Jangan menangis, Argentina…!

Arturo Vidal bersama Marcelo Diaz
Arturo Vidal bersama Marcelo Diaz, bintang Paraguay

Ketika melumat pasukan Paraguay dalam pertandingan semi final Copa America yang berlangsung 2 Juni 2015 di Santiago, Pasukan pimpinan pelatih Gerardo Martino bermain begitu perkasa, lugas dan menguasai seluruh lapangan pertandingan dengan sempurna. Wajah-wajah para pemain ini pun tampak tanpa tekanan dan selalu sumringah melempar senyum antarsesama rekan. Mereka ibarat anak-anak manis yang sejak kecil memang hidup bersama, bermain bersama dan belajar bersama. Solid, kompak dan penuh persaudaraan. Bola begitu jinak di kaki masing-masing pamain, akrab dan selalu di bawah kendali. Terlebih-lebih memasuki babak kedua, sentuhan satu dua tidak terjadi dengan sepakan yang kuat, melainkan melalui soft touch yang hanya menggeser-geser bola dari kaki ke kaki tanpa menggunakan tenaga. Mengalir bagaikan air yang bening, tanpa riak.

Dalam pertandingan final melawan Chile, suasana ini hilang berevaporasi entah ke mana. Wajah-wajah manis tak lagi tampak, berganti dengan wajah serius nan tegang. Para pemuda Argentina ini berada di bawah tekanan yang luar biasa, baik dari jumlah penonton dan suara-suara yang membahana yang memenuhi stadion, maupun suasana emosi pribadi yang mengental dan kaku ketika melawan tuan rumah. Para pemain seakan seperti hilang pegangan dan sikap profesionalitasnya layaknya seorang yang sudah kenyang makan asam garam pertandingan internasional. Selalu timbul permainan yang diliputi keserbasalahan, baik ketika mendribel, mengolah, mengoper dan melepas umpan. Possession football menjadi tidak jelas dan berlangsung intermitten tapi sering putus dalam melepas bola untuk dibagikan. Di mana-mana selalu hadir pemain Chile yang rajin dengan kebugaran dan ballskill yang prima yang siap menggunting laju serangan yang dibangun anak-anak Argentina. Babak pertama berakhir 0-0.

Memasuki babak kedua, dalam 15 menit pertama Argentina semakin terjepit oleh elan-vital, permainan anak-anak Chile yang memang ingin sekali merengkuh juara di bawah tatapan puluhan ribu pasang mata pendukungnya. Ada tekad yang begitu kuat, agar malam ini wujud menjadi milik rakyat Chile. Dengan materi pemain yang tidak kalah kelas, hasrat itu seakan-akan tinggal menunggu waktu saja. Serangan demi serangan terus mengancam gawang yang dikawal Sergio Romero, yang flamboyant, di bawah gawang Argentina. Kedua kiper masing-masing yang dimiliki Argentina dan Chile memiliki kualitas yang setara; wibawa, tenang dan sanggup menyajikan inspirasi bagi rekan-rekannya yang lain. Bila Claudio Bravo, kiper Chile adalah kapten yang dipercayakan untuk mengkoordinasikan rekan-rekannya di lapangan permainan, maka Argentina tidak menyematkan ban kapten pada Romero, melainkan pada Messi, yang juga punya kualitas kepemimpinan yang baik dan disegani kawan maupun lawan.

Di depan, Chile memiliki Alexis Sanches yang terus bergerak bebas dengan sesekali berpindah posisi. Messi menjadi monoton yang susah gerak akibat tekanan dan bahkan tidak segan-segan dihadang dengan menjatuhkannya. Cidera dan terpaksa ditariknya Angel Di Maria pada menit ke-26, babak pertama, memberikan dampak berkurangnya daya serang Argentina di area pertahanan Chile. Menit ke 70 puluh Argentina mulai mendapatkan pola permaian milik mereka, tapi itupun hanya berlangsung sekejab dan sporadis. Lagi-lagi Messi yang menjadi tumpuan serangan, selalu terjepit di bawah kawalan ketat para pemain Chile. Anak-anak Chile tak pernah membiarkan Messi leluasa mengembangkan permainan individualnnya. Selalu ada satu atau dua orang yang siap menghempang laju pergerakannya. Jangankan melepas umpan cantik, mendribling saja Messi benar-benar dibuat kewalahan. Roh permainan Argentina dikunci rapat untuk tidak menyebar sebagai “virus” yang bisa mematikan dan mengancam pertahanan Chile.

Pergantian Ken Aguero dengan Higuain, pada menit ke-74, seperti menjadi keputusan yang salah, —rasanya seperti sebuah blunder yang sangat menguntungkan Chile. Terlalu riskan menarik Aguero keluar, tapi apa hendak dikata, pelatih Argentina melihat dari sisi yang berbeda. Higuain memiliki kemampuan yang sama seperti Aguero; begitu pula ketika Pastore, ikut ditarik pula dan digantikan oleh Ever Banega yang mungkin juga memberi dampak permainan Argentina semakin terbatas. Tapi semuanya tentu dalam pertimbangan matang sang pelatih. Di sisi lain, pemain nomor 10 Chile, Jorge Valdivia, pun ditarik pada waktu yang hampir bersamaan dengan pergantian Aguero. Valdivia yang digantikan oleh Fernandez, seperti merasakan pahit di hatinya, dia tak percaya bahwa permainannya yang masih baik, harus ditarik keluar sebelum menuntaskan permainan meraih juara bersama rekan-rekannya di lapangan.

Lima belas menit menjelang babak akhir, Argentina kembali menemukan permainan aslinya. Namun lagi-lagi Messi terus menjadi bulan-bulanan para pemain Chile yang tak ingin mengambil resiko, bila Messi bisa leluasa memasuki area penaltinya. Detik-detik menjelang waktu 92 menit usai, Higuain nyaris mengukir sejarah. Messi menggeser umpan ke sisi kiri pertahanan Chile yang diterima dengan baik Lavezzi. Sejurus kemudian Lavezzi urung menembakkannya ke arah gawang, melainkan mengirimkan umpan menyusur tanah menuju tiang jauh pertahanan Chile tak mampu disosor Higuain menjadi gol indah yang akan dikenang sebagai gol bersejarah, karena tercipta di detik terakhir waktu permainan berlangsung. Bola yang menyentuh kaki Higuain meninggalkan lapangan sebelum menyentuh sisi luar jaring sebelah kiri gawang permainan Chile. Babak kedua berakhir dengan tidak menghasilkan gol sama sekali, kendati kedua tim terus melakukan jual beli serangan yang silih berganti.

Babak perpanjangan waktu serasa hanya semacam harapan bagi Argentina untuk memenangkan pertandingan. Meskipun tak secerah wajah ketika bertanding melawan Paraguay, Messi dan kawan-kawan terus bermain optimistis dibawah sorotan tajam publik sepakbola Chile yang hadir di Stadion Nasional Julio Martinez Pradanos, Santiago. Bendera Chile yang terus dilambai-lambaikan diselingi nyanyian pemberi semangat bagi pasukan Chile, sedikit banyak membuat tekanan tersendiri bagi pasukan Gerardo Martino. Sebaliknya Chile begitu leluasa bermain dengan pola yang konsisten. Di mana-mana selalu ada pemain Chile yang bergerak atau berdiri bebas, seakan-akan mereka seperti sedang menurunkan lebih dari sebelas pemain di dalam lapangan. Sementara itu pola anak-anak Argentina selalu divariasikan agar tidak mudah terbaca oleh pemain pertahanan Chile, namun itu pun tak berhasil membawa Argentina untuk memperoleh gol. Pertahanan Chile cukup solid dan sulit ditembus, apatah lagi mereka dekat sekali dengan jarak kiper heroik, Claudio Bravo, yang dengan mudah memberikan komando kepada rekan-rekannya di bawah. Sampai habis masa pertandingan 120 menit berlangsung, tidak satu pun gol yang tercipta oleh kedua tim.

Babak tendangan penalti menjadi sesuatu yang menghancurkan Argentina. Martias Fernandes yang bernomor punggung 14, dengan tenang menaklukkan Romero yang geregetan tidak bisa menghadang tendangan sedikit melambung dari Fernandez. Berikut, Messi pun dengan kematangannya, tanpa memaksakan untuk menempatkan bola di sisi kiri, pelan dan menusuk sudut kiri belakang jaring Bravo. Pemain Chile yang didapuk menjad algojo penalti membuat sempurna tugas yang diserahkan Jorge Sampaoli kepada mereka. Sampai akhirnya Alexis Sanches menuntaskan dengan gol penutup dalam adu penalti. Hasil sepakan Sanches yang tak terbendung kiper Argentina melangkapi kemenangan Chile menjadi 4-1, dan menetapkan mereka sebagai Campeones Copa America 2015. Di sisi lain, petaka Argentina berawal dari tendangan Gonzalo Higuain, yang melambung di atas mistar Bravo, serupa seperti yang pernah menimpa Roberto Baggio ketika mengeksekusi penalti, tatkala Italia betemu Brasil di babak final, di Stadium Rose Bowl, Los Angeles, Amerika Serikat, usai bermain tanpa gol hingga 120 menit berakhir.

Tendangan Roberto Baggio, melambung tinggi di atas gawang Brasil yang dikawal Claudio Taffarel, sehingga akhirnya membuat Brasil menjadi juara Piala Dunia 1994, setelah menekuk “brigata” Italia dengan kedudukan 3-2 . Lagi-lagi “Claudio” yang membawa petaka bagi lawan: Claudio Taffarel dan Claudio Bravo. Kendati demikian, Baggio, tetap dianggap sebagai seorang maestro sepakbola dan tetap dicintai publik sepakbola Italia dengan meraih gelar “Most Loved Player” Award, pada tahun 2001 dan “Most Loved Player” Oscar, pada tahun 2002.

Argentina kalah dengan hormat. Memenangkan pertandingan dengan melawan tuan rumah bukanlah perkara mudah. Mampu bertahan hingga menit ke-120 pun sudah merupakan prestasi tersendiri. Lionel Messi berjalan menaiki panggung kehormatan, menghampiri para petinggi sepakbola Amerika Selatan (CONMEBOL) yang siap mengalungkan medali di lehernya. Sedikit menunduk medali dipasangkan, lalu berjalan turun sambil melepaskan kembali medali di lehernya dan menggenggam dengan tanganya. Messi hanya melewati piala Amerika yang berada di sebelah kanannya. Sementara Javier Mascherano, turun dengan langkah yang penuh kecewa, berjalan di sisi kiri tempat diletakkan piala, sambil memegang hidungnya dia melirik dengan sekilas pandangan dan tatapan yang nanar, sedih serta dengan perasaan yang bercampur aduk ke arah piala Amerika yang siap diserahkan kepada sang juara Copa America 2015, Timnas Chile. Bravo Chile; Bravo Argentina…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *