Aceh, Negeri yang Lelah

Aceh memang negeri yang sungguh sangat lelah. Historiografi Aceh, banyak terukir oleh tinta darah. Sejak jaman masa pendudukan Belanda Aceh secara bergelombang terus diselingi peperangan demi peperangan. Terakhir adalah pertikaian politik yang dihiasi perang antara Pemerintah Pusat dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), yang berlangsung secara terbuka pascareformasi tahun 1998 hingga ditandatangani perjanjian damai pada tanggal 15 Agustus 2005, di Helsinki, delapan bulan setelah bumi Aceh porak poranda diterpa gempa bumi dan tsunami. Malapetaka gempa dan tsunami telah merenggut lebih 150 ribu nyawa manusia dan merusak seluruh harta benda yang ada di atasnya, sepanjang 800 kilometer garis pantai.

Dalam perang Aceh melawan Belanda selama lebih dari lima puluh tahun, para pejuang Aceh telah berhasil memberikan perlawanan yang luar biasa, sehingga membuat penjajah tidak merasa nyaman ketika menduduki tanah Aceh. Dalam catatan sejarah, terdapat peristiwa tewasnya para pemimpin Belanda di tangan para pejuang Aceh, yaitu, di antaranya adalah Johan Harmen Rudolf Köhler. Jenderal Belanda ini meregang nyawanya di dalam pertempuran yang berkecamuk di halaman Mesjid Baiturrahman, Kutaraja, oleh peluru sniper Aceh yang bersarang di dadanya. Sementara seorang Jenderal lainnya, Yohannes Benedictus van Heutsz, diyakini oleh pejuang Aceh, tewas ketika disanggong oleh pasukan Aceh dalam kontak senjata di Kuta Glé, di pinggiran Sungai Batè Iliek, Samalanga. Bahkan ada empat perwira Balanda lainnya lagi yang meregang nyawa di bumi Aceh, dengan berbagai alasan dan cara. Yaitu: Johannes Ludovicius Jakobus Hubertus Pel, meninggal di Kutaraja, pada tanggal 23 Februari 1876, dalam usia 53 tahun; Jan Jacob Charles Moulin, meninggal di Kutaraja, pada tanggal 8 Juli 1896, dalam usia 51 tahun; Henry Jean Demmeni, seorang perwira Belanda keturunan Perancis, yang meninggal pada tahun 1886, dalam usia 56 tahun, ketika dibawa ke luar dari Aceh. Demmeni meninggal pada saat baru 2 tahun menjalankan tugasnya sebagai pemimpin militer Belanda di Aceh.

Untuk menaklukkan Aceh, Belanda secara sengaja mengirimkan pasukan Marsose, yaitu, pasukan khusus dengan keterampilan yang luar biasa dan sangat kejam. Akan tetapi Aceh tak kunjung takluk ke tangan Belanda. Darah para syuhada Aceh dan para martir yang berperang melawan Belanda banyak bercucuran membanjiri persada Iskandar Muda, tersebut. Aceh kental dengan tradisi perang, darah dan duka cita. Bukan hanya darah penjajah yang membasahi bumi Aceh, akan tetapi darah rakyat Aceh yang menjadi korban pembantaian dan pembunuhan.

Pada akhir tahun 1946, terjadi peristiwa pembunuhan terhadap kaum bangsawan di Aceh. Peristiwa revolusi sosial yang lebih dikenal dengan label “Perang Cumbok” ini, berawal meletus di daerah Aceh Pidie yang kemudian merebak hampir ke seluruh Aceh. Pihak yang bertikai adalah antara kaum ulama Aceh yang tergabung di dalam wadah Persatuan Ulama Seluruh Aceh (Pusa), di bawah pimpinan Teungku Daud Beureu-éh, melawan segenap Ulubalang Aceh yang oleh para ulama dicurigai sangat memihak kepada penjajah Belanda, demi untuk kepentingan politik dan kekuasaannya. Perang ini menyisakan luka yang sangat pedih, merenggut lebih dari 2000 jiwa korban. Banyak para ulubalang dan keluarganya yang selamat, kemudian, terpaksa melarikan diri keluar Aceh, dan bahkan ada yang menanggalkan gelar kebangsawanannya demi untuk keselamatan.

Peristiwa lainnya adalah, meletusnya pemberontakan DI/TII, pada tahun 1953, yang dipimpin oleh Teungku Daud Beureu-éh, karena enggan bergabung dengan Republik Indonesia yang dianggapnya akan mendirikan negara sekuler. Alasan lainnya adalah karena pemimpin Indonesia memasukkan daerah Aceh sebagai bagian dari Sumatera Timur/ Sumatera Utara yang beribukota di Medan. Di samping itu adanya kekhawatiran kaum ulama akan kembalinya pengaruh dari para ulubalang yang ingin mengambil kesempatan di dalam pemerintahan bentukan Indonesia. Para pemimpin revolusi Aceh yang memiliki basis kaum ulama, berkeinginan agar Aceh menjadi bagian dari Darul Islam, yang berbentuk negara Islam Indonesia. Dalam peristiwa ini banyak rakyat Aceh dan tokoh ulama Aceh yang terbunuh. Pada tahun 1962, pimpinan pemberontakan, Teungku Daud Beureu-éh, berhasil dibujuk untuk menyerahkan diri dan bergabung kembali dengan Republik Indonesia.

Disusul kemudian, meletusnya peristiwa PKI, pada tahun 1965. PKI dianggap telah banyak melakukan provokasi dan propaganda yang menimbulkan keresahan dan antipati terhadap agama dan ulama. Kaum ulama Aceh sepakat bahwa PKI sangat bertentangan dengan agama Islam yang merupakan agama yang dianut oleh masyarakat Aceh.
Ribuan orang Aceh telah meninggal dalam berbagai peristiwa yang sungguh tragis tersebut. Terakhir adalah peristiwa gempa bumi dan tsunami yang menimpa Aceh pada tanggal 24 Desember 2004. Gempa dan tsunami telah meninggalkan luka yang dalam dan trauma yang berkepanjangan. Banyak keluarga yang kehilangan anggota keluarganya; banyak anak kehilangan orang tuanya. Atau sebaliknya, orang tua yang kehilangan anaknya. Banyak yang telah kehilangan sanak saudaranya.

Aceh penuh dengan cerita pilu; Aceh selalu berhiasi perang dan kehilangan.
Aceh kental dengan tradisi perang, darah dan duka cita. Bukan hanya darah penjajah yang pernah jatuh membasahi bumi Aceh. Darah para syuhada’ juga pernah membanjir bumi serambi Mekkah ini. Setiap peristiwa selalu mengambil nyawa manusia. Setiap peristiwa meninggalkan kepedihan. Periode demi periode peristiwa Aceh seperti memiliki satu kisah yang berkaitan dengan perang dan pemberontakan serta kisah tragis lainnya. Kisah yang terjadi sebagai pengulangan duka anak bangsa Aceh. Kisah yang terjadi dengan mengikuti siklus jarak waktu tertentu. Damai dan tragedi seperti silih berganti. Aceh memang telah sangat lelah. Sudah saatnya damai menjadi segala-galanya…**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *