Bintang Latin di Panggung Sepakbola Dunia

Saat ini berjuta pasang mata sedang tertuju untuk menyaksikan perhelatan Piala Eropa yang sedang berlangsung di Prancis. Rasanya terlalu rugi bagi setiap penggemar sepakbola untuk melewatkan setiap pertandingan yang disiarkan oleh stasiun televisi swasta di Indonesia.

Karena bertepatan dengan bulan puasa Ramadhan 1437 hijriyah, maka jadual pertandingan tengah malam waktu Indonesia dapat dimanfaatkan sambil menikmati makan sahur untuk persiapan puasa keesokan harinya. Sepakbola sudah seperti olahraga wajib yang harus ditonton, terutama piala Eropa dan Piala Dunia.

Di belahan dunia lain, dengan hanya berselisih waktu sepekan, di Negeri Paman Sam, kebetulan juga sedang berlangsung pertandingan perebutan Piala Amerika (Copa America). Akan tetapi semarak perhelatan tidak sehebat apa yang sedang berlangsung di negeri “l’hexagone“, Prancis Metropolitan.

Gemerlap suasana pertandingan di Piala Eropa seakan meneggelamkan kehebatan Piala Amerika yang sedang berlangsung bersamaan. Seakan Piala Amerika berada pada skala prioritas kedua di bawah hingar bingar Piala Eropa. Maka baik pemberitaan media tulis ataupun media televisi tidak semeriah pemberitaan seperti menyajikan pemberitaan Piala Eropa.

Piala Amerika dan Piala Eropa 2016
Lambang Supremasi Piala Amerika dan Piala Eropa 2016

Sejenak melihat ke belakang, rangkaian perkembangan sepakbola dunia hingga saat ini, di belahan benua Amerika Selatan, telah membentang sejak dari Pele hingga Messi yang saat ini berada di puncak karirnya yang cemerlang. Benua latin Amerika, telah mendapat anugerah untuk menjadi negeri lumbung yang tak pernah putus melahirkan pemain-pemain bintang yang melegenda sepanjang sejarah sepakbola dunia.

Hampir semua kompetisi liga di seluruh Eropa selalu ada pemain latin yang hadir di dalamnya. Nama mereka menjadi bagian terpenting dari setiap jengkal persoalan sepakbola dunia.

Entah apakah georafis bisa berperan sebagai faktor yang dapat menentukan lahirnya talenta sepakbola, ataupun entah lantaran sepakbola sudah menjadi darah daging etnis hispanik yang sejak kanak-kanak sudah mengenal sepakbola, sehingga memudahkan pembentukan pemain handal di kemudian hari. Dan kemudian laku ditransfer dengan harga-harga yang fantastis. Mentalitas latino mungkin lebih baik dalam membangun ketekunan dalam berlatih sepakbola.

Alfredo di Stefano

Padahal sekolah sepakbola dan fasilitas yang tersedia di negeri-negeri Amerika Latin, tidaklah sebaik yang dimiliki negeri-negeri lain semisal di negara Eropa. Akan tetapi sejak dulu pemain luar biasa selalu saja muncul silih berganti dari belahan dunia ini; tak pernah berhenti.

Bila faktor komersial menjadi dasar yang mempengaruhi tumbuhnya talenta seseorang, maka ketika masa di Stefano (Argentina/ Spanyol), Pele (Brasil), dan Eusebio (Portugal) sedang menggapai masa keemasannya –meskipun dikoversikan kepada nilai mata uang–, maka pendapatan dan harga transfer pemain bola tidaklah sefantastis saat ini. Tetapi pemain-pemain ini sudah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi perkembangan sepakbola yang menjelma sebagai ajang olahraga yang paling bergengsi.

Waktu itu memang profesionalisasi kelas sepakbola untuk menuju sepakbola dengan sentuhan manajemen modern belum berlaku seperti yang terlihat belakangan ini. Kalau pendapatan dan gaji tinggi yang menjadi faktor stimulus, maka ianya bukanlah satu-satunya. Hanya salah satu faktor saja. Faktor yang lainnya sepertinya mengarah kepada kultur, lingkungan dan geografis, yang didukung oleh mental yang baik; tidak mudah menyerah.

Alfredo di Stefano adalah imigran dari Argentina yang kemudian memilih menjadi warga negara Spanyol. Di Stefano menjadi legenda sepak bola sepanjang abad, diikuti kemudian oleh Pele yang memberikan warna sepakbola kian berkilau dengan memadukan kekuatan, seni dan skill. Di Stefano kemudian menjadi pemain nasional Spanyol, dan merupakan pemain sepakbola yang pernah menjadi pemain nasional untuk tiga negara secara bergantian, yaitu, sebagai pemain nasional Argentina; pemain nasional Colombia dan terakhir sebagai pemain nasional Spanyol.

Di Stefano yang banyak menerima penghargaan, bukan hanya menjadi legenda Real Madrid semata, melainkan juga telah ditabalkan sebagai legenda dunia sepakbola.

Lahirnya pemain-pemain berbakat yang berskala dunia, juga mengalami fase-fase seleksi secara alamiah. Ada yang terus melaju ke puncak karir dan menjelma menjadi pemain legenda ada pula yang biasa-biasa atau bahkan kandas di tengah jalan. Dunia sepakbola profesional membuat persaingan menjadi sangat ketat. Industrialisasi dan komersialisasi sepakbola tidak lepas dari peran mereka yang menjadi idola bagi negara dan fans kesebelasan yang dibelanya.

Banyak bintang sepakbola latin yang berkibar menjadi bintang dunia, berasal dari benua latin. Sebut saja seperti: Francescoli (Uruguay), Maradona, Messi (Argentina), Romario, Luiz Ronaldo (Brasil), Cubilas (Peru), Zamorano (Chile). Dan masih banyak lagi jika semua disebut namanya.

Benua latin seperti ditakdirkan menjadi gudang pemain bola dunia ternama. Masing-masing negeri yang berada di belahan benua Latin Amerika, memiliki pamain yang berkibar di tingkat dunia. Nama mereka tidak hanya populer di dalam negeri sendiri, melainkan juga dikenal oleh masyarakat penggemar sepakbola di mana pun berada. Di antara mereka kemudian menjadi legendaris dunia sepakbola.

Para pemain latin tersebar memperkuatkan klub-klub terkuat dunia, terutama di liga-liga Eropa. Sehingga sangat mudah bagi penonton setia siaran sepakbola untuk menghafal nama-nama mereka. Nama mereka juga menjadi idola para pendukung fanatik klub-klub sepakbola yang ada. Di belakangnya, di kemudian hari, telah lahir pemain-pemain berbakat yang mewarisi kepiawaian di Stefano untuk menjadi pemain pujaan dunia.

Sisi latin di benua Eropa

Benua Eropa, juga memiliki sisi latin yang tidak jauh berbeda dengan saudara latin mereka di benua Amerika. Terdapat beberapa Negara Eropa yang bernuansa latino, sebut saja seperti: Spanyol, Portugal, Italia dan Prancis. Di samping di Stefano yang menjadi bintang Negara Spanyol, penggemar sepakbola juga tidak lupa dengan bintang mereka yang lahir belakangan seperti: Emilio Butragueno hingga Fernando Torres; demikian juga Portugal yang mempunyai kebanggan seperti: Luiz Figo dan Christiano Ronaldo; dari Italia ada Roberto Baggio dan Paolo Rossi.

Prancis memiliki Michael Platini dan Zineddine Zidan. Zidan meskipun merupakan keturunan Aljazair, tapi Zidan lahir dan dibesarkan dengan suasana Prancis, di lingkungan kultur yang membentuk karakternya sebagai pemain sepakbola. Bahkan di antara negeri ini terdapat klub yang isinya merupakan para bintang sepakbola yang menjadi idola masyarakat dunia.

Eropa adalah barometer sepakbola dunia mewakili masyarakat sepakbola secara universal Eropa juga menjadi kiblat sepakbola dunia. Pemain bintang dari berbagai pelosok dunia banyak yang merumput di berbagai liga yang tersebar di berbagai negara Eropa. Promosi jersey dan segala macam komoditas dikemas secara sangat bombastis melalui ruang yang ada dalam bingkai pertandingan sepakbola, dengan biaya yang tidak kecil. Iklan dalam sepakbola dianggap paling efektif untuk memperkenalkan produk.

Meskipun belum ada penelitian dan sensus, diduga kuat penonton sepakbola adalah terbanyak jumlahnya dibandingkan penonton olahraga lainnya. Baik yang menyaksikan secara langsung, ataupun melalui layar kaca. Bahkan untuk kepentingan promosi, tidak sedikit bintang sepakbola yang memiliki banyak fans di seluruh dunia dimanfaatkan untuk menjadi model iklan.

Boleh jadi piala Amerika lebih sepi penontonnya dibandingkan penonton yang menyaksikan Piala Eropa dari layar kaca. Tapi para bintang yang sedang merumput di Eropa, banyak yang ikut bertanding untuk membela negaranya masing-masing di ajang “perayaan” seratus tahun Piala Amerika yang sedang berlangsung di Amerika Serikat.

Di klub, kehadiran mereka bukan sekadar sebagai pemain pelengkap semata, akan tetapi mereka menjadi ruh yang menentukan kemenangan bagi timnya masing-masing. Mereka berperan sebagai figur yang mampu memberikan warna bagi irama permainan tim mereka, menjadi penyemangat, menjadi panutan dan sekaligus menjadi tumpuan dalam berjuang untuk memenangkan pertandingan.

Meskipun, barangkali, gegap gempita Piala Eropa mengalahkan kemeriahan Piala Amerika, tapi dengan bertaburnya bintang internasional yang sedang bercahaya dalam kompertisi ini, membuat kualitas pertandingan Piala Amerika tidak kalah hebat dibandingkan pertandingan-pertandingan yang berlangsung di ajang Piala Eropa. Bravo Centenario, Piala Amerika…!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *