Descendants of The Sun

Descendants of The Sun

Empat pemain pilar Descendants of The Sun

Tidak ada komentar yang lebih pantas untuk sebuah drama Korea, Descendants of The Sun, yang telah selesai tayang di Korea dan mendapat sambutan sungguh di luar dugaan sama sekali. Ini merupakan karya yang luar biasa untuk ukuran sebuah serial drama televisi. Bagi yang tidak gemar menonton drama Korea pun akan terkesima dan ketagihan menikmati alur cerita, dialog dan kemasan yang secara keseluruhan begitu rapi disuguhkan dalam drama yang satu ini. Yang dulunya tidak suka menonton Korea akan berdecak kagum setelah menikmati permainan dua pasangan yang memiliki latar belakang yang berbeda.

Pemeran utama dalam sinetron ini adalah Song Hye Kyo (sebagai Dr. Kang Mo Yeon). Dokter cantik ini, menaruh hati dengan penuh kebimbangan terhadap seorang perwira muda berpangkat Kapten lagi tampan, dari pasukan khusus Korea –Tim Alpha- yang diperankan oleh Song Jong Ki (sebagai Kapten Yoo Si Jin). Ditambah lagi ketakutannya yang merasakan bahwa, seorang tentara dapat saja gugur sewaktu-waktu ketika sedang bertugas membela negara.

Sutradara juga menghadirkan pasangan kedua, di mana keduanya bertugas sebagai tentara, namun berbeda “kasta” dalam hal kepangkatan dan latar belakang keluarga. Adalah Seo Dae Young (Jin Goo), seorang Sersan Kepala, yang tampan, ditaksir berat oleh seorang Letnan Yoon Myeong Joo (Kim Ji Won) nan cantik jelita, yang merupakan putri seorang jenderal berbintang tiga, yang juga menjadi komandan tertinggi dari pasukan khusus Korea tersebut.

Dae Young yang harus melepaskan kekasih pertamanya karena akan menikah dengan pria lain, mendapat tempat “penampungan” cinta yang baru di dalam hati seorang letnan imut yang sedikit agresif. Cinta yang sebelumnya nyaris berbentuk segitiga antara, Jin-Joo-Young, lantaran sang jenderal menginginkan putrinya bisa “mendapatkan” Si Jin, cair menjadi utuh ketika sang letnan tidak begitu tertarik dengan kegantengan Si Jin yang dinilainya kurang macho dan terkesan dandy, —meskipun ada letupan-letupan kecil yang dilakukan Letnan Myeong Joo untuk memancing kecemburuan Sersan Dae Young. Sang Letnan justru jatuh hati pada Dae Young, karena prajurit ini di dalam pandangannya sangat “jantan” dan yang terpenting tidak kalah genteng dibandingkan Shi Jin, meskipun dalam hal kepangkatan mereka berbeda jauh.

Kisah cinta kedua pasangan ini berbalut masalah yang tampak rumit untuk ukuran kelangsungan hubungan. Si Jin yang tentara berhadapan dengan seorang dokter idealis serta sangat kuat memegang prinsip keilmuan dan profesinya, namun sedikit tendensius untuk ingin cepat-cepat kaya. Si Jin hidup dengan keterbatasan waktu untuk berkencan dan memiliki prinsip tersendiri yang bertolak belakang dengan pendirian yang dipegang seorang dokter. Si Jin lebih memilih berbakti penuh kepada negaranya dengan selalu taat kepada perintah atasan, demi menunaikan tugas negara, daripada hanyut dalam arus percintaan. Padahal di antara hati keduanya telah terbersit benih-benih cinta.

Dokter Kang yang digambarkan pernah beberapa kali kehilangan pasien yang sedang dirawatnya, karena melarikan diri, dengan segala resikonya selalu berusaha untuk menyelamatkan jiwa manusia, betapapun probabilitasnya sangat kecil. Sementara tentara, dalam menjalankan tugas-tugasnya, setidak-tidaknya menurut pendapat sang dokter, tugasnya menyelamatkan nyawa manusia, tapi dengan membunuh manusia yang lain.

Masing-masing persoalan yang melilit kisah asmara kedua pasangan yang menjadi latar depan drama ini membuat cinta mereka menjadi berlarut-larut ibarat tak akan berujung. Penonton dibuat penasaran dan sedikit merasa “jengkel” terhadap pembuat cerita dan sutradaranya karena sedemikian “tega”nya mengombang-ambing jalinan hasrat cinta empat anak manusia yang begitu menawan ini. Akan tetapi dengan hanya 16 episode kiranya kesabaran penonton pun dapat sedikit terobati, sehingga tidak perlu menunggu lama untuk mendapatkan sebuah akhir cerita yang mengesankan.

Serial drama ini secara spektakuler sukses menembus pasar Negara Asia yang dengan sengaja membeli hak siar dengan nilai yang tidak murah. Korea telah sangat berhasil memikat seluruh masyarakat pengemar, khususnya yang ada di Indonesia, untuk berpaling dari kebiasaan menonton sinetron kacangan demi memperoleh tontonan yang menarik dan berkelas. Industri perfilman —dan tentu saja industri musik— negeri ini, dikemas secara idealis, modern dan professional. Mereka tetap memegang teguh budaya timur yang sangat luhur.

Dalam kehidupan keseharian para bintang pun selalu tampak bersahaja dan tetap rendah hati. Apakah itu terhadap sesama profesi ataupun ketika tampil di hadapan penggemar, baik langsung ataupun melalui media. Yang lebih muda akan selalu menghormati para seniornya; sebaliknya yang lebih tua menyayangi para juniornya. Tidak ada tanda-tanda persaingan yang tidak sehat muncul di antara mereka, meskipun terhadap rekan sebayanya.

Di antara sesama bintang Korea, adalah merupakan hal yang lazim untuk saling memberikan pujian dan memberi dukungan bagi rekannya yang sedang syuting, live show, ataupun bagi yang sedang “wajib militer, misalnya”. Meskipun sedang berada di puncak popularitas, sikap sederhana dan rendah hati tetap ditunjukkan sebagai wujud dari rasa syukur atas dukungan penggemar dan dukungan rekan seprofesi. Jauh dari kesan sombong dan bertingkah berlebihan, baik ketika bertutur maupun dalam bersikap. Hal in pula yang menjadi kunci sukses para bintang Korea dalam menjalankan perannya sebagai public figure.

Di Indonesia sendiri, serial drama ini telah dapat diunduh untuk dinikmati di rumah sambil santai. Menariknya lagi para penggemar yang ada di Indonesia, pada umumnya merupakan kaum terpelajar. Sehingga tidak heran, perbincangan tentang “korea” bisa menghiasi percakapan para mahasiswa dan pelajar, di sela-sela waktu luang mereka. Demikian pula halnya dengan penggemar yang ada di negara lainnya, seumpama, Malaysia, Singapura, Vietnam dan Thailand hingga sampai Jepang dan Tiongkok yang menganderungi industri hiburan Korea. Mereka seperti terhipnotis dengan segala yang berbau Korea, yang memang digarap secara apik dan berkualitas. Butuh waktu yang panjang, kerja yang lebih keras dan keinginan yang kuat untuk bisa menyamai kemampuan Korea dalam menghasilkan sebuah karya yang dapat diterima oleh masyarakat di sebagian belahan dunia.

Ke depan Indonesia tentu berharap akan hadir, para “orang kaya” yang sudi berinvestasi di dunia industri perfilman. Karena bagaimana pun juga bangsa ini membutuhkan orang-orang idealis, menjunjung tinggi nilai luhur budaya serta berorientasi kepada nilai-nilai edukatif yang mampu membuat karya yang bagus, fenomenal, mendidik, membanggakan dan diterima oleh masyarakat lokal bahkan bisa menembus kancah dunia. Untuk bisa bersaing dengan film-film produksi luar, perlu upaya beberapa kali lebih keras dari apa yang telah dilakukan Korea tatkala melakukan sesuatu dalam membangun industri perfilman agar produknya dapat diterima di dalam pasar yang lebih luas.

Korea yang pada tahun tujuh puluhan hingga delapan puluhan masih berada di bawah bayang-bayang kemajuan industri hiburan Hongkong, Jepang, dan Taiwan, kini mampu melepaskan diri dan menjelma sebagai kampiun yang mampu menghasilkan devisa bagi negaranya melalui film-film dan musik yang laris di luar negaranya.

Ini merupakan buah hasil dari ketekunan dan keseriusan di dalam membangun sebuah industri hiburan. Semuanya dapat berhasil dengan baik lantaran didukung oleh penulis naskah yang cerdas, bintang yang berbakat, dan sutradara yang piawai serta produser yang mumpuni, yang kesemuanya menyatu dalam sebuah komitmen yang kuat untuk membuat hasil karya yang berkualitas. Sehingga hasilnya, bukan hanya diterima pasar domestik, akan tetapi juga bisa menembus pasar internasional.

Dengan didukung oleh bintang-bintang papan atas Korea, sosok film yang diselingi momen-momen lucu dan konyol ini, menjadi sangat kuat dan sangat menarik untuk dinikmati. Apalagi, tanpa “Descandents of The Sun” pun, masyarakat penggemar di Indonesia telah lebih dulu kesengsem dengan berbagai drama Korea beserta idol-idol mereka, yang di antaranya ada yang pernah tampil di Indonesia. Bahkan bagi mereka yang sebelumnya tidak tertarik dengan film Korea pun, tiba-tiba berubah memuji drama yang penuh bertabur bintang ini secara gentlement.

Dan tidak berlebihan, bila semua stakeholder yang ada di lingkungan industri hiburan Indonesia perlu belajar banyak dari apa yang telah dilakukan oleh produser Korea. Tidak dengan cara mengejar keuntungan yang besar, tapi mengorbankan harga diri dan anak bangsa ini dengan sinetron-sinetron yang tidak mendidik, seperti berlaku selama ini. Melainkan bersedia merogoh saku yang lebih dalam lagi demi untuk dapat menghasilkan sebuah karya cipta yang baik yang baik, yang pada gilirannya akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar juga.

Biasanya untuk menghasilkan sebuah serial drama televisi, menurut bebarapa sumber, dibutuhkan dana kurang lebih sebesar 350 juta won Korea. Akan tetapi dengan biaya yang fantastis, sebesar sekitar 13 miliar won atau kira-kira setara dengan nilai 147,5 miliar rupiah, —meski dengan minim sponsor—, ternyata Descendents of The Sun, telah mampu mengeduk keuntungan yang berlipat ganda. Sebagai imbalan atas kerja keras dalam menghasilkan sebuah karya besar yang dilakukan secara total dan professional…*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *