Yogyakarta darurat “Seni Air”

Yogya itu, memang luar biasa, hebat, menarik, vintage, klasik, berkesan dan masih bisa disebutkan dengan segudang predikat lainnya. Kota ini hampir tak pernah sepi dari orang-orang yang datang dan pergi. Bahkan memang tak pernah tidur dari berbagai kesibukannya. Dari titik nol di depan Kator Pos Yogyakarta hingga ke Tugu Yogyakarta, di Jalan Margo Utomo, manusia masih berlalu lalang selama dua puluh empat jam. Para anak sekolah yang berkunjung, lebih memilih tidur di dalam bis atau ketika di dalam kereta api, dari pada membuang momentum selama berada di Yogyakarta. Bagi mereka satu hari sudah cukup untuk menikmati keindahan Yogyakarta. Tidak harus menunggu waktu liburan tiba, selalu saja penuh dengan pengunjung yang datang memadati Kota Yogyakarta dengan berhias bermacam pesonanya. Mereka tidak pandang umur, status ataupun asal kedatangan mereka. Turis lokal dan turis mancanegara tumpeg-bleg bercampur baur menjadi satu di alam Yogyakarta yang ramah dan unik ini.

Pelancong*1
Bila kita berjalan atau melintasi lorong-lorong di daerah perkampungan yang berdekatan dengan lokasi kampus-kampus perguruan tinggi berada, maka semerbak harum yang menyebar sepanjang jalan yang kita lalui. Aroma wewangian ini berasal dari pewangi yang dipergunakan oleh usaha rumah tangga yang melayani pencucian pakaian atau laundry. Seluruh kawasan perkampungan nyaris memberikan semerbak keharuman dengan berbagi jenis pengharum pakaian yang beraneka rasa. Sangat berbeda aromanya ketika kita melintasi jalan-jalan yang sering ramai dipadati oleh manusia di tengah Kota Yogyakarta. Sejak ketika berada di depan stasiun tugu Yogyakarta, bau pesing sudah mulai menyeruak tajam. Di beberapa tempat strategis yang menjadi tempat tongkrongan para pengunjung dan masyarakat pun, seperti di sekitar area titik nol, Yogyakarta, hingga ke arah utara, sering kali penciuman kita secara tak sengaja akan menangkap bau tak sedap dan merebak sepoi-sepoi ke udara melewati indera penciuman. Ini adalah dampak produk masal dari orang-orang yang kebelet pipis atau yang lagi beseran, yang terpaksa meninggalkan jejaknya di mana saja. Padahal pemerintah Kota Yogyakarta, sudah berupaya menyediakan beberapa toilet umum pada beberapa titik sepanjang Jalan Malioboro. Akan tetapi kok bisa-bisanya masyarakat tidak memaksimalkan untuk memanfaatkannya.

Kalau saat ini di dunia maya, Tiongkok diberitakan memiliki toilet terjorok di dunia, maka boleh jadi, kemungkinan semua orang yang kebelit buang air kecil di sana, lebih memilih pipis di toilet ketimbang menyemprotkannya di pinggir jalan. Dapat dibayangkan apabila sebaliknya orang-orang Tiongkok, yang populasi keseluruhannya melebihi satu milyar jiwa penduduk, sepuluh persen di antaranya pada memilih jalan pintas jika kebelet kencing, lalu membuang hajat kecil itu di dinding toko, di batang pohon yang ada di taman, di pagar-pagar, di tembok bangunan dan lain sebagainya. Kiranya ilmuan China terpaksa memutar otak lebih kencang lagi untuk menciptakan formulasi yang bisa mengubah air seni menjadi parfum ataupun bisa dimanfaatkan untuk keperluan lainnya. Ini jauh lebih baik daripada menciptakan rumus cara membuat telor palsu, beras palsu, daging palsu, kosmetika palsu, susu palsu dan produk-produk yang berbahaya lainnya bagi kesehatan warganya dan bagi masyarakat di dunia.

Sangat disayangkan, air seni yang sebagian besar adalah zat cair, juga mengandung komposisi senyawa kimiawi yang korosif, dan mampu merusak benda-benda yang terbuat dari logam. Bukan hanya bau yang tak sedap yang mengganggu, akan tetapi tingkat korosivitasnya yang juga tinggi dan lambat laun bisa menghancurkan logam yang terkena cairan tersebut. Tiang penyangga jembatan saja bakal ambruk apabila secara terus menerus mendapat siraman air seni. Sifat air seni sangat korosif, dan menimbulkan karatan yang pada akhirnya bisa merusak pagar-pagar yang terbuat dari besi (ferro) yang komposisinya lebih banyak megandung bahan dasar karbon. Meskipun air seni disebut-sebut sebagai cairan yang steril, akan tetapi di dalamnya antara lain terkandung urea, amoniak dan juga natrium yang bisa menyebabkan besi menjadi berkarat.

Komposisi air seni
Kandungan komposisi kimiawi dalam air seni

Di Yogyakarta sudah mulai tampak korban dari air seni yang dilepaskan sembarangan. Keadaannya pun sudah sangat darurat. Sebagian pagar besi bagian depan di sebelah timur Gedung Agung, sudah mulai tampak berkarat. Demikian juga pagar yang mengelilingi Banteng Vredeburg. Semuanya berlokasi di ujung selatan Jalan Margo Mulyo, di seputar titik nol Yogyakarta. Bangunan cagar budaya ini telah dihiasi dengan pagar artistik di sekelilingnya. Akan tetapi pagar bagian selatan, dari sekitar tugu “Serangan Umum” yang menuju ke arah Taman Pinter, di sana sini, sudah mulai tampak bagian-bagian pagar yang termakan karatan. Penyebabnya tiada lain adalah air seni yang selalu menyirami pagar, oleh orang-orang yang kebelet pipis, yang mengambil jalan pintas untuk membuangnya. Penyebab karatan, hampir pasti adalah air seni manusia. Indikasinya adalah bau pesing ketika orang melewati pedestrian di sisi pagar tersebut. Rendahnya rasa menghargai terhadap kebersihan dan keindahan membuat orang semena-mena dalam mengambil keputusan; kencing di mana saja, asal tidak ketahuan. Bila ini dibiarkan keterusan, maka lama kelamaan, pagar Benteng Vredeburg akan rusak dimakan karatan akibat ulah manusia. Tentu saja biaya pengganti pagar akan jauh lebih tinggi daripada biaya perawatannya.

Pemerintah Kota Yogyakarta perlu mengantisipasi kondisi ini dengan baik. Sudah banyak langkah yang telah dilakukan oleh pemerintah untuk merespons berbagai kondisi yang timbul di Yogyakarta sebagai bentuk improvement terhadap tingkat pelayanan yang nyaman bagi masyarakat maupun bagai tamu-amu yang berkunjung ke kota Yogyakarta, dengan tujuan meningkatkan kenyamanan dan keindahan. Selama ini Pemerintah Provinsi DIY telah memiliki perangkat peraturan daerah seperti: Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 1 Tahun 2014 tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis, yang dibarengi dengan ancaman denda sebesar 1 Juta rupiah, bagi masyarakat yang memberikan uangnya; Peraturan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, nomor 42, tahun 2009, tentang Kawasan Dilarang Merokok dan Peraturan Walikota, nomor 12, tahun 2015, tentang Kawasan Tanpa Rokok; kemudian juga ada Perda DIY, no. 3, tahun 2013, tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga, serta Perda Kota Yogyakarta, nomor 18, tahun 2002, tentang Pengelolaan Kebersihan, yang juga digunakan untuk menjerat aksi vandalisme, yang merusak keindahan lingkungan kota akibat coret coret yang tidak beraturan.

Sementara ini belum ada aturan yang dapat mengatur tentang hal tersebut secara khusus, maka langkah awal adalah terus mengkapanyekan kebersihan kepada masyarakat. Baik untuk masyarakat yang merupakan warga Yogyakarta, maupu terhadap masyarakat pelancong yang datang mengunjungi Yogyakarta. Khususnya di Kota Yogyakarta, kiranya slogan-slogan, papan larangan, serta berbagai peringatan untuk tidak pipis di sembarang tempat perlu ditambahkan dan diperbanyak, terutama di sekitar pagar besi bangunan-bangunan cagar budaya yang banyak terdapat di sekitar Kota Yogyakarta. Karena selain Banteng Vredeburg, masih banyak bangunan cagar budaya yang menghiasi kemegahan titik nol, Yogyakarta yang perlu dilindungi dari “gempuran” air seni. Bukan hanya bau tak sedap yang sangat menggangu para pejalan kaki, akan tetapi pagar yang sudah dibuat sedemikian indah, jangan sampai redup nilai seninya, gara-gara “air seni” yang mengucur dari pemilik yang tidak bertanggung jawab. Melalui media yang mudah dilihat dan dibaca, pemerintah diharapkan agar terus menghimbau masyarakat supaya sudi berpartisipasi dan ikut bertanggung jawab dalam menjaga dan memeliharan keasrian, keindahan dan kenyamanan Kota Yogyakarta, hal ini sebagai langkah preventif sebelum aturan hukum yang lebih tegas diterapkan untuk mengendalikan mereka….**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *