Tangis Dan Bahagia Dua Makhluk Alien Di Dunia Sepakbola

Tahun 2016 ini terjadi hampir bersamaan antara pelaksanaan Piala Eropa, Piala Amerika. Kedua perhelatan ini telah mendapatkan juara baru untuk tahun 2016. Piala Amerika kembali direbut oleh Chile, yang dalama pelaksanaan Piala Amerika yang ke-99, tuan rumah Chile juga dengan sangat impresif, menggulung Argentina di final. Kali ini lebih menarik, di samping merupakan perhelatan yang ke-100 tahun, juga menjadi ajang pembuktian, bahwa Chile bukan hanya perkasa di kandang sendiri.

Dalam perjalanan menuju final Chile melumat lawan-lawannya tanpa ampun. Permainan Chile seperti tanpa cacat, dengan kerja sama tim yang sangat padu. Meskipun di dalamnya hanya dihiasi oleh beberapa pemain bintang, tapi tidak segemerlap Messi di dalam tim Argentina.

Argentina bukan lah tim ayam kampung. Sejak penyisihan, tim Tango membuat clean sheets tanpa merasakan kekalahan. Tapi di final perasaan Argentina memang sedang ambigu. Khawatir akan terulang kisah pilu final 2015, dengan lawan tanding yang sama. Dan perasaan “inilah” yang menghantui jauh di dalam hati masing-masing pemain. Tak terkecuali Messi.

Di sisi lain ada semangat yang membara untuk saatnya menuntaskan dendam setahun yang lalu. Dari segi kualitas pemain, angan-angan membalas dendam, sepertinya akan menjadi kenyataan. Tapi ternyata hasil akhir berkata lain. Messi bukan hanya “jatuh” lantaran kekalahan, tetapi juga merasa gelo tak mampu mengubah eksekusi penalti menjadi gol. Padahal di samping piawai dalam menciptakan gol secara dinamis dengan pergerakan yang spektakuler, Messi juga dikenal sangat akurat dalam mengeksekusi bola-mati.

Apa yang dialami Messi juga pernah dialami oleh pemain bintang lainnya. Ketika berada dalam tekanan harus menang, enerji yang terbuang bisa lebih besar dari pada ketika bermain lepas tanpa beban apapun. Akibatnya konsentrasi bisa buyar tak terkendali. Dan hal ini tidak menghinggapi pemain-pemain Chile. Chile tetap bermain lugas dan tak memikirkan sama sekali bahwa mereka adalah juara tahun 2015. Yang mereka targetkan adalah menjadi juara tahun 2016, sekaligus memecahkan rekord mengalahkan tim hebat yang bertabur bintang, di final. Kemudian menjadi juara pada ulang tahun ke seratus tahun pelaksanaan Piala Amerika yang sudah dimulai sejak 1916. Sejauh empat puluh empat tahun sebelum piala Eropa dimulai.

Piala Amerika dan Piala Eropa 2016
Lambang Supremasi Piala Amerika dan Piala Eropa 2016

Chile yang berada dalam sedikit bersitan eforia kemenangan tahun lalu, bukanlah tim yang dapat dipandang enteng. Meskipun tidak banyak memiliki pemain bintang, mereka dapat bermain kompak dan efisien secara tim. Tak ada kata tinggal diam atau bertahan dengan sistem ala grendel Italia dalam kamus Juan Antonio Pizzi, sang pelatih. Falsafah “pertahanan yang terbaik adalah menyerang” dengan konsisten dilaksanakan oleh anak-anak asuhnya. Dan hasilnya mampu mempertahankan skor 1-1, hingga akhir perpanjangan waktu. Modal kemenangan sebelumnya atas Argentina yang diunggulkan kala itu, dipapar kembali untuk memecut semangat “menang dalam adu penalti”.

Di lain pihak Argentina berada dalam tekanan yang luar biasa. Khawatir kembali membuat kesalahan dalam adu finalti yang dibalut dengan adanya sugesti akan kutukan yang menghatui setiap melakoni pertandingan final. Argentina adalah seeded teratas sebagai calon juara dalam pesta centenario (100 tahun) Piala Amerika. Namun Chile berhasil menjungkirbalikkan ramalan dan perkiraan masyarakat dan pers dari seluruh dunia.

Piala Eropa

Di belahan benua lain, tepatnya di Prancis, telah selesai dilaksanakan kejuaraan Piala Eropa. Peserta kejuaraan ini jumlahnya lebih banyak dari peserta yang ikut dalam kejuaraan piala Amerika yang hanya diikuti oleh 16 tim dari berbagai negara di benua Amerika. Tak ada silang pendapat tentang tim negara mana yang bakal menjuarai Piala Eropa kali ini. Hampir semuanya bersepakat, bahwa Jerman-lah yang pantas mengambil gelar tersebut. Pertandingan demi pertandingan yang dimainkan Jerman kian memperkuat sosok tim Bavaria ini memenuhi ekaspektasi dan prediksi orang banyak.

Sementara itu di bawahnya ada tuan rumah Prancis, Spanyol dan Portugal yang memiliki peluang sedikit lebih kecil di bawah Jerman. Tapi muncul pameo yang menggambarkan, “tim mana pun yang bisa mengalahkan Jerman atau Prancis, di semi final, maka tim ini pantas menjadi juara”. Perjalanan menuju final Prancis sebagai tuan rumah tidak memberikan gambaran bagi kemampuan sesungguhnya dari tim Ayam Jantan ini. Karena Prancis berada dalam grup yang relatif lunak. Kenyataan yang terjadi dalam semi final, Prancis menundukkan favorit juara, tim Panzer Jerman secara langsung 2-0, Prancis mendapat pengakuan bahwa mereka pantas berlaga di final dan kemudian merebut gelar juara untuk ketiga kalinya di ajang piala Eropa.

Pertandingan final Piala Eropa menawarkan warna tersendiri bagi Portugal. Tim yang memiliki bintang sekaliber Christiano Ronaldo ini selama Piala Eropa digulirkan, selalu kandas sebelum mampu meraih gelar juara. Hasil yang sangat memiriskan adalah ketika Portugal harus menangis di depan mata bangsanya sendiri. Dengan kesedihan yang mendalam, Portugal terpaksa mengakui kedigdayaan Yunani yang memecundangi mereka di final Euro 2004.

Namun kali ini dengan meyakinkan Ronaldo dan kawan-kawan, telah menunjukkan jati diri sesungguhnya, bahwa mereka bisa berbuat sesuatu yang berada di luar perkiraan orang banyak. Segala kesedihan seakan pupus dengan hasil yang gemilang, menggulung tuan rumah Prancis di depan sorotan mata penontonnya sendiri.

Akan halnya Prancis, sangat antusias untuk mengangkat kembali piala Eropa untuk ketiga kalinya. Sehingga sebagai tuan rumah Prancis berada di atas angin. Sepanjang pertandingan, Prancis terus mengurung pertahanan Portugal dan banyak melakukan serangan yang mencapai target ke gawang Portugal. Sayangnya tak satu pun yang berubah menjadi gol. Prancis memiliki ball possesion di atas angka 53 persen, lebih baik dibandingkan Portugal. Namun pertahanan Portugal dan kecemerlangan penjaga gawangn, Rui Patricio, mampu memaksa Prancis untuk sepakat melakoni perpanjangan waktu.

Cidera Ronaldo dan Kekecewaan Messi

Portugal yang kehilangan Ronaldo sejak menjelang menit kedelapan, akibat bentrokan dengan Payet, tidak patah semangat sedikitpun. Mereka tetap bermain lepas. Modal kekalahan sebelumnya tak sedikit pun membebani para pemain. Kehilangan Ronaldo menjadikan permainan Portugal kian terbuka dengan pendistribusian bola yang lebih merata. Yang sebelumnya selalu terpaku pada sosok Ronaldo, kini menjadi sebuah tim yang sangat dinamis. Pergerakan antarpemain semakin kentara.

Pada saat istirahat paruh waktu perpanjangan, Ronaldo memeluk erat Eder sambil berbisik. Ronaldo yang sedang cidera seperti mendapat wangsit dari “sang kupu-kupu kecil” yang hinggap di alisnya ketika menangis dalam dua makna; karena kesakitan yang luar biasa dan kesedihan karena tidak dapat memimpin rekan-rekannya untuk merebut gelar juara. Pesan sang kupu-kupu dibisikkan kembali untuk memotivasi Eder, yang akhirnya membuat sepakan kuat Eder pada menit ke-108 dari luar area penalti, tak mampu ditepis oleh salah satu penjaga gawang terbaik dalam dasawarsa terakhir ini, Hugo Lloris.

Bukan hanya Ronaldo, kebintangan Messi menjadi perhatian tersendiri dari pelatih lawan. Messi kerap mendapatkan penzaliman hampir di dalam setiap pertandingan. Bukan sekadar untuk mengirim dia ke bangku cadangan tetapi tidak sedikit pemain lawan yang ingin mengirim Messi ke meja operasi. Padahal Messi adalah aset kebanggaan puak latino yang mampu mengharumkan negaranya dan sekaligus rumpunnya di Amerika Selatan.

Messi selamat dari ancaman cidera yang sengaja ditebarkan pemain lawan, tetapi harus kecewa dengan hasil akhir pertandingan. Sedangkan Ronaldo harus ditandu dan tak dapat melanjutkan permainan, tetapi berbuah manis setelah dirinya untuk pertama kali bisa mencium tropi lambang supremasi Euro Cup tahun 2016 dengan penuh kebahagiaan.

Pertandingan sesungguhnya belum selesai tuntas. Publik sepakbola dunia dengan harap-harap cemas masih menunggu pertemuan dua juara dari masing-masing benua. Benua Eropa akan diwakili oleh Portugal, yang kemungkinan besar tanpa bisa menghadirkan Ronaldo. Sedangkan dari Benua Amerika, adalah Chile yang telah membuat Messi bersedih setelah tragedi adu penalti di akhir pertandingan final. Jadi tak mungkin berharap akan ada Messi di dalamnya…*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *