Pengalaman belajar bersama mantan kombatan GAM

Baret, sangkur dan senjata
Baret, sangkur dan senjata

Sebodoh apakah kita sebenarnya? Apakah tidak ada peluang untuk menjadi pintar dan masuk dalam kategori terpelajar dan paham sesuatu hal? Sering kita mendengar ada orang yang menganggap dirinya tidak berguna, lantaran merasa dirinya tidak tahu apa-apa; karena minus informasi. Apalagi kondisi tersebut diperparah dengn tindakan “bully” yang secara verbal diarahkan kepadanya, oleh lingkungannya, setiap ada masalah. Kata-kata “goblog lu” atau “begok lu”, pun diserapahkan kepada dia. Seakan-akan pihak yang merasa pintar, telah memiliki hak yang luar biasa untuk memantaskan pihak lain menjadi sasaran perendahan dan sebagai kambing hitam. Ada kalanya seseorang merasa bodoh karena mengalami suasana yang tidak biasa dalam aktivitas belajarnya, akan tetapi ada pula yang merasa bodoh bila apa yang diterimanya merupakan sesuatu yang semula sangat asing baginya. Seseorang yang dilahirkan dalam keadaan normal dan sehat, memiliki kesempatan untuk kemudian tumbuh menjadi anak pintar. Pada umumnya, yang membedakannya kemudian adalah, seberapa besar intensitas kemauan untuk belajar agar menjadi pintar dan kesempatan mendapatkan pendidikan untuk menekuni apa yang dipelajarinya.

Saya punya pengalaman menarik ketika suatu waktu di penghujung tahun 2005, ikut terlibat dalam acara pembekalan terhadap mantan kombatan GAM dari Wilayah Pasé. Program yang dilaksanakan oleh Depnaker Kabupaten Aceh Utara dan bekerja sama dengan BRR (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) Aceh-Nias ini, menghadirkan instruktur dari Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, sedangkan keikutsertaan saya sebagai instruktur karena diminta oleh pihak Panitia untuk mengisi salah satu materi yang telah disusun panitia. Dalam jadual yang dibagikan, saya baru mulai mendapat waktu “ngajar” pada hari ketiga dari waktu pembekalan yang dtetapkan selama 6 hari ke depan. Maka setelah acara pembukaan, pelatihan pembekalan pun langsung dimulai yang diisi oleh rekan instruktur lainnya. Pembekalan berjalan normal seperti tidak ada permasalahan. Akan tetapi sesungguhnya ada masalah timbul berkaitan dengan rendahnya respons dari para peserta yang berjumlah 52 orang itu, yang diutus dari berbagai “sago” GAM yang ada di Wilayah Pasé.

Maka setelah panitia dan para istruktur bermusyawarah, saya dipercayakan untuk masuk lebih dulu dari jadual saya yang sudah ditetapkan. Di hari kedua saya langsung diberi kesempatan untuk memberikan pelatihan dalam pembekalan tersebut. Saya mendapat materi, untuk bidang manajemen produksi sekaligus menetapkan sistem pemasarannya. Apa yang dirasakan oleh rekan istruktur sebelumnya, memang terbukti dari sikap yang ditunjukkan para peserta; acuh tak acuh, cuek, ngobrol dengan teman-temannya tanpa menghiraukan sepenuhnya instruktur yang ada di dalam ruangan, konon lagi untuk menyimak isi materi yang disampaikan. Di antara peserta ada pula yang cuma diam, tapi mereka sibuk menggambar lukisan baret, sangkur, pistol ataupun senjata laras panjang di atas lembaran blocknote dari training kit yang telah dibagikan oleh panitia. Lukisan yang seadanya itu benar-benar seperti mewakili karakter seorang kombatan yang akrab dengan atribut tempur dan persenjataan.

Ketika itu saya berinisitif untuk menunda penyampaian materi pembekalan. Haluan saya ubah hanya untuk berkomunikasi intens tanpa materi. Suara-suara yang sebelumnya terlontar dari peserta, “kami tidak mengerti dengan materi tersebut”, menimbulkan pertanyaan bagi saya kepada mereka. Mengapa mereka menolak penyampaian materi?, saya mencoba untuk bertanya. Mereka memberikan jawaban bahwa: “kami ini orang-orang bodoh…”; “kami tidak ngerti yang begini-begini…”; “kami tidak bisa menangkap seperti apa yang disampaikan…”; “kami ini orang tidak sekolah…”; “kami tukang berperang…”, dan jawaban lainnya yang maknanya hampir sama. Semuanya, tentu saja, disampaikan dalam bahasa Aceh. Jadi, menurut peserta percuma saja memberikan materi karena kami tidak bisa menangkapnya, begitu kesimpulan mereka.

Jawaban ini menjadikan momentum yang bernilai bagi saya, untuk kemudian mencoba memberikan umpan balik dan menerima respons yang baru dari peserta. Saya mencoba memanggil tiga orang peserta untuk maju ke depan, dan mereka bersedia. Kepada masing-masing saya berikan pertanyaan yang berbeda, tapi tujuannya sama. Mengapa dia bisa menggunakan senjata laras panjang untuk menembak ketika berperang? Mereka menjawab, karena ada latihan dan ada yang mengajarkan mereka untuk menggunakan senjata; Anda hafal nama-nama tumbuh-tumbuhan yang Anda temukan di hutan atau nama buah, ataupun nama ikan yang ada di air dan sebagainya…? Jawabannya: “hafal, karena sudah sejak kanak-kanak sudah mengenal tumbuhan tersebut”, demikian juga dengan buah-buahan, ikan, dan sebagainya; Anda hafal nama-nama tetangga yang ada di kampung dan mengenal suara mereka dengan baik…? Apakah Anda bisa mengenal suaranya dalam keadaan mata tertutup atau ketika orang tersebut berbicara dari arah belakang Anda tanpa harus menoleh…? “Pasti kenallah, kan sudah cukup lama bergaul, sering melihat, dan sering mengobrol pula”. Begitulah jawaban-jawaban yang saya terima dari para peserta atas pertanyaan yang saya ajukan.

Saya memberikan tanggapan positif atas jawaban-jawaban mereka. Kemudian saya menekankan, bahwa semua yang berada di dalam ruangan ini tidak ada yang bodoh, karena kenyataannya semuanya mampu menangkap fenomena apapun yang ada di sekeliling Anda, bisa tahu cara merakit dan menembakkan senjata; bisa menghafal nama-nama tumbuh-tumbuhan, nama buah, nama ikan serta bisa mengingat nama dan mengenal suara teman, dan bahkan mampu menghafal dengan baik jalan-jalan setapak yang ditemukan di dalam hutan dengan tidak menggunakan kompas sekalipun. Itu tak mungkin dilakukan oleh orang-orang “bodoh”, kata saya. Jadi Anda memiliki potensi pribadi untuk pintar, yaitu kemampuan untuk menghafal, mengetahui, mengingat dan mengungkapkan kembali apa yang telah Anda ketahui. Sungguh keliru apabila anda menganggap diri Anda bodoh, tdk tahu apa-apa, dan tidak mengerti akan sesuatu hal. Orang bodoh tentu saja tak mungkin bisa belajar mengelola senjata, memasang magazen dan menembak sasaran.

Saya pernah membaca sebelumnya bahwa otak manusai terdiri dari lipatan-lipatan, yang masing-masing mampu menyimpan trilyunan fenomena yang pernah ditangkap oleh mata atau pikirannya dengan tertata rapi. Tidak ada satu pun apa yang pernah kita lihat, kita dengar, kita baca dan kita pikirkan luput dari rekaman serta akan tersimpan pada lapisan otak dengan baik. Bahkan sesuatu yang telah lama sekalipun bila mendapatkan stimulus akan muncul kembali menjadi ingatan baru, terutama yang memberikan kesan yang kuat ketika fenomena itu ditangkap oleh mata dan pikiran. Kapasitas memori otak yang dimiliki tiap manusia pun memiliki angka yang sangat fantastis, yaitu diperkirakan mencapai sebesar 3000 trilyun byte atau sama dengan 300 exabyte (300 x 10 pangkat 18) byte. Angka ini pun masih banyak bervariasi karena ada pakar yang memperkirakan kapasitasnya masih lebih besar ataupun lebih kecil dari yang angka yang beredar saat ini. Akan tetapi berapa pun besarnya kapasitas otak manusia, sampai menjadi profesor pun manusia belum mampu memanfaatkan memori yang dimilikinya hingga separuh dari kapasitas yang tersedia.

Setelah mencoba memberikan motivasi demikian, para peserta mulai menemukan kembali semangatnya untuk mengikuti pelatihan. Semula yang hanya asal-asalan, sejak setelah saat itu, bahkan para peserta menjadi aktif untuk bertanya secara lebih detail dan benar-benar memiliki keingintahuan yang sangat tinggi. Akhirnya dengan adanya selingan karaoke ketika jam istirahat (break time), pelatihan untuk pembekalan dapat berlangsung aman hingga hari terakhir. Ada sesuatu yang sangat mengesankan dan unik yang saya rasakan. Pada umumnya para kombatan GAM adalah mereka yang sebelumnya bertekad berperang melawan tentara “Jawa” dan ingin memisahkan diri dari “Jawa”, (begitulah istilah yang berlaku di kalangan mereka, saat terjadi konflik vertikal kala itu). Akan tetapi ketika bernyanyi karaoke para mantan kombatan ini malah lebih sering memilih lagu “Cucakrowo”, yang dinyanyikan oleh Didi Kempot, yang ketika itu sedang populer di Aceh dan sering terdengar di mana-mana. Kemudian secara bersama-sama mereka menyanyikannya dalam teks bahasa Jawa, dengan perasaan yang sungguh gembira. Meskipun tentu saja, mereka tidak mengerti apa arti yang terkandung dalam syairnya….**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *