Cinta Alam Semesta

Sesungguhnya, tak pernah pencinta mencari tanpa dicari oleh kekasihnya.
Apabila kilat cinta telah membakar hati yang ini, ketahuilah bahwa,
di hati yang itu pun telah bersemayam cinta yang penuh gelora.
Apabila cinta Tuhan telah membara di relung hatimu, pastilah Dia telah mencintaimu.
Tidak ada suara tepukan yang terdengar hanya dari sebelah tangan.
Hikmah Tuhan dalam takdir dan hukum yang menjadikan kita saling mencinta.
Karena itulah, setiap bagian dari dunia diberi pasangan.
Di mata orang bijak, langit adalah laki-laki dan bumi perempuan;
Bbumi memupuk seluruh yang telah langit turunkan;
apabila bumi kekurangan kehangatan, langit mengirimkannya;
jika ia kehilangan embun dan kesegaran, langit memulihkannya.
Langit berkeliling, laksana seorang suami yang mencari nafkah demi isterinya;
sedangkan bumi sibuk mengurus rumah tangganya.
Ia merawat yang lahir dan menyusui apa yang telah ia lahirkan.
Tataplah bumi dan langit sebagai makhluk yang dikaruniai kecerdasan,
karena mereka melakukan pekerjaan makhluk yang berakal.
Jikalau pasangan ini tidak merasakan kebahagiaan dari satu dengan yang lainnya,
mengapa mereka melangkah bersama laksana sepasang kekasih yang saling mencinta?
Tanpa bumi, bagaimana bunga dan pepohonan akan tumbuh? Lalu,
air dan panas langit akan menghasilkan apa?
Karena Tuhan meletakkan gairah dalam diri pria dan wanita lewat persatuannya dunia terselamatkan,
maka Dia menanamkan gairah ke dalam setiap jenis makhluk demi jenis makhluk yang lain.
Secara lahir siang dan malam saling bertentangan, namun keduanya saling membantu demi satu tujuan.
Masing-masing saling mencinta demi kesempurnaan pekerjaan mereka yang saling membutuhkan.
Tanpa malam, manusia takkan menerima penghasilan, sehingga takkan ada siang guna dibelanjakan.
Jiwa berkata kepada tubuh, “pengasinganku lebih pahit daripadamu: aku adalah penghuni surga”.
Tubuh menginginkan tumbuh-tumbuhan hijau dan siraman air, karena ia berasal daripadanya;
jiwa menginginkan kehidupan dan Tuhan Yang Maha Hidup, karena ia berasal dari jiwa yang tak terhingga.
Hasrat jiwa adalah pendakian dan keagungan; hasrat tubuh adalah harta dan kepuasan;
dan Yang Maha Luhur itu menginginkan dan mencintai jiwa,
perhatikan ayat “Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya.”
Pokonya ialah bila seseorang mencari, jiwa yang dicarinya pun menginginkannya;
namun kalau gairah pencinta membuatnya kurus kering,
maka gairah dari yang dicinta akan membuatnya indah dan semakin mempesona.
Cinta, yang membuat pipi sang kekasih semakin merekah, memakan jiwa sang pencinta.
Ambar mencintai jerami kelihatanya tak menghasratkan apa-apa,
sementara jerami berjuang untuk dapat melangkah maju di jalan yang panjang….**

Syair Sufi:
= Jalaluddin Rumi =
(“Seni Mencinta” – Eric Fromm)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *