Mangindaan Dan Sepakbola Aceh

Sangat sedikit cerita tentang sosok ini pada sebuah sisi yang berbeda dari seorang tentara dan politikus. Padahal sosok E. E. Mangindaan ibarat sebuah legenda bagi sepakbola Aceh. Mangindaan mewarisi bakat sepakbolanya dari sang Ayah seorang pesebakbola masa lalu, E. A. Mangindaan yang pernah menukangi Tim Nasional Indonesia, pada tahun 1996.

Ketika menjadi asisten pelatih timnas, mendampingi Tony Pogacnik, Opa Mangindaan pernah merasakan masa kegemilangan timnas Indonesia menembus olimpiade Melbourne, di tahun 1956. Boleh dikata sang prajurit yang hobi sepakbola ini seperti menjadi teladan bagi para pemian sepakbola Aceh waktu itu. Mangindaan telah memberikan kontribusi yang  sangat berarti bagi perkembangan sepakbola modern di Aceh.

Setamat dari Akademi Militer, boleh dikatakan, karir ketentaraan Mangindaan dimulai dari tanah rencong, ketika bertugas sebagai Komandan Pletoni di Bireuen, Aceh Utara. Waktu itu Bireuen masih merupakan sebuah kewedaan yang menjadi bagian dari Kabupaten Aceh Utara.

Di bumi “tanah rencong” pula sang putra “nyiur melambai”, dalam usia muda, berkiprah di lingkungan sepak bola Aceh, yang dimulainya sejak menjadi pemain PSSB, Bireuen, Aceh Utara. Ketika itu di Aceh Utara terdapat dua kesebelasan persirakatan, yaitu: PSBB (Persatuan Sepakbola Seluruh Bireuen) dan PSLS (Persatuan Sepakbola Lhokseumawe dan Sekitarnya).

Mangindaan dan sejarah sepakbola Aceh
Mangindaan, prajurit yang pernah mengabdi bagi kemajuan sepakbola Aceh (Foto dok. MPR-RI)

Sebagai sosok serdadu yang padat aktivitas, Mangindaan masih menyempatkan diri menyalurkan bakatnya melalui sepakbola. Sebagai pemain sepakbola, Mangindaan, memiliki tempat tersendiri di hati penggemar sepakbola Aceh yang terkenal sebagai pendukung fanatik, namun tetap sportif dalam mengakui tim yang bermain baik. Meskipun itu adalah tim lawan yang sedang main tandang di Aceh.

Sejarah sepakbola Aceh

Meskipun sebagai serdadu, Mangindaan muda mampu bersosialisasi secara baik dengan masyarakat dan komunitas sepakbola di Bireuen. Mangindaan menjadi bagian yang terpisahkan dari “line-up” pasukan dan memperkuat PSSB. Sesekali Mangindaan juga ikut membela tim dalam kompetisi PSSI Komda Aceh.

Kemampuan sepakbolanya mampu mengilhami para pesebokbola di Aceh Utara dan kemudian bagi Persiraja di ibukota Daerah Istimewa Aceh, yang kala itu bernama Kutaraja.

Dapat dikatakan bahwa sejarah perkembangan sepakbola Aceh pernah diwarnai dengan sentuhan manajerial dan kemampuan mengolah bola Mangindaan, baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih.

Belakangan masyarakat hanya mengetahui sosok ini sebagai pensiunan jenderal, pernah menjadi gubernur Sulut, mengemban jabatan menteri dan politisi yang berkiprah di tingkat pusat. Karir politiknya dirintis ketika duduk menjadi salah seorang senator Senayan sebagai utusan Daerah, anggta DPR mewakil Golkar, anggota DPR dari Faksi Partai Demokrat dan kini sebagai salah satu pimpinan MPR RI, untuk periode 2014-2019.

Selebihnya perjalanan hidupnya ketika muda sebagai pesepakbola yang handal dan pelatih bertangan dingin tidak banyak yang mengetahuinya.

Latar belakang ketentaraan yang telah dilaluinya melalui penggemblengan yang terpola dengan disiplin tinggi, ikut memberikan dampak positif bagi pembentukan staminanya yang tangguh. Mangindaan mewarisi sifat sportif, talenta, skill dan disiplin sebagai pemain bola dari orang tuanya serta dari hasil penggemblengan yang didapatkannya dari dunia kemiliteran.

Rinus Mitchels

Kemudian dari sifat-sifat itu pula  secara persuasif, diterapkannya di lapangan hijau untuk ditularkan kepada para pemain muda yang dibinanya ketika bertugas di Aceh. Sehingga perkembangan sepakbola Aceh, hingga kini tidak dapat dipisahkan dari peran Mangindaan yang pernah menjadi pemain dan sebagai pelatih sepakbola di sana.

Dalam skala persepakbolaan Indonesia —bagi PSSB, Bireuen dan Persiraja, Banda Aceh—, Mangindaan adalah ibarat Johan Cruyff, yang mewarisi ilmu sepak bola modern dari pelatih legendaris Belanda, Rinus Michels, yang telah sukses meracik sepakbola ofensif, dengan label “Total Pressure Football”, dan kemudian mampu mengilhami timnya secara baik dan lengkap.

Mangindaan telah melakoni kiprahnya selama bertugas di Aceh sebagai tentara, pesebakbola dan pelatih, dengan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat Aceh secara utuh.

Meskipun prestasi Persiraja dan PSSB sendiri mengalami jatuh bagun, namun pada kompetisi persikatan PSSI, 1980, Persiraja mampu meraih gelar juara setelah dalam partai final, mengandaskan Persipura, Jayapura, yang ketika itu diperkuat oleh Leo Kapissa dan kawan-kawan yang dijuluki mutiara hitam. Sayangnya kemudian, Persiraja tidak mampu mengukir pestasi puncak di tingkat nasional dalam berbagai kancah turnamen yang diselenggarakan PSSI.

Namun demikian, sejarah perjalanan klub kebanggaan masyarakat Aceh ini senantiasa dihiasi dengan manisnya sentuhan tangan-tangan dingin para pelatih terdahulu sejak klub ini didirikan pada Juli 1957, hampir enam dasawarsa yang lalu. Salah satu di antaranya adalah E. E. Mangindaan, seorang yang memiliki latar belakang militer, tapi mempunyai kemampuan bermain si kulit bundar dengan talenta yang luar biasa serta pernah menjadi pelatih dan pemain Persiraja di era tahun tujuh puluhan.

Kehadiran Mangindaan di Aceh ibarat sebuah suratan dalam proses mengukir sejarah tentang perjalanan hidup dan karir militernya yang diawali dari tanah “Serambi Mekkah”. Di daerah ini pula Mangindaan, bisa berkiprah dengan leluasa untuk mewujudkan hobinya bermain sepakbola. Aceh yang masyarakatnya memiliki kecenderungan kepada sepakbola, menjadi ibarat “kata berjawab gayung bersambut” bagi sepak bola Aceh dan Mangindaan sendiri.

Bukan hanya aktif di kesatuan militer, akan tetapi Mangindaan mampu bersosialisasi dengan baik di tengah masyarakat melalui sepakbola yang merupakan salah bagian dari sisi hidupnya sejak remaja.

Aceh dan Minahasa

Aceh setali tiga uang dengan daerah Minahasa. Sepakbola sudah menjadi sesuatu yang sangat penting bagi sebagian laki-lakinya; sepakbola sudah menjadi permainan rakyat hingga merasuk sampai ke pelosok desa; permainan sepakbola sudah mendarah daging. Kalau pun tidak sebagai pemain, ya, sebagai penonton yang fanatik.

Sepakbola telah menjadi candu yang bisa membuat orang lupa kepada yang lain. Di desa terpencil di Aceh, dapat ditemukan sekumpulan anak-anak muda yang berlatih sepak bola sesuai dengan alakadarnya.

Biasanya setelah musim panen tiba, hamparan sawah yang telah kosong bisa disulap berubah menjadi lapangan sepakbola. Lapangan dadakan yang sementara ini dimanfaatkan untuk pertandingan sepakbola antarkampung yang biasanya memperebutkan, bukan piala, melainkan seekor sapi jantan yang berukuran besar. Kampung mana pun yang meraih predikat juara bisa langsung membawa pulang sapi yang diperolehnya ke kampungnya.

Di sisi lain ada juga lapangan “lampoh u” atau kebun kelapa yang seringkali dijadikan tempat bermain sepakbola bagi anak-anak dan pemuda desa. Walaupun konturnya tidak semua datar, akan tetapi anak-anak muda senang-senang saja bermain di atasnya.

Biasanya di lapangan lampoh u masih terdapat sisa-sisa potongan pohon kelapa dan akarnya. Tapi hal itu tidak menjadikannya sebagai penghalang. Anak-anak muda tetap saja bermain sungguh-sungguh dengan teknik-teknik seadanya.

Tony Pogacnik

Namun perkembangan industri sepakbola dewasa ini telah berkembang demikian pesatnya. Banyak tersedia siaran televisi yang menayangkan acara pertandingan sepakbola, tingkat kompetisi lokal atau pun mancanegara. Apalagi siaran televisi sudah dapat menjangkau hingga ke desa-desa terpencil, sehingga mudah diakses. Perkembangan ini telah membuat banyak pemain muda yang mencoba-coba meniru gaya bermain pemain idolanya ketika bermain di lapangan.

Teknik yang dulunya seadanya, sedikit demi sedikit, bisa dipoles dengan teknik permainan sepakbola yang disaksikan di dalam televisi. Tentu saja sesuai dengan cara masing-masing mereka.

Ketika Mangindaan bermain dan menjadi pelatih di Aceh, sepakbola belumlah semaju seperti sekarang ini. Namun karena orang tuanya adalah salah seorang yang pernah menangani timnas Indonesia, dan juga pernah mendapatkan pelajaran teknik sepakbola dari Tony Pogacnik yang bernuansa Eropa Timur, maka, tidak terlalu sulit untuk menularkan teknik sepakbola terkini pada masa itu kepada pemain-pemain berbakat yang ada di Aceh.

Boleh dikata, sebagai pemain ataupun sebagai pelatih, bekal Mangindaan muda, dirasakan telah sangat memadai untuk memberikan pengetahun tentang bagaimana peningkatan ball skill bagi para rekan bermain dan kepada anak didiknya ketika itu.

Perkembangan sepakbola Aceh memang memiliki sejarah yang panjang. Klub perserikatan Persiraja, singkatan dari Persatuan Sepakbola Indonesia Kutaraja, Banda Aceh, merupakan salah satu bond sepakbola tertua yang ada di Indonesia. Telah berdiri sejak pertengahan tahun 1957; enam dasawarsa yag lalu.

Pemain dan pelatih telah datang dan pergi secara silih berganti. Mereka adalah para pengukir sejarah sepakbola Aceh. Salah satu di antaranya adalah Evert Erenst Mangindaan atau E. E. Mangindaan. Seorang purnawirawan jenderal, yang ketika muda memiliki talenta yang luar biasa sebagai pemain sepakbola…*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *