Lebay dan alay di dunia maya

Lebay merupakan salah satu kosakata baru yang muncul di era awal tahun 2000-an. Kata lebay sendiri aslinya bukanlah mengandung pengertian seperti lebay yang dimaksud oleh ungkapan anak-anak muda yang sekarang lagi ngetren. Dalam khazanah Melayu, kata lebay bisa berarti pengajar ngaji; pengurus masjid, atau laki-laki pengkhayal; ataupun laki-laki yang rada bloon campur malas. Tapi bagi anak muda sekarang “lebay” memiliki arti yang unik: bersikap berlebihan, laku lajak, overacting.

Di samping lebay, ada lagi satu kata unik sebagai padanannya yang hampir sangat sering digunakan hampir bersamaan. Kata tersebut adalah “alay”. Indonesia terutama Jakarta sangat dinamis dalam memproduksi istilah-istilah baru terutama di dunia anak muda dan remaja. Yang lebih menarik adalah lingkungan lenong dan para banci banyak memiliki kata slang baru yang dapat dimanfaatkan oleh anak-anak muda menjadi tambahan istilah dalam pembicaraan sehari-harinya. Komunitas banci menjadi produsen terbesar dari istilah-istilah yang banyak beredar di tengah masyarakat, di negeri ini, terutama di kalangan anak-anak muda. Kata-kata baru ini semakin mudah menjalar, berkat adannya media yang begitu cepat dapat mendiseminasi kata-kata (slank) baru, melalui media sosial, layar televisi, film, gadget, dan radio serta oleh anak-anak muda ataupun dari mulut ke mulut. Tidak mengherankan, memang. Perkembangan singkatan yang kemudian menjadi istilah, telah digambarkan oleh Iin Parlina bersama grup musik Bimbo sejak akhir tahun tujuh puluhan yang lalu. Dalam syair mereka diungkapkan: “sehari ada satu singkatan, setahun tiga ratus enam lima”.

Lebay dan alay menjadi kata ungkapan yang sangat banyak dipergunakan saat ini. Terlalu banyak, orang yang bertindak lebay. Simak saja bagaimana BBM, yang menjadi konsumsi orang banyak dan media sosial lainnya selalu dimanfaatkan oleh sang empunyanya sebagai tempat untuk menumpahkan segala bentuk dari suasana sebuah hati dan sepenggal perasaan. Misalnya saja pada Personal Message ataupun jendela status sering muncul kata-kata yang benar-benar lebay dan alay. Hilang sendok juga ditulis di situ. Kebeset pisau ditulis disitu, piring jatuh hingga pecah difoto lalu dipasang di display picture atau di beranda. Terus ditulis di personal message “piringku pecah, kacian bingiiit”. Bahkan ada orang pengguna gadget, tak segan-segan mengungkapkan kegalaua hubungan suami istri pascamelakukan hubungan seksual, dengan menulis: “tadi malam nggak sempet nyampe, deh…. Oooh ceeediiiih buuangeth, nasib apes lagee…”. Dan cukup banyak bentuk ke”lebayan” dan ke-“alayan” yang terjadi di dunia sistem komunikasi canggih dan dunia maya ini. Kadang hanya sekedar ingin mandi aja, pakai-pakai nulis di PM: “mandi dulu…. aaah”. Dasar lebay…! He…he….

Lebay dan alay tidak hanya dimiliki oleh perempuan saja. Karena memang perempuanlah yang paling banyak melakukan tindakan lebay dan juga alay. Tapi, anehnya, laki-laki yang seharusnya tegar, tegas, dan memiliki area bebas galau yang lebih luas, malah kadang lebih lebay dan lebih alay daripada perempuan. Banyak DP, PM dan status laki-laki justru lebih menggelikan. Contohnya tulisan seperti “tadi jatuh, kaki gua atiiiiit…. ditambah emoticon “sick”. Oooaaalaaaah, laki-laki macam apa pula ini? Tidak hanya sampai di situ, ada lagi, status laki-laki yang tidak kurang menggelikan, “putuuus?… liat aja besok aku cuma tinggal nama”. Ada lagi, laki-laki menulis: kok tega, seeeeeh???!!???; “galau, tak bisa mereem”; “galau paraahk”; “galau tingkat menteri”; ijinkan aku bersimpuh”. Seharusnya status laki-laki itu “wajib” macho. Misalnya: “EGP…!; Sebodo, ah!; “jangan coba-coba, deh!”; “persetan ama cinta!”; “malam ini sama pacar nmr 5”; “kamu cntik, tapi sudah 15 cewek yang bilang aku ganteng”.

Tapi begitulah. Seharusnya status itu pun tak perlu ditulis macam-macam juga lah. Tak perlu juga seperti tulisan-tulisan di atas. Karena itu juga ciri-ciri lebay abis dan alay sangat. Kalau mau tulis, mungkin lebih pas dengan kata-kata bijak, pesan positif, ungkapan-ungkapan yang optimistis, ataupun kutipan ayat-ayat suci, dan ucapan-ucapan orang sukses. Bukan membuat laporan mau be-ol, mau tidur, mau makan, mau ke sana, mau putus, mau belanja, mau nonton, sedang mules, sedang galau, sedang ngantri, dan lain sebangsanya. Lebay dan alay bentuk lain adalah menampilkan foto-foto yang bernilai nyeleneh. Foto sepatu, foto tas, atau foto HP, di bawahnya pakai diberi komentar: “baru beli, gua…”. Bahkan ada yang baru beli tiket bioskop, langsung foto lembaran karcisnya ditampilkan di status. Alamaaaak…! Nggak abis-abisnya lebay dan alay kita-kita ini. Motivasinya juga beraneka ragam. Ada yang ingin pamer, ada yang iseng, tapi juga ada yang gatelan, keganjenan, ingin semua orang lain tau tentang dia, tentang siapa dia, bagaimana dia, tentang aktivitas dia, tentang “kehebatan” dia, tentang apa saja tentang diri dia. Sangat terbuka dan transparan.

Pendeknya, apa pun motivasi dan alasannya, semua itu tetap aja mengandung sedikit ngawur. Yang jelas kita ini memang termasuk dalam kategori lebay dan alay orangnya. Itu alasan yang lebih tepat. Jadi tak perlu mencari-cari alasan lainnya untuk menghindarkan diri kita dari predikat lebay dan alay. Wong yang membuat lebay dan alay adalah diri kita sendiri, ya sudah jadi lebay bin alay aja. Lantaran lebay dan alay itu bisa menular, maka pasti akan banyak ketemu dengan teman yang sama perangainya dengan kita. Termasuk ketika bergaya waktu difoto. Ada yang mulutnya dimonyong-monyongin entah untuk supaya apa?; ada yang pipinya dikembang-kembangin seperti lagi ada air untuk dikumur-kumur di dalamnya; ada yang mata disipit-sipitin, ada yang mulutnya dimencong-mencongin, kadang sambil julur lidah segala. Semakin lengkap ke-lebay-an dan ke-alay-annya.

Tapi apa mau dikata, memang sedang musimnya. Mungkin akan hilang dengan sendirinya ketika musim berganti. Ini ibarat trend yang sedang muncul ke permukaan yang mengindikasikan masing-masing anak muda sedang dilanda kepercayaan diri yang naik turun. Kadang pede banget, terkadang galau banget. Antara peda dan galau juga batasnya sangat tipis, sehingga sukar dibedakan kapan galaunya kapan pula pede-nya; antara pede dan galau sudah campur baur. Kayaknya sudah satnya dibentuk sebah komunitas “Antigalau”, “Antilebay” dan “Anti-alay”. Tujuannya untuk mengantisipasi sikap-sikap yang aneh dari masyarakat sembari memberikan masukan-masukan kepada mereka yang terlanjur lebay dan alay untuk segera insaf dan kembali ke jalan yang benar. Posting lah yang positif-positif aja; yang optimistis aja; yang semangat aja; yang bermanfaat aja; yang enak dibaca aja; yang enak dilihat aja; yang tidak membuka keadaan pribadi sendiri, apalagi membuka aib. Jangan sampai orang lain melihat kita baik-baik; fine-fine aja, eh…, tau-tau di status tertulis: “aduuuh lagi bisulan, nich… sebel bingiit, deh. Di pantat, lagi!”. Seantero Indonesia dan belahan dunia lain jadi tahu kalau kita sedang bisulan di pantat, he… he…. Apalagi kalau bisulnya difoto sekalian sama pantat-pantatnya, lalu di pasang di dinding FB. Maka jadi komplet lah pengetahuan orang lain tentang kita.

Tapi itu dia. Orang lebay dan alay, tak terlalu masalah dengan kondisi tersebut; tidak risau, tidak pula merasa gusar. Namanya juga lebay campur alay itu sama dengan “super norak”. Sudah barang tentu tak terlalu ambil pusing dengan hal semacam itu, malah sebaliknya merasa sangat puas bisa mengekspresikan suasana hatinya ke publik. Bahkan sangat bahagia dengan respons dan feedback dari sahabat kontak yang memberikan komentar dan jempolnya di status yang bersangkutan. Mungkin bisa mengurangi beban pikiran dan persoalan yang sedang dihadapi. Seterusnya orang lebay dan alay, akan terus mencari topik baru yang ditampilkan pada statusnya sambil terus mengharap sahabat dumay-nya bisa memberi jempol sebagai tanda suka atas ke-lebay-an dan ke-alay-annya. Mungkin perlu dipikirkan adanya pemilihan manusia paling lebay dan paling alay setiap tahunnya di negeri ini, dan kepada mereka yang unggul akan diberikan sertifikat lebay dan sertifikat alay…. Setuju…?**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *