Fenomena Ijazah Palsu

Gambar ilustrasi ijazah palsu
Gambar ilustrasi ijazah palsu, monyet pakai toga

Femomena ijazah palsu bukanlah sesuatu yang asing bagi Indonesia hingga sampai waktu belakangan ini. Kondisinya ibarat gunung es, yang kelihatan baru bagian di atas airnya, sementara yang di bawah permukaan air, jauh lebh banyak dari pada yang diperkirakan. Hampir di segenap sektor sering ditemukan pengguna ijazah bodong yang disebut ijazah aspal: asli tapi palsu. Latar belakang yang dimiliki oleh pemilik ijazah palsu juga bermacam-macam. Mulai dari alasan gengsi gelar, agar tidak minder, atau sebaliknya supaya lebih “didengar” di tengah pergaulan. Ada juga dengan tujuan untuk menaikkan kredibilitas diri. Misalkan, meskipun tidak sekolah, tapi sukses menjadi pengusaha, anggota DPR, DPRD dan DPD, dijadikan tokoh masyarakat, maka dirasakan perlu ada embel-embel titel sarjana di depan atau di belakang namanya. Agar lebih mantap.

Ada juga yang memang sengaja untuk digunakan sebagai syarat melamar pekerjaan, karena dibutuhkan kualifikasi ijazah untuk bisa mendaftar sebagai calon pegawai atau pekerja. Atau sekadar untuk mendukung jabatan publik yang diembannya. Tanpa memiliki pendidikan yang memadai, tiba-tiba menjadi pejabat publik. Maka dirasakan perlu embel-embel sarjana. Yang lebih unik lagi, maksud hati merantau ke luar daerah dalam rangka kuliah, hingga bertahun-tahun tidak lulus menjadi sarjana asli, sampai akhirnya drop-out. Sehingga akhirnya terpaksa pulang dengan tangan hampa tanpa membawa gelar apapun. Kemudian untuk menutupi kekecewaan –lebih tepatnya malu–, “terpaksa” beli ijazah aspal. Bertahun-tahun kuliah di jurusan teknik, ketika sampai di kampung halaman, di belakang namanya muncul gelar “S.E.” (Sarjana Ekonomi). Pendeknya apa yang mudah dibeli dan ada diperjualbelikan, itulah yang dibawa pulang.

Banyak sekali alasan yang mendorong seseorang cenderung untuk memiliki ijazah palsu. dan cukup menarik untuk disimak. Menariknya karena memang sangat banyak manusia Indonesia yang suka mendapat ijazah tanpa harus sekolah atau kuliah. Ketika masih bekerja di Aceh saya jadi teringat cerita serorang teman yang bekerja di Mobil Oil (skrg ExxonMobil) tentang komentar seorang manajer mereka, Dharamdas, yang menyebut pemilik ijazah sarjana teknik palsu sebagai “instant engineer“. Kapan kuliahnya tiba-tiba sudah dapat gelar insinyur. Langsung siap saji. Sehingga oleh karena salah satunya alasan tersebut, pihak manajemen Mobil Oil Indonesia (ExxonMobil), mendukung upaya untuk melanjutkan kuliah di perguruan tinggi bagi karyawannya yang belum sarjana, secara resmi, sepanjang tidak mengganggu jadual pekerjaan yang wajib dilaksanakan oleh karyawannya. Dukungan ini juga diberikan dalam bentuk fasilitas-fasilitas berupa dukungan transportasi dan uang untuk pembeliaan buku, masing-masing dalam jumlah tertentu.

Beberapa lembaga dulunya pernah mengirimkan brosur untuk penawaran gelar seperti: BBA, MBA, atau M.Sc., melalui sistem belajar jarak jauh distance learning. Harganya pun menggiurkan, untuk BBA sekian jutaan, MBA/ M.Sc., sekian jutaan, dan Ph.D. agak lebih mahal beberapa jutaan. Ijazah aspalnya diteken seorang bernama layaknya bulé yang bergelar Profesor, doktor di atas lembaran kertas yang bedesain mewah. Wisuda dilaksanakan di gedung atau hotel mewah di kota yang bergengsi Jakarta, Surabaya, Medan, Batam, atau bahkan di Singapura segala. Biasanya pesertanya pengusaha, kontraktor ataupun anggota legislatif dari berbagai tingkatan. Atau tidak jarang juga pegawai pemerintah. Sedangkan ijazah aspal lainnya adalah melalui kampus-kampus yang memang sengaja mencari calon mahasiswa (tepatnya calon sarjana aspal) yang berminat cari jalan pintas. Kampus model begini layaknya sebuah toko yang menjual aneka ijazah dari berbagai disiplin ilmu. Tinggal pilih, pesan, daftar, bayar dalam waktu relatif singkat sekitar 3-6 bulan keluar ijazah yang diinginkan; atau bisa juga lebih cepat dari waktu tersebut. Terkadang kita dibuat terkaget-kaget, ketika mengetahui seeorang yang bukan tipikal orang gemar belajar tiba-tiba sudah muncul gelar di belakang namanya atau ada juga yang ujug-ujug sudah ada gelar DR (HC); honoris causa di depan namanya. Padahal tanpa ada preseden berupa sebuah karya ataupun jasanya yang pernah diketahui oleh masyarakat.

Mungkin cuma gelar sarjana kedokteran saja yang belum berani dipalsukan. Karena prosedur untuk sarjana aspalnya juga berbelit-belit dan sangat ketat bila hendak membuka praktek. Tapi untuk sarjana ilmu sosial, politik, hukum, ekonomi, teknik bukan lah perkara sulit. Meskipun secara kasat mata sulit menilai seseorang yang bergelar palsu tapi bila berbincang jauh dan lebih dalam akan tersibak sedikit demi sedikit kapasitas intelektualitasnya. Beda antara yang pernah duduk di bangku kuliah dengan pengalaman berproses selama bebarapa tahun kemudian meraih sarjana dengan sarjana dadakan yang membeli selembar ijazah.

Orang sudah berpindah dari sekadar menilai kapasitas dan kompetensi, kepada fenomena kepemilikan gelar, sekalipun bukan dari hasil proses kuliah, melainkan dari membeli secara ilegal. Lebih merasa malu tidak bergelar daripada malu “ketahuan” umum, bahwa pemiliknya membeli gelar palsu secara tidak sah. Padahal jika mau jujur, lebih hebat seorang yang pintar tapi tidak membeli ijazah daripada punya ijazah tapi aspal. Paparan audio visual untuk iklan antiijazah aspal yang menggambarkan seorang yang dapat ijazah dari membeli, ibarat seekor monyet yang memakai toga, rasa-rasanya cukup tepat. Iklan tersebut yang dulunya pernah disosialilsasikan oleh Departemen Pendidikan Nasional pada era menteri Prof. DR. Bambang Soedibyo tersebut, terkait dengan maraknya jual beli ijazah sarjana di Indonesia dalam dekade sebelumnya. Bahkan jauh sebelumnya, jual beli ijazah SMA atau STM serta Madrasah Aliyah, hingga ijazah sarjana, juga sudah kerap terjadi.

Dulu orang terus belajar, membaca dan menggali ilmu secara otodidak, tanpa menghiraukan akan mendapatkan selembar ijazah. Tapi sebaliknya ijazah mengejar mereka. Sekarang sarjana asli saja masih banyak yang malas membaca apalagi seorang sarjana palsu. Ada keterkaitan antara sistem, watak, iklim, kultur dan kebiasaan yang berlaku dengan kecenderungan orang untuk menginginkan gelar sarjana. Dalam postur masyarakat yang formalis ada gejala yang menghambakan diri terhadap formalitas tertentu seumpama titel atau gelar, jabatan dan juga kedudukan. Sebagai gejala kredensialisme, yaitu suatu penyakit sosial yang lebih menekankan aspek legalitas dan fomalitas belaka. (Lihat Rendal Collin, 1979). Pascareformasi, ijazal aspal banyak diminati oleh para caleg yang maju sebagai anggota legislatif atau bahkan kandidat calon kepala daerah. Gejala ini merebak di seluruh Indonesia. Karena di sini terdapat nilai gengsi dan martabat. Gelar seakan-akan, dapat menunjukkan kelas dan kompetensi kandidat tersebut di mata konstituen, meskipun isi kepalanya, sebetulnya, tetap saja pantengong; melompong, tidak ada apa-apanya, karena penuh kepalsuan.

Seorang bergelar sarjana aspal, ketika di tengah masyarakat, terkadang lebih “sok pinter” daripada seseorang yang dapat ijazah dari sebuah proses belajar yang panjang dan sah. Lagak dan lagunya lebih banyak ketimbang sarjana yang asli. Belum lagi gayanya yang sok menguasai bidang ilmu tertentu atau bahkan multidisiplin ilmu. Padahal itu “tong kosong yang nyaring bunyinya”. Mengerti sampul tapi tak ngerti isinya; mengerti judul, tapi tak tau kandungan lengkapnya; kabur kontennya. Menghentak-hentak menjelaskan sesuatu, tapi tak menguasai dasar teoretis; berpikir analitis, tapi tak memiliki tool untuk bernalar ilmiah; “talo keu-ieng ngom, haba luwa nanggro” (ikat pinggang dari daun pandan, kalau bicara tentang luar negeri). Itu fenomena yang berlaku.

Sarjana asli saja tak boleh sombong dan “sok tau”, apalagi sarjana aspal. Sarjana itu, apalagi cuma S1 harkatnya hampir sama dengan lulusan sekolah menengah 20 tahun yang lalu. Jaman sekarang, yang kita kira baru anak kemarin sore, sudah lulus jadi sarjana (asli). Belum genap usia 21 tahun sudah meraih gelar sarjana dengan predikat cumlaude. Usia 25 atau 26 tahun sudah mendapat gelar Ph.D. (Philosophy of Doctor). Semuanya dicapai dengan nilai IPK (indeks prestasi kumulatif) yang sempurna; cumlaude, summa cumlaude atau magna cumlaude

Begitulah perkembangan pendidikan saat ini. Kemudahan demi kemudahan telah membuat anak-anak masa kini dengan gampang mengakses setiap sumber ilmu pengetahuan. Sistem pembelajaran yang tidak kaku dan jauh dari kesan paternalistis, telah membuat lompatan besar yang sangat signifikan. Dosen bukan lagi momok dan menjadi sosok yang tak pernah salah. Peran dosen lebih banyak sebagai motivator, penghantar, pembimbing, pendamping, pemberi stimulus daripada pengajar. Dosen menjadi pemberi contoh, pengampu dan penganjur, bukan lagi untuk menggurui. Dosen layaknya teman berdiskusi dan pemberi pencerahan, bukan untuk menilai salah benar semata. Dosen sebagai sosok yang hadir untuk memberikan jalan bagi membuka wawasan mahasiswanya.

Pola pendidikan yang semakin luas, lugas, luwes dan berkembang pesat, seharusnya tidak membuat seseorang suka pada yang aspal. Tidak ada batasan umur untuk meraih pendidikan. Dengan sedikit berkorban waktu, seharusnya gelar sarjana dengan mudah bisa digapai secara legal, bukan dengan jalan membeli seperti membeli es cendol di pinggir jalan, atau mendapatkannya dari jemuran. Mekanisme perkuliahan juga tidak rumit-rumit amat. Pengisian SKS atau RKS atau KHS dapat dengan mudah diakses melalui internet. Kontrol parameter juga bisa dilakukan oleh peserta didik sendiri dari mana saja dan kapan saja. Kita dengan sendirinya dapat mengintrospeksi diri dari hasil yang kita dapatkan setiap akhir semester. Di samping itu juga pemerintah telah menghadirkan Universitas Terbuka, bagi siapa saja yang ingin meraih sarjana, tanpa harus selalu mengikuti kuliah secara tatap muka.

Selama ini ada beberapa modus untuk mendapat jazah palsu. Ada yang dilakukan dengan sistem mendaftar, dapat nomor induk mahasiswa, mungkin terdaftar di Kotpertis, tapi mungkin juga tidak; bayar kewajiban uang kuliah per semester, tapi sekalipun tidak pernah mengikuti proses perkuliahan. Bahkan di institusi tersebut memang tidak ada proses belajar mengajar sama sekali. Institusi pendidikan hanya menginginkan uang kuliah yang dibayarkan oleh mahasiswa aspal model ini. Kemudian pada tahap berikutnya yang namanya mahasiswa tadi tinggal ambil ijazah. Tetapi tidak sedikit yang langsung transaksi beli; langsung mendapat selembar ijazah yang diinginkan setelah membayar sesuai ketentuan. Sangat simpel.

Gong pemberantasan ijazah palsu yang ditabuh menteri Ristek dan Dikti, Muhammad Nasir, beberapa waktu yang lalu, menjadi momentum terbaik untuk menertibkan praktek nakal untuk jual beli ijazah. Apalagi gagasan mulia ini mendapat dukungan penuh dari Kapolri dan rekan-rekan jajaran menteri terkait yang lain. Payung hukum sudah ada, yaitu, UU nomor 20, tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 21 ayat (2): perseorangan, organisasi, atau penyelenggra pendidikan yang bukan perguruan tinggi dilarang memberikan gelar akademik, profesi, atau vokasi; PP nomor 19, tahun 2005, tentang Standar Pendidikan Nasional; dan PP nomor 17, tahun 2010, tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan.

Seyogyanya lebih bijak mempersiapkan generasi berikutnya untuk meraih tingkat sarjana setinggi-tingginya daripada sibuk melengkapi diri sendiri dengan ijazah palsu. Upaya pemerintah untuk mewacanakan akan memberikan hologram pada lembaran ijazah asli adalah sebuah tindakan antisipasi yang secara preventif bisa mencegah terjadinya pemalsuan ijazah di masa mendatang. Mudah-mudahan langkah ini dapat menghindarkan terjadinya pemalsuan ijazah yang kian marak di negeri ini. Akan tetapi tindakan represif tentu juga dibutuhkan. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk registrasi dan Pendataan Ulang Pegawai Negeri Sipil (PUPNS) melalui pupns.bkn.go.id‎, portal resmi milik Badan Kepegawaian Negara, merupakan sebuah langkah untuk pemutakhiran data dan sekaligus dapat dijadikan momentum untuk mencegah penggunaan ijazah palsu di kalangan pegawai negeri sipil di seluruh Indonesia….**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *