Titik Nol Yogyakarta

Titik nol Yogyakarta
Kondisi kawasan titik nol Yogyakarta sedang dalam pembenahan

Kalau di Provinsi Aceh, ada titik nol Indonesia yang terdapat di Sabang, Pulau Weh, maka di Yogyakarta juga ada kawasan yang dinamakan “Titik Nol Yogyakarta”. Titik nol Yogyakarta merupakan suatu kawasan yang strategis bagi pelancong yang berkunjung ke Yogyakarta, sebagai penjuru utama yang menghubungkan beberapa objek wisata sekaligus. Pada titik ini terdapat pertemuan ruas jalan yang terbentang dari utara ke selatan. Mulai dari titik Tugu Pal Putih, Yogyakarta di pertemuan Jalan Margo Utomo – Jalan A.M. Sangaji dan Jalan Diponegoro – Jalan Jenderal Soedirman. Kemudian menuju ke arah selatan melintasi sepanjang jalan Molioboro – Jalan Margo Joyo, melintasi Pasar Beringharjo hingga bertemu Jalan Panembahan Senopati dan Jalan K. H. Ahmad Dahlan. Jalan Margo Utomo merupakan nama lama yang yang dikembalikan sesuai dengan sejarah sebelumnya, dimana pernah digantikan menjadi Jalan Mangkubumi; sedangkan Jalan Margo Joyo adalah pengembalian kepada nama semula dari Jalan Jenderal Ahmad Yani yang ditabalkan pascagugurnya Pahlawan Revolusi, dalam peristiwa 30 September 1965.

Titik nol sendiri berada di kawasan yang dipenuhi dengan bangunan cagar budaya, antara lain, adalah, Benteng Vredeburg, Kompleks Istana Gedung Agung, Bank Indonesia, Kantor Pos Besar Yogyakarta, Gedung Bank BNI, ditambah lagi dengan Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949. Hanya berjarak sekitar 400 meter ke arah selatan dari titik nol, terdapat bangunan Keraton Kesultanan Mataram, Ngayogyakarta Hadiningrat yang megah dan telah berusia sekitar 260 tahun. Dan seterusnya sedikit ke selatan terdapat sentra kerajinan batik dan objek wisata Taman Sari.

Pada sekitar akhir tahun tujuh puluhan atau hingga awal 80-an di lokasi titik nol kilometer, di situ masih terdapat bangunan bunderan yang dilengkapi air mancur yang terletak persis dipersimpangan pertemuan Jalan Panembahan Senopati – K. H. Ahmad Dahlan dan Jalan Margo Mulyo – Jalan Pangurakan. Dulunya masyarakat sering menyebutnya sebagai “perapatan air mancur”. Akan tetapi karena tuntutan pelebaran ruas jalan, bunderan air mancur tersebut dibongkar untuk dihilangkan sama sekali. Titik Nol kilometer sendiri baru dipopulerkan kemudian.

Saat ini di lokasi tersebut sudah tidak ada bundaran ataupun air mancur yang terlihat di persimpanga jalan. Pertemuan jalan tersebut sudah terasa lebar dan bisa terbagi dalam jalur-jalur lebhi leluasa untuk kendaraan, yang dipisahkan oleh garis pembatas lajur. Pemandangan ke arah keraton atau sebaliknya ke arah Malioboro juga sudah begitu jelas, ketika kita menatapnya. Begitu pula sebaliknya. Masyarakat ataupun para pelancong juga bisa melepaskan pandangan untuk menatap gedung-gedung indah yang telah berusia ratusan tahun yang tumbuh megah di segala penjuru mata angin persimpangan titik nol, dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Bangunan bersejarah yang terdapat di radius titik nol Yogyakarta menjadi saksi bisu sejarah dari berbagai pergulatan dan perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia, hingga Republik Indonesia terlepas dari belenggu penjajahan.

Titik nol selalu menjadi tempat titik kumpul bagi para pelancong, baik domestik ataupun mancanegara. Di sini selalu saja siap diadakan beberbagai atraksi menarik yang berlandaskan seni, eskposisi ataupun pertunjukan yang menyemarakan suasana malam bagi pengunjung yang kebanyakan adalah pelancong dar luar kota. Sangat mudah bagi Pemko Yogyakarta untuk mengadakan berbagai pertunjukan di titik nol ini, karena mengingat Yogyakarta sendiri dipenuhi oleh seniman-seniman berbakat dari berbagai latar belakang seni yang terus berkreasi. Di samping itu juga seniman Yogyakarta memiliki rasa aktualisasi diri yang sangat tinggi, sehingga pada umumnya mereka tidak melulu berorientasi kepada nilai yang diterima, melainkan pada nilai yang akan akan dipersembahkan. Memberi dengan apresiasi, akan membawa pada tingkat kepuasan tersendri bagi para seniman Yogyakarta.

Menariknya lagi seniman Yogyakarta tidak memiliki persaingan antarsesama seniman, akan tetapi saling menghargai hasil karya seni dari seniman lainnya dan memiliki sikap yang terbuka untuk ikut saling membantu. Jadi pertunjukan apa pun menjadi mudah dan itu pada akhirnya akan bermuara pada kultur Yogyakarta yang tepa selira dan meninggalkan kesan yang baik bagi para pelancong yang menikmati liburan di kota Yogyakarta. Demikian juga berbagai hasil kreasi seniman Yogyakarta akan memberikan kesan yang tersendiri pula bagai para pelancong yang datang dari berbagai kota di Indonesia.

Apabila pada siang harinya para pelancong disibukkan dengan mengunjungi objek wisata yang ada di sekeliling Yogyakarta, hingga sampai ke Candi Mendut dan Borobudur di Kabupaten Magelang ataupun mengunjungi Candi Ratu Boko, Candi Kalasan dan Candi Prambanan sebelah timur Yogyakarta. Atau hanya sekadar mengunjungi sentra kerajianan yang ada di seputar Kota Yogyakarta, bahkan hingga mengunjungi Pantai Selatan Yogyakarta yang indah, maka pada malam harinya mereka bisa menikmati keunikan titik nol Yogyakarta, bahkan ada yang betah hingga dini hari menjelang pagi. Di sebelah selatan pagar Benteng Vredeburg, ketika siang hari juga banyak terdapat para penjual batu cincin yang memiliki koleksi batu-batu permata dari berbagai daerah di Indonesia. Bagi pecandu batu cincin, tidak terlalu sulit untuk mendapatkan berbagai jenis batu yang dijual di sini.

Meskipun pada umumnya batu yang dijual adalah, batu asli, akan tetapi juga terdapat batu buatan yang tidak kalah menarik. Baik dari segi harga, mengkilap ataupun warnanya. Nah, di sini para pembeli harus bertanya terlebih dahulu kepada penjualnya agar tidak terjadi kekeliruan dalam memilih batu. Para penjual dengan senang hati akan menjelaskan secara detail apa yang ditanyakan calon pembeli. Upaya ini agar jangan sampai pembeli menyesal ketika setelah membeli batu, ternyata, batu tersebut adalah buatan pabrik.

Di area ini juga terdapat Taman Budaya Yogyakarta dan Taman Pintar, yang juga banyak dikunjungi oleh anak-anak sekolah yang datang dari berbagai daerah ataupun dari berbagai kabupaten yang ada di wilayah Yogyakarta. Hampir setiap hari ada jadual pertunjukan yang digelar di Taman Budaya. Demikian juga akan halnya Taman Pintar yang banyak diminati oleh para pelajar dari berbagai tingkatan. Kedua kawasan ini menjadi integrasi dengan kawasan Benteng Vredeburg yang berada di sebelah utaranya menghadap Gedung Agung yang berdiri diseberangnya, menghadap ke timur.

Saat ini titik nol Yogyakarta sedang mengalami renovasi pada tatanan landscap-nya dengan dengan tujuan untuk lebih memperindah dan akan membuatnya tampak lebih klasik. Sehingga nantinya bukan hanya akan memanjakan mata setiap orang yang melintasi perapatan kawasan tersebut, melainkan juga akan lebih mengangkrabkan setiap orang yang melintas dengan suasana yang ada di sekitar titik nol tersebut. Lingkungannya pun nantinya akan menjadi matching terhadap segala penjuru tata ruang, serta akan menciptakan lingkungan yang lebih bersahabat dengan pelintas jalan yang berjalan kaki yang pada waktu-waktu tertentu melintasi titik nol dengan maksud menuju arah ke keraton maupun sebaliknya ingin menuju ke arah Molioboro, ataupun dari arah timur dan arah baratnya. Di harapkan nantinya hasil renovasi akan menampakkan wajah titik nol yang bertambah rancak karena boulevard-nya dihiasi dengan batu andesit yang menciptakan motif berbentuk lingkaran, masing-masing dengan radius empat setengah meter yang enak dipandang mata. Revitalisasi ini tentu saja dimaksudkan untuk menambah semarak kawasan titik nol di mata pengunjung dan pelancong serta sekaligus untuk membuat titik nol Yogyakarta akan menjadi salah satu landmark Kota Yogyakarta yang akan dikenang oleh setiap pengunjung luar kota yang pernah berkunjung ke sini.

Akar sejarah Kota Yogyakarta sangat berbeda dengan kota-kota ibukota provinsi lainnya yang ada di Indonesia. Ada poros imajiner yang menghubungkan antara Gunung Merapi, Tugu Pal Putih dan Keraton Yogyakarta yang dihubungkan oleh sumbu filosofis melintasi Jalah Margo Utomo – Malioboro – Margo Joyo – Pangurakan, sambil melintasi Alun-alun Utara, hingga bertemu Keraton Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Bahkan poros ini kemudian akan terhubungkan hingga ke Pantai Selatan, Daerah Istimewa Yogyakarta,  sekaligus menyentuh pada titik Panggung Krapyak. Maka ketika itu, yang menjadi titik sentral yang sesungguhnya adalah Keraton Yogyakarta yang membentang, menghubungkan Gunung Merapi, Kompleks Keraton dan Pantai Selatan Yogyakarta….**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *