejak pertengahan tahun 1997, bisa dikatakan saya tidak pernah lagi menerima gaji dari tempat saya bekerja walaupun masih menjalankan tanggung jawab sebagai salah satu eksekutif perusahaan. Tanpa gaji, mungkin saya masih bisa bernafas dengan mengandalkan tabungan yang ada. Sayangnya, mungkin karena kepercayaan diri yang terlalu tinggi karena berhasil mengelola dana investasi orang lain, saya menginvestasikan sebagian besar tabungan di pasar modal yang kemudian ambruk.

Saya pulang ke Indonesia nyaris tanpa membawa apa-apa. Bahkan di Jakarta saya belum sempat menyiapkan sebuah rumah untuk keluarga sehingga harus menumpang di rumah orang tua. Sempat terlintas dalam pikiran saya, betapa kejamnya kehidupan ini, menerbangkan dan kemudian menghempaskan saya dalam tempo yang begitu cepat. Tetapi lambat laun saya mulai bisa menerima ujian hidup itu dengan keikhlasan. Hingga kemudian saya mengubah cara pandang terhadap ujian yang datang ini.

Betapa murah hatinya kehidupan, memberikan pelajaran nyaris lengkap dalam tempo singkat kepada saya. Dalam tempo hampir sepuluh tahun sejak ayah memberikan one way ticket, saya telah melewati begitu banyak hal. Bertahan dalam keterasingan di Wichita, bergumul dengan mimpi yang nyaris sirna, menikmati impian masa remaja hingga sekarang saya seolah memulai segala sesuatunya kembali dari nol. Bila saya tidak pernah jatuh dengan keras maka saya tidak akan pernah belajar untuk bisa berdiri dengan kokoh.

Di tengah badai krisis ekonomi yang menerjang tanah air, mustahil bagi saya untuk menemukan peluang kerja baru. Sementara saya tidak lagi hidup sendiri. Ada istri dan anak yang masih bayi yang harus saya hidupi. Saya tidak mungkin menghabiskan waktu duduk menunggu badai krisis ini berlalu. Satu-satunya pilihan untuk bertahan pada waktu itu adalah dengan keluar dan berjuang di tengah-tengah badai. Pada saat semua pintu pekerjaan tertutup, saya harus menciptakan lapangan pekerjaan untuk diri saya sendiri.

Menjadi pengusaha dengan cara berwirausaha tidak pernah terlintas di benak saya sebelumnya. Tetapi saya tidak punya pilihan lain untuk bertahan pada waktu itu. Berbeda dengan sebagian besar pengusaha muda lainnya, dalam darah saya tidak mengalir darah pengusaha. Ayah saya adalah seorang karyawan perusahaan minyak, sementara Ibu seorang pendidik. Dalam lingkaran keluarga dekat, juga tidak seorang pun yang menjalani kehidupan sebagai pengusaha. Dari seorang karyawan menjadi pengusaha seperti perantauan baru bagi saya. Dunia wirausaha menjadi kanvas putih yang akan saya lukis dalam rentang usia berikutnya.

***

Seringkali dalam berbagai kesempatan saya mengatakan, bahwa saya menjadi seorang pengusaha adalah karena kecelakaan. Bila saya boleh jujur, alasan yang lebih pantas sebenarnya, saya menjadi pengusaha demi bisa memenuhi kebutuhan susu anak saya. Pada saat memulai usaha bersama sahabat saya sejak SMA Rosan Perkasa Roslani, kami lebih mengandalkan insting untuk bertahan hidup ketimbang perencanaan bisnis yang komprehensif. Sesuai dengan bidang yang saya tekuni, perusahaan yang kami dirikan pada tahun 1997 itu, Recapital, awalnya bergerak dalam jasa penasihat keuangan. Kantor kami luasnya tidak lebih dari lima puluh meter persegi dengan karpet berwarna merah muda.

Pernah suatu hari saya berniat meminjam uang kepada Rosan untuk kebutuhan keluarga sehari-hari sebesar tiga juta rupiah, ternyata Rosan cuma punya lima puluh ribu rupiah. Untuk bertemu dan rapat dengan klien terpaksa kami menggunakan mobil Suzuki Katana pinjaman dari orang tua. Saya coba membuka kontak kembali dengan klien-klien dari luar negeri yang dulu saya dapatkan ketika bekerja di luar. Sementara di dalam negeri, pergaulan ibu saya yang luas, membuka banyak pintu bagi kami walaupun itu belum berarti kesepakatan bisnis. Semua perjuangan itu perlahan membuahkan hasil ketika kami mendapatkan klien-klien pertama kami, Ramako Group dan Jawa Pos Group.

Saya memantapkan diri untuk menjadi pengusaha. Bukan semata-mata karena Recapital mulai menunjukkan hasil tetapi karena saya mulai percaya bahwa saya pulang ke tanah air bukan sebagai orang yang gagal. Justru sebaliknya, saya pulang sebagai orang yang berhasil ditempa oleh waktu dan nasib. Pengalaman adalah modal penting dalam dunia usaha, tidak bisa didapatkan di bangku sekolah dan juga tidak bisa didapatkan dengan uang.

Pengalaman berharga hanya bisa didapatkan sepanjang kita hidup dalam prinsip-prinsip yang secara utuh diterapkan dalam menghadapi berbagai keadaan. Prinsip hidup yang kuat tidak sekedar tumbuh dari sikap melainkan kebiasaan. Disiplin, loyalitas, target, prioritas serta keikhlasan, Alhamdulillah, sikap itu mengakar jadi kebiasaan hidup saya. Inilah nilai-nilai yang banyak membantu saya di masa-masa sulit. Tabungan dalam bentuk harta kekayaan suatu saat mungkin habis atau berkurang, tetapi tabungan pengalaman senantiasa akan bertambah sepanjang hayat dikandung badan.

Recapital bukanlah akhir dari perantauan saya. Perjalanan hidup mengajarkan, dunia tidak pernah memberi ruang yang cukup bagi saya untuk berhenti dan sekedar menikmati kenyamanan. Dia selalu datang menggoda lewat tantangan dan ujian. Pada tahun 1998, ketika mengunjungi mentor saya Om Willem di kantornya jalan Teluk Betung, saya bertemu dengan salah satu putra Beliau Edwin Soeryadjaya melalui kolega lama dari NTI, Andreas Tjahjadi. Dari pertemuan tidak sengaja itu, Edwin mengajak saya untuk terlibat membantu sebuah transaksi bisnis yang tengah dilakukannya.

***

Ternyata pekerjaan itu jauh lebih sulit dari yang saya pikirkan karena di tengah krisis kepercayaan dunia terhadap Indonesia kami harus meyakinkan investor asing untuk kembali menanamkan modalnya disini. Butuh waktu enam bulan untuk menyelesaikan transaksi ini. 2 Desember 1998 adalah tanggal yang tidak mungkin saya lupakan, karena bertepatan dengan kelahiran putri kedua saya Amyra Atheefa Uno di rumah sakit Medistra, kami berhasil melakukan transaksi. Itulah inisiasi awal untuk kemudian saya memutuskan secara penuh bergabung bersama Edwin di bawah bendera Saratoga.

Dua orang putri saya ternyata membawa jejak peruntungan sendiri-sendiri. Recapital rejeki Atheera dan kemudian Saratoga rejeki Amyra. Alhamdulillah, sekarang kebagiaan keluarga kami bertambah lengkap dengan hadirnya Sulaiman Saladdin Uno, anak ketiga saya yang baru lahir. Saya tidak mau menduga-duga, jejak seperti apa yang akan dibawa oleh Sulaiman. Saya ingin hidup tetap menjadi kado penuh misteri yang indah pada waktunya nanti. Sekarang Recapital dan Saratoga telah menjelma menjadi salah satu kekuatan swasta nasional. Bukan licin jalan beraspal yang kami lalui untuk sampai seperti sekarang ini. Tetapi belukar penuh duri dimana kata penolakan akrab di telinga.

Saya tidak pernah menghapus kata gagal dari kamus hidup saya. Sebab saya percaya bahwa kegagalan adalah komplemen serasi dari kesuksesan. Recapital di awal berdirinya, seringkali gagal mendapatkan pinjaman dari Bank. Bahkan di tengah kemajuannya, beberapa kali kami juga gagal dalam transaksi penting. Saratoga di awal tahun saya bergabung malah mendapatkan ujian yang menguras emosi kami. Betapa tidak, pada tahun 1999 kami memiliki kesempatan untuk mengelola kembali “the dream Company”, Astra Group , melalui pelelangan BPPN, tetapi kami gagal. Rendezvous Edwin dan saya yang memiliki keterikatan dengan Astra tidak pernah terjadi. Keberhasilan tidak lebih dari persekutuan positif kita dengan kegagalan.

One Way Ticket. Saya percaya bahwa kehidupan hanya menyediakan satu tiket pergi tanpa kembali. Tidak ada tempat untuk kembali, yang bisa kita lakukan hanyalah membuka lembaran baru dengan belajar dari pengalaman di masa silam. Karena hanya ada satu tiket pada setiap kita, kenapa kita harus menumpang pada mimpi orang lain. Itulah yang mendasari gagasan saya tentang kewirausahaan. Dimana kita tidak hanya membuat diri sendiri berdaya tetapi juga saling memberdayakan sesama manusia.

Kita merantau atau berdiaspora untuk sepetak tanah yang dijanjikan. Luasnya hanya kurang lebih dua meter persegi. Satu tiket yang kita miliki sekarang lah yang menentukan apakah di atas permukaan tanah itu akan tumbuh semak belukar atau sebuah nisan sederhana yang senantiasa mengundang mata. Ingatlah, bumi itu bulat, kita hanya butuh satu tiket untuk bisa mengelilinginya…*. (Selesai)

“One Way Ticket” (2)

(Inspirational Story)

By Sandiaga Uno

 

Amidst the new passion for the world of work, Bank Summa gave me the opportunity to continue my  Master of Business Administration education at George Washington University, (GWU) Washington DC. Overseas America no longer feels strange to me. I enjoy learning assignments from this workplace. Beautiful dreams burst into the air, of course after completing this Master’s education I was able to pursue a higher career at Bank Summa.

Sandiaga Salahuddin

Living between sports, entrepreneurship and politics

The atmosphere of DC where there are far more Indonesian settlers than in Wichita also makes me  more comfortable. The first year of education at GWU went smoothly. I also have the opportunity to be actively involved with Indonesian student associations in America.

The end of every dream, good or bad, is awakened in consciousness. My sweet dream in the first year of college at GWU was suddenly confronted with a reality that had never been thought of before.

In the country, Bank Summa experienced liquidity difficulties which led to cases of bad loans. Om Williem, —William Soeryadjaya—, intervened to take over the ownership of Bank Summa and then pledged its share ownership in the most valuable assets of the Soeryadjaya family, Astra.

But all the efforts made by Om Williem, who ultimately lost ownership in Astra, could not save Bank Summa. The impact on me who is far away in America is really felt. My scholarship stopped just in the midst of my passion I wanted to immediately complete this Masters program. For me at the time, it was truly unethical in the midst of a big storm that was being faced by Bank Summa, to ask about the continuation of the scholarship.

In 1992, I seemed to be holding a one-way ticket again. Beautiful dreams that had flown in the sky of dreams, one by one broke like a helpless bubble. The re-examination again tested my instinct to survive. To complete the study coupled with the cost of living in America, my savings at that time were far from enough.

***

There is not much I can save from working for one and a half years at Bank Summa. I felt at that time, it was no longer worth bothering parents with the difficulties I faced. The problem with the termination of this scholarship is that I keep a meeting from my parents until I have successfully completed my studies at GWU. The only option available is to find a job and with money from the work I can continue to study.

When life challenged me to survive, at that time I was prepared to do any work as long as it was halal and enough to complete the study. It even occurred to be a dishwasher or cleaner. Fortunately, with above average academic achievement, I was able to apply for a job as a lab assistant at GWU. At that time I was paid US $ 3 per hour. I worked for a long time, because then the opportunity for higher-paying jobs became tutors with a salary of US $ 6 per hour.

Working while studying in a country really becomes a test of life discipline. I have to be clever at sharing time, so that work can support the lecture I’m taking, not the other way around. Here I also realize the importance of setting targets and priorities. My target at work is to get money to complete college. This means that lectures are a top priority that must be supported by my sincerity in work. Praise be to God Almighty, I am able to go through it well. I did not just succeed in completing studies at GWU, but returned to graduating with a summa cum laude.

I am twenty-three years old when I take my Master of Business Administration degree from George Washington University. With that young age, there is a temptation to accept other jobs in the midst of uncertainty surrounding Bank Summa. The dream of working in a large, well-established company is still possible, I may re-assemble. But since childhood, I used to be loyal to one thing.

I am loyal to one sport, basketball. I am loyal to one woman, from dating to becoming my wife, Nur Asia Uno. I am also loyal to the field of finance that I study. And in my opinion it is important to be loyal to banks that have given me the opportunity to work and then even to continue Master’s studies in America. Even if my career has to end, I want that decision to come from people who hire. I returned to Indonesia, still with the status of a Bank Summa employee.

***

On December 14, 1992, Bank Summa was liquidated by Bank Indonesia. I lost my job. My blind loyalty seems to be overwhelmed by reality. Looks like on the surface. But what really happened was those important and valuable times in my life. I have the opportunity to take a closer look at how Om Willem, a business mentor I admire so much, manages the crisis. From Om Willem I learned, that business is more than a matter of profit and loss but responsibility. So much will be sacrificed by Om Willem to return the customer’s money at Bank Summa, until finally Astra was built and he grew up in ownership.

In the long run, the crisis experienced by my place of work provided a far greater lesson when I later handled companies including banks that were “sick”. I often think, if at the point of crisis in 1992 I decided to leave Bank Summa just like that, of course I would never be able to walk this far in the business world. That is the lesson from the loyalty tree whose fruit I learned in the future.

Life goes on. Clockwork is never waiting for us to move. I decided to return to complaining about fortune overseas. One Way Ticket takes me to a neighboring country, Singapore. Faithful to the field I work in, finance, I work as a finance and investment analyst at Seapower Asia Investment Limited. A year later, my career rose when I joined MP Holdings Limited Group as an Investment Manager.

In 1995, when I was twenty-six years old, I joined NTI Resources Ltd, Canada as Executive Vice President. This work brought me back to North America, precisely Calgary Canada. At that young age, I was able to generate “six digit” dollar income. If success is measured by the speed of making money, then at the age of twenty-six I have succeeded. But the thing is, my life wheel never stops. In fact the wheel rotates faster than the wheels of life of many people.

With all the achievements I got, at that time I felt I was able to buy a “return ticket” from the one way ticket that was given by my father. The dreams of adolescence about an established life have come true. The reality was even more complete when I decided to marry my girlfriend from adolescence, Nur Asia Uno in 1996. One year later our first daughter Anneesha Atheera Uno was born. But precisely in the midst of this perfection of life, a very large test of life awaits me … (continued)