Pengalaman Berobat di Rumah Sakit Negeri Jiran

Rumah Sakit Sardjito
Rumah Sakit Dr. Sardjito di Yogyakarta

Tahun 2007 kami sempat berobat di negeri jiran, di Pulau Pinang, Malaysia. Inisiatif ini kami ambil untuk mendapatkan pembanding (second opinion) dari dokter yang berbeda karakteristiknya dari dokter tempat kami berobat sebelumnya. Tapi tak perlu jauh-jauh, hanya mengambil tempat cukup di negeri jiran saja. Keuntungannya, dari segi budaya dan bahasa tidak akan menimbulkan persoalan. Demikian juga di mana sebelumnya kami mendapatkan kabar dari teman-teman yang sdudah ke sana, yang mengatakan, bahwa, pelayanan yang diterima relatif lebih baik dari negeri sendiri, akan tetapi dengan biaya yang sangat terjangkau. Sejak di airport sudah banyak petugas rumah sakit ataupun para penyedia kamar apartemen yang menunggu para tetamu dan turis yang akan berobat di negeri ini. Rupanya sebagian besar dari mereka sudah membuat perjanjian melalui situs resmi milik rumah sakit ataupun milik pengelola apartemen tertentu.

Mendarat di airport Pulau Pinang serasa bukan sedang berada di kampung orang. Dari fisik dan bahasa ocehan yang kita dengar tak jauh-jauh beda dengan beberapa dialek bahasa Indonesia yang terdapat di Pulau Sumatera. Yang membedakan adalah cara penanganan pemeriksaan yang tidak main-main terhadap penumpang yang baru datang dari luar negara tersebut. Tanpa pandang bulu, meskipun mereka itu pelancong berkulit putih. Bulè dan melayu tetap disamaratakan dalam mengikuti prosedur pemeriksaan di airport, yang terbilang sangat ketat.

Sesampai di rumah sakit tujuan, ada sedikit keterkejutan yang kita rasakan sejak di tempat pendaftaran hingga pelayanan demi pelayanan medis berikutnya. Karena memang tujuannya yang semula ingin memeriksa kondisi jantung, tapi malah diarahkan menjadi total check-up. Bahkan diiringi kata2: “tak payah khawatir nCek, kosnya tak ‘kan ekspensif lah“. Dan ternyata ucapan petugas di bagian pendaftaran tadi terbukti; dengan harga yang memang fantastis murahnya, tapi tetap dengan pelayanan yang prima. Para pasien yang berobat dibuat bagaikan raja, dilayani dengan segenap hati mereka, tanpa pandang status sosial dari negeri asalnya. Mau petani, nelayan, pedagang, pejabat ataupun pengusaha. Semuanya mendapat pelayanan yang serupa dan terstandardisasi. Apakah dari negeri asia, eropa, amerika, ataupun dari benua mana saja mereka datang, penanganannya tetap sama. Sama-sama pasien yang ingin berobat, ingin mengetahui penyakit yang diidapnya dan ingin kesembuhan serta menjadi sehat kembali.

Yang menarik lagi, di rumah sakit yang kami kunjungi, kantin makanan sehat yang terletak di lantai 1 bangunan pusat rumah sakit, menyediakan berbagai jenis makanan yang dimasak tanpa penyedap, pengawet, pewarna dan pemanis buatan yang berbahaya bagi kesehatan. Semuanya serba organik dan alami. Di kantin ini berbaur antara pengunjung, pasien, perawat dan dokter yang bertugas di rumah sakit tersebut. Makan bersama di dalam kantin rumah sakit yang juga harganya sangat terjangkau tapi tetap dengan nuansa pelayanan yang ramah dan cepat.

Menyimak standar yang diterapkan di rumah sakit tersebut, rasanya sangat mungkin hal demikian dapat diterapkan di Indonesia. Karena tidak ada bedanya antara orang-orang Malaysia dengan orang Indonesia; mulai dari warna kulit, postur, bahasa serta budaya antarkedua negara. Mungkin yang membedakan hanyalah masalah keketatan regulasi, undang-undang, pengendalian dan konsistensinya. Semuanya dilakukan dengan cara serba sigap dan tangkas, tetapi tidak meninggalkan standar baku pelayanan medis yg tinggi: ramah, cerdas, cepat dan tepat sasaran. Konon dokter yg bertugas di RS tersebut pada umumnya adalah lulusan pendidikan spesialis dari luar negara yang dibiayai oleh kerajaan. Terlihat dari gelar dan asal yang tertera di belakang namanya, yang dipasang di dekat pintu pada masing-masing ruangan praktek. Dokter rumah sakit juga tidak berpraktik di luar rumah sakit ataupun di rumah sendiri serta di tempat praktek pribadi lainnya. Fokus utama adalah praktek di rumah sakit. Sedangkan membuka praktek pribadi hanya diperkenankan bagi dokter yang sudah purnatugas dari rumah sakit.

Ini adalah sebuah konsep wisata medis yg merupakan salah satu program dari pemerintahan PM Malaysia sebelumnya, DR. Mahathir Muhamad, yang diberi label “Wawasan 2020”. Tujuannya adalah berupaya menarik dan mengundang warga negara asing sebanyak mungkin, untuk berkunjung ke Malaysia sekaligus bertamasya menikmati keindahan Malaysia dan berobat dengan biaya yang terjangkau dalam pelayanan medis yang sangat profesional. Sangat luar biasanya, dalam kenyataannya program ini bisa diwujudkan, jauh sebelum batas waktu yang dicanangkan tercapai. Hasilnya, hampir semua bangsa ditemukan datang berobat di rumah sakit yang terdapat di seluruh Malaysia. Berobat sambil bertamasya. Berobat dengan biaya murah, sekaligus bisa berbelanja dan menikmati pesona Malaysia. Belum mencapai tahun 2020, satu per satu program “Wawasan 2020” sudah mulai tampak terrealisasi dengan baik. Di samping wisata medis dengan memperbanyak dokter spesialis lulusan luar negeri dan rumah sakit yang representativf, juga tidak ketinggalan, pengembangan Pulau Langkawi yang selalu siap menggelar “Langkawi International Maritime and Aerospace Exhibition”, yaitu, sebuah pameran teknologi bahari dan kedirgantaraan yang sudah memasuki kelas dunia, yang diikuti oleh berbagai peserta dari berbagai negara. Pengunjung dari mancanegara dapat menikmati keindahan bahari dan pesona daratan Malaysia serta sekaligus menikmati pagelaran teknologi mutakhir yang dipamerkan di sana.

Indonesia seharusnya bisa. Saya pernah berobat di Instalasi Gawat Garurat (IGD) di sebuah rumah sakit milik Departemen Pertahanan Republik Indonesia, di bilangan selatan Kota Jakarta. Dengan pelayanan yang sigap dan ramah saya merasa seperti sedang berobat di negeri tetangga yang pernah saya alami. Semuanya serba cepat. Saya hanya mendapat perawatan dan evaluasi selama kurang-lebih dua jam oleh dokter IGD serta para perawat yang bertugas di sana, dan kemudian telah diperbolehkan pulang. Dan biayanya pun sangat fantastis; sangat terjangkau oleh kalangan yang bersahaya. Dalam kesempatan waktu lainnya saya pernah berobat di IGD Rumah Sakit DR. Sardjito, Yogyakarta. Saya merasakan pelayanan yang cukup baik dari dokter dan perawat yang berada di ruang instalasi gawat darurat di sana. Saya berpikir, ternyata kita bisa, bersikap ramah kepada pasien dan mampu memberikan pelayanan yang baik, sigap dan cepat, sesuai prosedur. Dokter dengan sabar pula mendengarkan keluhan pasien dan kemudian mengambil tindakan medis lanjutan yang tepat. Kurang lebih dua jam kemudian, setelah mengalami observasi dan evaluasi oleh dokter sesuai dengan standar rumah sakit, saya pun diperkenankan pulang. Padahal untuk berobat yang kedua ini, kami menggunakan kartu BPJS Kesehatan dan tidak menggunakan pembayaran biaya secara langsung tunai.

Apa yang kami alami, merupakan sebuah awal dari sesuatu yang baik. Untuk mendapatkan pelayanan yang baik, khususnya di bidang kesehatan, maka dibutuhkan regulasi yang ketat, namun dengan memberikan keleluasaan kepada pemerintah daerah masing-masing serta kepada pihak rumah sakit untuk menetapkan standar manajemen yang akan diterapkan dalam mengelola pelayanan rumah sakitnya. Akan tetapi harus tetap dibarengi dengan peraturan yang jelas sanksi hukumnya dalam sebuah paying hukum yang berskala nasional. Bila regulasinya kuat dan konsisten, serta diikuti dengan tekad yang bulat, maka bukan tidak mungkin, pelaksanaan pelayanan, khususnya, di bidang kesehatan, pun, akan bisa menyamai dengan pelayanan kesehatan di negara tetangga tersebut.

Kemudian yang tidak kalah penting adalah cita-cita menjadi dokter ataupun perawat haruslah merupakan cita-cita yang ditanamkan sebagi wujud dari keinginan untuk mengabdi bagi kemanusaiaan, bukan sekadar cita-cita ingin memperoleh pendapatan untuk kebutuhan hidup semata. Karena pilihan itu merupakan salah satu jalan cepat untuk menjadi kaya. Mindset orang yang akan mengabdi harus sudah tertanam sejak awal memilih profesi menjadi juru rawat ataupun dokter; bukan memilih karena “pelarian”, ataupun lantaran ingin cepat dapat pekerjaan, apalagi ingin cepat kaya. Kalau tidak, regulasi sebaik apa pun dan sanksi seberat apa pun tidak akan membantu untuk meningkatkan tata kelola dan pelayanan kesehatan di negeri ini. Persoalan ini bukan hanya soal regulasi dan sanksi, melainkan juga karakteristik dan orientasi yang dimiliki oleh entitas dari orang-orang yang berkecimpung di bidang pelayanan kesehatan secara menyeluruh.

Pada umumnya rumah sakit di Malaysia adalah berorientasi bisnis. Tetapi mereka tidak akan pernah meninggalkan fungsi utamanya untuk memberikan dan mengabdi pada bidang pelayanan kesehatan. Setiap ada pasien, bukan hanya rumah sakit yang diuntungkan. Akan tetapi pengelola apartemen, taksi, mal, dan warung-warung makan juga mendapatkan berkah yang dibawa oleh setiap pasien dan rombongannya. Pasien memperoleh layanan kesehatan dan kesembuhan dari rumah sakit serta dari profesi dokter dan juru rawatnya, sementara itu sebagai efek berlapisnya, pihak lain seperti: kerajaan (negara), rumah sakit serta dari profesi dokter dan perawatnya mendapatkan keuntungan dari pembayaran atas setiap jasa yang dia persembahkan. Pasien tidak sampai mengalami “uang habis badan binasa”. Untuk itulah dalam rangka meningkatkan devisa, kerajaan Malaysia, terus berupaya meningkatkan pelayanan wisata medis ini. Menjadikan setiap pengunjung “bak seorang raja”; merawat setiap pasien bagaikan berada di rumahnya sendiri; menjadikan setiap pengunjung dan pasien sebagai corong untuk mengiklankan setiap tindak tanduk kebaikan yang dialaminya selama di Malaysia. Sehingga dengan demikian, kontinuitas pengunjung yang berobat dalam paket wisata medis di Malaysia akan terus berlanjut atau bahkan akan terus bertambah dari bulan ke bulan yang dampaknya adalah peningkatan bagi pemasukan kepada pundi keuangan Negara Malaysia.

Negeri ini seharusnya bisa, hanya saja belum ada program yang mengarah ke sana untuk mendatangkan orang dari luar Negara, berwisata ke daerah yang sesuai dengan pilihan mereka; ke Banda Aceh, ke Sumatera Utara, ke Bali, ke Lombok,  ke Yogyakarta, ke Bandung dan juga ke Jakarta, sekaligus untuk berobat dengan mendapatkan pelayanan yang sangat baik dan berkualitas tinggi. Bila hal itu bisa terjadi, bukan hanya nama harum Indonesia dari keindahan dan keunikan budaya yang diperoleh dari para wisatawan, akan tetapi mereka akan menikmati pelayanan kesehatan, sambil bertamasya di Indonesia; menjadikan Indonesia sebagai tujuan untuk berobat. Yang secara tidak langsung mengakui bagusnya kualitas pelayanan kesehatan di Indonesia. Dampak lainnya adalah, masyarakat Indonesia akan menerima imbas dari peningkatan pelayanan kesehatan di dalam negeri. Dan masih ada multiplyer effect lainnya, semisal, baik bagi negara, bagi perekonomian masyarakat, maupun bagi daerah serta bagi pihak pengelola rumah sakit, negeri ataupun swasta.

Angan-angan seperti ini bukanlah ibarat isapan jempol belaka. Sebagian dokter asli Malaysia, yang bertugas di rumah sakit Malaysia, S1-nya, ada yang diperoleh dari perguruan tinggi di Indonesia. Akan tetapi untuk mengambil spesialis dan tingkat Ph. D., mereka dikirim ke negara-negara maju atas biasaya kerajaan. Indonesia memiliki banyak perguruan tinggi negeri yang reputable untuk mendidik tenaga medis (dokter), bahkan hingga menjadi dokter spesialis tertentu sekalipun. Hal ini merupakan pontensi yang sangat berharga sebagai salah satu kekuatan yang dimiliki negeri ini. Demikian juga tenaga para juru rawat handal yang mampu berdedikasi dengan baik sebagai potensi sumber daya manusianya. Rumah sakit pun sudah banyak yang bertaraf internasional. Bila iklim keikhlasan, dan orientasi untuk memajukan Indonesia di bidang medis dimiliki oleh setiap tenaga kesehatan dan seluruh stakeholder-nya, maka, bukan tidak mungkin wisata medis dapat dicanangkan sebagai salah satu program untuk menarik para wisatawan dari mana saja, untuk berkunjung ke Indonesia dalam rangka berobat dan sekaligus berwisata ke tempat-tempat yang indah, unik dan penuh pesona, yang terdapat di Indonesia.

Bukan untuk meniru konsep dari negara tetangga, melainkan atas dasar kepemilikan potensi yang luar biasa di bidang kesehatan dan di sektor pariwisata yang tersebar di seluruh kepulauan nusantara. Yang dibutuhkan adalah sentuhan nilai tambah untuk membuat perubahan secara signifikan; mengubah mindset, pola pikir dan orientasi secara menyeluruh. Dimana, bila hal ini bisa tercapai, maka pada akhirnya akan menjadi sumber pendapatan dan devisa bagi negara ini, yang tentu saja akan lebih meningkat karena adanya nilai tambah tadi. Hebatnya negeri jiran, program “wisata medis” yang digagas oleh Mahathir, tidak semata hanya berupa sebuah wacana, yang hanya merupakan sebuah konsep dan sekian banyak tulisan dalam tumpukan kertas; hanya menjadi paperworks yang setelah dibaca lalu ditinggal begitu saja. Akan tetapi program tersebut diimplementasikan secara serius dan berkelanjutan, bahkan hingga pemerintahan sudah berganti seperti saat sekarang ini. Ada konsistensi, kontinuitas dan sustainabilitas serta kesamaan pikir untuk mempertahankan sesuatu yang baik yang terus diwujudkan sampai saat ini….**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *