Sifat “Weuh” yang Berbuah Positif

Salah satu sifat orang Aceh dari berbagai sifat yang dimilikinya, adalah gampang “weuh”. Kalau di Indonesia-kan kata “weuh”, akan berarti kira-kira sama dengan perasaan terenyuh, terharu, tersentuh hatinya oleh hal-hal yang menimbulkan kesediahan dan kemasygulan. Perasaan ini tidak hanya akrab menghinggapi perasaan kaum wanitanya, melainkan juga pada kaum laki-laki Aceh pada umumnya.
Dalam cerita perang yang sering terjadi di Aceh sejak jaman penjajahan, perasaan “weuh” ini juga menjadi pendorong bagi pejuang Aceh untuk mengangkat senjata melawan kezaliman. Demikian pula tatkala terjadi konflik vertikal antara pemerintah RI dan GAM yang berlangsung puluhan tahun yang menimbulkan korban yang cukup banyak di kedua belah pihak. Semuanya diawali dengan perasaan ini. Orang laki-laki dewasa tidak sanggup menyaksikan, melihat dan mendengar wanita-wanita, anak-anak dan orang tua yang mendapat perlakuan kejam dari para aparat yang bertugas di Aceh kala itu. Maka banyak laki-laki dan perempuan secara berbondong-bondong ikut menyandang senjata melawan kezaliman yang dipertontonkan oleh aparat pemerintahan RI yang bertugas di Aceh. Kondisi itu membuat semakin banyak masyarakat Aceh yang condong mendukung perjuangan GAM, yang sedang melawan TNI yang ditugaskan untuk memadamkan pemberontakan GAM yang ingin berpisah dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Itu salah satu bukti bahwa rasa “weuh” bisa menjelma menjadi suatu daya juang yang sangat luar biasa kuatnya dalam mendorong manusia Aceh melakukan sesuatu tindakan yang bisa berubah menjadi rasa bangga, bahagia dan rela berkorban.
Pekan-pekan ini Aceh mencuat menjadi topik berita, baik di tingkat nasional maupun secara internasional dan bahkan menjadi trending topic di dunia maya. Panglima La-ot Aceh dan para nelayan telah mengambil langkah yang sangat manusiawi untuk membantu Kaum Rohingya yang terusir dari kampung halamannya di Myanmar, yang telah didiaminya selama lebih dari sepuluh abad yang lalu. Para nelayan Aceh yang melaut telah menyaksikan bagaimana orang-orang perahu Rohingya yang terombang-ambil di laut tanpa ada tujuan, dan berada dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Maka muncullah inisiatif dari Panglima La-ot Aceh untuk memerintahkan agar para nelayan Aceh menjemput mereka di tengah laut dan menggiring mereka untuk merapat ke pantai timur Aceh.
Bagaikan mimpi, kaum Rohingya baru menyadari ketika mereka banar-benar berada di darat dan melihat kenyataan bahwa mereka diterma dengan baik oleh tuan rumah yang mendiami pantai timur Aceh. Harapan yang telah putus di tengah laut kembali muncul di dalam dada mereka. Beberapa hari sebelum bertemu dengan para nelayan Aceh, dan belum mengetahui akan ke mana gerangan mereka akan pergi, mereka telah merasakan ancaman dengan tembakan-tembakan ke arah perahu-perahu yang membawa ratusan warga Rohingya tersebut. Belum habis kesedihan mereka ketika berada di negeri mereka sendiri, maka ketika dalam keadaan terkatung-katung di laut pun mereka masih mendapat perlakuan yang tidak manusiawi. Di beberapa negara tetangga semisal Thailand dan Malaysia pun mereka diusir ke laut agar tidak merapat ke pantai negara-negara tersebut.
Di daratan Aceh, mereka menjadi tontonan yang menyedihkan dan mengundang rasa “weuh” warga Aceh, yang melihat kondisi mereka secara langsung. Perasaan ini mendorong solidaritas kemanusiaan mayarakat Aceh untuk bersama-sama mengulurkan bantuan kepada kaum Rohingya yang menjadi “tamu” mereka. Langkah dan tindakan masyarakat ini tanpa ada komando dari siapa pun kecuali atas panggilan hati nurani dan keikhlasan untuk membantu. Lagi-lagi sifat dasar orang Aceh yang gampang “weuh” itu, menjadi motivasi masyarakat untuk membantu orang yang sedang dirudung malang dan berjalan secara spontan.
Masyarakat Aceh sudah pernah merasakan kesedihan yang silih berganti dalam sejarah hidup bangsa ini. Kekejaman kaum penjajah, sejak Belanda mencoba untuk menduduki Aceh, dilanjutkan dengan pendudukan Jepang yang begitu sadis, hingga kemudian selama berpuluh tahun di bawah “Operasi Jaring Merah” atau “Daerah Operasi Militer” (DOM) yang tidak kurang kejamnya, sampai terjadi perang terbuka antara pasukan GAM dan TNI/ Polri sejak 1998-2003; pada saat Darurat Militer, 2003-2004, dan dan dilanjutkan Darurat Sipil; terakhir gempa bumi dan tsunami yang menyebabkan banyak kehilangan harta benda dan nyawa yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004, dan disusul dengan langkah penandatanganan MoU perdamaian yang terjadi pada tanggal 15 Agustus 2005, di Helsinki.
Pada saat ini dengan membantu kaum Rohingya, berarti masayarakat Aceh sedang berbagi untuk merasakan bagaimana kesedihan itu sesuatu yang sangat berat bila dipikul sendiri. Bagaimana kesediahan akan sangat menyiksa apabila tidak dapat keluar dari permasalah itu sendiri; bagaimana kesedihan akan semakin dalam bila tidak diperjuangkan untuk mengangkat martabat mereka yang sedang tenggelam dalam kesedihan. Maka ketika berbagai bangsa di dunia datang untuk membantu Aceh yang terpuruk akibat gempa bumi dan tsunami, hal itu menjadi momentum bagi orang-orang Aceh untuk bangkit lebih cepat dan keluar dari kesedihan yang sedang menderanya. Belum kering luka akibat DOM dan peperangan, gempa dan tsunami datang menghempas daratan Aceh dan menyisakan luka baru. Aceh pernah merasakan uluran tangan yang tulus dari masyarakat dunia yang telah membantu masyarakatnya yang tertimpa musibah. Dan pada hari ini masyarakat Aceh dengan tulus ikhlas membantu kaum Rohingya yang bener-benar sedang membutuhkan uluran tangan dan perhatian mereka….**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *