Kisah Secangkir Kopi Aceh

Kopi Aceh yang tersohor
Teknik penyaringan kopi Aceh yang unik dan atraktif, diyakini bisa menambah kelezatan sajian kopi Aceh

Salah satu daya pikat ketika seseorang berada di Aceh adalah menikmati kopi Aceh yang banyak disajikan di kedai kopi (keude kupi) Aceh. Tidak hanya bagi pelancong, dari luar Aceh, masyarakat Aceh sendiri juga merupakan penikmat kopi yang fanatik. Sangat doyan mencicipi kopi yang dijual di kedai kopi. Sambil menyeruput kopi panas khas “keude kupi” Aceh, mereka bisa kongkow-kongkow sama teman-teman. Apalagi bila di”teumon“-in dengan sepiring mie Aceh atau sepotong “bada sue-uem” (pisang goreng yang masih panas) atau pulot (pulut) panggang. “Teumon” dalam bahasa Aceh berarti makanan pendamping ketika menikmati secangkir kopi. Bagi sementara masyarakat Aceh, kopi di keude kupi berasa jauh lebih enak dari pada kopi yang disajikan di rumah bikinan istri sendiri.

Kedai kopi yang banyak ditemukan di hampir seluruh derah Aceh, bukanlah merupakan warisan tradisi Aceh yang sesungguhnya. Melainkan –diperkirakan–, berasal dari warisan orang-orang Khek yang hingga pertengahan tahun enampuluhan masih menggeluti usaha kedai kopi di Aceh. Meskipun usaha kedai kopi telah beralih kepada salah satu sektor usaha yang banyak diminati oleh orang Aceh, akan tetapi keunikan cara membuat kopi ala Khek tetap dipertahankan. Bahkan saat ini teknik menuang kopi telah mengalami improvisi sehingga tampak menjadi lebih atraktif pada saat menyaring minuman kopi ke dalam gelas. Menuangkan adukan kopi melalui saringan, sambil mengangkatnya tinggi-tinggi.

Di stasiun kereta api Pasai Gambe, Lhokseumawe, sebelum kereta api Aceh tutup usia, juga terdapat satu kedai kopi yang dikelola oleh orang Khek. Hampir semua kedai kopi yang ada di Aceh waktu itu dikelola oleh orang-orang subetnis Khek. Kedai-kedai ini memiliki ciri khas yang menarik. Begitu juga properti yang terdapat di dalam kedainya yang waktu itu terkesan masih mewah. Mulai dari rangka kursi tempat duduk yang terbuat dari besi, meja terbuat dari marmer yang ditopang rangka besi berukiran, serta cara menyaring kopinya yang unik. Semua ini menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggannya. Kedai kopi milik orang Tionghoa, dapat ditemukan hingga ke tingkat kecamatan. Seperti misalnya pada sekitar akhir tahun enam puluhan masih ada kedai kopi Tionghoa di Kecamatan Samalanga.

Waktu itu hanya orang-orang tertentu saja yang sering menikmati kopi di kedai kopi milik subetnis Khek ini, meskipun harganya tidak mahal. Sangat berbeda dengan kondisi sekarang di mana kedai kopi terdapat sampai ke pelosok desa dan banyak dikunjungi oleh semua lapisan masyarakat. Tidak lagi eksklusif seperti jaman dulu. Dalam perkembangannya kedai kopi telah menjelma menjadi sarana multifungsi. Jika dulu-dulunya mesjid atau meunasah (surau) menjadi pusat kegiatan untuk pertemuan, belajar, mengaji dan musyawarah, maka sekarang fungsi tersebut telah beralih ke kedai kopi. Di sini bisa dilaksanakan pertemuan informal oleh semua komponen masyarakat, mulai dari petani, nelayan, ilmuwan, hingga kalangan akademisi dan mahasiswa. Apalagi setiap kedai kopi di Aceh dipastikan selalu menyediakan layar televisi yang bisa buat lihat berita, nonton film (video) atau nonton bareng pertandingan sepakbola. Jadi tidak heran meskipun bangunan kedai kopinya kondisinya cukup sederhana tapi parabola tetap terpasang di atas nya.

Kedai kopi diperkirakan mulai beralih kepada penduduk asli Aceh adalah sebelum terjadi proses pergeseran pola usaha yang dijalankan oleh orang-orang Khek. Pascaterjadi peristiwa Gerakan Tiga Puluh September 1965 (G30S), yang diikuti dengan eksodus masyarakat Tionghoa dari Aceh, maka terjadi kekosongan di sektor usaha kedai kopi yang sebelumnya banyak dijalankan oleh keturunan Tionghoa, khususnya subetnis Khek. Setelah beberapa waktu mengalami kekosongan sektor usaha kedai kopi ini, kemudian secara perlahan mulai beralih kepada masyarakat lokal. Peralihan ini tidak terlalu sulit karena mereka sebelumnya merupakan bagian dari penyedia jasa pembuatan nasi dan mie bagi kedai-kedai kopi milik orang Khek, sambil menempati lapak yang disediakan di depan kedai kopi. Di kemudian hari, jenis usaha yang dilakoni oleh orang-orang Tionghoa mulai berubah ke arah sektor usaha fotografi, perdagangan pakaian, perhiasan, elektronik dan kendaraan bermotor.

Jejak langkah perjalanan sejarah masyarakat Khek atau disebut juga orang Hakka, masih dijumpai di Kalimantan Barat, antara lain di: Kota Pontianak dan Singkawang, serta di pulau Bangka, di mana pendatang dari Tiongkok di daerah-daerah tersebut banyak didominasi oleh suku Khek. Apa yang dapat disaksikan saat ini adalah usaha yang pernah ditekuni oleh orang-orang yang berasal dari subetnis Khek sebagai warisan para leluhurnya mereka bertahun-tahun jauh sebelum Indonesia merdeka. Pada dasarnya kehadiran orang-orang Tionghoa di Aceh yang dimulai sebelum abad ke-16 –atau bahkan terdapat catatan sejarah yang menyatakan bahwa mereka telah hadir di Aceh sejak abad ke 13–, adalah sebagai tenaga kerja di berbagai bidang usaha. Pendatang dari China ini dianggap sebagai tenaga kerja yang ulet, rajin dan terampil. Meskipun dalam perjalanan sejarah selanjutnya ada yang beralih profesi sebagai pengusaha kedai kopi. Usaha ini akrab bagi orang-orang Khek karena memang mereka memahami seluk beluk tentang cara membuat kopi yang nikmat secara baik.

Suku Khek atau Hakka merupakan bagian subetnis dari etnis Hans sebagai induknya. Suku Khek pada umumnya berasal dari Guangdong daerah sebelah tenggara daratan Tiongkok. Di pusat kerajaan Aceh, mereka mendirikan pecinan sebagai tempat bermukim secara komunal, yang sekarang disebut Peunayong. Peunayong merupakan daerah yang berada dibagian tengah kota Banda Aceh, berdekatan dengan jalur Krueng Aceh yang mengarah ke pantai. Dan sekarang menjadi pusat kegiatan bisnis di kota Bada Aceh.

Tapi lembaran sejarah telah berganti. Kedai kopi sudah menjadi ciri khas kota-kota di Aceh. Apabila saat ini para pelancong yang berkunjung ke Aceh, maka yang dijumpainya adalah kedai-kedai kopi yang akhirnya menjadi daya pikat tersendiri. Teknik membuat kopi dilakukan dengan cara mengangkat gayung tinggi-tinggi, kemudian menuangkan campuran kopi ke dalam gelas melalui media saringan kain berbentuk khas dan menyebabkan timbul buih dipermukaan gelas yang membangkitkan selera bagi para penikmat kopi. Pelancong belum merasa lengkap berada di Aceh apabila belum merasakan nikmatnya sajian kopi Aceh. Apalagi di Aceh terdapat sentra-sentra perkebunan kopi yang konon menghasilkan biji kopi terbaik yang pernah ada di Indonesia. Kopi Aceh memiliki cita rasa dan aroma yang khas dan hanya para pecandu kopi yang bisa membedakannya. Sulit bagi siapa saja, untuk melupakan betapa lezatnya minum kopi di Aceh.

Beberapa kalangan masyarakat Aceh sendiri, telah memanfaatkan kedai kopi sebagai ajang pertemuan dan tempat berkumpul sambil bercengkerama dan ngobrol. Biasanya antara sesama pengunjung tetap kedai kopi sudah saling mengenal satu sama lainnya, lantaran satu selera dan memiliki kebiasaan yang sama, serta sering bertemu muka di tempat tersebut. Bahkan di tempat ini juga akan terbentuk sebuah komunitas informal tanpa ikatan yang kuat namun bisa saling berbagi informasi. Mulai dari topik politik hingga perkembangan kurs mata uang. Sehingga muncul anekdot: “talo keu-ieng ngom, haba luwa nanggro“, yang bermakna kira-kira: ikat pinggang masih dari tali pandan, tapi bicaranya sudah menjangkau masalah luar negeri.

Beberapa keunikan juga melekat pada karakter beberapa pengunjung kedai kopi Aceh menjadi fenomena yang menarik. Ada di antaranya yang hanya sekedar “ngopi”, lalu setelah menyeruput secangkir kopi panas, mereka kemudian kembali ke habitat kegiatan dan pekerjaannya masing-masing. Ada yang datang tapi duduk sambil berlama-lama menikmati kopi seteguk demi seteguk, sambil ngobrol “ngalur-ngidul” dengan temannya. Tetapi ada pula kelompok pengunjung kedai kopi yang seharian bisa ngetem di kedai kopi sampai beberapa kali berganti topik pembicaraan, dan menikmati secangkir demi secangkir kopi kegemarannya, tanpa terusik oleh kondisi apapun hingga menjelang sore hari…*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *