Anak-anak Muda di antara Mural dan Graffiti

Sering kita jumpai di beberapa tempat, dinding, tembok dan tiang, berhiasi tulisan-tulisan yang ditulis dengan cat semprot atau dengan menggunakan kuas. Ada yang sekadar menuliskan nama diri, nama komunitas, nama grup dan nama-nama sandi bagi kelompok tertentu, ataupun nama sebuah grup band yang menjadi pujaan mereka. Ada yang tulisannya beraturan, ada pula yang sulit terbaca. Hanya kelompok tertentu yang menjadi anggota komunitasnya saja yang bisa mengerti apa maksudnya di balik tulisan tersebut. Itu merupakan ungkapan ekspresi dari mereka, yang dilampiaskan dalam bentuk tulisan dan corat coret yang memiliki makna sendiri.
Mural pun demikian. Selalu menggunakan dinding dan tiang-tiang besar untuk memanifestasikan ide dan kreativitasnya. Mural lebih banyak yang memiliki kadar estetika dan artistik daripada graffiti. Mural sering kali didasarkan oleh perasaan seni dan hanya dapat dilakukan oleh orang-orang dan anak-anak yang memiliki keterampilan seni lukis. Jarang ditemukan mural yang berbentuk amburadul. Hanya saja yang terjadi adalah bagaimana latar belakang dan aliran seni lukis yang dianut oleh para pelukis yang membuat mural tersebut. Bisa realis, surealis, abstrak, romantik, natural, ekspresionis dan lain sebagainya. Ada yang lukisan mural mudah dicerna oleh yang melihatnya ada pula yang membuat bingung orang yang melihatnya.
Sebagian seni graffiti menjadi kacau balau ketika tangan-tangan jahil yang tak berbakat, melampiaskan ekspresi isi hatinya di tembok rumah-rumah penduduk dan di tembok yang trdapat di pinggira jalan. Mereka menulis di temmblk mengikuti kata hatinya, akan tetapi tanpa bisa ditampilkan secara baik dan indah. Banyak kejadian muncul tulisan-tulisan yang menyerupai graffiti yang tidak beraturan, tidak komunikatif dan tidak ada nilai seninya sama sekali, kecuali manivestasi galau atau bentuk kemarahan dari penulisnya. Hasil karya seperti ini malah merusak pemandangan dan mengurangi keindahan penataan sebuah kota. Sehingga muncul langkah antisipasi untuk menertibkan model seni
semacam ini dari pihak pemerintahan daerah berupa payung hukum untuk menindak pihak-pihak yang dianggap menimbulkan kekotoran di dalam kota. Akhrinya gara-gara sebagian kecil graffiti yang amburadul tersebut, yang justru pemilik seni graffiti yang betulan pun ikut terkena imbasnya.
Mural sedikit berbeda dari graffiti, jika dalam graffiti lebih menonjolkan tulisan-tulisan tangan dari penulis graffitinya, maka dalam mural yang ditonjolkan adalah berupa hasil lukisan yang memanfaatkan media dinding dan permukaan yang relative lebar. Grafiti sering menyasar pada tembok-tembok kecil, pagar rumah, shelter, halte bis kota bahkan gardu jaga pun tak luput dari jangkauan pembuat graffiti. Biasanya graffiti menulis nama komunitas, grup, nama sekolah, semboyan, slogan ataupun pesan-pesan, dan pemujaan terhadap sesuatu yang menjadi idolanya.
Mural seringkali memberikan nilai tambah bagi sebuah lingkungan. Lingkungan yang sebelumnya kotor dan kumuh, berbalik menjadi rapi dan tertata setelah munculnya mural. Lihatlah di sepanjang Jalan Ahmad Yani, pada tiang “sosrobahu” yang menyangga jalan tol yang menghubungkan Jakarta Timur dan Jakarta Utara, telah penuh dihiasi mural. Tiang-tiang yang sebelumnya tampak angkuh, kokoh dan redup tersebut, sekonyong-konyong berubah menjadi ramah dan enak dipandang mata setelah berhiasi lukisan mural oleh tangan-tangan yang bertalenta seni tinggi. Meskipun tidak berpedoman kepada suatu tema tertentu, tetapi dengan tema bebas pun telah membuat masing-masing mural seperti memilki keterkaitan satu sama lainnya.
Mural dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi masyarakat melalui suatu hasil karya seni. Para seniman dapat saja menerima titipan pesan dari pihak ketiga, misalnya, yang bermaksud untuk menyampaikan sesuatu yang dianggap penting dalam bentuk sosialiasasi melalui mural, sehingga masyarakat di suatu daerah tidak hanya menerima pesan pemerintah melalui surat edaran, media radio, media televisi, akan tetapi dari media mural pun masyarakat dapat diingatkan agar mengetahui apa yang ingin disampaikan pihak terkait . Untuk mewujudkan mural tentu saja harus didukung oleh kemampuan seni melukis dari para perupa/ seniman, tersedianya fasilitas yang dapat dijadikan sebagai media untuk melukis, serta kesediaan pemerintah daerah ataupun pemerintah kota untuk bekerja sama dengan para seniman di dalam memanifestasikan nilai seni media dinding demi untuk menambah keindahan sebuah kota.
Baik graffiti ataupun mural, pada dasarnya dapat menjadi media aspirasi dari berbagai pihak. Ya seniman atau penulis kalimat graffitinya, ya masyarakatnya, ya pemerintahnya. Alangkah sayangnya bila potensi yang sangat hebat ini berubah menjadi bentuk vandalism, di mana corat coret yang dilakukan tidak mengikuti kaidah seni yang berlaku, tidak memilih tempat, tidak mengindahkan peraturan yang berlaku, serta tidak dibekali dengan kemampuan untuk mewujudkan bentuk graffiti dan mural yang memiliki makna. Yang ada hanya asal-asalan berupa tulisan yang sembarangan, yang jauh dari nilai-nilai, apalagi nilai seni yang berorientasi pada keindahan. Bukan hanya tidak indah, tetapi juga telah menimbulkan pelanggaran yang serius, mengabaikan kebersihan dan kerapian sekaligus melanggar peraturan daerah yang mengatur tentang ketertiban.
Graffiti sering kali menjadi liar, manakala timbul hasrat untuk menuliskan sesuatu oleh sekelompok anak-anak muda atau bahkan para pelajar yang ingin mengabadikan nama komunitas, nama sekolah, ucapan-ucapan tertentu yang ditujukan kepada orang banyak, serta simbol-simbol yang hanya kelompok tertentu yang memahaminya. Studi tur akan menjadi berkesan apabila anak-anak muda ini bisa membuat graffiti pada tempat-tempat tertentu di kota-kota yang disinggahinya. Itu dapat dimaksudkan menjadi pengingat dan sekaligus isyarat bagi orang lain atau teman-teman mereka, bahwa mereka sudah pernah menginjakkan kakinya sampai di daerah itu. Dan itu menjadi kebanggaan dan kepuasan tersendiri bagi kelompok anak-anak muda dan para pelajar yang suka melakukan perjalanan. Sebaliknya akan menjadi beban pekerjaan tambahan bagi petugas ketertiban di kota-kota yang disinggahi oleh graffiti hasil karyanya yang tidak bernilai seni, bahkan cenderung merusak pemandangan.
Graffiti pernah menjadi pendorong semangat, ketika para pejuang kemerdekaan, sedang giat-giatnya untuk memperjuangkan kemerdekaan Negara Republik Indonesia dari penjajahan Belanda dan Jepang. Graffiti yang banyak bermunculan kala itu sekaligus untuk memberikan sinyal kepada para penjajah bahwa para pejuang kemerdekaan tidak merasa takut untuk berperang melawan penjajah yang dilengkapi dengan senjata yang lebih lengkap dan modern dibandingkan para pejuang yang bermodalkan semangat dan bambu runcing. “Merdeka atoeu mati” adalah salah satu tulisan graffiti yang paling menonjol untuk menyemangati perjuangan merebut kemerdekaan pada jaman itu.
Tapi di jaman sekarang, tulisan graffiti cenderung sebagai bentuk vandalis yang merusak keasrian dan keindahan tata kota. Pembuat graffiti tidak mempedulikan aturan dan kaidah-kaidah serta tempat untuk menuliskan graffiti. Banyak dinding rumah masyarakat, papan nama instansi, shelter, convex mirror (cermin pemandu jalan) dan juga rambu-rambu lalulintas akhirnya tertutupi oleh tulisan graffiti yang dicorat-coretkan di atasnya dengan menggunakan cat semprot. Sementara itu, mural terus berkembang menjadi sesuatu yang menarik, di samping menambah keindahan, mural juga menjadi fasilitas yang dapat dimanfaatkan untuk menyalurkan bakat seni yang berpotensi dimiliki oleh anak-anak muda…**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *