Istri Tak Berharga

Istri bekerja di ramah

Ilustrasi berbagai macam pekerjaan rumah yang ditekuni istri

Bagi suami, kiranya perlu sekali-sekali, bila datang waktu cuti, untuk berdiam di rumah selama 1 minggu saja, tanpa harus menghabisknan semua waktu cuti untu jalan-jalan ke luar kota. Ambillah waktu tersebut untuk menyimak dan mencermati bagaimana suasana sesungguhnya mekanisme rumah tangga bergulir dari jam ke jam dari pagi hingga sampai malam hari; begitu seterusnya. Setiap hari akan terlihat aktivitas seorang perempuan yang sering dianggap oleh sebagian suami sebagai istri yang “tidak punya kerjaan”. Mereka menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai nachoda di rumah, tanpa mengenal jadual yang tertulis.

Seorang yang sering kita anggap lemah, tapi mampu bekerja “siang malam“, nyaris tanpa istirahat. Mulai dari memasak, menyiapkan sarapan, mengurus anak, mengurus suami, mencuci piring, mencuci pakaian, membersihkan dapur, menyetrika, menyapu, mengepel, membenahi ruangan dan kamar tidur. Entah berapa item pekerjaan yang harus diselesaikan seorang istri di rumah, dalam satu hari. Sesuatu yang mustahil mampu dikerjakan oleh seorang suami. Bobot kerja istri pun sangat sulit diukur, tapi yang jelas memang sangat berat, bila dinamikanya dibandingkan dengan bobot kerja seorang suami di kantoran atau di perusahaan yang cenderung monoton.

Istri tak berguna kerap sekali menjadi fenomena yang menyelinap di balik rasa “anggap” seorang suami. Apalagi bila dia adalah seorang yang sukses dalam karier dan pekerjaannya. Timbul perasaan superior dalam dirinya yang akhrnya untuk mempertahankan superioritasnya tersebut, dia mencari pembanding terbalik terhadap orang yang paling dekat dengannya. Siapa lagi kalau bukan istri sahnya sendiri yang setia bekerja di rumah, yang menjadi objeknya. Dia sukses tapi istrinya cuma begitu-begitu saja, dia capek bekerja, tapi istrinya cuma seorang ibu rumah tangga yang “hanya” sibuk dengan pekerjaan rumah tangga. Selalu merasa bahwa istri tidak pernah ikut membantu meringankan pekerjaannya. Semakin hari sosok istri menjadi semakin “kurang” di matanya. Kurang cantik, kurang anggun, kurang pintar, dan segala macam kekurangan lainnya yang bisa menimbulkan kebosanan dirinya dan mengikis rasa cinta.

Laki-laki yang hanya mematut diri sebagai orang sukses, dan meremehkan peran istri dalam melaksanakan tanggung jawab di rumah, bukan lah seorang laki-laki yang mulia. Laki-laki yang mulia selalu memuliakan wanita yang menjadi istrinya; laki-laki yang hina cenderung selalu menghina kepada istrinya. Itu padanan yang tepat bagi seorang laki-laki pecundang, yang sesungguhnya dia adalah seorang inferior.

Laki-laki semacam model begini akan melambung bila mendapat pujian dari lingkungan di luar rumahnya, juga termasuk di lingkungan tempat dia bekerja. Apalagi jika yang memberikan pujian itu adalah wanita. Sementara istri di rumah kerap menjadi tempat untuk menumpahkan rasa kesal yang dibawanya dari luar rumah. Sampai-sampai dia tidak mampu melihat karya dan sisi baik istrinya terhadap dirinya selama ini. Dia menjadi lupa siapa yang mengurus anak-anaknya selama ini; siapa yang menyiapkan sarapan dan makan dia selama ini; siapa yang menata dan membersihkan rumah selama ini; siapa yang mencuci dan menyetrika pakaian dia dan anak-anaknya. Apa yang dilakukan istri semua dianggap salah, dianggap tindakan bodoh dan tidak berguna. Tak pernah terbayang kembali bagaimana proses perkenalan hingga memutuskan untuk menuju ke jenjang pernikahan untuk hidup bersama membentuk keluarga.

Tip bagi perempuan, bila hendak berdoa kepada Tuhan, jangan pernah meminta Tuhan untuk mengabulkan agar laki-laki yang “aku cintai” menjadi suamiku, akan tetapi bijaklah meminta agar Tuhan memberikan “laki-laki yang mencintaiku”, untuk menjadi suamiku. Karena ketika Tuhan mengabulkan seseorang yang “aku cintai” hadir sebagai suami maka konsekswensinya ketika dia ternyata tidak “mencintaimu”, diri kitalah yang harus menanggung kesedihannya. Bukan urusan Tuhan lagi jika kita harus kecewa karena ternyata setelah berumah tangga beberapa tahun, ekspektasi terhadap orang yang dicintainya jungkir balik 180 derajat. Cuma istri saja yang mencintai suaminya, sebaliknya cinta suami terhadap istrinya hanya bertahan untuk sementara dan terkikis seiring berjalannya waktu. Kemudian suami muncul bak sosok monster yang selalu menakutkan dan menciptakan kegaduhan di dalam rumah tangga. Kerjanya protes terhadap hasil kerja istri, mulai dari masakan yang asin, yang hambar, hidangan yang telat, kopi yang tidak panas dan hal-hal sepele yang tak perlu dipertentangkan. Suasana rumah tangga yang sakinah, mawaddah wa rahmah pun sirna ditelan rasa “sang marah”.

Kadang ada suami yang ogah-ogaan kasih uang belanja, tapi begitu istri terlambat masak atau makanan kurang garam lagsung saja tersulut emosi dan membuat statemen yang merendahkan istri. Tidak jarang ditemukan, seorang suami tega mengasari istrinya, baik dengan kata-kata, maupun akhirnya dengan tindakan memukul. Perlu dipertanyakan sikap “jantan” seorang laki-laki yang selalu berani melawan istri secara fisik. Karena perempuan sebetulnya bukan lawan yang sepadan untuk bentrok secara fisik dengan seorang laki-laki, apalagi bila itu adalah suaminya. Pastilah, perempuan yang akan kalah, tanpa perlawanan.

Namun tidak sedikit suami yang rela mengambil peran istri untuk mengepel, menyapu halaman, dan bahkan ada yang sudi mencuci pakaian anak-anaknya yang pesing bekas kencing. Ini suami yang bertanggung jawab dan rela berbagi beban dengan istrinya. Sikap ini tidak akan menurunkan kadar gentelmen seorang laki-laki yang disebut suami. Laki-laki yang menjadi suami, yang selalu mempertahankan superioritasnya di depan istri cenderung memiliki sifat maskulinitas yang sangat dominan sehingga rasa kelaki-lakiannya yang berlebihan mendorong sifatnya yang ingin “menguasai”. Sikapnya sewaktu-waktu bisa semena-mena terhadap istri, hanya lantaran alasan yang sepele sekali pun. Padahal seorang istri tidaklah melulu sebagai pribadi penuntut. Banyak istri yang bekerja di rumah dengan sepenuh hatinya untuk mengabdi kepada suami melalui manifestasi memegang tanggung jawab untuk menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga. Membereskan segala sesuatu keperluan seluruh anggota keluarga tanpa mengharapkan apresiasi dari siapa pun, agar suasana rumah nyaman dirasakan suami dan anak-anaknya.

Suami atau laki-laki yang bertanggung jawab cenderung menghargai setiap apa yang dilakukan istri untuk rumah tangga. Karena bukan perkara mudah membagi waktu dan tenaga untuk mengurusi seluruh aspek rumah tangga secara rutin setiap harinya, mulai dari berbelanja, memasak, menyajikan, sampai menyusui anaknya. Di mata suami yang baik, karya ini merupakan dedikasi yang tak ternilai harganya. Lain halnya di mata suami yang egois, semua yang dilakukan istri adalah hal yang biasa saja, malah cenderunga masih memojok-mojokkan istri dengan sudut pandang yang sinis. Di matanya istri mulai tampak tidak menarik lagi, lusuh, kumuh dan wajahnya tidak bersinar lagi. Padahal yang membuat istri begini adalah peran suami yang selalu memberikan tekanan demi tekanan sehingga suasana batin istri selalu dalam keadaan terhimpit yang akhirnya berdampak pada raut wajah yang tidak memiliki keceriaan; seakan-akan kecantikannya yang tampak sebelum menikah dulu, sekarang mulai sirna.

Sementara itu kerap juga ada suami yang submisif di rumah; kalah di hadapan istri; segalanya istri yang atur, setiap hari mendapat omelan yang kasar dari istri. Suami tidak bisa berbuat apa-apa ketika mendapatkan tindakan kasar secara verbal dari istrinya. Sebagai kompensasinya suami selalu akan merayakan hari kemerdekannya di luar rumah, bersenang-senang dengan orang lalin atau bersama kawan-kawannya atau terkadang bentuk kompensatorisnya adalah bersikap galak terhadap bawahannya di kantor. Bila kondisi in terjadi maka yang salah bukanlah sang istri, melainkan suami sebagai laki-laki yang tidak boleh kalah dihadapan istri. Dalam agama pun sangat dilarang suami “kalah” terhadap istri; atau istri melawan kepada suami. Yang dibenarkan adalah, suami bersikap mengalah, membimbing, mengayomi dan memberikan pengertian. Tetapi yang jelas segala kendali rumah tangga selalu berada di tangan suami, bukan sebaliknya. Akan tetapi semuanya harus dilakukan secara bijak dan penuh kasih sayang, bukan dengan sikap otoriter di dalam memimpin sebuah rumah tangga….**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *