Abad Kejayaan

Film seri kontroversial yang diputar pada salah satu stasiun swasta sejak 5 bulan yang lalu, bila ditinjau dari sejarah kejayaan islam ataupun untuk edukasi, dalam pandangan saya, hampir tak dapat diambil manfaatnya sama sekali, kecuali sebuah pelajaran tentang betapa ambisi dan kekemarukan merupakan racikan bumbu dari sebuah organisasi yang berbasis pada kekuasaan. Film ini mengajarkan intrik dan konspirasi yang cukup ekstrem, melampaui apa yang pernah dipertontonkan dalam beberapa film seri “telenovela” dari Meksiko atau Brasil, pada seperembad abad yang lalu yang pernah ditayangkan di beberapa tv swasta saat itu. Ceritanya berkisah di balik kejayaan Kekaisaran Ottoman, yang selalu diselimuti dengan perselingkuhan, persaingan, pertentangan, dendam kesumat dan penghilangan nyawa secara semena-mena.

Abad Kejayaan yang mengambil latar belakang sebuah perjalanan sejarah Kekaisaran Turki Ottoman, yang “seakan-akan” mewakili Islam, adalah sebuah kekuatan dan sekaligus bentuk peradaban baru di awal kecemerlangan Islam yang berhasil melakukan ekspansi kerajaannya hingga ke darata Eropa. Peninggalan jelajah Ottoman terdapat di Eropa Timur, semenanjung Balkan, semenanjung Krimea, Asia Tengah dan tanah Kaukasus, Afrika serta Timur Tengah. Hanya bagian utara Eropa yang belum mampu dijamah oleh tentara Ottoman.

Pekerjaan memperluas tanah jelajah dan daerah jajahan, bukan lah perkara mudah, semudah membalik telapak tangan seperti digambar dalam dialog film yang sangat simple; bagaikan sebuah mimpi. Kelihatannya serial ini mencoba mengungkapkan kepada publik tentang jeroan kerajaan yang untuk ukuran dalam sebuah organisasi, maka manajemennya, terlihat sangat amburadul. Sangat tidak “laik”, sebuah organisasi yang centang perenang sedemikian rupa mampu memenangkan ajang kompetisi. Kompetisi apapun. Mulai dari raja, adik perempuan raja, istri, perdana menteri, harem serta anak-anaknya semuanya bermasalah. Dan hidupnya berada dalam keruwetan yang sangat. Semuanya seperti hidup dalam suasana tensi yang tinggi. Jutek, pemarah dan temperamental.

Di internal istana tidak terbangun sebuah sinerjisitas yang baik antarstake-holder kesultanan. Semua yang ada di lingkungan dinasti saling silang sengkarut satu sama lainnya. Termasuk para dayang-dayang para pelayan laki-laki dan perempuan. Masing-masing mereka memiliki polarisasi sendiri-sendiri yang sangat rawan gesekan satu dengan kelompok lainnya. Anak laki-laki yang sudah dewasa, sebagai waris penerus dinasti, bisa meraih “istri” dari mana saja mereka mau. Setiap pangeran bisa dengan mudah memperoleh perempuan untuk menemani tidurnya dan boleh menghamili gadis-gadis harem yang menjadi kesayangannya dengan jalan yang sangat mudah; ada ikatan pernikahan yang halal menurut hukum Isla,.  Dalam usia yang masih belia, Mustafa telah memiliki tiga orang “selir” di dalam istana yang bebas mengandung bayinya dan kemudian melahirkan. Bila keterusan, anak-anak ini selanjutnya merupakan “anak-anak haram” yang akan menjadi penerus keturunan raja Turki, yang tidak jelas asal nasab dan warisnya. Sungguh mengerikan, seandainya kerajaan Ottoman yang berlandaskan Islam, adanya seperti tergambarkan di dalam Abad Kejayaan.

Sang raja pun setali tiga uang. Dia juga suka bermain cinta dengan para wanita yang ada di harem. Salah satunya adalah yang pernah dipungut di jalan oleh istrinya, Hurem, ketika menemukan mereka sedang diseret oleh penduduk setempat karena terhempas di pantai setelah perahunya terombang ambing di laut. Hurem yang tak sengaja lewat terpanggil untuk berhenti dan membebaskan tiga wanita tersebut dari cengkeraman orang lain dan diselamatkan ke istana. Raja pun akhirnya kepincut sama seorang di antaranya setelah “dikasih” oleh adik perempuannya, Khatijah (Hatice). Tujuan Khatijah tidak lain agar “umpan muda” ini bisa menjadi penghadang kedekatan Hurem dan Raja. Dan usaha Fatimah berhasil, Raja menelan umpan, mentah-mentah dan jatuh cinta pada dara seniman yang anggung dan pintar memainkan harpa serta berpuisi dan mengobati, yang bernama Firuze Hatun tersebut. Muncul ketegangan baru di dalam batin Hurem. Musuhnya semakin bertambah. Apalagi dengan hadirnya Afifi Hatun yang merupakan ibu susuan Raja sebagai pemimpin pelayan di Harem, pasca meninggalnya Ibu Suri Kerajaan, ibu kandung Raja Suleyman, yang terlanjur dekat dengan Khatijah. Sang raja pun dengan senang hati bisa menyantap setiap kiriman adik perempuannya, yang menyusupkan perempuan cantik ke ruang kerjanya untuk membuat istri sahnya cemburu.

Raja menikmati “barang baru” yang disuguhin oleh adik-adiknya yang bersekongkol dengan permaisuri Raja, Mahidevran dan suaminya sendiri yang tiada lain adalah Ibrahim Pasha yang dipercayakan sebagai Perdana menteri. Mereka secara bersama-sama memusuhi Hurem, istri sah Raja, yang memberikan dia 5 orang anak. Tapi meskipun demikian, Hurem tetap sulit ditaklukkan. Bahkan sang Permasuri harus minggat dari istana di ibukota untuk mengikuti anaknya yang diangkat menjadi Gubernur di provinsi Manisa. Praktis sementara waktu musuh Hurem di lingkungan istana tinggal Perdana Menteri Pasha dan istrinya, Khatijah ditambah dengan Firuze Hatun. Sementara Hurem nyaris menghadapi mereka dengan kesendirian, karena mantan istri gelap perdana menteri, Nigar Kalfa (diperankan Filiz Ahmet), tidak dapat dipercayainya seratus persen. Masih terus mendua, karena diapun sibuk dengan persoalan putrinya yang masih kecil yang belum bisa dikuasainya karena masih dihalang-halangi oleh Pasha dan Khatijah; tekanan dari Khatijah, serta penyingkiran dari kompleks istana. Di samping kisah masa lalunya bersama Ibrahim Pasha yang sulit dihapus dari hatinya: apalagi kalau bukan cinta.

Upaya menyingkirkan Firuze berhasil dilakukan oleh Hurem, akan tetapi mendirikan Yayasan dan penyingkiran Pasha belum menunjukkan hasil bagi Hurem. Pasha yang dijebak pascadiajak bicara tidak bisa diselesaikan dengan baik oleh prajurit bayarannya, di suatu tempat di luar istana. Dengan kemampuannya Ibrahim Pasha berhasil mengalahkan sekian banyak orang yang menyerangnya dalam keadaan remang-remang. Dan, Hurem pun terpana ketika sang target, kemudian muncul kembali di kantor Sultan pada saat Hurem ada bersamanya.

Serangan balik Pasha berbuah manis bagi kelompok penentang Hurem. Pasha secara halus melakukan diplomasi tingkat tinggi dengan Mehmed, putra, Hurem yang juga berpeluang menjadi Raja menggantikan ayah mereka. Seakan-akan bisa ditebak bahwa, Ibrahim Pasha berdiri di atas dua poros calon pemegang tampuk kekuasaan Kekaisaran Ottoman. Siapa pun menjadi Raja dia pasti akan tetap aman. Atau bahkan, bukan tidak mungkin dia memiliki scenario tersendiri, dimana bila dia berhasil mengadu domba dua pangeran ini, maka dia akan memetik hasil manisnya untuk merebut kekuasaan, karena sesungguhnya pun, Pasha sangat ingin menjdi Raja sungguhan. Bukan sekadar Perdana Menteri semata. Karena perangai yang gila hormat, dan suka menyuguhkan tangannya untuk dicium oleh bawahannya, merupakan salah satu ciri megalomania: gila kekuasaan. Buah dari perbuatan Pasha membuat Hurem menjadi stress luar biasa dan seperti merasa kalah segala-galanya.

Tapi inilah film. Bisa digambarkan dari sudut pandang apa saja dan dapat diserap dengan pola pemikiran apa saja oleh penonton. Sesuatu hal agak lacut adalah, bagaimana sebuah kerajaan, bisa menjadi besar manakala manajemen istana saja ambrudulnya luar biasa seperti itu? Hasil akhir dari sebuah aksi adalah selalu dimulai dari suatu persiapan dan perencanaan dalam suasana organisasi internal istana yang tertata baik. “Di dalam organisasi yang baik, kebajikan selalu meraja”, kata Abraham Harold Maslow. Sepotong syair Arab pun mengisyaratkan bahwa: “Kebaikan yang tidak terorganisasi dengan baik, akan dikalahkan oleh kejahatan yang teroganisasi dengan baik”. Jadi sangat mustahil rasanya bila Kerajaan Ottoman, —jika benar seperti fiksi cerita dalam Abad Kejayaan—, mampu memperluas daerah taklukannya apabila dengan kondisi semraut begitu. Raja disibukkan dengan persoalan internal yang centang perenang; Raja juga gemar bercinta dengan selir-selir yang dia miliki; Perdana Menteri juga berselingkuh dan selalu disibukkan menghadapi Hurem dan juga sikap istrinya sendiri serta mantan selingkuhannya yang juga memberikan dia anak. Anak laki-laki Raja yang menjadi pangeran juga main sama harem dan gadis yang disukainya. Jadi kondisi kehidupan di lingkungan istana benar-benar serba kacau (seusai cerita film seri ini).

Dari segi pendidikan bagi yang menonton jelas sudah tidak ada nilai edukatif yang positif di dalamnya. Apalagi kalau anak-anak yang menontonnya. Demikian pula nilai sejarah yang menggambarkan kejayaan (Islam), karena memang suasana kekeluargaan yang dibangun di dalam tembok istana tidak terkesa sakinah-mawaddah. Apalagi penuh rahmah. Boleh dikata kondisi ini jauh dari ridho ilahi, jadi sangat tidak mungkin medanpat pertolongan untuk meraih kemenangan demi kemenangan. Meski tidak terdapat nilai pendidikan, tetapi penonton masih dapat memetik nilai pelajaran di dalamnya. Bahwa, di mana saja, manusia apa saja, bangsa apa saja, jika demi meraih kekuasaan, mempertahankan kekuasaan dan ingin selalu berada di puncak kekuasaan; di lingkungan kekuasaan, siapa pun dia, dengan nafsu dan keserakahannya, dia, akan tega melakukan apa saja. Meskipun demikian, sebagia karya seni dan film, Abad Kejayaan patut mendapat acungan jempol. Secara sinematoografi pengolahannya sangat apik dan bagus; penuh artistik dan estetik. Para bintangnya pun patut mendapat pujian. Mereka bukan sekedar bintang film singgahan yang ecek-ecek, melainkan memang pemain yang berwatak dan sangat pantas untuk sebuah karya besar yang bernilai internasional.

Hurem yang berperan sebagai istri sah Sultan Suleyman, menunjukkan karakter luar biasa atas perannya. Permainan wajah, mata, rahang, mulut dan bibirnya mampu memberikan gambaran tentang suasana hatinya pada setiap segmen kehadirannya. Sangat piawai melahirkan ekspresi yang berkaitan dengan persoalan yang dihadapinya. Begitu juga sosok Ibrahim Pasha , Khadijah, ataupun Mahidevran. Semuanya ikut memperkuat sosok peran yang ditampilkan di dalam tiap episode demi episode.

Simaklah bagaimana cara berjalan mereka, diapit oleh dayang-dayang istana, yang cantik dan menawan, Hurem (Meryem Uzerli), Mahidevran (Nur Fettahoğlu) dan Khadijah (Selma Ergeç), atau bahkan Firuze Hatun (Cansu Dere) seperti sedang melakoni sebuah peragaan, berjalan di atas catwalk; anggun dan atraktif. Langkah dan gerakan badan mereka benar-benar sangat indah seerta lentur dan gemulai, sangat enak dipandang. Bukan dibuat-buat, melainkan memang sudah sangat terlatih. Mereka semua benar-benar aktris dan aktor kawakan di negaranya. Bukan cuma sekadar numpang lewat di depan kamera. Latar belakang akademis mereka juga tidak main-main. Meryem Uzerli yang memerankan Hurem, konon adalah seorang bintang film lepasan dari sekolah akting Schauspielstudio Frese, Hamburg, Jerman. Untuk perannya sebagai Hurem dalam Abad kejayaan aja Meryem Uzerli, telah meraih kemenangan atas lebih dari 20 penghargaan. Demikian pula, Okan Yalabik, yang memerankan sosok Ibrahim Pasha. Dia adalah seorang aktor lulusan Departemen Seni Pertunjukan, Universitas State Conservatory, Istanbul, Turki.

Rata-rata pemain yang terlibat di dalam projek Abad Kejayaan, memiliki latar pendidikan yang cukup baik. Asiye Nur Fettahoğlu yang memerankan Mahidevran, istri Sultan, adalah seorang Fashion Designer, lulusan Jurusan Fashion, Haliç Universitesi, Istanbul, Turki; dan Khadijah (Selma Ergeç), di samping sebagai dokter, dia juga adalah seorang psikolog. Gelar dokter diperoleh dari Fakultas Kedokteran, Westfalia Wilhelms University, Münster, Jerman; sedangkan gelar Sarjana Psikologi dia peroleh dari FernUniversität, Hagen, Jerman. Untuk memantapkan seni berlakonnya, Selma Ergeç juga menekuni bidang kecantikan, model dan seni peran.

Cansu Dere yang menjadi Firuze Hatun, adalah seorang Sarjana Arkeologi lulusan Department of Archaeology, Istanbul University, Istanbul, Turki. Pada tahun 2000, Cansu Dere dipilih sebagai wakil Negara Turki dalam ajang pemilihan Miss Universe, namun gagal menuju Republik Siprus tempat berlangsungnya perlehatan kontes tersebut. Meskipun pihak panitia telah mengupayakan agar Cansu Dere bisa ikut dalam kontes tersebut, akan tetapi pemerintah Turki membatalkannya, karena alasan politis, terkait hubungan antara Siprus dan Turki ketika itu. Cansu Dere juga merupakan model iklan dari beberapa produk branded yang terkenal di Eropa. Di negaranya Cansu Dere juga dikenal sebagai seorang pemeran berbakat yang telah banyak membintangi film serial dan film layar lebar.

Jadi yang kita saksikan bukanlah para bintang yang mengandalkan wajah cantik, kemudian punya “keberanian”, terus mencari jalan pintas untuk menjadi bintang film dan selebritas, —padahal tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk suatu seni peran dan film—, melainkan para bintang yang memiliki intelektualitas yang cukup memadai dengan latar belakang akademis yang juga hebat dan kemudian menggeluti seni peran dan berbagai kegiatan seni lainnya yang bisa mendukung kemampuannya untuk terjun ke dunia akting.

Mega sinetron ini, tidak mungkin dapat direpresentasikan sebagai sebuah gambaran kejayaan Kesultanan Islam Turki Ottoman yang sesungguhnya, yang begitu kuat di mata kerajaan-kerajaan yang ada di daratan Eropa waktu itu. Seoarang Sultan yang hanya disibukkan dengan kondisi compang camping kehidupan internal istana, rasanya tidak akan mampu berbuat ekstra prestasi untuk memimpin angkatan perang yang memiliki kemampuan tempur yang tinggi. Bagaimana mau memikirkan permasalahan ekspansi ke dunia luar, menyelesaikan pertentangan antara istri-istri dan anak-anaknya saja, sang Baginda tidak bisa. Raja (yang Islam) juga disibukkan dengan “makanan empuk” yang bahkan disajikan oleh adik-adiknya sendiri, dengan mengirimkan gadis-gadis belia yang berasal dari berbagai bangsa sebagai tanah jajahan, ke dalam kamar pribadinya. Yang mampu dilakukan Raja adalah eksekusi dan pengasingan bagi seseorang yang telah melakukan kesalahan di dalam tugas dan perannya di lingkungan istana. Bagaimana pula sebuah kesultanan Islam, begitu bebas melakukan pengguguran kandungan dan begitu mudah mengambil jalan pintas untuk keluar dari masalah, cukup hanya dengan cara “bunuh diri”. Kedua tindakan ini jelas-jelas sangat dilarang keras oleh agama.

Sebagai sebuah film ataupun mega sinetron yang bersifat kolosal, Abad Kejayaan yang bertitel asli Muhteşem Yüzyıl, ini, benar-benar merupakan mega proyek yang disiapkan dengan cukup matang. Serial mega sinetron dengan latar belakang sejarah kejayaan Kekaisaran Ottoman, Turki, ini, melibatkan dua orang penulis naskah dan juga empat orang sutradara yang cukup dikenal di lingkungan dunia perfilman Turki. Teknik pengambilan gambar yang sangat profesional dan berkualitas, montage yang tidak bertele-tele, ditambah dengan pemanfaatan sudut dan dimensi yang dilakukan secara menakjubkan, membuat film serial ini banyak memiliki keunggulan dan menarik untuk dapat dinikmati sebagai hiburan….**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *