Yogya Ora Didol

Andong sedang menunggu penumpang di Malioboro
Suasana tradisional, tetap diperahankan

Yogya adalah sebuah kota budaya yang klasik, menarik dan selalu meninggalkan kesan mendalam bagi yang pernah tinggal atau berkunjung ke kota ini. Banyak bangunan tua dan bahkan cagar budaya yang masih dipelihara dengan baik. Yogya yang saat ini dipimpin oleh seorang gubernur yang juga adalah seorang raja, sepertinya selalu menawarkan berbagai kemudahan bagi pengunjung dari luar daerah. Masyarakat Yogya sendiri dikenal sebagai masyarakat yang ramah dan sangat santun dalam bersikap.

Akhir-akhir ini dirasakan telah terjadi pergeseran nilai di tengah masyarakat Yogyakarta. Terdapat perubahan dalam pola sikap dan tindak tanduk sebagai akibat dari pengikisan budaya secara perlahan-lahan, sehingga kesan ramah dan santun seakan-akan sedang mulai sirna. Paling tidak hal ini mulai terasa pascareformasi yang dimulai pada tahun 1998. Demikian juga kecepatan pembangunan yang terjadi di daerah ini telah mengusik kenyamanan masyarakat pada umumnya. Kesan Yogyakarta sebagai kota yang murah meriah pun tidak sepenuhnya dapat dirasakan oleh masyarakat; apalagi para pelancong yang hanya memanfatkan masa liburan untuk berkunjung ke kota ini.

Kaki lima Malioboro yang dulunya masih merupakan tempat belanja yang murah, tiba-tiba secara mencolok melonjak harganya pada saat musim liburan tiba. Pengendalian harga di beberapa tempat pusat perbelanjaan masyarakat tidak berlaku dengan semestinya. Terdapat para pedagang yang dengan seenaknya memberikan harga kepada pengunjung, terutama kepada pelancong yang tidak bisa berkomunikasi dalam bahasa Jawa secara lancar. Mereka dengan mudah ditebak sebagai pelancong yang baru datang, sehingga para pedagang bisa memberikan harga dengan leluasa. Toh, kadung di Yogyakarta, mumpung sedang di Yogya, ya, para pelancong terpaksa membeli juga untuk oleh-oleh dan kenang-kenangan.

Yang saat ini masih sangat bisa diandalkan untuk memelihara Yogya adalah para seniman yang jumlahnya cukup memadai di seputar Yogyakarta. Mereka memiliki komitmen yang tinggi untuk tetap mempertahankan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai daerah yang berbudaya, tradisional, ramah dan memiliki sopan santun yang luhur. Kegusaran para seniman juga berkaitan dengan tata ruang dan tata wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, yang dianggapnya telah mencederai pola pembangunan dan pengembangan Yogyakarta ke depan. Semangat keyogyakartaan seniman sungguh tidak diragukan lagi. Para seniman memiliki satu suara yang kompak ingin tetap melestarikan identitas Yogyakarta sebagai kota yang memiliki sejarah panjang, jutaan kenangan dan bernilai nostaljik serta tetap mempertahankan autentisitasnya.

Hadirnya gedung-gedung yang bertingkat tinggi di beberapa sudut Daerah Istimewa Yogyakarta, telah mengusik keindahan Yogya yang penuh pesona. Para investor berlomba-lomba untuk menancapkan keangkuhannya melalui pembangunan apartemen dan hotel yang menjulang mencakar langit. Modernisasi sedang menelan Yogyakarta yang ingin tetap mempertahankan keunikannya secara mentah-mentah. Yogyakarta secara perlahan tapi pasti, mulai tak menampakkan dirinya sebagai kota yang unik dan klasik. Seakan semua ini mulai tergerus oleh gelombang parade pembangunan yang berlangsung begitu gencar.

Meskipun terjadi protes dan penolakan dari masyarakat pada umumnya, khususnya masyarakat di sekitar lokasi pembangunan, akan tetapi masyarakat tetap berada di pihak yang kalah. Keberpihakan kepada masyarakat sebagai salah satu stakeholder tak pernah kunjung datang, meski dari pemerintah setempat sekali pun. Masyarakat hanya mampu melakukan protes melalui media dan menulis pada lembar spanduk yang terpasang di dekat lokasi bangunan. Namun suara itu tidak berarti apa-apa bagi pihak-pihak yang bertanggung jawab.

Membangun bangunan bertingkat tinggi di daerah Yogyakarta yang sangat berdekatan dengan pantai selatan yang di dalamnya terdapat patahan dan pertumbukan lempeng, bukanlah keputusan bijak. Apalagi bangunannya berdempetan dengan rumah-rumah pemukiman penduduk. Ini menimbulkan kengerian yang luar biasa. Sulit bagi warga yang tinggal berdekatan di sekitar pembangunan untuk menghilangkan rasa takutnya. Padahal peraturan daerah tentang pembangangunan beserta persyaratannya telah diatur dalam Perda RTRWP Nomor 2, Tahun 2010, yang memberikan ruang yang cukup bagi masyarakat untuk menggunakan hak, kewajiban dan perannya di dalam memberikan masukan bagi arah pembangunan termasuk mengajukan keberatan atas bangunan yang tidak sesuai dengan ketentuan. Masyarakat per orang memiliki akses untuk mengetahui secara rinci spesifikasi bangunan, bahkan jauh sebelum pembangunan itu mendapatkan ijin dari pihak pemerintah.

Seniman dan masyarakat serta beberapa kaum cerdik pandai yang mencintai daerah ini, ikut menaruh keberatan atas perkembangan Yogyakarta yang mulai bergeser keluar dari identitas keistimewaannya. Banyak alasan-alasan yang melatarbelakangi keberatan unsur intelektual dan para seniman terhadap perkembangan yang tidak berpihak kepada lingkungan dan masyarakat. Salah satunya adalah kekhawatiran akan potensi yang menimbulkan kerusakan bagi lingkungan dan kenyamanan hidup masyarakat sebagaimana telah ditekankan di dalam perda tersebut sera memengaruhi sumber air tanah yang dibutuhkan masyarakat. Karena bagaimana pun juga kebutuhan air pada aparteman dan hotel-hotel dengan jumlah kamar yang banyak pada akhirnya akan mengganggu penyediaan air tanah bagi hajat hidup masyarakat. Meskipun ada ketentuan tentang kedalaman air tanah yang diharuskan hingga mencapai 60 meter atau lebih, akan tetapi dampak jangka panjangnya adalah berkurangnya air dangkal yang selama ini, sebagian, dimanfaatkan oleh masyarakat, sehingga lambat laun akan terjadi pengeringan pada sumur-sumur yang diandalkan oleh masyarakat

Kini, Daerah Istimewa Yogayakarta seperti berada di persimpangan jalan; dilematis dan sedang dihadapkan pada situasi yang sangat sulit. Keberadaan investor untuk mendirikan bangunan tentu saja setelah mengantongi ijin dari pemerintah setempat. Para pemilik modal tak akan berani berspekulasi untuk menanamkan modal yang sedemikian besarnya untuk sebuah rencana bisnis perhotelan dan apartemen yang telah direncanakannya. Dan kondisi ini telah mengesampingkan moratorium tentang pembatasan dan penghentian pemberian ijin untuk pembangunan hotel dan apartemen yang bertingkat banyak.

Menghentikan pembangunan bangunan yang telah berlangsung dan telah berdiri kokoh, efeknya akan berhadapan dengan hukum. Maka salah satu langkah yang paling mudah dilakukan adalah “mengorbankan” masyarakat sebagai pihak yang “harus mengalah”. Karena sisi yang paling lemah dari lingkaran persoalan ini adalah masyarakat. Objektivitas komunitas masyarakakat dari latar belakang apapun tidak mempunyai kekuatan yang cukup untuk melakukan pembelaan diri ataupun mengharapkan setiap keberatannya dapat dipenuhi.

Salah satu harapan yang mungkin akan terpenuhi adalah mendoakan agar kawasan Malioboro hingga kawasan kekeratonan jangan sampai terjamah oleh modernisasi yang tidak terkendali. Karena hanya inilah yang mungkin masih bisa menjadi kebanggan Daerah Istimewa Yogyakarta, khususnya bagi Kota Yogyakarta sendiri. Mugi-mugi Gusti ALLAH nyaosaken kesaen ugi kebarokahan kagem Yogyakarta ugi kita sedaya sedaya….* 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *