Fenomena Muhammad Ali

Legenda Amerika yang dulu sering dielu-elukan oleh masyarakat Amerika Serikat adalah Rocky Marciano. Petinju kulit putih keturunan Itali dengan nama lengkap Rocco Francis Marchegiano, yang bermain di kelas berat tinju profesional ini, memiliki pukulan geledek, yang nyaris melalap semua petinju handal yang pernah ada waktu itu. Satu demi satu, bertekuk lutut dibuatnya.

Sekonyong-konyong Rocky menjadi pusat perhatian dan dipuja oleh jutaan rakyat Amerika; Rocky menciptakan daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk selalu mengaguminya.

Hingga mengundurkan diri sebagai petinju profesional, pada tahun 1956, Rocky, belum pernah terkalahkan sama sekali, dalam 49 pertandingan yang dilakoni. Bahkan di kemudian hari, untuk mengenang Rocky, Amerika mengeluarkan sekuel film yang terilhami oleh perjalanan sejarah hidup Rocky di dunia tinju, dengan judul Rocky I hingga Rocky V.

Sylvester Stallone yang memerankan tokoh fiksi Rocky Balboa benar-benar laksana seorang hero yang membawa kebanggaan tersendiri bagi penonton Amerika. Stallone begitu sukses menampilkan dirinya sebagai sosok sesungguhnya dari figur Rocky.

Cacth me if You can
Muhammad Ali sang The Greatest, si Mulut Besar, The Boxer dan Seniman; memadukan tinju dan tarian

Rocky digambarkan sebagai petinju yang selalu memenangkan pertandingan. Bahkan mampu menundukkan petinju Uni Sovyet yang berbadan lebih kekar dan lebih tinggi, Ivan Drago, –diperankan Dolph Lundren–, dari pada postur Rocky dalam pertandingan yang sangat brutal; hidup-mati, demi mempertahankan gengsi supremasi negara.

Penyajian heroisme Amerika di dalam film, mulai mereda ketika Michael Gorbachev, presiden Uni Sovyet, menggagaskan sebuah konsep fenomenal bernama “glasnost” dan “perestroika”; membuka diri dari tirai besi yang selama berpuluh tahun mengungkungi negeri beruang merah tersebut.

Untuk menyambut kedatangan era keterbukaan di Uni Sovyet, Scorpion, band aliran cadas asal Jerman, dengan sengaja menciptakan lagu berjudul “Wind of Change“; angin perubahan. Ada rasa kepuasan dari penduduk dunia begitu mengetahui telah lahir bayi kebebasan di Uni Soviet tersebut. Bersamaan dengan itu pula, film Rambo yang mewakili kehebatan serdadu Amerika dalam lanjutan perang di Vietnam pun tak menjadi konsumsi politis lagi.

Meskipun masih “asyik” untuk ditonton ulang. Jhon Rambo yang diperankan oleh Sylvester Stallone memiliki kemampuan pribadi yang sangat piawai dan mandiri. Seorang diri dia mampu “ngeluruk tanpa bala” ke pedalaman Vietnam Utara untuk membebaskan tentara Amerika yang menjadi tawanan Vietcong.

Di sisi lain Amerika banyak memiliki petinju berbakat yang siap sedia untuk meramaikan panggung pertarungan di segala kelas yang ada. Di antaranya adalah Cassius Marcellus Clay Jr. Cassius Clay melakukan debut melalui jalur amatir sebagai atlet tinju Amerika yang meraih medali emas dalam Olimpiade tahun 1960. Setelah matang di jalur amatir, Cassius Clay mulai merambah dinia tinju profesional.

Mengalahkan Sonny Liston

Pada tahun 1964, Cassius Clay meraih sabuk juara tinju kelas berat dunia, setelah membuat Sonny Liston harus mengundurkan diri sebelum usai pertandingan. Sonny yang merajai kelas berat harus takluk dari legenda baru Amerika Serikat tersebut.

Cassius Clay muda, secara perlahan tapi pasti, mulai menjelma menjadi mesin uang dan seorang legenda baru di dunia tinju profesional Amerika. Gaya bertinju Clay, yang flamboyan menjadi tontonan yang menarik untuk dinikmati. Tinju yang sebelumnya hanya merupakan tontonan kaum pinggiran mulai merangsek masuk ke kalangan elite dan kaum selebritas.

Kelas penonton mulai berubah dan bergeser ke ranah yang lebih berkelas. Jadi tidak mengherankan apabila untuk menyaksikan tinju profesional, ada di antara para penonton yang datang dari jauh dengan menggunakan pesawat jet pribadinya.

Penampilan Clay di atas ring selalu mengundang decak kagum dari segenap penonton yang pernah menyaksikannya bertinju. Clay mengubah cara tinju yang vulgar menjadi lebih artistic; lebih eksotik. Publik juga masih ingat dengan teknik “rope a dope” yang membuat lawannya geregetan. Clay membuat tinju menjadi atraksi seni yang menarik untuk ditonton. Clay menyajikan tinju sebagai olah raga yang pantas dibayar dengan nilai tiket berapa pun harganya.

Pada tahun yang sama ketika debut profesionalnya dimulai, 1964, Clay yang ketika itu berusia 22 tahun, mengubah keyakinannya menjadi seorang muslim. Sejak itu ia memilih nama Muhammad Ali sebagai nama baru pengganti Cassius Clay, nama lamanya. Ketika itu dunia tinju, tinju profesional mulai hingar bingar dan penuh bergelimangan dollar.

Atlet tinju profesional kelas berat menjadi atlet yang memperoleh bayaran tertinggi di antara atlet olahraga yang ada. Nilainya mengalahkan pendapatan atlet soccer dan baseball yang ketika itu sudah sangat populer di Amerika Serikat.

Muhammad Ali mulai memenuhi hati masyarakat penggemar tinju di Amerika. Predikat legenda tinju mulai berpindah kepada diri Muhammad Ali. Bahkan kemudian mampu menarik jutaan pasang mata orang yang tidak gemar tinju, jadi ikut-ikutan menjadi penonton setia dan menganderungi olahraga tinju.

Fenomena sosok Ali, di kalangan media pun kian melekat sebagai figure baru di dunia “entertainment”. Setiap langkah dan tindak tanduk Ali menjadi laik berita dan menjadi warta yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat dunia. Setiap ucapannya ibarat minuman penawar dahaga bagi pembaca surat kabar dan pemirsa tv. Dalam pada itu Muhammad Ali mendapat salah satu julukan sebagai si “mulut besar”. Ali menjadi piawai membolak balikkan perasaan lawannya melaui perang urat saraf —psy war.

Dia selalu memanfaatkan momentum konperensi pers untuk mengirim pesan yang bisa menjatuhkan mental lawan tandingnya, sambil berkoar-koar di hadapan para kuli tinta dan di depan sorotan puluhan kamera tv, Muhammad Ali membuat statement yang mengundang reaksi dan mempengaruhi lawan secara emosional.

Walk of Fame Hollywood

Ali menikmati betul suasana ini yang dijadikannya sebagai sarana, di satu sisi untuk meningkatkan kepercayaan diri, di sisi lain untuk menggoyahkan kepercayaan diri lawan serta membuat siapa saja yang akan bertanding dengannya agar membuat pertimbangan dan perhitungan yang matang.

Ali juga memanfaatkan setiap siaran tentang dirinya untuk menyampaikan pendapatnya tentang sesuatu, secara tanpa tedeng aling-aling. Termasuk alasannya untuk tidak bersedia mengikuti wajib militer, serta keberatan-keberatan lainnya yang dianggap tidak sesuai dengan azas demokratis.

Pesan-pesan Ali mampu menembus lima benua. Sosok Muhammad Ali tidak hanya menjadi legenda tinju Amerika Serikat, seperti Rocky Marciano, melainkan juga sebagai representasi legendaris petinju dunia. Pesona Ali masuk dalam penghargaan Walk of Fame Hollywood, bersama dengan bintang-bintang yang pernah memeriahkan pentas pertunjukan dan dunia perfilman di Amerika.

Namun namanya tidak muncul di lantai jalanan, yang menjadi boulevard utama sebagaimana pesohor lainnya. Akan tetapi nama Muhammad Ali, menempel lekat di salah satu dinding pada jalur lalu lalang para seleberitas dunia dan masyarakat umum di bagian gedung tersebut.

Muhammad Ali pernah membuat orang geleng-geleng kepala ketika dia menjadikan Antonio Inoki, pegulat professional Jepang sebagai lawan tandingnya di atas ring. Alih-alih pertandingan berjalan seru, malah menimbulkan sesuatu yang lucu dan membosankan.

Penonton banyak yang merasa kecewa sembari mengurut dada menyaksikan dagelan yang sedang berlangsung di atas ring. Sebagian lagi mencak-mencak karena merasa dirugikan dengan sajan yang tidak professional sama sekali.

Bukan hanya ketika berada di dalam ring tinju saja, di luar ring tinju juga, Ali banyak membuat sensasi yang unik. Bahkan terkesan konyol untuk ukuran orang terkenal. Ali suka membual dengan hal-hal yang tendensius dan terkadang di luar jangkaun akal sehat.

Tapi masyarakat tetap tidak peduli. Dan hal itu tak kan menjatuhkan popularitas dirinya. Ali tidak canggung-canggung menyatakan dirinya sebagai “The Greates” dan pernyataan lain yang mendukung kebesarannya. Muhammad Ali seperti memiliki waham kebesaran. Tapi dia kadung menjadi idola dalam dunia tinju profesional.

Popularitas Muhammad Ali di Indonesia dapat dirasakan pada setiap kali ada pertandingan tinju yang menampilkan dirinya melalui layar kaca. Kota Jakarta yang padat tiba-tiba terasa lengang dan sepi seperti dalam suasana sedang mudik lebaran. Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Thamrin yang terkenal sering macet, sejenak terbebas dari orang dan kendaraan yang berlalu lalang.

Masyarakat terpaku dan lebih memilih menonton pertandingan dari pada harus keluar rumah untuk beraktivitas hingga pertandingan tinju selesai. Pesona Ali bisa menghipnotis siapa saja untuk menyaksikan dirinya bertanding. Bahkan jutaan pasang dari sagala penjuru dunia tak luput dari pengaruh kekuatan magnet Ali.

Pengalaman tindakan rasial yang diterimanya ketika kanak-kanak, membentuk dirinya menjadi aktivis sosial di kemudian hari. Muhammad Ali juga merupakan seorang filantropis, yang selalu mengkampanyekan antirasial dan antipeperangan. Ali yang bergelut dengan segudang permasalahan pribadinya masih bisa membagi perhatian kepada lapisan masyarakat lainnya yang membutuhkan bantuan.

Lamat lamat masih terngiang nyanyian Johnny Wakelin – Black Superman:Muhammad… Muhammad Ali// he flots like a butterfly, stings like a bee…; Muhammad… Muhammad Ali// he floats like a butterfly, stings like a bee…“, semakin lama semakin menghilang. Kini Muhammad Ali telah dipanggil pulang. Akan tetapi nama besarnya tetap akan menghiasi lembaran sejarah kemanusiaan, khususnya di bidang olahraga tinju. Selamat Jalan Muhammad Ali, semoga mendapat tempat yang layak di sisi TUHAN-mu…***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *