Lhokseumawe Tak Terlupakan

Puspa bioskop di kota Lhokseumawe
Bioskop Puspa, ketika itu sebagai satu-satunya sarana untuk mewujudkan hobi menonton film bagi masyarakat Lhokseumawe dan sekitarnya. (Foto Doc. Muzakkir Ibrahim)

Lhokseumawe adalah sebuah kota kecil yang menjadi ibukota Kabupaten Aceh Utara yang pada waktu itu disebut Daswati II (daerah swatantra tingkat II) Aceh Utara. Kota ini terhampar di atas sebuah pulau kecil seluas 11 kilometer per segi, berada di dalam Kecamatan Banda Sakti. Populasi penduduk Kota Lhokseumawe khususnya di Kecamatan Banda Sakti saat ini, menurut data tahun 2013 berjumlah sekitar 78 ribu jiwa. Yang tersebar di beberapa kampung (kelurahan).

Lhokseumawe, memberikan kesan yang dalam bagi yang dulu pernah tinggal di kota ini. Karena kotanya dikungkung air di sekelilingnya, maka kampung yang dimilikinya juga tidak banyak, sehingga penduduknya hampir semuanya bisa saling kenal serta bisa hafal nama dan alamat tempat tinggalnya secara baik. Apalagi waktu itu jumlah penduduknya masih terbilang sedikit, hanya sekitar 20 – 27 ribu jiwa. Tampak persahabatan  yang erat antara satu dan lainnya.

Heteregonitas penduduk juga sudah ada sejak dulu. Banyak orang luar daerah Aceh yang datang dan pergi atau bahkan kemudian menetap menjadi penduduk. Mereka di antaranya adalah orang yang mendapat tugas memimpin dinas-dinas tertentu serta dari satuan TNI dan Polri yang pada waktu itu masih banyak berasal dari luar daerah. Tidak sulit menemukan orang luar Aceh, yang setelah menetap di Lhokseumawe, biasa saling berkomunikasi dengan bahasa Aceh pesisir secara fasih. Di kota ini juga terdapat Gampong Jawa Lama, Gampong Jawa Baru dan Gampong Cina. Nama ini menunjukkan representasi dominasi komunitas subetnis yang mendiami kampung tersebut.

Lhokseumawe, tempo dulu menjadi salah satu tempat yang menjadi basis bagi kolonial. Baik oleh Belanda ataupun Jepang. Hal ini ditandai dengan adanya perkuburan Belanda (kerkoff) di Hagu Barat Laut, yang sekarang di atasnya telah berganti dengan bangunan SMK Negeri. Kereta Api Aceh, termasuk Stasiun Pasai Gambe, juga dibangun pada saat pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1900-an. Di sepanjang pantai juga banyak ditemukan benteng pertahan yang sengaja di bangun oleh penjajah, yang memiliki lubang pengintai dan untuk menampatkan laras senjata yang diarahkan ke segala penjuru. Di beberapa tempat lainnya juga ditemukan meriam-meriam yang kini raib tak berbekas. Seperti di sekitar Pantai Ujongblang, serta di Kutatrieng dan Mon Bho, yang masuk dalam Gampong Simpang Peut. Peninggalan benda dan bangunan masa lalu kini tidak dapat ditemukan lagi, kecuali benteng buatan Jepang yang terdapat di bukit Cot Panggoi.

Batu ini terletak menyempil di antara rumah-rumah penduduk tanpa ada perawatan sebagaimana mestinya. Bangunan bersejarah lainnya adalah stasiun kereta api Pasai Gambe, yang kini di bekas pertapakan bangunan perkantoran, toko dan sebuah mal kecil. Di sisi jalan pertemuan jalan Merdeka, jalan Sukaramai dan jalan Perniagaan juga ada bangunan lama bekas perkatoran jaman dulu dan kini berubah menjadi bangunan toko, kantor bank dan kuliner jasbret. Yang masih tinggal adalah Kantor Polisi Lhokseumawe yang dulunya terletak di seberang stasiun. Dan tak jauh dari pantai Hagu Barat Laut terdapat prasasti yang dibuat untuk memperingati peristiwa pertempuran antara TNI dan Belanda pada tahun 1948. Parasasti ini menyempil di antara rumah-rumah penduduk dan nyaris tidak terlihat, serta tidak mendapatkan perawatan sebagai mestinya.

Dulunya Kota Lhoksemawe termasuk kota yang hijau dan asri. Kala itu masih banyak ditemukan hutan bakau (mangrove) yang menghiasi tepi jalan masuk perkotaan dari arah Keude Cunda serta tumbuh di sisi kanal krueng Cunda (Krueng Muara Duwa). Di sepanjang jalan Iskandar Muda, tumbuh berjejer pohon-pohon pinus yang menjulang tinggi. Di pucuk pinus hidup elang coklat yang sering disaksikan terbang melayang mengelilingi langit kota. Di Kutablang sebagai salah satu sumber air bersih untuk penduduk kota, banyak tumbuh pohon mahoni (orang Lhokseumawe menyebutnya pohon kenari/ bak keunari). Bila pohon ini hilang dapat dipastikan permukaan air tanah di daerah itu akan turun dan kualitas airnya pun ikut berubah. Syukurlah pohon-pohon yang telah berumur lebih satu abad tersebut masih tegak kokoh tak terjamah tangan dan pikiran jahil manusia yang ingin menebangnya.

Transportasi di Lhoseumawe sejak dulu termasuk lancar. Banyak terdapat bis yang berwarna warni yang siap membawa penumpang ke timur ke arah Medan dan barat ke arah Banda Aceh. Orang lama tentu masih ingat akan bis Nasional, PAT, ATRA, PMB, PMTOH, HSS, Tenaga Desa, PMABS dan sebagainya. Bis-bis tersebut masing-masing akan berkeliling kota Lhokseumawe untuk menjemput penumpangnya sambil berlaju pelan dengan membunyikan klakson yang berirama lagu-lagu yang populer waktu itu. Jadi supir jemputan juga harus mahir memainkan lagu-lagu dengan klakson bis sebagai daya tarik bagi penumpang. Nama-nama bis tersebut merupakan akronim dari, Pengangkutan Aceh Timur (PAT), Auto Transportasi Atjeh (ATRA), Pengangkutan Motor Bireuen (PMB), Perusahaan Motor Transport Ondernemer Hasan (PMTOH), Hanafiah Sangso Samalanga (HSS), serta Pengangkutan Motor Aceh Barat Selatan (PMABS).

Alat transportasi antarkota lainnya adalah kereta api yang dalam bahasa Aceh disebut geuritan apui atau geuritapui. Untuk sebutan kereta angin (sepeda) menjadi geuritan angen atau geuritangen. Kereta api yang ada waktu itu adalah kereta uap yang memanfaatkan kayu sebagai media pemanas air untuk menjadi uap. Luas sepurnya (jarak antara rel) lebih kecil dari kereta api di Sumatera Utara dan di Jawa. Akan tetapi lebih besar dari lori alat pengangkut tebu. Ke arah Medan, kereta api hanya sampai di stasiun Besitang dan perlu berganti dengan bis atau taksi bila hendak ke Medan. Sedang ke barat hanya sampai di stasiun Sigli, dan mengganti kereta khusus yang bisa mendaki lereng Gunung Seulawah utk ke Banda Aceh. Atau dapat berganti angkutan lainnya di dari Sigli.

Angkutan dalam kota di Lhokseumawe, adalah beca mesin yang pada saat itu tergolong angkutan berkelas. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang memanfaatkan beca yang digerakkan oleh mesin bronvit dua tak, buatan Jerman. Abang beca Lhokseumawe terkenal “parlente”, penampilannya menarik perhatian. Sebagai atribut pelengkapnya, abang beca selalu menggunakan jaket dan jeans denim bermerek sebagai pakaiannya. Sesekali menggunakan topi koboi impor yang branded. Kendaraan bermotor roda dua dan sepeda milik pribadi juga dapat dijumpai di jalan-jalan.

Waktu itu pelabuhan Lhokseumawe merupakan pelabuhan impor ekspor, di samping pelabuhan bebas Sabang. Sehingga saat itu di Lhokseumawe mudah didapatkan barang bermerek asal luar negeri. Di area pelabuhan lama Lhokseumawe banyak dibangun gudang untuk menyimpan pinang, kopra dan kulit sebagai komoditas yang akan diekspor. Kopra biasa diambil anak-anak Lhokseumawe yang melewati gudang, untuk dimakan bagi yang baru selesai berenang di pantai Lhokseumawe. Buah pinang yang telah dijemur diambil oleh anak-anak untuk digunakan sebagai alat permainan, yang disebut (meu-èn gatok). Gatok berarti tulang engkel yang menonjol atau mata kaki yang menjadi sasaran untuk “ditembak” dengan pinang bagi yang kalah setelah terjadi proses permainan. Lebih menyakitkan lagi, bila di tengah pinang kering yang dibolongi diisi dengan timah sebagai pemberat. Permainan ini biasa dimainkan oleh 3 sampai 6 orang. Dapat dibayangkan bagi satu orang yang kalah harus membiarkan mata kakinya “ditembak” dengan pinang berpemberat. Tapi anak-anak merasa senang-senang saja memainkannya.

Pelabuhan lama Lhokseumawe biasa dijadikan tempat berenang di laut Lhokseumawe. Di samping itu juga ada pantai Ujongblang yang menjadi tempat piknik (meuramien) bagi masyarakat. Ketika itu pantai yang mengelilingi kota Lhokseumawe masih sangat bersih dan natural. Tempat tujuan rekreasi lainnya yang dekat dengan kota adalah bukit Cot Panggoi yang terletak di kecamatan Muara Duwa. Di perbukitan ini banyak tumbuh pohon jamblang, yang merupakan buah-buahan kegemaran sebagian masyarakat. Mulai dari anak-anak hingga dewasa, karena rasanya yang sepet, asam dan manis. Lebih enak lagi bila dimakan dengan bumbu rujak atau sekedar diberi garam dan cabe.

Sejak awal tahun enam puluhan hingga akhir tahun tujuh puluhan, hiburan tontonan bagi masyarakat Lhokseumawe dan sekitarnya adalah bioskop Puspa. Milik seorang pengusahan di kota ini yang populer dengan panggilan “Toke Puspa”. Bioskop ini memutar film-film secara bervariasi dan silih berganti, mulai dari action, cowboy, India, Malaysia, Hongkong hingga film produksi Jakarta. Di dalam bioskop, ketika sedang menonton, kadang muncul “gangguan” oleh salah satu dari penonton yang sedang berkomentar mengikuti alur cerita film yang berlangsung, sejak awal diputar film hingga film berakhir (tamat). Tetapi bagi sebagian penonton, berbicara saat film sedang diputar merupakan hal yang biasa saja. Bukan sesuatu yang mengganggu.

Lhokseumawe mulai berubah ketika cadangan gas alam ditemukan di daerah Aron di kecamatan Syamtalira dan Samudera. Kontraktor yang melakukan eksplorasi pertama adalah Bechtel Inc. yang berasal dari Amerika Serikat, yang di kemudian hari berubah menjadi Bechtel Indonesia. Bersamaan dengan itu, para pencari kerja mulai berdatangan dari penjuru Aceh dan luar Aceh. Pola dan kebiasaan hidup masyarakat pun mulai bergeser dari pola yang yang tradisional menjadi teknologis. Kendaraan besar dan kendaraan milik perusahaan kontraktor dan subkontraktor mulai bergentayang di kota dengan pakaian ala pekerja. Keadaan ini merangsang keinginan yang luar biasa untuk bisa mendapat keuntungan dari kehadiran paerusahaan raksasa di daerah ini

Popularitas abang beca yang dulunya bak idola, mulai tergantikan oleh pekerja yang bergaji lumayan besar. Muncul sebuah ungkapan, “dulu buah salak, sekarang buah apel; dulu abang becak, sekarang abang bechtel”. Secara berangsur perkembangan ini mengubah persepsi hidup masyarakat dari sosioagraris menjadi masyarakat konsumtif dan materialis; dari kekerabatan menjadi individualistis. Ketika itu untuk beberapa waktu lamanya, Lhokseumawe pernah digelar sebagai “kota petrodolar”.

Kini Lhokseumawe hanya tinggal kenangan. Kegiatan industri yang dulunya berjaya dan pernah membuat nama Lhokseumawe hingga dikenal ke mancanegara, telah mulai mengalami kemunduran, seiring dengan menurunnya eksploitasi gas alam cair di daerah ini. Tetapi bagi sebagian yang pernah tinggal menetap di Lhokseumawe, baik dalam periode kejayaan abang beca hingga periode abang Bechtel, kota ini tetap menjadi kota yang tak terlupakan…*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *