Ooh Makjang, Medan….!

Ada apa dengan Medan? Hujan keterusan jadi banjir; tidak hujan juga masalah. Orang Medan seperti berada dalam situasi dilematis: “tak tahan panas mengharap hujan; mengharap hujan takut banjir”. Yang jelas Medan kini terasa menyesakkan, dan panasnya juga sangat menyengat.

Dulu cuma di Belawan saja yang terasa panas menyengat. Tapi sekarang Medan pun ikut-ikutan panas. Perkembangan kota tidak cukup dibarengi dengan penyediaan ruang kosong untuk paru-paru kota dan penghijauan. Pohon-pohon tua satu demi satu mati atau ditebang demi kepentingan peningkatan jalan atau untuk segala jenis bangunan, tanpa ada pengganti yang sebanding. Berkurangnya jumlah pohon mengakibatkan berkurangnya daya serap air hujan yang ujung-ujungnya terjadi banjir di sana sini.

Perkembangan pesat penduduk kota selalu diikuti dengan pertumbuhan alat transportasi kota yang tak kalah cepatnya. Belum lagi kecenderungan bertambahnya kepemilikan kendaraan pribadi roda dua, roda empat serta angkutan umum dan beca bermotor. Asap kendaraan memberi andil yang sangat signifikan atas kenaikan suhu udara kota Medan. Asap juga berbahaya bila menembus nilai ambang batas yang diperkenankan bagi suatu lingkungan. Asap yang dihasilkan dari knalpot kendaraan yang terdeteksi di Medan telah melampaui ambang batas kualitas udara yang ditetapkan.

Nilai kualitas udara belakangan ini di Medan pun tidak terdeteksi secara konsisten. Peralatan pemantau kualitas untuk dan mengukur indeks standar pencemar udara udara yang terpasang pada beberapa sudut kota yang strategis di Medan, instrumennya tidak bekerja dengan baik. Kondisi ini menimbulkan keperihatinan bagi penggiat kelestarian lingkungan. Diperlukan upaya kerja sama yang baik antara pemerintah kota dengan departemen terkait yang mengurus masalah pencemaran udara.

Macet
Macet yang menyesakkan dapat memicu stress

Tapi banyak diantara masyarakat yang tidak terlalu menghiraukan hal ini lantaran kurang memahami haknya sebagai anggota masyarakat. Masyarakat kurang menyadari bahwa perubahan kualitas udara memberi dampak bagi kesehatan secara keseluruhan.

Kadar plumbum (Pb) yang ada dalam partikel udara ikut menjadi pemicu stress dan tingkat emosi sebagian masyarakatnya, terutama yang terpapar dalam jangka waktu lama dan berlangsung secara berulang-ulang; terus menerus.

Meskipun watak bawaan memang ada yang bertemperamen tinggi. Tapi sepertinya kandungan partikel pencemar dan polutan yang menyelimuti beberapa ruas jalan yang padat di kota Medan memberikan stimulus yang sangat besar bagi perubahan peningkatan sensitivitas seseorang.

Siklus udara kotor-panas-emosional-temperamental (meledak-ledak-mudah tersinggung-mudah marah)-stress-gampang terserang penyakit, menjadi fenomena yang biasa menjangkiti sebagian masyarakat.

Hak masyarakat

Dampak secara ekonomis adalah peningkatan konsumsi bahan bakar minyak bagi kendaraan dan meningkatnya pengeluaran biaya pengobatan. Di samping itu terjadi penurunan terhadap kualitas hidup masyarakat. Hak masyarakat untuk memperoleh lingkungan yang baik seperti terabaikan.

Masyarakat tak tahu menahu tentang peran pemerintah daerah untuk mengantsipasi kondisi ini agar tidak semakin parah. Setidak-tidaknya ada kampanye tentang pengendalian kualitas lingkungan hidup. Apakah dilakukan oleh pihak pemerintah kota Medan sendiri ataupun dengan melibatkan para akademisi dan komponen pegiat lingkungan lainnya.

Sebetulnya kota Medan adalah kota yang dasarnya asri dan nyaman. Saat ini stigma demikian hanya dapat dirasakan di beberapa daerah pinggiran kota dan di lingkungan perumahan eksklusif. Namun demikian masyarakat yang bermukim di pinggiran kota, dan penghuni perumahan yang menjadi commuter pun ikut berkontribusi dalam menghasilkan asap kendaraan di tengah-tengah kota.

Berbeda dengan beberapa kota besar lainnya di Indonesia, format dan tata letak kota Medan telah menyebabkan penumpukan kendaraan yang lalu lalang terjadi pada kantong-kantong bisnis di kawasan tertentu saja.

Karena kotanya yang relatif tidak besar, maka kepadatan kendaraan tidak mudah berurai. Pada umumnya masyarakat beraktivitas dengan memanfaatkan ruas jalan yang “sama”. Sehingga ke mana pun hendak pergi ataupun pulang, relatif akan melalui jalan penghubung yang sama. Sedikit sekali ketersediaan jalan alternative yang bisa dimanfaatkan dan berguna untuk mengurai kemacetan.

Sementara itu kenaikan jumlan panjang dan ruas jalan di dalam kota Medan tidak mampu mengimbangi (sebanding dengan) peningkatan jumlah kendaraan bermotor. Kalau tidak disebut stagnasi. Maka intensitas produksi asap kendaraan yang menumpuk akan semakin lama lepas ke udara terbuka. Karena di picu oleh perlambatan laju kendaraan yang terjebak kemacetan.

Di sisi lain, pohon yang seharusnya dapat berfungsi sebagai penangkap carbon monoksida (CO), tidak banyak ditemukan di sisi jalan. Maka jadilah Medan sebagai kotayang sarat polusi, tapi minim penanggulangan.

Carbon dioksida

Kelebihan jumlah kadar carbon dioksida (CO2) di dalam udara juga dapat menjadi ancaman dan menimbulkan peningkatan suhu udara sehingga suasana lingkungan menjadi panas serta memberi kontribusi bagi pemanasan global.

Sebetulnya “kehadiran” pohon-pohon di dalam kota mutlak harus diperhatikan oleh pemerintah kota Medan. Tujuannya di samping sebagai penghias untuk keindahan kota, juga berperan sebagai penyejuk dan perindang, serta berfungsi sebagai sarana untuk mereduksi pencemaran udara yang disebabkan oleh CO dan kelebihan produksi CO2.

Hujan juga memberikan permasalahan tersendiri bagi kota Medan. Banjir sudah menjadi pemandangan yang biasa terjadi kota Medan. Padahal kota Medan merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki saluran drainase terbaik di Indonesia di samping kota Yogyakarta. Sayangnya drainase yang didesain lengkap dengan lorong-lorong inspeksi tersebut, selama ini, tidak difungsikan secara optimal.

Gorong-gorong yang dibangun pemerintah Hindia Belanda merupakan saluran untuk penggunaan prediktif berpuluh-puluh tahun ke depan. Tapi hal itu harus didasarkan kepada bentuk pemeliharaan yang mengikuti kaidah-kaidah predictive dan preventive maintenance ditetapkan. Termasuk di dalamnya bagaimana menata sikap hidup masyarakat di dalam mengelola sampah miliknya; think sampah, safe selokan.

Drainase yang dibangun belakangan diyakini tidak terintegrasi dengan baik antara satu wilayah dengan wilayah rawan banjir yang terdapat di seantero kota Medan. Maka meskipun hujan turun tidak begitu lebat, maka sekonyong-konyong akan muncul genangan air yang mengganggu aktivitas dan transportasi.

Bukan hanya budaya gotong royong dan kerja bakti yang pelu digalakkan, akan tetapi juga bagaimana mengubah mindset masyarakat dari segala lapisan dan elemen, tentang sampah juga merupakan unsur yang sangat penting untuk menjaga kota Medan agar bersih dan bisa mengurangi ancaman banjir.

Apapun ceritanya, untuk menjadikan Medan sebagai kota yang nyaman dan asri, seperti sedia kala, sangat dibutuhkan kerja keras dari semua unsur, mulai dari keseriusan program kerja pemerintah untuk penghijauan hingga peranserta masyarakat secara luas.

Program satu orang satu pohon, misalnya, bisa dijadikan pintu masuk ke dalam upaya menjadikan kota Medan sebagai kota yang hijau. Pohon sebagai penyangga dapat berfungsi sebagai sarana penyerap air hujan yang dapat mengurangi intensitas banjir. Pemerintah harus menjadi fasilitator yang berperan aktif untuk membangkitkan perhatian masyarakat.

Ruang-ruang terbuka kosong harus dipertahankan sebanyak yang bisa disediakan pemerintah. Bertujuan untuk dijadikan ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai paru-paru kota dan sarana di dalam menghasilkan udara bersih (oksigen), serta untuk mengendalikan banjir.

Tentu saja upaya ini harus diikuti dengan tindakan nyata; bukan tindangan vested interest yang terkesan separuh hati. Kemudian terhadap fasilitas yang disediakan perlu diikuti dengan penekanan pada sistem pemeliharaan secara berkelanjutan dan konsisten. Ooh Makjang Medan, parah kalii rupanya…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *