Legenda “orang kuat” Medan

Medan memang kota yang “karas”, Bung..!; Medan memang sangat dinamis dan hampir tak pernah lelap walau hanya sekejap. Sejak dulu Medan sudah sangat dikenal oleh orang-orang se-nusantara ini. Bahkan Medan juga pernah dijuluki sebagai kota terbesar kedua setelah Jakarta. Waktu itu perkembangan Bandung dan Surabaya belum sepesat seperti saat ini; baik di bidang perdagangan maupun di bidang hiburan.

Medan juga menjadi kota penghantar bagi turis yang akan mengunjungi beberapa objek wisata yang terdapat di sekitar Medan seperti: Berastagi dan Prapat yang terletak di tepi Danau Toba yang tersohor itu. Kota Medan sendiri juga memiliki pesona yang tak kurang indah, lengkap dengan berbagai bangunan cagar budaya yang terpelihara dengan baik.

Saking kerasnya kehidupan di Medan, sehingga menjadi Kapolda Sumut dan Kapoltabes Medan menjadi sebuah tantangan yang menggiurkan. Tidak jarang sukses sebagai Kapolda dan Kapoltabes dapat menghantar seorang bhayangkara, memiliki peluang yang besar untuk merengkuh jabatan di atasnya bahkan jabatan Kapolri dengan mulus dan lancar. Medan dan Sumatera utara seakan menjadi tolok ukur bagi penilaian terhadap sukses tidaknya bagi perjalanan sebuah karir seseorang.

Untuk menjadi terkenal banyak cara yang ditempuh oleh orang Medan, terutama dari kalangan anak muda usia. Bukan hanya sebagai seniman (penyanyi) saja, melainkan juga bisa melalui jalur predikat “orang kuat”. Sejak dulu organisasi Pemuda Pancasila sudah tumbuh berkembang di Medan, dan yang akan memimpin organisasi tersebut dianggap sebagai “orang kuat”, dari segi apa saja: nyali, fisik, pengaruh dan akhirnya berujung ke ranah finansial yang semakin sehat. Bahkan timbul eforia dalam pikirannya ingin mengalami kehidupan serupa dengan mereka, terlebih lagi bila bisa dekan bergaul dan mengenal mereka dengan baik. Ada kebanggaan bisa berkenalan dengan Pendi Keling ataupun Olo.

Gambar ilustratif "orang kuat" Medan

Gambar ilustratif “orang kuat” Medan

Di era pertengahan tahun enam puluhan hingga pertengahan tahun 70-an, orang belum pernah mendengar nama Oloan Panggabean, sebesar namanya di akhir tahun tujuh puluhan. Sebaliknya orang sangat familiar dengan sebutan Bang “Pendi Keling”. Hampir semua lapisan masyarakat membicarakan namanya. Nama lain yang tak kurang beken adalah Anwar Congo, Paruhum Lubis dan Hasan Kumis.

Masing-masing mereka seperti telah memiliki wilayah operasional sendiri dengan territorial yang sangat terjaga. Olo baru beken kemudian setelah, konon, menyempal dari Pemuda Pancasila dan kemudian mendirikan IPK (Ikatan Pemuda Karya). Era setelah Pendi Keling, yang bernama asli Muhammad Yunus Helmi Nasution, hadir orang kuat seperti Buyung Berland, Iwan Dukun, Marzuki, Manahan Lubis dan bahkan Sahara Oloan Panggabean, atau dikenal dengan sebutan Pak Ketua; sebutan lain dari Bang Olo. Tapi porosnya tetap pada organisasi pemuda seperti: Pemuda Pancasila, AMPI dan IPK.

Meskipun awalnya sama-sama berinduk ke Golkar, masing-masing organisasi ini seperti berdiri sendiri-sendiri. Sehingga tidak jarang bisa bentrok hanya gara-gara hal yang sepele. Perebutan lahan parkir serta pengaruh di basis daerah hiburan malam dan pusat perdagangan, juga sering menjadi pemicu terjadinya bentrokan berdarah, yang juga kadang merenggut nyawa anggotanya.

Pendi Keling meninggal karena usia yang semakin sepuh kala itu. Sedangkan Olo meninggal karena komplikasi penyakit yang dideritanya; sementara Iwan Dukun tewas ketika terjadi bentrokan antarpreman di dalam Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Tanjung Gusta. Iwan yang tidak mempan senjata tajam, tewas lantaran sengaja dikerubungi asap tebal akibat terjadinya pembakaran di depan selnya. Iwan Dukun lebih dulu melepas nyawa sebelum masa pembebasannya ke dunia luar penjara, yang hanya tinggal menunggu hari. Malaikat lebih dulu menjemputnya. Iwan yang ditahan dengan tuduhan gerakan subversif, tidak sempat menghirup udara kebebasan karena huru hara yang terjadi pada tanggal 29 Maret 1996 di dalam penjara, sebagai penyebab kematiannya.

Medan selalu melahirkan orang kuat di kalangan masyarakat yang menjalani kehidupan yang keras. Setiap mereka selalu memiliki basis organisasi dan langsung berperan sebagai pemimpin tertinggi dari organisasi tersebut. Sosok orang-orang kuat ini bukan hanya membuat nyali anak buahnya takut menghadapinya, akan tetapi juga namanya sangat diperhitungkan oleh kelompok dari organisasi pemuda lainnya yang memiliki atribut dan berbeda, namun mempunyai orientasi yang sama. Sama-sama menghimpun kekuatan dan pengaruh untuk menguasai area bisnis tertentu, menawarkan jasa keamanan, penjagaan parkir dan jasa-jasa lainnya yang membutuhkan peran mereka. Untuk menjaga eksistensinya masing-masing ormas ini mengandalkan para anggotanya yang memang telah menjadi bagian terpenting dari basis kekuatan organisasinya.

Para anggota juga mengambil manfaat dari kekuatan ini. Karena bagaimana pun juga, semakin sebuah organisasi tersebut menjadi kuat maka kredibilitsnya pun akan semakin besar. Sehingga dengan demikian mereka dapat melakukan ekspansi bagi daerah operasionalnya yang berarti semakin luas pula lahan untuk mendapatkan order pekerjaan, termsuk sebagai tenaga keamanan ataupun menguasai lahan parkir. Ini menjadi sumber pendapatan bagi organisasi sekaligus untuk menghidupi perekonomian anggotanya. Jadi semua ini bukanlah semata-mata gengsi organisasi yang perlu ditegakkan, melainkan juga mengandung hajat hidup para anggota, maka taruhan nyawa bukanlah suatu tantangan yang bisa dihindarkan.

Dari sisi ketertiban dan keamanan, kehidupan orang-orang ini diklasifikasikan sebagai kehidupan “premanisme”, dan orang-orang yang disebut-sebut sebagai orang kuat dianggap sebagai “kepala preman”. Sehingga tak jarang tingkah dan tindakan mereka dianggap senantiasa bersinggungan dengan hukum. Di samping menjadi momok bagi organisasi pesaingnya, kehadiran orang-orang ini juga ikut menjadi pemicu keresahan masyarakat. Dan ujung-ujungnya mereka terpaksa berhadapan dengan aparat kepolisian untuk mempertanggungjawabkan semua yang dilakukannnya di depan hukum. Apalagi bila perilakunya terkait dengan bentuk kejahatan dan bisnis ilegal yang mereka jalankan, ataupun dengan sesuatu tindakan lainnya yang terlarang menurut sisi pandang penegakan hukum.

Yang menarik adalah, bahwa kehidupan keras tidak menjadikan para orang kuat ini kaku dalam bersosialisasi. Pada umumnya mereka termasuk dalam kategori dermawan dan suka membantu orang-orang lemah. Organisasi induk juga bertanggung jawab untuk menyantuni keluarga dari setiap anggotanya yang meninggal dalam tugas demi mempertahankan eksistensi organisasinya.

Demikian juga untuk membantu masyarakat yang membutuhkan bantuan mereka. Dengan kemampuan finansial yang mereka miliki, maka membantu masyarakat dengan berbagai cara dan bentuk bukanlah persoalan yang sulit bagi organisasi dan pimpinan mereka. Ini juga untuk membentuk image, bahwa kehidupan yang mereka jalani bukanlah sebuah kehidupan yang penuh dengan kekerasan, akan tetapi kehidupan yang penuh pengertian dan kepekaan terhadap masyarakat sekitarnya.

Setiap kisah tentu ada akhirnya. Akhir sebuah perjalanan sejarah seseorang yang ditabalkan sebagai orang kuat, dengan berbagai gelar dan predikat akhirnya akan termakan oleh usia. Kekuatan dan pengaruh pun semakin sirna tatkala usia senja menjemput mereka. Kematian bagi seseorang adalah penutup dari segala-galanya yang telah dibangun dengan kekuatan, kekerasan, perjuangan dan kekuasaan. Patah tumbuh hilang berganti. Estafeta predikat orang kuat pun akan berpindah tangan dari pimpinan sebelumnya kepada piminan yang baru melalui proses regenersi.

Di dunia tidak ada yang abadi, semuanya pasti ada batas akhirnya. Pendi Keling meninggal dunia pada tanggal 26 Agustus 1997, dalam usia 63 tahun.
 Sementara itu, Olo Panggabean menghembuskan nafasnya yang terakhir pada tanggal 30 April 2009, pada usia 68 tahun. Kini nama mereka selalu menempati ingatan orang-orang yang merasa dekat dengannya dan yang memiliki kesan tertentu dalam hidupnya. Itupun hanya pada sebatas kenangan yang tak mungkin terulang kembali….**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *