Aceh lon Sayang

Aceh merupakan sebuah provinsi Indonesia yang terletak di ujung barat dan utara Pulau Sumatera, dengan populasi penduduknya sebanyak kurang lebih 4,5 juta jiwa. Secara geografis, letaknya berdampingan dengan Provinsi Sumatera Utara di sebelah selatan dan timurnya. Luas daratan Aceh adalah sebesar kurang lebih 58.000 km², atau kira-kira sebesar tiga persen dari luas wilayah nusantara secara keseluruhannya. Provinsi Aceh juga berbatas langsung dengan perairan India (Teluk Benggala) di sebelah utaranya. Sedang di sebelah baratnya terdapat Samudera Hindia yang menawarkan panorama yang indah serta potensi yang menjajikan, namun dalam siklus waktu tertentu menyimpan ancaman yang luar biasa dahsyatnya. Kejadian gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada 26 Desember 2004, merupakan dampak dari terjadinya patahan pada lambung Samudera Hindia, dengan kedalamam sekitar 30.000 meter di bawah permukaannya.
Patahan yang menurut pakar terjadi sebagai akibat adanya saling desakan pada subduksi antara lempeng samudera dan lempeng Eurasia, menimbulkan terjadinya retakan sebesar 150 meter memanjang ke utara selatan sepanjang 1500 kilometer, hingga mendekati Kepulauan Andaman. Patahan ini mengakibatkan daya lenting ke atas seperti pegas, sambil mengangkat permukaan samudera hingga beberapa meter, sehingga permukaan air laut pun ikut naik yang kemudian meluber ke segala penjuru yang menimbulkan generasi air laut yang luar bisa besarnya. Letingan yang dikonversikan menjadi getaran yang menimbulkan gempa bumi dengan perkiraan sebesar 9,4 skala Richter ini meruntuhkan seluruh bangunan yang berdekatan dengan pusat gempa. Disusul dengan air bah (tsunami) yang menuju pantai dengan kecepatan rata-rata 550 kilometer per jam, menyapu segala benda yang dilaluinya sampai semuanya menjadi porak poranda.
Jauh sebelum kemerdekaan, Aceh merupakan sebuah kesultanan yang pernah mengalami kemasyhuran ketika berada di bawah pimpinan sultan yang sangat terkenal, yaitu, Sultan Iskandar Muda. Angkatan Laut Aceh merupakan salah satu angkatan laut yang disegani di dunia, di mana ketika Armada Laut Kerajaan Aceh dipegang oleh seorang laksamanan wanita, yang bernama, Laksamana Keumala Hayati. Dalam kesejarahan Aceh, memiliki cerita kepahlawanan yang panjang, epic, heroik dan berliku. Beberapa pejuang yang kemudian oleh Pemerintahan Republik Indonesia, ditetapkan sebagai Pahlawan Nasioanal antara lain adalah: Sultan Iskandar Muda, Teungku Chiek di Tiro, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Teungku Panglima Polem, Cut Nyak Meutia, Demikian juga terdapat nama-nama Pahlawan Nasional seperti: Teuku Nyak Arief dan Teuku Muhammad Hasan yang keduanya pernah terlibat secara langsung dalam proses pembentukan Republik Indonesia di awal masa kemerdekaan.
Aceh memiliki banyak subetnis, yang mendiami persisir timur, pantai barat ataupu di daerah dataran tinggi Aceh. Oleh karena itu Aceh sering disebut sebagai “Aceh Lhe Sago”. Akan tetapi Aceh memiliki lebih dari 24 macam bahasa daerah. Ada yang bermiripan namun ada juga yang berbeda sama sekali. Pada umumnya masyarakat penutur dalam hubungan pertemanan lebih banyak didominasi oleh bahasa Aceh pesisir timur, dengan hanya sedikit perbedaan dialek di antara beberapa daerah pesisir. Antara lain dipergunakan di daerah Aceh Timur, Aceh Utara, Bireuen, Aceh Pidie hingga ke Aceh Besar. Kemudian bahasa yang berdialek pantai barat, dimulai dari daerah Aceh Barat hingga ke Aceh Selatan.Terdapat juga ragam bahasa yang dipergunakan di dataran tinggi, seperti bahasa Gayo dan Alas. Di samping itu ada juga Bahasa Melayu Tamiang, Bahasa Simeulue, Bahasa Jame, Bahasa Singkil dan masih banyak ragam bahasa masyarakat lainnya yang mendiami provinsi ini dengan aksentuasi, vokabulari dan dialek yang khas.
Di jaman kemerdekaan, Aceh pernah menjadi bagian dari perjuangan bersama untuk membebaskan diri dari penjajahan Belanda. Aceh pernah ditetapkan sebagai daerah modal, sebagai basis wilayah Indonesia yang tidak pernah menyerah kepada penjajah Belanda. Memiliki daerah yang merdeka dan tidak dalam keadaan terjajah, menjadi modal utama bagi mendirikan sebuah Negara untuk diperjuangkan kemerdekaannya. Dari Aceh pula para pejuang kemerdekaan melalui Radio Rimba Raya yang di pancangkan di belantara rimba Aceh Tengah waktu itu, menyiarkan komunike seluruh penjuru dunia untuk menyatakan bahwa Negara Republik Indonesia itu masih ada dan tidak dalam keadaan diduduki oleh penjajah. Peralatan radio ini kemudian dipindahkan ke Jakarta untuk dipergunakan pada perusahan Lokananta dan juga menjadi cikal bakal perkembangan radio di Indonesia di kemudian hari.
Di awal kemerdekaan, masyarakat Aceh secara bahu membahu mengumpulkan emas permata untuk mewujudkan sebuah pesawat Dakota, yang kemudian menjadi asal susul berdirinya maskapai penerbangan Negara Republik Indonesia, dengan nama Garuda Indonesia Airways. Replika pesawat dengan nama Seulawah RI-001, yang disumbangkan kepada Pemerintah Republik Indonesia tersebut, hingga kini masih dapat dilihat di salah satu sudut Lapangan Blangpadang, di Kota Banda Aceh. Pesawat jenis Dakota DC-3, sebelum digunakan untuk perusahaan penerbangan komersial, terlebih dulu dimanfaatkan untuk misi rahasia dalam menjalin hubungan dengan negara2 luar seperti India, Birma dan lain sebagainya.
Kini Aceh sedang terus berbenah untuk keluar dari keterpurukan terdalam dari sejarahnya. Konflik berkepanjangan antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang telah mengambil lebih dari 15.000 jiwa dan harta benda dalam periode tahun 1976-2005, serta musibah gempa bumi dan tsunami yang menghancurkan sebagian daratan Aceh, telah membuat masyarakat Aceh sangat menderita. Kehilangan demi kehilangan telah membuat masyarakat menjadi trauma dan mengalami luka jiwa yang sangat dalam. Namun di samping itu bisa menambah kekuatan dan ketegaran akibat derita yang datang silih berganti. Bantuan masyarakat dunia dan dari berbagai pelosok nusantara yang telah bersimpati atas musibah tersebut, telah menjadi katalisator untuk membawa Aceh lebih cepat keluar dari kesedihan.
Kini Aceh telah damai. Pembangunan pascarehab-rekon juga terus berjalan. Banda Aceh sebagai ibukota provinsi, telah berbenah kembali, menjadi lebih indah, lebih tertata dan lebih teduh dengan penghijauan. Di tangan dingin walikota Almarhum Ir. H. Mawardy Nurdin, M.Eng.Sc., Banda Aceh, telah berubah menjadi kota yang luar biasa; rindang, asri dan nyaman untuk didatangi. Saat ini Aceh bukan lagi cerita pemberontakan; Aceh bukan lagi cerita tentang ganja yang berhektar-hektar; Aceh bukan lagi cerita duka. Melainkan Aceh adalah semangat juang para pahlawan; Aceh adalah daerah modal; Aceh adalah tujuan wisata yang indah; Aceh adalah kopi yang nikmat; Aceh adalah kuliner yang lezat; Aceh adalah keramahtamahan masyarakat; Aceh adalah sahabat. Semoga saja semangat warga, masyarakat beserta seluruh komponen pemerintahan Aceh, bisa kembali bangkit untuk terus melangkah bersama membawa Aceh menuju tahap yang sejajar dengan provinsi lain di Indonesia yang telah lebih dulu maju dan berkembang di segala bidang…**(azm).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *