Manny Pacquiau…., Mengapa Kalah….?

Di dalam pertandingan sepakbola ada sebuah filosofi yang menekankan bahwa pertahanan terbaik bagi sebuah tim adalah dengan terus menyerang. Ternyata, dalam pertandingan tinju pun falsafah tersebut berlaku untuk diterapkan. Dalam pandangan awam saya, saya mencermati, ketika melawan Floyd Mayweather, yang digelar di MGM Grand Garden Arena, Las Vegas, Amerika Serikat, pada 3 Mei 2015, yang lalu, Manny  Pacquiau telah menerapkan filosofi tersebut secara efektif. Akan tetapi sayangnya, ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapan penonton di seluruh penjuru dunia; Manny Pacquiau yang akrab disebut Pacman, masih kalah juga.

Banyak penggemar tinju yang dibuat penasaran dengan keputusan wasit yang dinilai oleh banyak kalangan sangat kontroversial dan tendensius. Manny yang menguasai pertempuran, “harus” takluk dalam tangan orang lain yang tidak ikut bertanding, tapi orang-orang tersebut mendapat bayaran masing-masing sebesar 20 ribu hingga 25 ribu USD per orang.

Manpac tetap berbahaya
Terus berinisiatif menyerang tapi akhirnya “harus” menerima dikalahkan

Dari layar kaca semua orang sependapat bahwa Pacman tidak sedikit pun memberikan ruang gerak yang leluasa kepada Mayweather untuk melontarkan pukulan melalui serangan balas. Pacman setidak-tidaknya menguasai 5 ronde pertandingan secara mutlak, sementara empat ronde lainnya dianggap oleh para pengamat berakhir seri. Tapi hasilnya sangat amerika; “amerika banget”, klo kata anak-anak Jakarta. Layaknya, pemenangnya memang seperti sudah ditentukan sebelum pertandingan dimulai. Sangat tidak fair.

Hampir seperempat penduduk dunia barangkali matanya fokus tertuju ke layar kaca televisi yang menyiarkan langsung pertandingan terbesar abad ini dari Las Vegas. Bahkan konon landasan udara Las Vegas pun dipenuhi oleh jet pribadi milik para milyuner dan selebritas dunia yang ingin menonton langsung pertandingan tersebut.

Dalam pertandingan tersebut, Pacman tak memberi angin sedikit pun terhadap lawannya dan tak menghiraukan gertakan-gertakan yang dibuat Mayweather terhadapnya. Seakan-akan Pacman sangat berkomitmen bermain tinju dengan sesungguhnya, sebagaimana seorang bermental juara bertinju, yaitu berkelahi sejadi-jadinya tanpa menghiraukan resiko terkena pukulan balik. Tugas dia memukul dan memukul, menghentikan laju gerak lawan dan kalau perlu menghentikan sama sekali lawan tandingnya dalam waktu singkat. Bukan menang kalah yang ada dalam pikiran Pacman, tetapi adalah ingin menghajar lawan sampai tuntas. Sementara itu Mayweather, sepanjang pertandingan, ronde demi ronde terus berlari, berkeliling ring tinju sambil menahan pukulan dan hanya sesekali memberikan serangan balasan yang tidak telak. Pacman ingin menyajikan tontonan kepada orang-orang yang telah mengeluarkan uangnya untuk membeli tiket yang tidak murah. Mulai dari 1,5 milyar hingga 50 juta rupiah per tiket. Harga yang tidak murah, dan akan percuma bila hanya menonton Mayweather yang berlari di atas ring, seperti ayam sayur yang terus diburu sebagai pecundang. Pacman ingin menunjukkan kepada lawannya begitulah seharusnya seorang juara bertanding.

Sepanjang pertandingan, semua mata telah menyaksikan secara nyata, bagaimana Mayweather terus berusaha menghindar dari sergapan Pacman yang terus mengurungnya di sisi ring tinju. Tidak tampak tanda-tanda dan mental juara dalama dirinya. Ternyata begitulah kelakuan orang-orang Amerika dalam hal berbisnis dan mengangkat derajatnya. Pacman yang berasal dari sebuah negara kecil, seakan-akan sangat tabu untuk mengalahkan petinju Amerika yang dielu-elukan sebagai juara dari negara adidaya. Seakan-akan Pacman wajar untuk diperlakukan dengan tidak adil. Adalah sebuah aib bila petinju Amerika yang dipuja-puja harus kalah di tangan petinju dari negara berkembang.

Pacman telah menunjukkan profesionalismenya; dia telah menunjukkan mental seorang juara sejati, sementara wasit telah menunjukkan sikap yang jauh dari harapan; bahkan maaf, sangat buruk. Wasit adalah manusia yang memiliki kencenderungan. Bisa jadi karena takut ada ancaman terselubung, ataupun bisa jadi kong-kalikong karena bisnis di dunia tinju. Mungkin ada anggapan jika Pacman menang nantinya tidak memiliki harga jual dan tidak akan bombastis untuk dielu-elukan sebagai juara dunia. Tapi apakah dengan petinju sayur yang “dimenangkan” akan menjadi layak untuk dijual? Penonton akan berpikir dua kali menonton kembali pertandingan “main sabun” yang diperagakan dalam arena yang bergengsi seperti ini.

Tapi ada rasa syukur di balik semua itu. Untung saja sepakbola yang menjadi favorit masyarakat dunia, tidak dikuasai oleh Amerika. Kalau saja Amerika menguasai bisnis industri dunia sepakbola, maka akan sulit berharap pertandingan antarnegara seumpama World Cup bisa menyajikan pertandingan yang tidak direkayasa. Untungnya ada Argentina, Brasil dan Mexico, Kolombia, dan Uruguay di daratan Amerika yang tak mampu diatasinya di lapangan. Demikian juga di daratan Eropa, ada Jerman, Prancis, Belanda, Spanyol dan Inggris yang kualitasnya sangat jauh di atas Amerika. Jadi mereka agak sungkan untuk mengatur sesuai dengan hasrat Amerika. Standar Amerika di dunia sepakbola masih belum dapat dimasukkan ke dalam jajaran tim elite sepakbola dunia. Masih berada dalam tataran medium. Masih belum mampu mengalahan Turki, Australia, Jepang ataupun Korea Selatan, jika mereka bertanding di lapangan.

Pacman, benar2 seorang profesinal. Dengan raut wajah yang tanpa beban, dia tak menghiraukan hasil pengumunan announcer dengan angka-angka kemenangan yang diraih Mayweather. Wajahnya tetap tersenyum sumringah. Dia mampu menyembunyikan kekecewaannya. Kekecewaan yang sama dirasakan oleh penggemarnya di seluruh dunia. Dia sungguh seorang profesional sejati, yang menempatkan sportivitas berada di atas segalanya. Yang tak mengharapkan kemenangan berkat bantuan orang lain yang tak bertanding. Meskipun secara kasat mata seluruh dunia melihat kemenangan Mayweather adalah kemenangan yang diraih Amerika bersama wasit.

Kita seharusnya berduka, dan sangat wajar berharap, seandainya Pacman bisa meng KO-kan Mayweather maka tentu saja akan lain cara wasit menilai hasil pertandingan. Dan ini sangat ditakuti, sehingga, MW terus menghindar dan terus berusaha menjaga jarak dari jangkauan Pacman yang memiliki pukulan yang mematikan. Apabila MW berani bertarung secara jantan, dan bukan seperti ayam sayur berlaga, maka bukan tidak mungkin dia hanya mampu bertahan paling lama hingga ronde kesembilan saja. Dengan terus berlari dan mengindar, MW telah berhasil menghindari “kematian kecil”nya di atas ring. Akan tetapi sebaliknya dengan cara begitu, dia bisa mengumpulkan poin yang diberikan oleh wasit. Petinju yang hanya bertahan tanpa agresivitas, akhir nya bisa menang dengan angka-angka yang “aneh”.

Sebagai penonton awam, saya bangga pada Pacman, walaupun kesibukannya sebagai Senator di negerinya, namun dia masih mampu mempersiapkan diri dengan baik dan menyajikan sebuah tontonan yang menarik dan berkesan, sehingga memberikan bobot tersendiri bagi sebuah sajian pertandingan yang berkelas. Seandainya bukan sebagai senator, mungkin Pacman jauh akan lebih mematikan lagi.

Satu hal yang lebih baik lagi dari Pacman. Separuh dari hasil pertandingan yang didapatkannya, akan didonasikan kepada masyarakatnya, jadi, dari pertandingan ini Pacman hanya akan mendapatkan sekitar Rp 900 juta saja bagi peruntukan dirinya. Suatu contoh kedermawanan yang patut ditiru dan dipuji. Pemain sepakbola dunia, Messi, Ronaldo dan Ozil telah juga lebih dahulu melakukan ini. Dan Pacman merupakan salah satu bagian dari jajaran orang-orang terkenal yang memiliki hati yang sangat mulia.

Bravo Manny…., we love you, very much! Kamu sangat membanggakan, bukan hanya bagi bangsa Philipina, tapi juga bagi Asia dan bagi masyarakat dunia yang menjunjung tinggi kejujuran dan sportivitas. Kamu lah juara sesungguhnya, Manny…!**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *