Puasa: Lorong Proses Pelatihan Diri untuk Mencapai Tingkatan Taqwa

Setelah menyelesaikan ibadah ritual berpuasa selama 1 bulan penuh, maka sesorang bisa memperoleh derajat “taqwa”. Taqwa secara harfiah dapat diartikan sebagai “takut”. Takut untuk berbuat kesalahan yang berpotensi menyebabkan dosa.

Syarat menjankan puasa bukan hanya haus dan lapar yang wajib ditahan, akan tetapi juga segala yang berpotensi menyebabkan dosa, harus dikendalikan. Mata, telinga, pikiran dan hati, tidak diperkenankan untuk masuk melintasi batas-batas boleh-jangan, baik-buruk, wajib-haram.

Mata harus ditata untuk tidak melihat sesuatu yang tidak pantas, seperti pornografi dan hal-hal yang menimbulkan syahwat tidak pada tempatnya; telinga harus bebas dari segala macam cerita rumor, fitnah dan menceritakan keburukan orang lain, termasuk cerita yang dapat mendorong birahi.

Demikian juga pikiran dan hati. Keduanya harus dibersihkan dari hasrat dan keinginan yang bertentangan dengan norma agama dan sosial.

Seseorang yang berpuasa selalu melatih dirinya untuk tidak berniat untuk melakukan kesalahan, seperti ingin membunuh, ingin memerkosa, menipu, mencuri, meminum sesuatu yang bisa memabukkan dan membuat hilang ingatan.

Tidak memakan makan makanan yang haram; seperti makan daging babi, daging anjing dan daging yang tidak disembelih dengan cara yang salah (dengan cara menyiksa hewan yang akan diambil dagingnya) serta segala makanan hasil curian, hasil menipu dan hasil merampok dan korupsi atau cara-cara tidak sah lainnya.

Evaluasi diri

Dalam periode puasa inilah masing-masing mencoba mengevaluasi diri; introspeksi, dan mengenal diri secara total. Dengan demikian setiap manusia bisa menempatkan dirinya secara proporsional dalam ruang lingkup hubungan dengan sesama manusia (hablun minannas) maupun hubungan transendental antara makhluk (yang diciptakan) dan Tuhannya (hablun minallah)

Ibadah puasa mengajarkan dan mengajak setiap muslim belajar untuk bisa mengendalikan hawa nafsu. Terutama hawa nafsu yang jahat. Menjauhi setiap perbuatan terlarang dan berdosa, serta berlomba-lomba untuk mengerjakan kebaikan dengan mematuhi rambu-rambu keagamaan yang ditetapkan.

Melalui pelatihan untuk menahan lapar dan haus, selama waktu tertentu. Sejak sebelum fajar hingga menjelang malam.

Godaan terbesar orang berpuasa adalah di saat siang hari yang panas terik, di saat-saat haus menggelayut, namun harus mampu mengendalikan diri untuk tidak minum. Apalagi makan untuk mengobati rasa lapar. Meskipun tidak ada yang melihat ketika kita makan.

Sukses dengan seluruh rangkaian pernak pernik ketika berpuasa, sangat ditekankan agar terus berlangsung di luar periode bulan Ramadhan (bulan berpuasa selama satu bulan penuh).

Predikat taqwa

Dalam kehidupan sehari-hari apa yang telah dicapai selama menjalankan ibadah puasa wajib diterapkan secara nyata dalam kehidupan di hari-hari berikutnya. Manusia yang telah lulus meniti puasa dengan baik, harus terus mempertahankan predikat “taqwa” yang telah dicapainya.

Memperbaiki diri, pola hidup, dan sikap yang cenderung memengaruhinya untuk berbuat salah; menyakiti secama makhluk hidup lainnya dan merusak lingkungan hidup tanpa merasa bersalah.

Ini tidak boleh terjadi apabila masing-masing manusia menyadari bahwa menjaga keseimbangan hidup bermasyarakat adalah tanggung jawab bersama.

Muslim kah dia, katolik kah dia, kristen kah dia atau apa saja kepercayaan yang dianutnya, punya peran dan tanggung jawab yang sama untuk memelihara keamanan, kenyamanan dan kedamaian hidup bersama.

Puasa hanya sarana yang disediakan, bukan penentu keberhasilan ujian hidup seseorang. Hanya orang-orang yang memiliki ketetapan hati untuk keluar dari pelatihan menahan diri ini, yang bisa menunaikan puasa dengan sempurna.

Di antaranya kemudian ada yang akan secara total memperbaiki hidup dan tujuannya, dan sebagian lagi, tidak berhasil membawa diri untuk hidup sesuai dengan pedoman agama.

Mereka hanya bisa menunaikan puasa, namun kemudian setelah puasa usai, kembali kepada pola-pola yang menyimpang dari norma sosial dan agama.

Seleksi alamiah

Ada proses seleksi secara alamiah yang berlaku bagi kaum muslimin, terdapat beberapa corak penganutnya yang melekat menjadi bagian hidup mereka.

Tidak pernah melaksanakan segala bentuk ibadah ritual sepanjang sisa hidupnya; tidak pernah berbuat baik bagi sesamanya. Selalu menjadi beban dan mengganggu ketertiban masyarakat. Tapi kalau agamanya dihina, dia akan bereaksi keras dan siap membelanya.

Tidak pernah melaksanakan ibadah rutin, tapi rela berlapar dan dahaga untuk menunaikan ritual puasa selama satu bulan penuh. Berbuat baik sepanjang bulan puasa. Mampu melaksanakan ibadah rutin, tapi enggan melakukan ibadah puasa, karena dirasa sangat berat.

Biasa menunaikan ibadah rutin dan mampu menyelesaikan seluruh rangkaian ibadah selama periode berpuasa di bulan Ramadhan. Dan ini, idealnya seorang yang berhasil membawa dirinya untuk perubahan.

Dari seluruh tipikal muslim yang memasuki puasa, maka yang terbaik adalah mereka yang lulus dan selanjutnya bisa mempertahankan irama kehidupannya pada level yang lebih baik, sebagai pertanda ianya berhasil menyerap seluruh “materi pelatihan” dalam puasa dan kemudian bertekad memegang teguh hingga tidak sampai terlepas lagi.

Pola hidupnya yang sebelumnya masih compang camping, kemudian bisa mengubah secara total sehingga dirinya benar-benar akan bermanfaat bagi dirinya, lingkungannya dan kehidupan orang lain.

Membersihkan diri

Puasa selayaknya menjadi lorong untuk mencetak manusia yang paripurna. Gelar yang diperoleh dari perjalanan menyusuri lorong ini adalah derajat “taqwa“.

Taqwa yang berarti takut, akan menjadikan seseorang takut mengulangi dosa, takut berbuat zalim, dan takut dijauhkan dari rahmat Allah sebagai zat yang Maha Pengasih dan lagi Maha Penyayang.

Hakikat puasa adalah membersihkan diri dari segala kebiasaan buruk, perbuatan dosa dan berharap memperoleh ampunan atas segala kesalahan yang pernah dilakukan dalam periode setahun belakangan dan menjadi suci kembali seperti bayi baru dilahirkan, yang disebut “fitrah”.

Namun demikian hanya dosa antara dirinya dan Tuhannya yang bisa diampuni, sementara dosa antara sesama anak manusia, hanya merekalah yang dapat melepaskan dosa di antaranya dengan saling meminta dan memberikan maaf.

Fitrah adalah sifat bayi yang baru dilahirkan, bersih, polos, jujur, inosen, tanpa ada kehendak yang salah. Orang tua dan lingkungannya lah yang membentuk pribadi dia menjadi orang baik, orang jahat, atau sebagai apa saja sesuai fenomena yang ditangkap oleh diri bayi tersebut selama proses sosialisasi dirinya, baik dalam taraf primer ataupun sekunder…*.