Jakarta Dari Masa Ke Masa

Tugu Monas, Jakarta
Tugu Monas yang kerap dianggap sebagai maskot resmi Kota Jakarta, dipandang dari Stasiun Gambir

Tidak banyak yang mengetahui tentang maskot kota Jakarta yang sebenarnya. Bagi masyarakat umum, Jakarta kerap diidentikkan dengan Monumen Nasional (Monas). Monumen dengan ketinggian sekitar 132 meter ini mulai dibangun pada tahun 1961, dan kemudian resmi dibuka untuk umum pada bulan Juli tahun 1975. Monumen nasional yang selama ini direpresentasikan sebagai mascot Jakarta, berada di atas lahan lapangan Medan Merdeka yang dulunya disebut Lapangan Ikada atau Lapangan Gambir. Berada di sebelah selatan Istana Merdeka dan sebelah barat satasiun kereta api Gambir.

Sebetulnya Kota Jakarta memiliki identitas sendiri berupa “burung elang dan salak” yang mulai diperkenalkan sejak akhir tahun delapan puluhan. Bukan Monas; dan bukan pula “papaya, mangga, pisang, jambu, dibawa dari Pasar Minggu…”, seperti syair lagu yang dinyanyikan Bing Slamet tempo dulu. Tapi justru salak Condet, yang kini mulai langka. Maskot Jakarta tersebut dapat dilihat pada perbatasan antara Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten dan DKI Jaya, berada di sebelah utara jalan tol, ketika keluar dari Bandara Soekarno-Hatta dan juga di perbatasan antara Kabupaten Bekasi, Propinsi Jawa Barat dan Provinsi DKI Jaya.

Jakarta adalah kota segala jaman. Banyak cerita tentang Jakarta yang menyita perhatian siapa saja. Banyak pula sisi kehidupan yang terdapat di dalamnya. Misteri, kenyataan dan legenda, serta segala kepedihan dan suka cita. Salah satu yang tak lepas dari dinamisme perkotaan Jakarta adalah kehidupan para anak muda dan remaja. Di kalangan anak-anak usia muda, pacaran sudah menjadi kebutuhan mutlak yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Seperti makan nasi, maka untuk hidup manusia perlu asupan makanan. Pacaran bukan hanya kebutuhan melainkan juga “kewajiban” bagi kaum remaja Jakarta di kala itu. Sebagai asupan agar kehidupan masa remaja menjadi lebih indah dan berkesan.

Ketika itu, di awal-awal tahun tujuh puluhan, anak-anak muda Jakarta juga seperti mengalami keranjingan ajojing dengan iringan musik “disko”. Apakah itu disko yang dibuat secara rakitan ataupun yang dilengkapi dengan peralatan build-up. Asal bisa melahirkan hingar bingar musik, maka sudah cukup baik untuk mengiringi pesta ajojing. Bisanya hampir setiap ada pesta ulang tahun para remaja selalu dimeriahkan dengan disko. Maka tamu-tamu remaja pun menjadi tak sabar untuk segera berajojing. Pesta ulang tahun juga menjadi ajang perkenalan bagi anak2 remaja yang hadir di sana. Dari sini kemudian bisa beranjak menjadi pacar. Pada masa-masa itu sebutan perempuan dan laki-laki, telah berubah menjadi “cewek” dan “cowok”.

Tanda cupang di leher menjadi kebanggan tersendiri bagi remaja cewek Jakarta. Itu menjadi sinyal bahwa dia punya pacar. Tanpa bekas cupang di leher membuat anak-anak remaja seperti minder. Sehingga ada yang terpaksa berpura-pura menutup bagian lehernya seakan akan ada bekas cupang di situ. Atau bagi cowok, dengan cara menaikkan kerah bajunya seakan-akan sedang menutupi bekas cupang di lehernya. Akan tetapi pada umumnya para remaja pun tidak segan-segan untuk mempertontonkan cupang-cupang yang berbekas di leher mereka. Tidak ada usaha sedikit pun untuk menutup-nutupi dari penglihatan orang lain. Cupang yang terlihat pada hari minggu mengindikasikan bahwa malam minggu dia ada bersama pacarnya. Anak remaja yang tidak punya pacar dirasakan sebagai sebuah kekurangan dan bahkan ada yang menganggapnya sebagai sebuah “aib”.

Jakarta juga banyak melahirkan istilah-istilah yang baru. Banci menjadi bencong, bapak menjadi bokap dan ibu menjadi nyokap atau mokap. Konon Jakarta menjadi kota yang paling progresif untuk perkembangan istilah baru dan sleng (slang). Maka tidak mengherankan ada penuturan-penuturan di kalangan anak-anak muda Jakarta dengan bahasa “prokem” yang tidak dimengerti orang tua mereka ketika itu. Penyumbang terbanyak untuk memperkaya bahasa prokem dan sleng berasal dari grup lenong dan kumpulan banci. Dua komunitas ini disebut paling produktif dalam hal melahirkan istilah-istilah baru yang kemudian berkembang secara cepat ke tengah masyarakat secara bersinambung.

Ciri khas Jakarta lainnya waktu itu adalah bis kota berukuran besar dan bis bertingkat buatan negara Swedia dan Inggeris ataupun buatan India. Pada waktu itu terminal antarpenjuru Jakarta berpusat di lapangan Banteng. Di sana menjadi tempat perhentian semua bis kota dan oplet yang dulu masih banyak menghiasi jalanan kota Jakarta. Jakarta juga memiliki alat transportasi taksi. Salah satu yang paling merajai jalanan Jakarta kala itu adalah President Taxi, dengan warna khas yang kuning kombinasi merah. Namun kini hanya tinggal riwayat. Sementara helicak juga tidak kalah uniknya. Kendaraan yang bentuknya mirip-mirip helikopter ini menjadi kendaraan alternatif yang levelnya berada di bawah taksi, di samping bemo, sebelum kemudian muncul kendaraan bajaj.

Orang Jakarta, entah mengapa, sering menggunakan sebutan “Hong Kong” untuk menyatakan ketidakyakinannya, ketidaksetujuan atau pun penolakan atas sebuah “keadaan”. Jika ada cerita yang diragukannya maka akan dibantah dengan ungkapan “…. cerita dari mana? cerita dari Hong Kong…?!; cakep dari mana? Dari Hongkong…?!

Untuk fashion pada era tersebut banyak anak Jakarta yang cenderung memakai jean buatan lokal dengan merek Raphael ataupun Tira, yang kini tak pernah muncul lagi di pasaran. Hanya sebagian tertentu yang mampu membeli jean merek asal luar negeri. Modelnya kebanyakan melebar di bagian bawah alias cutbray. Sebagai padanan untuk alas kaki dipasang sepatu, yang bagian telapaknya memiliki ketebalan hingga 10 sentimeter. Bagian depannya berbentuk bulat menonjol seperti moncong bulldog, bagian belakangnya haknya dibuat lebih tinggi, dengan warna-warna yang tidak umum.

Pohon akasia menjadi tanaman yang dimanfaatkan untuk penghijauan di tempat-tempat terbuka dan menghiasi taman-taman untuk memperbanyak paru-paru kota. Ketika itu Jakarta sedang terus berbenah untuk menjadi kota metropolitan, tetapi dengan tetap memelihara kelestarian lingkungan melalui upaya penghijauan.

Ketika itu Ancol menjadi primadona sebagai tujuan rekreasi bagi keluarga Jakarta dan pasangan-pasangan remaja yang sedang terbuai cinta. Sedangkan tempat hiburan lainnya dan pasar murah, Taman Ria Monas sebagai tempat diadakan Pekan Raya Jakarta (Jakarta Fair), yang waktu itu masih menempati lahan di selatan selatan Monas. Di Jakarta Fair terdapat banyak bentuk permainan seperti Kim, lotere, hiburan band dan stand barang-barang yang ditawarkan dengan harga miring. Jembatan (jalan) laying yang berbentuk lembaran daun semanggi (Jembatan Semanggi), yang merupakan salah satu rancangan Ir. Sutami, menjadi salah satu kebanggaan kota Jakarta waktu. Ir. Sutami kemudian diangkat oleh Presiden Soeharto sebagai Menteri Pekerjaan Umum dalam kabinet pembangunan hingga tahun 1978.

Jakarta memiliki pesona tersendiri bagi masyarakat Indonesia pada umumnya. Upaya hijrah ke Jakarta tidak sekadar untuk mencari kehidupan baru, akan tetapi juga untuk menjadi terkenal malalui bermacam profesi seperti bintang film, penyanyi, pemusik, pengusaha, pengacara dan lain sebagainya. Jakarta adalah tempat mengadu untung; tempat menggantung harapan; tanah bertuah yang dapat mengubah nasib dalam upaya mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Namun Jakarta juga menyimpan momok yang siap melemparkan siapa saja menjadi sampah yang tak berguna. Menyirnakan cita-cita, menghapus harapan; memutus segala peluang untuk memperoleh kehidupan yang menjanjikan.

Kala itu juga di perkampungan pinggiran kota, masih dapat didengar lagu-lagu melalui pengeras suara yang dipasang pada pepohonan yang tinggi yang suaranya dapat menjangkau hampir seantero kampung. Masyarakat pun bisa meminta lagu-lagu pilihannya dengan menuliskannya pada secarik kertas untuk diputar oleh operator dengan biaya tertentu. Kemudian sang operator membacakan nama pemesan lagunya melalui mikrofon dan menyebutkan nama kepada siapa saja yang ingin ditujukan lagunya. Hingga menjelang akhir tahun tujuh puluhan, fenomena ini masih dapat ditemukan, terutama di pelosok-pelosok pinggiran timur maupun selatan Jakarta, yang masih termasuk ke dalam wilayah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya (DKI Jaya).

Sebutan Jakarta sebagai “the big village“, memang cocok ditabalkan kepada kota ini. Meskipun terus beranjak menjadi metropolitan, kesan tradisional masyarakat pinggiran masih terasa kental dan memiliki daya tarik tersendiri. Tradisi dan budaya masyarakat Jakarta (Betawi) masih diupayakan untuk tetap dipelihara dan dijaga dengan konsisten.

Jakarta kini adalah kota yang banyak ditumbuhi dengan gedung apartemen, hotel dan mal. Jika pada era tahun tujuh puluhan, tempat belanja barang branded terpusat di jalan Sabang dan Paser Baru Jakarta Pusat serta Blok-M, Jakarta Selatan, maka saat ini hampir di lima kota Jakarta banyak ditemukan tempat yang bisa didapatkan barang yang bermerek tertentu. Pada masa itu Jalan Sabang pernah menjadi surga tempat belanja kaum berduit serta para bintang film dan penyanyi. Ketika itu belum ada istilah “sosialita dan “selebritis”, seperti yang berlaku seperti sekarang ini. Komunitas ini sering diasosiasikan sebagai kelompok “pengidap” shopaholic, yang keranjingan memburu barang-barang mewah hingga bahkan sampai ke luar negeri…*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *