Nostalgia Medan

Dulu di tahun 1970-an, ada pameo yang mengatakan bahwa sebuah grup band belum dianggap hebat jika belum mampu menembus penonton Medan. Kalau show di Medan tidak kena timpukan batu atau sorakan menyuruh turun, maka band tersebut dianggap sudah lulus tes dan pantas menyandang grup band beken. Kebetulan saja hal ini juga “berlaku” dijajaran kepolisian. Seorang perwira polisi yang sudah sukses memegang Kapolda Sumut, maka sangat besar peluangnya ke tangga jabatan Kapolri.

Medan memiliki kondisi masyarakat yang khas. Perbauran antarsuku yang hidup di Medan memberikan warna tersendiri bagi pola dan sikap warganya. Medan sangat heterogen. Bahasa kocak khas Melayu, bercampur dengan khas Toba, ataupun Minang melahirkan bahasa Medan yang sedikit menghentak-hentak. Terkesan kasar, memang. Tapi itulah gaya Medan. Semua bahasa unsur, lenyap menjadi bahasa Medan. Orang Jawa yang merupakan “pujakesuma” (putra Jawa kelahiran Sumatera), sangat piawai menuturkan bahasa Medan, begitu juga, orang Aceh, Banjar, Sunda, Tionghoa dan India yang menjadi warga Medan. Semua bangga berbicara dengan bahasa gaya khas Medan.

Meskipun mereka datang dari berbagai latar belakang etnis yg beragam, akan tetapi fanatisme Medan mengental dalam diri mereka. Lihatlah bagaimana PSMS Medan, selalu mendapatkan dukungan penuh secara fanatik dari masyakarat Medan dan Sumut, setiap kali mereka bertanding. Stadion Teladan Medan selalu menjadi neraka bagi kesebelasan tamu. Dan PSMS pun memiliki stok pemain yang bertalenta tinggi kala itu. Sebut saja, Yuswardi, Nobon Kayamuddin, Ipong Silalahi, Saari, Tumsila, Ronny Paslah, yang merupakan pemain lama yang sering mengisi barisan Timnas Indonesia kala itu.

Marah Halim Cup merupakan helatan berskala internasional, yang digagas oleh Gubernur Sumatera Utara, pada periode 1967-1978, Marah Halim. Sehingga kala itu, masyarakat Medan sudah terbiasa menyaksikan pertandingan yang menghadirkan Timnas Malaysia, Thailand, Vietnam, Singapura ataupun, Birma. Begitu perkasa PSMS kala itu, sehingga Kamaruddin Panggabean sang Maestro Sepakbola Nasional, asal Medan, berani mengundang timnas negara luar ke turnamen tersebut.

The Rhythm King, salah satu grup band ternama di Medan pada era tahun 70-an
The Rhythm King, salah satu grup band ternama di Medan pada era tahun 70-an

Kamaruddin Panggabean sangat bertangan dingin. Setiap pemain yg ada di tangannya pasti jadi. PSMS pun tidak akan pernah kekurangan stok pemain, karena didukung oleh klub lokal seperti, Bintang Utara, Medan Putra, Sri Naga, Bintang Selatan, Tirtanadi, dan sebagainya. Kota Medan pun memiliki dua buah stadion yang representatif dan sangat terawat pada masa itu, Stadion Kebun Bunga dan Stadion Teladan. Kemudian, belakangan muncul lapangan bola milik klub semiprofesional Pardedetex di komplaks TD Pardede, di Jalan Binjai, Medan.

Di samping sepakbola, Medan juga dikenal sebagai kota musik. Ada belasan grup band lahir dari kota ini. Sebut saja The Mercy’s, yang diawaki oleh Erwin dan Rinto Harahap, Charles Hutagalung, Reynold Panggabean, serta Rizal Arsyad. Ada The Rhythm King, yang terdiri dari: Darmawan, Darmawi dan Darma Purba, Raja Muda Nasution, plus penabuh drum Yaya. Kemudian ada grup musik rock, seperti, Destroyer, Minstrel’s, Great Season, Freemen, Les Sphinx, Fair Child, Rag Time, dan lain-lain.

Medan selalu panas dengan hingar bingar musik rock. Uriah Heep, pernah tampil di stadion Teladan Medan. Begitu juga Godbless, yang kebetulan ketika tur ke Medan personelnya diisi oleh Debby, Keenan dan Odynk Nasution serta Donny dan Ahmad Albar. Band pendampingnya adalah Minstrel’s yang memiliki penabuh drum legendaris: Jelly Tobing.

Koesplus dan Bee Gees juga pernah manggung di Gedung Olahraga yang terletak di Jalan Bintang, Medan. Semua kursi penuh diisi penonton yang fanatik. Tony, Yon, Yok dan Murry, benar-benar merasakan hangatnya publik pencinta musik Medan. Begitu juga Robin, Barry dan Maurice Gibb pernah mendapatkan applus yang luar biasa dari penonton Medan, karena sangat puas atas penampilan mereka. Begitu juga Cees Veerman serta Piet Veerman dan kawan-kawan dari The Cats. Mereka pernah merasakan kehangatan penonton ketika manggung di stadion Teladan, Medan .

Gelegar musik di Medan dipersemarak oleh radio swasta niaga seperti: Bonsita, Kordopa, Alnora dan lain-lain. Radio di kota Medan tidak kalah meriah dari kota-kota besar lainnya di Indonesia, seperti, Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Pilihan pendengar melalui telepon atau kartu pos menjadi ajang untuk berkomunikasi antaranak muda melalui lagu-lagu yang dimintanya. Nama-nama samaran yang muncul pun kalau untuk ukuran sekarang termasuk dalam klasifikasi “lebay bin alay”.

Padahal waktu itu nama-nama julukan yang sering muncul dalam siaran pilihan pendengan sudah dianggap “keren” banget. Sense anak muda sekarang memang berbeda dengan sense anak muda jadul. Tapi soal musik, mungkin musik rock jadul masih sangat mengesankan hingga saat ini…***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *