Cinta

Bagi sebagian manusia cinta tidak memiliki arti yang sakral sama sekali, keadaan itu karena cinta tidak bermuara pada kata hati. Sedangkan cinta sendri merupakan tata kelola hati yang spontan, meskipun ada preseden yang berproses mendahuluinya, tapi bukan direkayasa atau diada-adakan. Cinta tidak mengalami proses konversi secara detail, melainkan hanya “terbentuk” pada tingkat kesadaran suka sama suka. Di sini cinta berlaku hanya pada tataran kata, bukan rasa; pada tingkat pengelolaan yang lebih dangkal, bukan bersandar pada emosional; nafsu yang di depan; cinta yang dihiasi oleh libido yang pekat. Cinta yang ingin diungkapkan sebatas mencari status, biar tidak dianggap jomblo; agar jangan sampai selamanya berstatus single. Atau sekadar pelepas dahaga untuk sementara waktu.

Cinta selalu hidup bersama dengan kehidupan umat manusia. Tidak ada yang membatasai antara cinta dan hidup manusia. Orang tua yang memiliki anak, selalu memiliki cinta atas anak-anaknya. Sejak dalam kandungan cinta sudah mulai bersemi hingga sang bayi lahir ke dunia. Di sini cinta menjadi kodrat, yang lahir dari ketidaktahuan dan prasangka apapun. Dia muncul menjadi cinta yang sejati; menjadi cinta tatkala Tuhan membuahkan cinta dalam naluri dan sanubari (nurani) seorang Ibu. Tidak ada yang mampu melukiskan dengan benar bagaimana cinta itu bisa tumbuh. Meskipun kadar cinta Ibu dan Ayah terhadap anaknya, dianggap memiliki perbedaan, Ayah lebih rasional memahatkan cinta kepada anak-anaknya, seperti bunyi pepatah berikut ini yang mengatakan: “cinta Ibu sepanjang jalan; cinta Ayah sepanjang galah”. Cinta Ayah selalu terukur, bersifat timbal balik, diselingi harapan-harapan dan kompensasional. Sementara cinta Ibu selalu utuh, tidak mudah terbelah, tak mengenal kompensasi dan azas saling menguntungkan.

Ilustrasi gambar cinta
Gambar ilustrasi cinta

Demikian juga dalam dunia hewan. Induk anak hewan selalu melindungi anak turunannya sejak dalam bentuk telur, menetas dan kemudian muncul sebagai anak hewan. Cinta antara hewan dibentuk oleh sebuah insting, berbeda dengan manusia yang tetap berbalut rasional dan emosional. Oleh karena itu cinta manusia dapat disetel-setel agar mencintai sesama anak manusia tidak boleh menjadi perioritas, melainkan harus berada di bawah level cinta manusia kepada Allah dan Rasul-Nya. Paling tidak, ini menurut pandangan Islam.

Rabi’ah Al-‘Adawiyah, seorang wanita sufi tersohor, rela hidup di dalam kesendiriannya dan tidak mempunyai suami hingga akhir hayatnya. Adawiyah, memaknai cinta melalui suatu ungkapan yang sangat monumental suatu ungkapannya tentang cinta yang sangat agung: “Karena hatiku telah dipenuhi oleh cintaku kepada-Nya, sehingga tiada tempat lagi di hatiku bagi siapapun selain untuk Dia”… Al-Adawiyah, menjalani hidupnya secara zuhud, menarik dirinya secara total dari ruang lingkup kehidupan duniawi dan memasrahkan dedikasinya hanya semata-mata ingin segera bertatap muka dengan Tuhannya. Atas falsafah yang dianut Al-‘Adawiyah tentang cinta, sampai-sampai ada tudingan, bahwa cara pandang cinta Al-‘Adawiyah telah menyimpang dari ketentuan agama.

Seorang filosof Indonesia yang merupakan seorang pemikir, seniman dan penggiat kebudayaan Indonesia, Prof. Dr. Toeti Heraty Rooseno, mendefinisi cinta secara pragmatis dengan ungkapannya: “cinta adalah sara penyelamatan diri dari keterbatasannya untuk mewujudkan khayalannya”. Cinta seperti diciptakan dalam bentuk “benda”; menjadi kata benda, sebagaimana sarana-sarana lainnya yang dapat dijadikan alat bantu dalam mengerjakan sesuatu. Tataran cinta tidak berada dalam ruang lingkup conciousnes, akan tetapi berada di luar sistem tata hati yang biasanya didominasi oleh perasaan dan emosi. Cinta menjadi rasional ketika dia dirasakan tidak mampu berperan menjadi sebuah sarana yang mampu “menyelamatkan” seseorang yang telah menggunakannya sebagai sarana. Boleh jadi cinta hanya singgah di pinggiran hati, bukan pada lubuk hati yang dalam. Cinta datang hanya ketika akan dipergunakan. Meskipun cinta bukanlah merupakan sarana budaya, akan tetapi, penggagas cinta yang demikian mengaitkan hubungan cinta dalam peta budaya dan sosial yang juga merupakan lapangan operasional dari cinta itu sendiri, tempat cinta itu bisa bermain-main, atau suatu lokasi di mana cinta itu bisa bersemi.

Cinta berhubungan erat dengan “ketaatan”. Dua orang yang saling jatuh cinta tidak hanya cukup untuk saling berbagi perasaan saja, melainkan juga wajib berkomitmen untuk saling mentaati satu sama lainnya. Terlebih lagi ketika cinta dapat menyatukan mereka dalam mahligai kehidupan berumah tangga bersama. Sang istri harus mengejawantahkan ketaatannya kepada suami yang baik dan bertanggung jawab tanpa reserve, di samping tentu saja setelah terlebih dulu cinta dan taat kepada yang “Maha Memiliki Cinta” di atas segala-galanya. Bila cinta yang tertinggi kemudian berbuah cinta duniawi, maka itu sebetulnya itu merupakan wujud sebuah keabadian cinta sejati. Mencintai kekasih, karena ada cinta transendental yang mengayominya; mencintai pasangan karena pertimbangan cinta yang lebih tinggi; mencintai anak ataupun mencintai kedua orang tua, lantaran ingin memperoleh ridho-Nya.

Dalam lembaran persembahan, Eric Fromm, penulis buku “Seni Mencinta”, menukil syair cinta dari seorang pemikir Islam, Jalaluddin Rumi: “Apabila cinta Tuhan telah membara di relung hatimu, pastilah Dia telah mencintaimu. Tiadalah suara tepukan yang terdengar hanya dari sebelah tangan. Hikmah Tuhan dalam takdir dan hukum yang menjadikan kita saling mencinta. Karena itulah, setiap bagian dari dunia diberi pasangan. Di mata orang bijak, langit adalah laki-laki dan bumi perempuan; Bumi memupuk seluruh yang telah langit turunkan. Apabila bumi kekurangan kehangatan, langit mengirimkannya; jika ia kehilangan embun dan kesegaran, langit memulihkannya. Langit berkeliling, laksana seorang suami yang mencari nafkah demi isterinya; sedangkan bumi sibuk mengurus rumah tangganya: ia merawat yang lahir dan menyusui apa yang telah ia lahirkan…”.

Meskipun Eric Fromm sangat menyukai falsafah cinta seorang Jalaluddin Rumi, akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan pemahaman cinta yang mereka persepsikan. Bagi Rumi, ataupun, barangkali, Al-‘Adawiyah, cinta kepada Allah adalah sesuatu yang final dan tak dapat diganggu gugat, sementara itu, Eric, masih ingin memperdebatkannya tentang cinta yang satu ini. Eric melihat cinta dari sisi orientasi karakter dan tingkat keyakinan seseorang terhadap cinta, kemudian mengonversikan secara berbanding lurus; seberapa kuatnya karakter, maka sekuat itu pulalah cintanya; seberapa besarnya keyakinannya terhadap objek cintanya, maka sebesar itu pula cinta yang dapat di manifestasikannya. Eric memaknai cinta kepada Allah, dalam tataran kausalitas, timbul cinta karena manusia menyukai segala ciptaan-Nya. Sedangkan Rumi meletakkan rasa cinta pada tataran imani; iman yang dikedepankan, yang mana bagi Rumi, maknanya memiliki perbedaan dengan “keyakinan” itu sendiri.

Makna cinta memang sulit untuk dikatakan. Terkadang kaidah apapun tank dapat dijadikan acuan. Hanya bagi orang yang merasakan cinta yang dapat menafsirkan apa sebetulnya cinta. Tidak juga Al-‘Adawiyah; tidak pada Jalaluddin Rumi; tidak pula pada Eric Fromm, yang semuanya mengeluti cinta berdasarkan nuraninya masing-masing. Bahkan yang melakoni cinta pun mengalami kesukaran untuk memberikan batasan cinta, karena cinta sesungguhnya tidak berada di mana-mana, melainkan di sini di dalam hati ini. Sehingga karena itu pula yang membuat, jatuh cinta tak pernah menjadi sesuatu yang rasional.

Nabi Dawud, ‘alaihissalam, memaknai cinta dalam doanya, sebagaimana diriwayatkan di dalam kitab Sunan At-Tirmidzi: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu cinta-Mu dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu; dan perbuatan yang dapat mengantarkan aku kepada cinta-Mu. Ya Allah, jadikanlah cinta-Mu lebih kucintai daripada diriku serta keluargaku dan daripada air yang dingin.”…**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *