Bahasa Betawi Gaya Jakarta

Penumpang KRL Tanah Abang
Pemandangan ketika penumpang sedang berjubel di stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat. Mereka datang dari berbagai latar belakang ragam budaya dan bahasa

Jakarta adalah milik semua warga Indonesia. Sebagai ibukota tentu saja tingkat heterogenitasnya sangat tinggi. Dari berbagai suku yang ada di seluruh nusantara dapat dijumpai di sini. Dari pelosok ujung barat hingga ke ujung timur Indonesia ada representasinya di kota ini. Dan bahkan dari berbagai bangsa. Tetapi Jakarta memiliki bahasa khas, yang berasal dari Bahasa Betawi. Gaya bahasanya kocak serta enak untuk dituturkan dan didengarkan. Terkadang juga lagu bahasanya terkesan kenes dan kolokan. Apalagi jika penuturnya adalah cewek. Gaya bahasa Betawi juga penuh dibumbui humor. Ini karena dipengaruhi oleh karakter orang Betawi yang suka becanda; humoristis. Kadang sulit membedakan antara mana yang serius dan mana yang candaan, ketika dijumpai ada orang-orang yang sedang salingberbicara.

Kehidupan sosial masyarakat asli Betawi terutama diperkampungan, sama seperti masyarakat lainnya yang ada di daerah Indonesia. “Nonggo” dan saling berkunjung sudah menjadi budaya. Padahal masyakat kota ini sudah terpapar oleh kehidupan eropa sejak Belanda menjajah negeri ini. Bukan dalam waktu yang cuma sebentar, tetapi tiga setengah abad lamanya. Umur Jakarta (Batavia) pun pada tahun 2016 ini sudah mencapai 489 tahun. Jadi dapat dibayangkan tingkat ketahanan orang Betawi terhadap pengaruh budaya luar, memang sungguh luar biasa kuatnya. Bahasa dan budayanya tetap terpelihara dengan baik, meskipun saat ini, umumnya masyarakat Betawi bermukim di pinggiran Jakarta.

Seiring arus migrasi masyarakat dari berbagai penjuru Jakarta, telah membuat Jakarta menjadi sebuah wadah besar yang sedikit banyak akan diisi oleh warna kebiasaan masyarakat pendatang. Tutur kata dan dialek yang berbeda-beda ikut membuat bahasa Jakarta mengalami proses metamorfosis dan pergeseran sedikit demi sedikit. Meskipun basisnya tetap bahasa Betawi, tetapi sesungguhnya bahasa sebagian orang-orang Jakarta adalah bahasa yang memiliki perbedaan dengan bahasa asli orang Betawi. Kalau boleh dikata, ada perbedaan tipis antara bahasa masyarakat Jakarta dan masyarakat asli Betawi. Tidak persis 100 persen sama.

Masing-masing latar belakang suku memiliki dialek dan aksentuasi tersendiri. Sehingga ucapan yang keluar dari seseorang yang merupakan pendatang dari daerah luar Jakarta masih dipengaruhi oleh dialek asalnya. Tetapi dia sedang berbicara dengan gaya bahasa Jakarta. Jangankan yang datang merantau dari luar Jakarta dalam usia dewasa, yang lahir dan dibesarkan di Jakarta ada juga yang masih terpengaruh bahasa Ibu-nya. Salah satunya disebabkan lantaran di lingkungan rumah, masih tetap menggunakan bahasa daerah masing-masing. Sehingga adaptasi terhadap logat Betawi pun menjadi tidak mudah. Maka jadilah bahasa Jakarta yang bercorak ragam daerah. Lebih seru lagi bila dituturkan oleh latar belakang budaya yang kental bahasanya. Timbul pengaruh yang lebih besar karena penuturnya memiliki aksentuasi yang ekstrem.

Bahasa Jakarta yang sering didengar dari para pemain sinetron sepertinya juga mengalami perbedaan. Bahasa Jakarta ala pemain sinetron. Lebih ketara lagi ketika dalam sesi wawancara langsung terhadap bintang sinetronnya, dalam tayangan televisi. Maka akan terdengar dengan jelas dialek bawaan dari pemain sinetron tersebut berasal, muncul sekali-sekali. Bahasa daerah asalnya ikut mewarnai ketika dia berbicara dalam bahasa gaya Jakarta. Bagi penutur hal tersebut terasa biasa-biasa saja. Tapi bagi yang mendengarkan, akan bisa menangkap perbedaan yang terjadi di dalamnya. Bahkan bisa menjadi sinyal untuk dengan mudah menebak dari mana asalnya.

Pergeseran bahasa biasa terjadi dalam masyarakat, dan bahkan di mana pun di belahan dunia ini. Tidak hanya di indonesia. Di Korea Selatan juga, misalnya, berlaku hal yang sama. Sama seperti Jakarta, kota Seoul pun menjadi kota impian bagi calon selebritis Korea Selatan. Di sini tumpleg orang-orang yang datang dari berbagai penjuru Korea Selatan. Dan bahasa aslinya juga memiliki dialek yang khas derahnya masing-masing. Perlu waktu yang cukup untuk beradaptasi secara baik agar kemudian bisa lancar berbahasa Korea logat kota Seoul.

Bukan hanya bahasa dari luar Pulau Jawa saja yang bisa memberikan pengaruh terhadap bahasa Jakarta. Bahasa yang berdialek bahasa daerah yang terdapat di seluruh Jawa juga ikut andil dalam “mengubah” gaya bahasa Jakarta. Setidak-tidaknya untuk penuturan pribadi seseorang ketika berbicara. Bahasa daerah apa saja sebetulnya juga tidak tertutup kemungkinan bisa mangalami pergeseran. Anak-anak usia muda, juga banyak yang tidak paham sepenuhnya dengan bahasa ibunya. Terutama kata-kata khas yang jarang dimunculkan dalam percakapan

Kekuatan pengaruh bahasa juga ditentukan oleh tingkat populasi jumlah penutur gaya daerah yang tinggal di Jakarta. Secara garis besar bahasa Sunda dan bahasa Jawa menjadi bahasa yang paling kuat mempengaruhi gaya bertutur dalam bahasa Jakarta. Belum lagi di dalam kedua wilayah ini masih terdapat sekian banyak dialek dari masing-masing daerah (kota) yang menggunakan kedua bahasa tersebut. Tentu saja terdapat perbedaan antara satu kota dengan kota lainnya. Masing-masing punya kekhasan tersendiri.

Di Jakarta berbagai gaya penuturan bahasa yang bercorak ragam dapat ditemukan ketika berada di dalam kereta api (KRL) yang banyak dipenuhi oleh masyarakat dari berbagai latar belakang budaya. Antarsesama penumpang biasa saling berkomunikasi selama di dalam perjalanan. Entah itu memang dengan teman-temannya sendiri ataupun antarorang-orang yang baru saling kenal sementara di dalam kereta. Di kantor-kantor juga terdapat hal yang serupa. Karena para karyawan kantor pada umumnya adalah mereka yang datang dari berbagai latar belakang budaya dan daerah, untuk bekerja di Jakarta. Sehingga tak jarang pengaruh dialek daerah ikut mewarnai saat saling berkomunikasi. Akan tetapi masing -masing bisa saling memahami dan menjadi ciri baru di lingkungan mereka. Meskipun lambat laun akan ketemu dengan bahasa Jakarta ala mereka.

Seiring dengan semakin gencarnya siaran televisi yang bisa menjangkau hingga ke pelosok desa, membuat anak-anak muda desa ikut latah menggunakan bahasa Jakarta, terutama dari kalangan cewek. Ada kebanggaan tersendiri bila bisa berbicara logat Jakarta. Padahal masing-masing daerah sudah memiliki gaya bahasa sendiri. Meskipun ketika sedang menggunakan bahasa nasional Indonesia. Tapi gaya Jakarta sepertinya lebih mengangkat kepercayaan diri. Maka jadilah bahasa Jakarta dengan gaya bahasa daerah setempat. Patokannya tidak jauh dari bahasa Jakarta yang selalu didengar dari dialog di dalam sinetron.

Bahasa adalah rasa. Termasuk ketika bertutur dalam logat Jakarta, yang sudah barang tentu dilandasi rasa. Berkomunikasi dalam bahasa Jakarta juga menghadirkan rasa tersendiri ketika sesesorang sedang menggunakannya di dalam sebuah percakapan. Itulah magic Jakarta yang mampu membuat siapa saja jadi tertarik. Bukan hanya kotanya yang menjadi impian. Akan tetapi bahasanya juga digemari masyarakat penjuru nusantara. Paling banyak di antaranya adalah mereka yang masih remaja dan anak-anak sekolah. Termasuk juga sebagian ibu-ibu muda yang hobi nonton sinetron Indonesia. Akan terasa lebih gaul bila bisa menggunakan logat Jakarta. Kalau pun tidak secara utuh, tapi sedikit-sedikit ada istilah Jakarta yang ikut menyelinap di celah-celah isi percakapan mereka. Iiih…, Jakarta emang deh dong sih….*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *