Budaya lalulintas yang bersahabat

Yogyakarta penuh dengan keunikan budaya. Dengan label “kota pelajar”, ianya, terus menuai daya pikat dari siapa saja yang ingin mengenyam pendidikan di sini. Tingkat populasi kaum terpelajar yang tinggi, menjadikan iklim belajar di kota ini, benar-benar kondusif dan nyaman untuk menuntut ilmu. Keraton yang menjadi pusat budaya, dengan berlatar budaya Jawa, —yang mencerminkan sifat manusia terpelajar dan berbudi luhur: santun, lembut, penuh pertimbangan—, ikut berkontribusi mendukung berlangsungnya proses belajar-mengajar di Yogyakarta. Di kemudian hari, sifat-sifat ini ada yang terbawa jauh, ke tempat para penuntut ilmu berasal dan memberi warna bagi lingkungan mereka.
Pertambahan penduduk Yogyakarta, secara instan selalu terjadi seiring gelombang kedatangan calon mahasiswa pada setiap awal tahun ajaran baru. Jumlah mahasiswa yang masuk dan yang keluar, sangat tergantung laju kelulusan. Kondisi ini kemudian diikuti dengan peningkatan jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan laju penambahan luas jalan, dan berdampak pada kemacetan.
Secara umum penumpukan kendaraan, terjadi pada daerah yang berdekatan dengan pusat pendidikan dan perbelanjaan. Selain di Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman merupakan jalur lalulintas dengan frekuensi yang tinggi, terutama pada waktu berangkat kerja, ke sekolah ataupun ke pasar; atau pada jam pulang, usai beraktivitas.
Sebagian pengendara adalah mereka yang datang dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu, yang kondisi lalulintasnya di daerah asalnya tidak sama dengan lalulintas di Yogyakarta. Di sebagian daerah, jumlah kendaraan belum sebanyak di Yogyakarta, demikian juga ketertiban lalulintas yang terbilang longgar.
Menjadi fenomenal, ketika angkatan sebelumnya telah mampu menyesuaikan diri, tiba-tiba pada pergantian tahun ajaran, Yogyakarta dipenuhi kembali oleh calon mahasiswa baru yang membawa kebiasaan masing-masing. Positifnya, ini merupakan pengayaan budaya yang mencerminkan kebhinekaan. Akan tetapi akan bermakna lain manakala kemampuan adaptasi tidak bekerja secara baik. Akibatnya berbias pada tingkah laku di jalan raya. Ternyata pola kehidupan Yogyakarta, tidak serta merta memberikan perubahan bagi seseorang untuk inherent ke dalam budaya Yogyakarta. Butuh waktu untuk proses akulturasi.
Sengaja membandingkan dengan suasana lalulintas Jakarta, lalulintas di Yogyakarta memiliki pemandangan yang khas. Pengguna jalan di Yogyakarta cenderung saklek dengan peraturan; pengendara yang berjalan lurus harus selalu didahulukan, sehingga pengendara yang berbelok perlu bersabar. Ini jadi unik, lantaran kepadatan lalulintas, tidak memberikan ruang yang cukup bagi pengendara yang akan berbelok di jalan yang tidak ada lampu merah, ataupun bagi pengguna jalan lainnya untuk menyeberang.
Banyak lokasi yang menimbulkan kemacetan di Jakarta, sama sekali tidak dipandu oleh petugas, tetapi masyarakat mampu mengurai kemacetan dengan cara mereka sendiri secara tertib, sudi saling memberi tanpa merasa ada yang dikalahkan. Pengalaman telah menumbuhkan sikap empati dan etika berlalulintas bagi warga Jakarta, untuk bisa menghargai pengguna jalan lain dan membentuk saling pengertian. Keduanya tertanam dalam diri masing-masing pengguna jalan, sehingga proses pemanfaatan jalan, aman dan lancar.
Tradisi seperti ini jarang terlihat di Yogyakarta, sehingga, bagi yang terbiasa berkendaraan di Jakarta, akan merasa gamang, ketika pertama sekali berlalulintas di Yogyakarta. Mudah dijumpai, para pengendara menyodok secara sembrono, tanpa mengurangi laju kendaraan ketika melihat ada kendaraan akan berbelok di depannya; atau ketika melihat ada pejalan kaki yang akan menyeberang, pada zebra cross sekalipun. Padahal sudah ada tanda lampu “sign” yang dinyalakan. Memperlambat ataupun berhenti sejenak untuk memberikan kesempatan kepada pengguna jalan lain, dianggap tidak biasa. Padahal merupakan sikap elegan yang menggambarkan keluhuran budi, dan tidak akan menimbulkan kerugian apapun.
Menjadi ironis pula, bila sikap tidak empatetis seperti itu, ikut dipertontonkan oleh orang-orang terpelajar, seumpama, tokoh, guru atau pengajar dari perguruan tinggi. Tidak tampak sikap rebutan mengalah di jalan raya; yang ada semuanya ingin mendapat kesempatan pertama; selalu merasa ingin didahulukan. Sikap ini tidak mewakili budaya luhur yang semestinya dimiliki masyarakat Yogyakarta, yang tepa selira dan penuh pengertian. Sikap ini tumbuh secara liar hanya semata-mata ketika berkendara di jalan raya. Sementara itu di tengah masyarakat tampak hidup penuh guyub, rukun dan sangat damai.
Seyogyanya, Yogyakarta, harus bisa menjadi pelopor sebagai kota tertib lalulintas. Peringatan dan semboyan yang telah ditempatkan pada sudut-sudut jalan, sepatutnya, wajib dipatuhi bersama, sembari berupaya untuk menumbuhkan sikap empati di jalan raya. Semuanya tentu saja untuk menuju kepada kepentingan bersama: yaitu, Yogyakarta yang tertib, aman dan lancar dalam berlalulintas….**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *