Anies-Sandi Dalam Tantangan Membangun Jakarta yang Manusiawi

Anies sejatinya bukan penduduk Jakarta, sama halnya seperti Joko Widodo yang datang dari Solo. Rumah batihnya terletak di Kuningan Jawa Barat, kira-kira 180 kilometer dari Jakarta. Akan tetapi sejak kanak-kanak, Anies menghabiskan waktunya di Yogyakarta.

Sejak kecil Anies hidup bersama Kakek-nya yang seorang Pahlawan Nasional, sebagai wartawan dan pernah dipercayakan sebagai Menteri Penerangan dalam kabinet Presiden Soekarno.

Kedua orang tua kandung Anies bekerja sebagai pengajar dengan masing-masing spesifikasi keilmuan. Bapaknya dosen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia, di Yogyakarta dan Ibunya seorang guru besar Psikologi di Universitas Negeri Yogyakarta.

Meskipun sama-sama di Yogyakarta, tapi Anies malah tinggal bersama Kakek dan Neneknya. Perjalanan pendidikannya juga sangat gemilang. Mendapat SMA terbaik di Kota Yogyakarta, beberapa kali mendapat beasiswa dari negara yang berbeda, hingga mendapat gelar “doctor of phylosophy”.

Anies dan Sandi di Jakarta

Jakarta ditangan generasi baru yang terdidik, santun dan cerdas

Ketika SMA, di samping mendapat kesempatan dalam program pertukaran pelajar, Anies juga pernah didapuk menjadi Ketua OSIS seluruh Indonesia. Semacam presidium dari gabungan OSIS sekolah menengah di Indonesia.

Sebelum mendapat kesempatan sebagai gubernur DKI, Anies telah banyak mendapatkan pengalaman di beberapa lembaga. Meskipun “wong ndeso”, tapi sejak kembali dari Amerika Serikat, dia menghabiskan waktunya hidup di belantara Jakarta dengan berbagai pengalaman pekerjaan.

Program pribadinya yang ajeg hingga saat ini adalah “Indonesia Mengajar”, yang bertujuan memberikan pendidikan gratis kepada anak-anak muda Indonesia. Khususnya bagi daerah pedalaman dan desa-desa tertinggal di nusantara. . Namun hingga kini Anies giat meneruskan apa yang telah dirintis bersama dosennya ketika ia masih berstatus mahasiswa di UGM

Anies merekrut mahasiswa post graduate yang masih fresh yang gemar tantangan dan petualangan untuk menjadi pengajar di daerah terpencil. Program yang ajeg hingga saat ini, ini banyak mendapat partisipasi dari para sarjana baru dari berbagai disiplin ilmu, untuk mengabdikan diri sebagai pengajar sekaligus untuk mencari tantangan dan menikmati petualangan.

“Jakarta punya cerita”

Sandi, adalah anak Jakarta yang lahir, hidup dan dibesarkan di Jakarta. Ibunya seorang pakar kepribadian dan sekaligus pengusaha. Sandi mengikuti jejak Ibunya menjadi seorang pengusaha. Sandi juga aktif di organisasi Kadin sebagai tempat berhimpunnya para pengusaha nasional.

Bagi Sandi tak terlalu asing jika berbicara tentang Jakarta. Seluk beluk tentang ibukota telah melekat dalam dirinya. Sejak mulai masuk sekolah TK hingga sarjana, dihabiskannya di Jakarta.

Sebagaimana anak Jakarta lainnya, hidup Sandi selalu dipenuhi dengan “jakarta punya cerita”. Sandi melebur menjadi bagian dari geliat Jakarta yang dinamis. Jakarta yang dibayangi kehidupan yang agamis dan humoristis membentuk pribadi Sandi sebagaimana anak-anak muda Jakarta lainnya. Selalu ceria, penuh persahabatan dan tidak gampang tersinggung.

Budaya Betawi sendiri, memiliki kekerabatan yang unik. Kehidupan masyarakatnya kental tolong menolong dan selalu dipenuhi kelakar dan candaan. Karena memang mereka sebagai masyarakat yang penuh humor. Jarang ditemukan berbicara dalam tensi tinggi sampai wajah dan mata jadi memerah.

Sandi selalu tampil sumringah, murah senyum dan welcome dalam pertemanan. Dia selalu tampil apa adanya. Kehidupan baginya bukan lah harus dibawa susah. Semua selalu dihadapi dengan hati yang lapang, karena baginya setiap masalah sudah disediakan jalan keluarnya.

Lebih dari tiga ratus lima puluh tahun hidup di bawah penjajahan, semakin memperkuat sosok budaya Betawi yang tetap lestari hingga hari ini. Tidak ada kesan terkontaminasi dengan budaya yang dibawa kaum penjajah. Di mana ada perlawanan yang hebat di situ agama tetap terjaga. Tak sedikit pun ada pengaruh terhadap kehidupan agama orang Betawi. Lebih dasari sembilan puluh persen orang asli Betawi, merupakan penganut Islam yang taat.

Anies dan Sandi merupakan perpaduan dua figur yang saling melengkapi. Keduanya juga dikenal dermawan. Terbukti dari program Indonesia Mengajar yang dipersembahkan Anies bagi negara ini untuk memberdayakan anak-anak kurang mampu agar bisa mengenyam pendidikan yang layak dan berkualitas. Semuanya tanpa dipungut bayaran.

Sebagai pengusaha

Kehidupan pribadi Sandi berada di dalam dua sisi permukaan. Sebagai pengusaha, Sandi menjalankan kegiatan yang berorientasi profit; mencari keuntungan. Namun di sisi lain di dalam kehidupan sosialnya, Sandi merupakan sosok yang dermawan.

Sandi sebagaimana juga Anies, tidak tinggal di kompleks eksklusif. Melainkan menyatu dengan masyarakat luas dari berbagai corak, tradisi dan latar belakang budaya. Bukan dalam lingkungan satu warna. Dengan begitu, baik Anies maupun Sandi sangat mengerti kondisi masyarakat yang ada. Kekayaan empati yang dimiliki keduanya sudah lebih dari cukup untuk membuat Jakarta nyaman bagi seluruh golongan dan tingkatan.

Dengan kapital sosial-intelektual yang telah dimilikinya saat ini, kini tinggal dukungan dari DPR Provinsi DKI agar di samping kontrol yang baik juga sebagai suporter untuk pembangunan Jakarta. Namun karena Jakarta adalah ibukota negara, maka perhatian pemerintah pusat juga sangat diperlukan. Seperti biasanya sebagian sumber alokasi pos anggaran pembangunan (APBN) berada di sini.

Anies dan Sandi harus mampu mengantisipasinya dengan mempersiapkan manajemen, pengaturan dan sistem serta mekanisme kerja yang baik. Agar segala sesuatu yang terkait dengan kinerja, dapat dipelihara tingkat efektivitas, ekonomis dan efisiensinya.

Anies bertemu dengan istrinya di “Kampus Biru”, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, sedangkan Sandi bertemu istrinya ketika sama-sama kuliah di Amerika. Dengan dukungan istri yang well-educted, sangat diharapkan keduanya bisa mewujudkan harapan warga yang telah memercayakan estafeta kepemimpinan Jakarta bagi mereka berdua…*.