Fenomena Ketok Magic

Bengkel Ketok Magic
Bengkel Ketok Magic sebagai salah satu pilihan untuk perbaikan kerusakan body mobil

Ketika masih kanak-kanak, dan sedang bermain bersama teman-teman seumuran di depan rumah salah seorang tetangga, tiba-tiba ada temen kecil kami yang sedang cemas dan menangis sesungukan sambil mendorong sepeda di tangannya, yang ukuran sepedanya lebih besar diri dirinya. Pemilik rumah, sebut saja, Pak Abdul Rauf, melihat anak tersebut yang sedang menangis, dan kemudian mendekatinya. Rupanya dia baru saja menabrakkan sepedanya ke sebuah pohon asam yang ada di pinggir jalan, tak jauh dari tempat kami bermain. Dan dia merasa bingung karena frame horizontal pada bagian atas sepeda tersebut bengkok, sehingga dia merasa ketakutan dan tidak berani pulang ke rumahnya dengan kondisi sepedanya itu. Ternyata sepeda itu milik orang tuanya.

Pak Abdul Rauf yang kebetulan adalah seorang Guru di salah satu sekolah agama negeri di kota Lhokseumawe itu, mencoba menghibur teman kami yang baru musibah ini. Sambil menghibur, beliau meminjam sepeda anak tadi, serta membawa masuk ke dalam rumahnya dan kemudian menutup pintu dari dalam. Kami agak terheran-heran melihat langkah yang beliau ambil. Untuk apa sepeda di bawa ke dalam rumahnya, sementara beliau bukanlah seorang tukang bengkel sepeda, pikir kami? Mencoba mengintip ke dalam tapi tidak berhasil alias tidak terlihat. Yang terdengar kemudian hanyalah suara orang mendehem-dehem dan dan sesekali diikuti hentakan kaki sedikit yang berulang-ulang. Tidak ada bunyi yang berasal dari persentuhan antara beda keras dengan besi frame sepeda; ataupun antara besi dengan besi. Tidak sampai tiga puluh menit kemudian pintu dibuka kembali dan sepeda yang telah “ditangani” diserahkan kembali kepada anak tadi. Tanpa lecet, dan utuh seperti tidak terjadi apa-apa.

Waktu itu belum terdengar dengan apa yang disebut dengan ketok magic atau kenteng magic. Tapi kenyataannya “ketok magic” itu memang benar adan dan sangat mungkin dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan untuk itu; tanpa menggunakan alat dan hanya mengandalkan tangan dengan sedikit bantuan alat yang tidak tergolong berat untuk meluruskan besi. Tergantung dari kondisi dari apa yang akan diperbaiki.

Rencong Aceh yang bagus, pada umumnya dibentuk dengan tangan kosong oleh para tukang besi (empu), yaitu dengan cara diurut bahan besinya (dalam ukuran tertentu), sampai berubah bentuknya menjadi begitu indah seperti rencong yang ada saat ini. Pekerjaan ini hanya bisa dilakukan oleh seseorang memiliki kelebihan dalam dirinya untuk melunakkan besi, tanpa harus melali proses dipanaskan terlebih dulu. Kelebihan ini pun memerlukan upaya kerja keras untuk mendapatkannya. Banyak hal yang terkait dengan transendental dan supranatural, sehingga seseorang bisa mencapai tingkat kemampuan seperti ini.

Kemampuan apa saja yang terkait dengan kekuatan dan kemampuan untuk menundukkan batangan besi, melunakan besi, memecahkan balok beton, menarik truk, memutar baut roda dengan tangan kosong, atau bahkan mengangkat benda yang berat sekalipun, hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang telah “memperoleh kelebihan”. Beberapa cara yang pernah dipraktekkan kebanyakan orang adalah melalui pelatihan yang menggunakan suatu media tertentu yang bisa menciptakan tingkat konsentrasi untuk fokus terhadap sesuatu yang dihadapi. Dapat melalui latihan sistem pernafasan, semedi, meditasi, tapa-brata, atau dengan media mantra (incantation) dan amalan tertentu, sehingga membawa seseorang tersebut kepada mencapai kondisi yang sangat fokus dan fused.

Sekilas seseorang yang telah memiliki kemampuan seperti itu, sepertinya tanpa membutuhkan konsentrasi yang berlebihanpun bisa melakukan aksi seperti disebutkan di atas. Padahal sesungguhnya karena sudah terlatih dan telah menyatu dengan dirinya, maka hanya butuh waktu dalam hitungan kurang dari satu detik konsentrasi dengan mudah terbentuk. Belakangan untuk mencapai tingkat kemampuan semacam ini telah dikembangkan secara ilmiah, tanpa menggunakan mantra, tapa-brata ataupun bacaan amalan, yang menggiring orang tersebut kepada kondisi trance dan mencapai titik konsentrasi yang super tinggi. Hanya diajarkan melalui teknik olah pernafasan, melatih konsentrasi, yang dilakukan secara kontinyu, sehingga mampu membangkitkan potensi pribadi yang ada dalam diri masing-masing orang.

Di Aceh seorang empu atau seorang yang kebal terhadap benda tajam, membentuk kekuatan itu melalui tahap pelatihan dan pengamalan. Konsentrasi yang dibangun ialah melalui sebuah proses peng-imajinasi-an hingga mampu menguraikan sesuatu benda kembali ke asal-usul terjadinya. Sepotong besi bisa dibengkokkan atau tidak bisa menembus kulit ketika ditusukkan ke badan, adalah lantara besi tersebut merupakan benda yang sejatinya padat yang kemudian melalui tahap ma’rifat diubah sifatnya secara berjenjang “seakan-akan” ibarat sebuah batu, kemudian ke bentuk pasir, menjadi berupa tanah, hingga akhirnya ketika menyentuh badannya sifatnya telah berubah menjadi benda benda cair. Atau sebaliknya kekuatan kulit pada badan seseorang secara ma’rifat telah dijelmakan dalam konsentrasi pikirannya sebagai sesuatu yang bahannya lebih kuat dari pada benda tajam yang akan menusuk dirinya. Menghilangkan atau “meniadakan” sifat besi yang keras dan tajam menjadi benda yang lunak dan bahkan lebih lunak dari kulit yang membungkus tubuhnya.

H. Maryanto, Guru Besar Seni Beladiri Pernafasan “Satria Nusantara”, Yogyakarta, menjelaskan fenomena ini secara ilmiah, tentang bagaimana seseorang bisa memukul batangan besi dengan tangan kosong hingga patah dan tanpa meningalkan rasa sakit. Hal itu hanya bisa terjadi lantaran ikatan molekul yang dikonsentrasikan pada  saat sisi tangan ataupun kepalan tangan menyentuh besi, lebih kuat daripada ikatan molekul besi yang akan dipatahkan. Menjadi pertanyaan, dapatkah hal ini dilakukan tanpa memiliki tingkat kemampuan untuk mengosentrasikan pikiran dalam kondisi yang sedemikian pekat? Tentu saja, hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang telah melalui suatu proses latihan yang rutin, bukan datang dengan sekonyong-konyong, lalu tiba-tiba mampu menghancurkan benda keras dengan hanya sedikit sentuhan.

Di Aceh, biasanya seseorang yang bisa melunakkan besi, juga juga memiliki ilmu kebal terhadap benda besi, —tdk termakan senjata tajam—, dan ini biasanya dipertandingkan setiap malam purnama dengan dihiasi gerakan-gerakan tertentu sambil diiringi rapa-i (semacam genderang) dan seurunè kalé (semacam seruling). Pertandingan antara dua atau tiga grup yang belainan kampung dilakukan dengan diawasi oleh seorang yang disebut khualifah. Khulifah dibantu beberapa orang, tujannya agar tidak terjadi berbagai kecurangan ketika pertandingan berlangsung. Eksotisnya apabila seluruh benda tajam sudah dicobakan kepada peserta, maka pertandingan terakhir adalah siapa yang bisa mengunyah-kunyah daun “jelatang” (nama latin: laportea stimulans, syn.; dendrocnide stimulans, syn.; urtica stimulans), kemudian sampai harus ditelan. Pihak yang paling banyak mengunyah jelatang tanpa mengalami luka, gatal ataupun “nyonyor’ di mulut dan bibirnya serta tidak timbul sakit di dalam perutnya, akan keluar sebagai pemenang.

Daun jelatang banyak terdapat di pinggiran hutan Aceh, daunnya berwarna hijau, countur daunnya agak kasardan berduri halus, jika terkena bagian badan akan menimbulkan gatal bercampur perih yang sangat luar biasa dan akan meninggalkan luka, hingga berhari-hari baru sembuh. Bagi kebanyakan masyarakat (terutama di kalangan ulama), keadaan ini merupakan sesuatu yang dilarang lantaran dikhawatirkan mengandung unsur “syirik”, karena si empunya “kelebihan” meminta kekekuatan sedemikian rupa tidak kepada Allah, melainkan kepada iblis dengan menyediakan media tertentu, semisal kembang setaman dan syarat sebilah rencong ataupun belati, serta seekor ayam jantan yang harus disembelih serta dengan menggunakan mantra-mantra tertentu. Tapi sebaliknya, dalam kenyataannya, pada umumnya sang guru ataupun khulifah, diakui sebagai figur yang rendah hati dan tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu.

Para pengawas yang disebut khulifah memiliki kemampuan di atas rata-rata kemampuan para peserta yang mengikuti pertandingan, ataupun sebagian dari penonton yang ikut menyaksikan pertandingan dari bawah panggung. Karena di samping mengawasi, khulifah dan pembantunya akan berperan untuk mengobati para peserta yang menjadi korban ataupun menangkal “ilmu kiriman”, bila ada di antara penonton yang mencoba-coba iseng mengganggu jalannya pertandingan dengan kemampuan yang dimilikinya. Sahabat kami, Radian, asal Kabupaten Singkil, Aceh, (kami sering memangil beliau dengan sebutan Bang Radian), selalu merasa bersalah setiap kali melakukan pertunjukan debus (dalam bahasa Aceh: top dabóh). Biasanya setiap ada acara pagelaran seni Aceh, selalu diselingi dengan acara “top dabóh”.

Suatu ketika, waktu itu di akhir tahun delapan puluhan, Gedung Graha Purna Budaya milik UGM, yang terletak di Kompleks Boulevard UGM, masih disewakan untuk umum. Maka tatkala diselenggarakan pagelaran seni dari Tanah Rencong, Bang Radian, ikut mengisi acara “top dabóh” yang dipersembahkan kepada seluruh tamu undangan. Para tetamu terhormat dimohonkan naik ke panggung dan diminta untuk berkenan mencoba menusukkan beberapa senjata tajam ke tubuhnya  sekuat-kuatnya dan bertubi-tubi secara bergantian oleh beberapa orang. Namun tetap saja atas ijin yang Maha Kuasa, tubuhnya tidak tergores sedikit pun. Namun setiap kali habis acara, Bang Radian menjadi gusar, terharu dan menangis serta merasa berdosa, karena apa yang dilakukan di atas panggung, merupakan sesuatu yang membuat dia seperti bersalah kepada Tuhannya. Karena menurutnya, ketika beratraksi di atas panggung, dia benar-benar sedang merasa jumawa, sangat perkasa, dan sombong, dan tidak boleh ada terbersit di dalam pikiran sedikit pun, ada kekuatan lain yang mampu menandinginya. Sementara di dalam kehidupan sehari-harinya, dia merupakan sosok pribadi yang santun, penyayang, baik hati dan sangat rajin menjalankan ibadah sholat setiap harinya.

Kembali ke kiprah ketok magic atau kenteng magic yang banyak terdapat di berbagai daerah di Pulau Jawa; tersebar mulai dari Jawa Timur hingga ke wilayah Jakarta, adalah sesuatu hal yang mungkin dan bisa terjadi. Karena memang ada kelebihan yang diperoleh seseorang untuk memiliki kemampuan melunakkan benda sejenis besi dan semacam itu. Akan tetapi tidak jarang, sebagian hanya ditulis ketok magic, tapi, dalam kenyataannya, perlakuan untuk memperbaiki kendaraan yang penyok, hanya dengan mengandalkan keterampilan teknik yang dia miliki. Tentu saja masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya. Bila kemampuan teknik reparasinya memang sudah unggul, maka tidak ada alasan merasa khawatir bagi pemilik kendaraan untuk menyerahkan tanggung jawab mereparasi mobilnya di tangan mereka. Yang dikhawatirkan adalah bila kemampuan, baik menggunakan skill ataupun kemampuan ketok magic, tidak memenuhi kualifikasi yang memadai, maka hasil reparasinya pun akan menimbulkan kekecewaan dari pemilik mobil. Akhirnya memang kembali kepada pemilik kendaraan untuk bijak memilih bengkel yang tepat untuk memperbaiki kerusakan “body” kendaraannya. Di samping banyak terdapat bengkel resmi dan yang dikelola perseorangan, banyak juga bengkel ketok magic atau kenteng magic yang memang pekerjanya sudah cukup mumpuni dan halus dalam menangani hasil pekerjaannya.…**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *