Legenda Taufiq penjahat budiman

Ada sebuah cerita yg melegenda muncul dari kawasan tanah Betawi. Bukan cerita tentang jawara yang mumpuni yang tangguh dan memiliki kesaktian ilmu beladiri yg bersedia mati melawan Belanda untuk melindungi rakyat Betawi. Akan tetapi kisah tentang seorang penjahat yang bersimpati kepada kondisi rakyat kecil. Konon di akhir era tahun 60-an, terdapat kisah heroik seorang penjahat yang bahkan karena kelakuannya bukan malah dibenci, melainkan sangat dicintai masyakat Betawi, kala itu. Dia seorang yang berperawakan sedang dan memiliki basis berpendidikan sekolah guru, namun urung untuk terus melanjutkan pengabdiannya sebagai seorang pengajar karena lebih tertarik akan dunia “kejahatan”. Ketertarikan ini lantaran sang “penjahat” merasa prihatin melihat kesenjangan yang terjadi di kota Jakarta yang banyak terdapat orang-orang kaya, tapi tidak memiliki kepakaan sosial terhadap warga sekitarnya.

Setiap usai melakukan aksinya Taufiq yang memiliki ilmu pengetahuan agama yang memadai dan terdidik, selalu membagi-bagikan hasil rampokannya kepada masyarakat yang membutuhkan, sehingga semakin hari Taufiq mandapatkan tempat di hati masyarakat Betawi sampai-sampai dia dijuluki sebagai “penjahat budiman”. Taufiq bukanlah asli betawi. Sosok misterius ini konon kabarnya merupakan perantau yang datang dari sebuah pulau terindah di belahan timur Indonesia, untuk mengadu nasib di Ibukota. Dengan hanya berbekal ijazah sebagai seorang guru, Taufiq yang alim dan santun ini mengarungi kehidupan Jakarta bersama segala dinamikanya, bertolak belakang dengan kondisi kehidupan kampung halamannya yang terbilang desa, namun penuh kekerabatan, harmonis, rukun dan saling mengenal satu sama lainnya. Jakarta menjadi awal dari sebuah pertentangan batin bagi sang “penjahat”.

Ilustrasi pejahat budiman
Gambar ilustrasi pejahat budiman

Apa yang disaksikannya adalah sebuah kesenjangan yang kental dan tidak ada rasa saling peduli terhadap orang lemah dan mskin. Saling pedulu hanya berlaku dengan sesama orang-orang2 berada semata. Orang-orang kaya dan pemilik tanah, selalu berlaku tidak adil terhadap rakyat kecil. Melihat kondisi ini timbul pemberontakan dalam diri Taufiq, untuk memberikan pelajaran bagi orang kaya yang sombong dan hanya mementingkan diri sendiri; hidup mereka nafsi-nafsi; semau gue; masa bodo dan tak ingin ambil peduli terhadap warga lain yang ada di sekitarnya. Diam-diam Taufq memutuskan untuk berhenti melakoni profesinya sebagai seorang guru, dan mengubah haluan menjadi seorang “prampok” yang penuh tantangan. Taufiq seperti terpanggil untuk membantu orang miskin dengan caranya sendiri mengambil jalan pintas dan siap menerima resiko dihukum atau meregang nyawa di ujung senjata aparat kepolisian.

Niat sucinya untuk mengabdi sebagai guru yang bertjuan mendidik anak muridnya di bangku sekolah, seketika berubah menjadi sebuah tindakan pragmatis untuk membantu masyarakat miskin di sekitar Kota Jakarta. Taufiq tidak hanya merampok para orang kaya, tuan tanah dan juga juragan yang sombong lagi pelit, akan tetapi Taufiq juga telah merampok hati sanubari warga miskin Jakarta yang termarjinalkan. Sekelumit kisah Taufiq hanya berupa cerita dari mulut ke mulut warga Jakarta di antara akhir tahun enam puluhan hingga memasuki awal tahun tahun tujuh puluhan. Tak jauh kisah ini beredar, tetapi warga Jakarta yang berdiam di sekitar kawasan timur dan pusat Jakarta banyak yang mengiyakan tentang kisah kepahlawanan ini, bahwa kisah ini memang pernah terjadi.

Entah bagaimana akhir kisah dari seorang Taufiq yang tak diketahui bagaimana nasibnya selanjutnya. Semuanya seperti berlalu begitu saja seiring waktu yang bergulir bersama industrialisasi dan era informasi yang mengaduk-aduk Jakarta hingga bisa seperti saat ini. Ada yang mengatakan, bahwa, Taufiq akhirnya bertaubat dan memutuskan mengakhiri ”pemberontakan”-nya dan memilih kembali ke kampung halamannya di luar pulau Jawa. Akan tetapi ada pula yang mengatakan, jika Taufiq, akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir ketika usianya memasuki setengah abad dan dimakamkan di sekitar kawasan timur Jakarta….*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *