Empati di Ruang Publik

Empati adalah suatu kemampuan yang tertanam di dalam diri seseorang untuk mengerti dan berbagi perasaan dengan orang lain; kemampuan seseorang untuk mematut-matut diri seakan-akan kita seperti orang lain. Empati berasal dari bahasa Latin, yang terdiri dari kata, “em”, berarti dalam; dan “pathos”, yang berarti, sakit/ perasaan. Empati sangat penting bagi seseorang dalam menata hidup di ruang sosial. Empati mengajarkan seseorang untuk menanggalkan ego pribadi, menekan perasaan ingin menang sendiri agar bisa mengerti tentang orang lain yang hidup berdampingan di sekitar kita.

Seseorang yang tidak mampu menumbuhkan rasa empati dalam dirinya, tak akan mampu untuk menyadari bahwa di samping diri dia sendiri, masih ada orang lain yang sedang mengisi peran mereka masing-msing sebagai anggota masyarakat. Tanpa empati, tanpa kita sadari, hidup seperti genting, riskan dan penuh benturan. Dan akan menjadi bahan cibiran dan olok-olok dari pihak lain di sekitar kita. Seorang yang tidak memiliki empati tak akan mau menyiram toilet dan urinoir umum yang telah dipergunakannya. Pikiran dia hanya mengandalkan petugas kebersihan toilet yang sudah ada. Setelah pipis, bayar, selesai. Apakah “jejak peninggalan” dia, akan menimbulkan kesusahan bagi orang lain, orang ini tidak terlalu memedulikannya. Merokok di tempat umum adalah bentuk lain dari sikap orang yang tidak memiliki empati. Lebih parah lagi bila orang seperti ini merokok di dekat bayi atau anaknya yang masih kecil. Anak-anak yang tak berdosa, setiap saat akan menghirup asap rokok yang dilepas oleh orang tua kandung mereka sendiri. Miskin empati tidak mengenal tingkat status sosial seseorang. Orang kaya, orang terpandang, intelektual, akademisi, mahasiswa, pelajar, hingga rakyat biasa, bisa saja tidak memiliki empati.

Empati
Empati, sebuah proses menumbuhkan rasa saling mengerti

Empati erat kaitannya dengan kepekaan sosial seseorang. Yang sangat menentukan adalah bagaimana keadaan pendidikan humaniora yang diserapnya dapat menumbuhkan rasa empati dalam dirinya. Terutama sejauh mana proses pendidikan dan fenomena tentang kehidupan yang berlangsung di lingkungan keluarganya, mampu menjadikan dirinya sebagai pribadi yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Demikian juga suasana kehidupan bermasyarakat lingkungan jiran/ tetangga akan sangat berpengaruh dalam memberikan andil bagi pertumbuhan kepribadiannya seseorang. Keluwesan dan sikap supel dalam bergaul di tengah masyarakat akan memberikan andil yang positif bagi seseorang untuk mengasah sifat empatinya.

Empati sangat dibutuhkan dalam membangun keseimbangan di ruang publik. Seorang yang memiliki rasa empati tidak akan menyusahkan orang lain ataupun menimbulkan persoalan di tengah masyarakat. Bahkan sebaliknya akan memberikan kontibusi yang baik bagi masyarakat di mana pun dia berada. Karena seseorang yang memiliki rasa empati akan dengan sendirinya mampu berinteraksi dengan baik dan berperan dalam membangun kondisi kondusif di tengah masyarakat.

Pernah kah kita melihat bagaimana ada sementara masyarakat yang sedang berada di ruang tunggu di sebuah stasiun ataupun bandara, tapi mengambil tempat begitu banyak buat dirinya? Setelah mengambil satu tempat duduk bagi dirinya, dia masih mengambil tempat duduk lainnya sebagai tempat untuk menaruh tas dan barang-barangnya. Pemandangan ini sering dijumpai di terminal bandara, ataupun di stasiun kereta api. Sementara begitu banyak calon penumpang lainnya yang berjalan kesana kemari sedang mencari tempat yang kosong. Tapi yang punya barang tersebut, cuek-cuek saja; fine-fine saja; baik-baik saja. Padahal jelas, manajemen stasiun ataupun bandara menyediakan kursi-kursi tersebut untuk tempat duduk calon penumpang; bukan untuk tempat tarok barang. Orang yang miskin empati tidak mudah mengerti akan kondisi seperti ini. Dia selalu merasa tidak bermasalah dengan apa yang sedang dia lakukan. Menaruh barang miliknya di atas kursi untuk orang duduk menjadi sesuatu yang wajar bagi dirinya. Meskipun cukup banyak orang lain yang membutuhkan tempat duduk, tapi harus berdiri karena banyak kursi yang telah terisi dengan barang-barang penumpang yang tidak memiliki empati.

Kondisi yang bercirikan rendahnya empati masyarakat juga tercermin pada budaya antri maupun budaya berlalu lintas yang empatetik. Budaya antri bukan semata-mata budaya milik orang-orang modern. Antri adalah budaya untuk saling menghargai bagi sesama demi kepentingan bersama. Ini budaya luhur yang diajarkan oleh neneng moyang bangsa ini untuk menghargai orang lain yang lebih dulu datang untuk berdiri mengantri. Rasa malu yang dimiliki seseorang akan menghambat niat seseorang untuk menerobos antrian dan maju ke barisan depan. Di sini bukan pangkat, status sosial ataupun kekuatan dan keberanian yang perlu ditonjolkan, melainkan budi pekerti dan empati. Karena jika ingin didahulukan seyogyanya harus datang lebih duluan dari orang lain. Kuncinya disitu.

Di jalan raya empati juga dibutuhkan. Saling memberi dan mengerti adalah kunci lalulintas yang tertib dan lancar. Empati mengajarkan masyarakat untuk menghormati aturan dan rambu-rambu lalu lintas. Empati juga mengajarkan kepekaan dalam menyikapi kesulitan yang dialami orang lain di jalan raya. Seseorang yang kesulitan untuk berbelok atau ingin menyeberang, harus direspon dengan keikhlasan memberikan kesempatan untuk mereka. Empati memberikan ruang untuk bertindak bijak dan menyediakan kemampuan untuk mempertimbangkan ternyata ada orang lainnya yang membutuhkan kerelaan kita berbagi dan simpati kita. Dijamin tidak akan menyita banyak waktu yang menyebabkan kita terlambat masuk kantor. Dengan toleransi di jalan akan memudahkan siapa saja pengguna jalan aya dalam berkendaraan ataupun berjalan kaki ketika menyeberang jalan.

Begitulah, empati di ruang publik, memang bukan mata pelajaran yang dapat ditemukan di ruang kuliah di perguruan tinggi, melainkan adanya di ruang masyarakat yang hidup secara berdampingan. Interaksi antaranggota masyarakat yang penuh damai, santun dan baik, akan melahirkan sikap yang bijak dalam memaknai arti kepentingan bersama. Di sanala lah empati akan tumbuh bersemi. Karena sejatinya, lebih mudah menjadi lentur dan baik hati baik daripada menjadi manusia “kaku hati” yang hanya berpikir untuk diri sendiri. Kita selamanya tidak pernah mengerti kapan kita sangat butuh kerelaan dan perhatian orang lain, apakah itu ketika berada di jalan raya ataupun juga ketika berada di suatu tempat di ruang publik

Di Negara Jepang masyarakat telah membangun empati sejak lebih dari 25 tahun yang lalu. Masyarakat sudah terbiasa mengemas sampah yang akan dibuang sejak dirumah sebelum masuk ke tempat sampah, dengan memisahkan sampah basah dan sampah kering; organic dan nonorganic. Kegiatan ini bukan sekadar memudahkan akan tetapi juga meringankan tugas yang dipikul oleh petugs kebersihan ketika memungut sampa di depan rumah mereka untuk diangkat ke dalam mobil sampah. Meskipun atas tugasnya petugah kebersiahan telah mendapatkan bayarannya, akan tetapi tanggung jawab soasial adalah meringankan dan mempercepat proses pekerjaan mereka.

Suatu ketika kami pernah mereaasakan menumpang kereta api super cepat ala Jepang: “Shinkansen”, dari Osaka ke Yokohama. Di dalam kereta tersebut kami sempat memesan makanan untuk disantap selama dalam perjalanan. Dan ketika sampai di stasiun Yokohama, saya bersama teman langsung turun, namun betapa terkejutnya saya ketika ditegur oleh pendamping kami secara halus: “Mr. Azhar, anda harus membawa turun bekas wadah makan dan minuman anda sendiri ke luar…”. Dengan sedikit grogi saya kembali mangambil bekas wadah tersebut untuk saya bawa ke luar dari kereta dan meletakkannya di dalam tempat sampah yang memang banyak tersedia di stasiun. Dan memang setiap penumpang menenteng apapun sampah yang dihasilkannya sendiri selama di dalam kereta untuk dibuang di tempat sampah di stasiun di mana dia turun.

Ketika di Jepang belum banyak diterapkan urinoir yang dilengkapi sensor untuk penyiraman secara otomatis, tiap orang Jepang rela menyiram bekas urine-nya sedikitnya tiga kali dengan menekan tombol secara manual. Pertama ketika berdiri di depan urinoir dan sebelum membuka celana, kedua setelah melepaskan urine dan ketiga setelah mengancingkan risleting celananya kembali. Siraman pertama adalah untuk membentukkan lapiran film air di permukaan urinoir agar tidak terjadi persentuhan langsung antara dinding urinoir dengan urine; yang kedua adalah menyiram permualan urinoir yang baru saja terkena air kencing; dan siraman yang ketiga adalah untuk membersihkan kembali permukaan urinoir agar tidak ada bekas air kencing yang tertinggal dan menimbulkan bau pesing. Padahal betapa super sibuknya manusia Jepang, namun demi berempati kepada lingkungan dan petugas kebersihan toilet, mereka sanggup melakukannya dengan senang hati.

raPemerintahan Kota Taipei, malah dengan keras menghimbau warganya agar duduk ketika kencing, agar air kencingnya tidak kecipratan kemana-mana yang akan meninggalkan bau di luar urinoir dan di lantai toilet. Ketika mengunjungi Rumah Sakit Umum Lam Wah Ee, di Pulau Pinang, Malaysia, pihak manajemen rumah sakit tersebut memberikan anjuranmelalui banner dan dan poster-poster bagi para karyawannya, termasuk dokter-dokternya serta kepada pengunjung, agar sudi menggunakan tangga untuk mencapai lantai di atasnya. Penggunaan lift ataupun escalator hanya bagi pasien dan orang-orang sakit ataupun orang yang telah sepuh serta dalam keadaan darurat lainnya. Anjuran ini sebagai wujud untuk berempati kepada lingkungan sekaligus sebagai upaya penghematan pemanfaatan enerji listrik. Demikian juga sering kita jumpai himbauan di hotel-hotel berbintang untuk mengajak para tamu yang menginap beberapa malam agar sudi menggunakan kembali peralatan mandi dan tidur, seumpama handuk, sprei, sarung bantal dan selimut yang baru saja digunakannya untuk mengurangi penggunaan enerji dan deterjen yang sangat tidak ramah kepada lingkungan. Ini merupakan ajakan untuk berempati kepada alam, kepada sesama manusia dan lingkungan.

Apa kabar dengan kita? Kalau mau jujur, kayaknya lebih sulit menimbulkan rasa antipati di dalam hati daripada menanamkan rasa empati dalam diri sendiri….**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *