Nostalgia Film Kungfu di Kota Medan

Medan di tahun tujuh puluhan tidak hanya meriah di bidang musik dan sepakbola semata. Sisi lain dari anak-anak muda Medan adalah, salah satunya hobi nonton film silat. Medan yang sudah memiliki gedung bioskop yang dilengkapi sound system dan berpendingin baik juga dijejalin dengan hadirnya Taman Hiburan Rakyat (THR) atau Panggung Hiburan Rakyat (PHR) yang dibangun dengan sederhana. Kadang orang menyebutnya “bioskop misbar”, gerimis bubar. Karena kalau ada hujan sedikit, ada PHR yang penonton ikut kena tempias atau rintik hujan sekaligus. Tapi sesuai dengan harga karcisnya penonton selalu berjubel, bahkan terkadang tanpa klasifikasi umur; semua bisa masuk asal membeli karcis.

Kalau dalam film nasional, masyarakat mengenal Dicky Zulkarnen, Ratno Timoer, Sophan Sophiaan, Widyawati, Lenny Marlina, dan lain sebagainya; maka, dalam Film India orang mengenal bintang-bintang Bollywood, seperti, Sashi Kapoor, Rajesh Khanna, Dharmendra, Hema Malini, Dimple Kapadia, dan lain sebagainya. Sementara bintang-bintang film silat Hongkong yang terkenal pada saat itu adalah, Wang Yu, David Chiang, Tilung, Lo Lieh, Cheng Kuang Thai, sedangkan bintang film perempuannya adalah Cheng Pei Pei, Shang Kuang Ling Fung, dan Li Ching Hsia.

Mereka adalah pendekar-pendekar yang senantiasa memeriahkan pertarungan di dalam film kungfu Hongkong. Orang Medan sangat kenal dengan permainan silat tangan kosong dan perkelahian menggunakan pedang mereka dalam film. Kalau pun kemudian datang Bruce Lee sebagai jagoan baru, tapi sayangnya hanya beberapa kali saja muncul filmnya dan kemudian masyarakat pencinta film silat mendengar kabar tentang kematiannya.

Pada umumnya film kungfu yang diproduksi oleh Shaw Brothers memiliki rating yang tinggi di Kota Medan. Di samping dibintangi oleh bintang film Hongkong dan Taiwan yang terkenal, biasanya sutradara yang dimiliki Shaw Bross atau Show Brother (SB) juga sangat piawai dalam membuatkan film, seperti John Woo, misalnya, yang mampu menghasilkan film-film bermutu, baik dari segi kemasan cerita, maupun penampilan teknik bertarung serta teknik pengambilan gambarnya. Di samping SB, produser terkenal lainnya adalah Golden Harvest (GH), yang juga memproduksi film-film laga Hongkong yang banyak beredar di Indonesia, hingga ke Medan.

Wang Yu, David Chiang dan Ti Lung.
Wang Yu, David Chiang dan Ti Lung, bintang silat Hongkong yang pujaan di era 1970-an

Film silat kungfu menjadi sangat fenomenal ketika itu. Banyak anak2 remaja yang bergaya seakan-akan mereka sudah memiliki ilmu tersebut hanya karena sering menonton film kungfu. Demikian juga anak-anak mudanya yang suka bergaya seperti pendekar. Bahkan sebagian anak-anak muda Kota Medan pada gandrung untuk berlatih beladiri dari berbagai macam aliran. Hal ini berkat inspirasi yang diperoleh dari film-film kungfu yang mereka tonton di kala itu. Ada yang ikut berlatih karate, kungfu, silat, judo, kempo, taekwondo dan lain sebagainya. Tujuannya terilham dari film silat yang menunjukkan seorang pahlawan selalu perlu memiliki ilmu beladiri yang memadai, sehingga tidak mudah ditekuk oleh penjahat sebagai lawannya.

Yang sangat dikenal masyarakat pada saat itu adalah Perguruan Karate Kala Hitam, yang didirikan oleh para jurnalis Kota Medan dan berpusat di Kota Medan. Di samping itu ada perguruan Black Panther yang dipimpin oleh Guru Besarnya, Prof. M.A.S.D.E.S.W. Teuku Syahriar Mahyoedin C.L.M.Sc. Sama halnya dengan Perguruan Kala Hitam, aliran Black Panther, juga menerapkan sistem fullbody-contact yang boleh langsung menyerang ke badan kawan latihnya ataupun ketika bertanding, dengan tidak menggunakan alat pelindung badan sama sekali.

Dengan memiliki kepampuan beladiri, dia akan mampu menjaga diri, membela diri dan membela kaum lemah. Akan tetapi banyak juga yang merasa jagoan meskipun kosong melompong, tanpa memiliki kemampuan seni beladiri apa pun. Anak-anak muda model begini cuma bermodal gertak sambal saja, tapi belum tentu mampu bertarung seperti anak muda lainnya yang menguasai ilmu beladiri. Ini ciri khas preman lontong yang banyak ditemukan di Medan pada waktu itu. Mereka hidup di mana-mana. Di kampung-kampung, di pasar-pasar, bahkan di lingkungan sekolahan. Kerja mereka hanya mencari masalah, dan gertak sini gertak sana, ngompas sini ngompas sana. Kalau berantam ujung-ujungnya main keroyokan. Ciri-ciri kelakuan preman lontong.

Saat itu film silat nasional juga sangat laris untuk ditonton. Sebut saja, “Si Buta dari Goa Hantu”, yang dibintangi oleh Ratno Timoer; “Si Pitung”, Dicky Zulkarnaen; “Panji Tengkorak”, Deddy Sutomo; bahkan dalam film silat, “Si Bongkok”, yang diperankan Sophan Sophiaan ikut juga dimeriahkan oleh bintang-bintang hebat kala itu, seperti, Ratno Timoer, Dicky Zulkarnaen dan Widyawati. Mereka bermain bersama dalam sebuah film.

Begitu lah gaya anak-anak muda Medan di kala itu. Bagi yang sedang mabuk kepayang, film percintaan India menjadi konsumsi rutin bagi mereka ataupun seumpama film percintaan nasional seperti “Pengantin Remaja” yang dibintangi oleh Widyawati dan Sophan Sophiaan, yang pernah menjadi box office di Kota Medan. Rambut ala Sophan Sophiaan pun dicoba tiru habis oleh sebagian anak-anak mudanya. Bagi yang suka menonton film laga, mereka memilih film kungfu produksi Hongkong yang merajai Kota Medan dan seluruh pelosok Sumatera Utara kala itu. Anak-anak muda ini pun kemudian tak sungkan-sungkan untuk senantiasa mempersonifikasikan diri mereka sebagai pahlawan-pahlawan yang ada di dalam film yang ditontonnya.

Hasil akhir dari sebuah petarungan selalu memberikan kemenangan bagi lakon film yang senantiasa berlaku baik, rendah hati dan selalu berpihak pada kaum yang tertindas. Penjahat yang berbuat sewenang-wenang, menindas rakyat dan memeras orang lemah, meskipun dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya, akhirnya, pasti takluk di tangan kesatria yang baik hati.

Ibarat memiliki magnet, film selalu menarik penontonnya untuk mengambil, mengikuti, meniru dan mengidentifikasi gaya dan perilaku pemain yang berperan di dalamnya. Film akan terus mengikuti perkembangan jaman yang membuat masyarakat dari masa ke masa selalu tergila-gila untuk menikmatinya. Di sana berbaur berbagai nilai, yang antara lain, adalah nilai keteladanan, hiburan, pendidikan dan teknologi, yang tentu saja membutuhkan apresiasi dari masyarakat pencinta film untuk memilah dan menilainya.….**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *