Akhir Kisah Efsun dan Bahar

Hingga kini serial drama televisi asal Turki ini sudah menjelang tamat. Tapi kisah ini masih berbelit-belit seperti tanpa kesudahan. Efsun masih saja meraja lela dengan gaya “menyebalkan” yang dipertontonkannya. Status asli Efsun tetap tak terkuak dengan gamblang. Meskipun “clue“nya sudah banyak ditampilkan untuk menuju kepada jawaban yang sahih. Tapi tetap saja bolak balik antara samar dan ketidakpastian.

Sikap pongah Efsun banyak mengundang rasa “sepet” di kalangan penonton yang selalu setia menonton serial ini. Penampilan Efsun selalu mengundang hujatan dari para “pendukung setia” Bahar.

Wajah Efsun yang rada “belagu” sangat mendukung untuk memerankan karakter orang yang munafik; sok keren dan kontroversial; paradoks. Sutradara sangat piawai dalam menentukan siapa yang jadi Efsun siapa pula yang jadi Bahar. Bahar (diperankan oleh Ezgi Asaroglu), memiliki kepribadian yang jungkir balik 180 derajat dengan kepribadian Efsun.

Bahar lembut dan memiliki wajah yang teduh. Meski dalam keadaan sedang marah sekali pun, wajahnya tetap cantik dan imut. Sedangkan Efsun (Ceyen Moray) mengundang berjuta kebencian. Mulutnya yang asal jeblag menjadi ciri yang melekat pada dirinya.

Bagaimana akhir kisah Efsun dan Bahar
Menanti kisah Efsun dan Bahar yang tidak berkesudahan tanpa ada kata bosan

Bibit bebet bobot memegang peran penting atas karakter yang dimiliki seseorang. Ibu yang lembut akan menurunkan sikap yang sama secara ginetis. Sementara Nuran (Yesim Cerem Bozoglu) adalah Ibu yang tidak bisa dijadikan teladan. Tendensius, penipu dan cerewet. Dan hasilnya adalah anak seperti Efsun. Setali tiga uang.

“Gimana kelapa, begitulah minyak, gimana orang tua begitu pula anak”. Ungkapan yang akrab dalam masyarakat Aceh ini, bisa mewakili bagaimana genetik bisa mempengaruhi tumbuh kembang seseorang.

Efsun boleh jadi sebagai salah satu contoh betapa orang tua bisa membentuk karakter anaknya secara alamiah. Walaupun lingkungan juga bisa mempengaruhi, tapi cekokan orang tua lebih banyak melekat pada kepribadian anak. Efsun seperti menurunkan sifat si Mbok-nya, Nuran. Meskipun tidak persis sama, tapi sifat culas sama-sama ada pada diri mereka berdua. Mereka tidak pernah merasa bersalah dan bahkan masih berani mengeluh kepada tuhannya, bila ada masalah yang menimpanya.

Hari demi hari

Hingga pertengahan tahun 2016 ini jumlah episode serial Efsun dan Bahar sudah menembus angka 150-an. Ini termasuk angka fantastis bagi sebuah serial televisi. Tapi arah untuk menuju kepada permasalahan belum kunjung terkuak. Hanya gertak sambel dari imajinasi sutradara saja yang selalu memengaruhi perasaan pemirsa. Malam demi malam penonton dibuat penasaran dalam menanti akhir cerita.

Anehnya bila tidak berakhir malam ini maka penonton dengan setia menunggu pada episode selanjutnya, begitu seterusnya. Sementara itu kisah ini baru mencapai separuh perjalanan. Masih ada ratusan episode lagi yang antri untuk ditayangkan. Jadi butuh waktu beberapa bulan ke depan untuk mengetahui akhir kisah Efsun dan Bahar ini.

Bagi orang yang sudah kadung kepincut dengan jalur cerita serial ini, tak masalah selalu berada dalam penantian. Meskipun ada di antara mereka yang merasa geregetan sendiri ketika menonton. Apalagi hari demi hari terus menyaksikan sikap dan tindak tanduk Efsun yang sangat menjengkelkan.

Penonton tak merasa hatinya terus dibolak balik dengan tarik ulur yang terjadi di dalam cerita. Malah sebaliknya semakin hari semakin bertambah penasaran. Sambil terus mencak-mencak kepada tokoh Efsun setiap kali dia hadir dan berbicara dalam dialog.

Penonton lupa bahwa tanpa Efsun yang memiliki kepribadian nyeleneh itu maka serial ini akan hambar, tanpa gereget. Peran antagonis Efsun yang merengkel, berdampak mengundang kejengkelan yang luar biasa terhadap dirinya. Dan karena itu pula penonton setia, dan sekaligus sebagai pendudung Bahar ingin menyaksikan bagaimana akhir dari perjalanan hidup Efsun.

Kematian Nuran kibat kecelakaan bis ketika perjalanan ke Istambul, terasa hambar sebagai suatu bentuk hukuman dan dianggap tidak menyelesaikan masalah. Karena bukan hanya Nuran yang terhukum akibat kecelakaan tersebut. Bus yang terbakar dan menghanguskan penumpang tidak cukup tragis memberikan hukuman yang setimpal bagi Nuran yang sudah memisahkan anak manusia dari orang tua kandungnya secara licik.

Seharusnya dia perlu mengalami hukuman yang setimpal sebelum akhir hayat menjemputnya. Harus merasa hukuman sepanjang hidupnya; seumur hidupnya. Karena yang dilakukan oleh Nuran adalah menciptakan sebuah tragedi kemanusiaan yang memiriskan.

Nuran adalah aktor utama di balik peristiwa ini. Melenyapkan nyawa orang dan menukarkan bayi yang tidak berdosa. Perbuatan Nuran telah memutuskan nasab (silsilah) yang menghilangkan hubungan perwalian anak perempuan dan ayah kandungnya; serta mengaburkan sutrah (tabir) tentang hubungan muhrim antara anak perempuan dengan “ayah-ayahan”nya. Yang dilakukan Nuran bukan kesalahan kecil; bukan dosa yang kecil. Ini ibarat dosa yang tak terampuni.

Kepentingan bisnis

Para pemirsa tinggal menanti bentuk hukuman yang bagaimana yang akan dilalui oleh Efsun beserta orang-orang yang bersekongkol dengannya. Penonton tentu mengharapkan Efsun yang menyebalkan ini akan mendapatkan hukuman yang sesuai dengan perbuatannya; harus mengalami kepedihan yang luar biasa terlebih dahulu. Akan tetapi sangat tergantung kepada si pembuat cerita. Apakah akan mengikuti hasrat penonton yang sudah diombang ambing sekian lamanya, atau menerapkan hukuman yang sesuai dengan keinginan penonton atau bahkan memberi hukuman di luar ekspektasi penonton.

Menjelang akhir kisah, penonton juga sudah mereka-reka bahwa Bahar akan berkumpul kembali dengan orang tua kandungnya. Dan Efsun akan berhadapan dengan hukuman atas perbuatannya. Tapi yang sulit ditebak adalah di mana, kapan dan bagaimana titik balik dari cerita ini. Seratus lima puluh episode bukanlah hitungan yang sedikit bila dikonversikan dengan bulan. Ada 150 kali lamanya penonton hadir dengan semangatnya di depan televisi, dengan rata-rata durasi per tayangan selama 60 menit; lumayan lama.

Di balik sebuah serial, selalu ada kepentingan bisnis yang sulit dinafikan. pencapaian rating yang baik akan dimanfaatkan sebaik-baik oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Ya pebisnis, ya, pengelola media, serta produser yang menghadirkan serial ini. Ini sebuah tantangan sekaligus parameter yang dipergunakan untuk mengukur keberhasilan yang mengundang kebanggaan bagi si pembuat film/ serial.

Sementara itu penonton tidak merasa sedang dimanfaatkan di mana pandangan matanya selalu diharapkan hadir di depan layar kaca; apalagi merasa sebagai “korban” ekploitasi. Sama sekali, tidak. Semua berjalan “fine-fine” saja.

Sebetulnya kisah Efsun dan Bahar bukanlah serial yang istimewa bila dilihat dari perspektif yang lebih luas. Serial ini sama seperti serial lainnya yang pernah ditayangkan pada layar televisi Indonesia. Ada tokoh baik hati, ada tokoh antagonis, ada korban dari ketidakadilan, ada yang peragu dan segala macam karakter yang mewakili sifat-sifat yang ada di tengah masyarakat. Tak peduli dari belahan dunia mana.

Yang disuguhkan adalah sifat manusiawi; manusia universal. Meskipun didukung oleh bintang-bintang terbaik Turki, akan tetapi serial televisi ini, tidak banyak mengundang kekaguman atas peran para pemainnya.

Akting yang ditunjukkan para pendukungnya biasa-biasa saja, tak jauh beda dengan akting para bintang yang sering tanpil dalam sinetron Indonesia. Tantangan untuk membawa peran yang sulit untuk menguji kemampuan acting para pemainnya tidak muncul di dalam setiap episode. Padahal baik Bahar maupun Efsun, termasuk bintang papan atas yang sudah berkali-kali meraih award atas perannya di bebarapa serial dan film layar lebar di Turki.

Tapi barangkali penonton tidak terlalu menghiraukan kualifikasi yang sedemikian rupa. Yang penting menikmati, merasakan dan menyaksikan apa yang berlaku di dalam alur ceritanya, sambil berguman bahwa adakalanya di dunia ini memang masih ada manusia yang tega berbuat kejahatan sedemikian rupa.

Dan kejahatan yang hampir sama itu, selalu muncul menjadi inti dari cerita dalam serial, sinetron dan telenovela yang pernah disaksikan di layar kaca televisi swasta Indonesia. Toh bagi para pemirsa, tetap saja menarik untuk ditonton dan tidak akan pernah ada kata bosan…*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *