Nasib Tragis Warga Rohingya

Ini bukan pertama kalinya muslim Rohingya, mengalami eksodus dari negerinya. Mereka harus meninggalkan harta benda dan apa saja yang tidak bisa dibawa, untuk melarikan diri mencari tempat yang aman bagi kehidupan. Birma yang sekarang bernama Myanmar adalah tanah lahir mereka sejak turun temurun; sejak sembilan abad yang lalu. Tanah ini berbatasan langsung dengan Bangladesh yang merupakan akar rumpun mereka. Di Myanmar mereka menjadi minoritas yang dari jaman ke jaman terus mengalami intimidasi dan pembunuhan tanpa prosedur.
Masyarakat dunia sangat prihatin dengan sikap masyarakat Myanmar yang keji dan tak berprikemanusiaan. Banyak siksaaan, penganiayaan, pemerkosaan dan penghilangan nyawa secara paksa dilakukan oleh penduduk Myanmar yang tak beradab. Masyarakat muslim dunia pun merasakan bahwa tindakan PBB dan negara adidaya seperti Amerika, sangatlah lambat dalam mengantisipasi kejadian yang menimpa warga Rohingya, padahal sudah berlangsung bertahun-tahun. Ditambah lagi sikap beberapa Negara Asean yang menutup diri dari kejadian ini.
Warga Aceh, pernah mengalami kepedihan akibat kehilangan, ketika daerah itu diporakporandakan oleh kekuatan gempa bumi dan tsunami yang dahsyat. Dengan uluran tangan bantuan dari berbagai bangsa di dunia, Aceh bisa menjalani sebuah proes untuk bangkit dari kesedihan dan trauma. Hari ini mereka secara spontan memberikan bantun untuk muslim Rohingya, yang sedang mengalami penderitaan luar biasa. Terombang ambing di laut lepas tanpa bahan makan dan tujuan yang jelas. Untunglah “Panglima Laot” Aceh dengan sangat sadar mencoba menggiring orang-orang Rohingya untuk mendarat di lepas pantai Aceh, karena mengingat kondisi mereka yang sangat menyedihkan. Maka tersebarlah para pengungsi tersebut mulai dari Aceh Tamiang hingga sampai ke Lhokseumawe. Tindakan Panglima Laot yang sangat dihormati masyarakat nelayan Aceh ini bukan tanpa tantangan. Tak kurang Pamnglima TNI memberikan komentar yang miring tentang langkah yang diambil oleh para nelayan Aceh.
Ada dua alasan yang menjadi pertimbangan Panglima Laot Aceh untuk membantu orang-orang Rohingya: “kalau bukan rasa kemanusiaan, maka rasa sesama muslim adalah alasan kita membantu mereka”. Jadi siapa pun dia, ras apapun mereka, agama apapun yang mereka anut, bila membutuhkan bantuan, wajib dibantu. Karena bagi nelayan Aceh, kejadian serupa sewaktu-waktu bisa terjadi pada diri mereka, tersesat di tengah lautan ataupun mengalami musibah ketika melaut di lautan lepas. Dan sebagian mereka sudah sering sekali dibantu oleh Angkatan Laut India ataupun oleh para nelayan dari negera tetangga lainnya yang berbaik hati. Jadi tidak ada salahnya membantu orang lain yang sedang membutuhkan bantuan.
PBB, Amerika dan Inggris yang selama ini hanya sibuk membela seorang Aung San Suu Kyi yang dipasung hak demokrasinya oleh junta militer Myanmar, mengabaikan pembantaian dan penghapusan muslim Rohongya dari bumi Myanmar. Bahkan tangan pasukan Inggris pernah berlumuran darah muslim Rohingya, yang merenggut lebih dari 20 ribu warga Rohingya, ketika Inggris menjajah daerah tersebut. Kini mereka pun menutup mata atas kekejaman yang menimpa warga Rakhine atau Rohingya tersebut. Bagi mereka, hak seorang Aung San Suu Kyi jauh lebih berharga dari pada nyawa jutaan orang Rohingya yang terancam. Aung San Suu Kyi yang dinobatkan untuk hadiah nobel untuk hak asasi manusia, tidak memedulikan sama sekali atas hak asasi warga Rohingya yang ditindas oleh warga dan pemerintahan Myanmar. Ironi ini tetap dipertontonkan hingga batas waktu yang tidak dimengerti. Warga Rohingya tetap mengalami penderitaan yang berkepanjangan. Meskipun ada desakan dari dunia internasional agar Myanmar bertanggung jawab, tapi keamanan bagi warga muslim Rionhingya tetap tidak terjamin. Ketika mereka kembali ke negerinya, mereka akan mendapatkan perlakukan yang sama, tindakan di luar batas kemanusiaan dari orang-orang Burma dan pemerintahnya.
Panglima Laot Aceh bersama para nelayan Aceh telah bertindak benar dengan langkah yang diambilnya. Dan langkah ini kemudian mendapatkan support dari berbagai elemen masyarakat Aceh. Dengan perhatian penuh dari berbagai saudara-saudara lainnya dari seluruh nusantara, rasanya bantuan untuk pengungsi Rohingya telah dapat mengurangi beban derita yang telah berlangsung barabad-abad menimpa mereka. Masih ada ratusan ribu warga Rohingya yang masih tinggal di Myanmar. Tidak ada satupun yang mengetahui kapan penderitaan mereka akan berakhir. Pemerintah sosialis Myanmar tidak mengakui masyarakat Rohingya yang beragama Islam. Warga Rohingya dianggap sebagai pendatang haram dinegeri ini dan tidak ada harapan untuk mendapatkan pengakuan yang sepantasnya. Seharusnya kebiadaban ini mengundang campur tangan masyarakat dunia, terutama PBB. Bila Amerika dan sekutunya berani menyerang Irak untuk suatu alasan tertentu, maka sebagai alasan kemanusiaan, memperingati Myanmar adalah sebuah langkah bijak untuk menghentikan tindakan penghilangan paksa etnis dari muka bumi yang dipertontonkan di Myanmar. Ini kejahatan kemanusaiaan, yang bertujuan untuk penghapusan etnis (genocide), namun dunia tetap bungkam. Populasi warga Rohingya, yang pada tahun 2002 mencapai hampir 3 juta jiwa, saat ini hanya tinggal seperempatnya saja. Tahun demi tahun jumlah mereka semakin berkurang. Sebagian berhasil melarikan diri ke luar negara untuk menghindari penindasan dan pembunuhan dan sebagian lagi dibantai secara kejam oleh induk negaranya sendiri dan orang-orang Myanmar yang tidak berperikemanusaiaan. Akankah dunia berpangku tangan…?**

Sumber: Antara News; Wikipedia, dan sumber lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *