Lontong Medan Dan Mie Aceh Bertemu Di Yogyakarta

Mantan atasan saya ketika bekerja di Aceh dulu, sudah menjadi sahabat bagi saya. Kalau soal mencicipi makanan, dia memang jagonya. Apabila sudah statement enak, maka ninety persen makanan itu dijamin enak, tak perlu diragukan lagi. Hobinya berburu kuliner kemana pun dia bertugas, di samping orangnya sendiri memang hobi masak.

Kebetulan istrinya adalah campuran suku Minang dan Mandailing, jadi sudah jelas pula pintar masak. Dia sendiri adalah campuran antara suku Rao di perbatasan Sumatera Utara – Riau dan suku Karo, di Sumatera Utara. Yang satu jago masak, yang satunya lagi ahli pengecapan. Mirip-mirip tipis sama Pak Bondan Winarno, yang sering muncul di televisi itu.

Beberapa waktu yang lalu, “sahabat” saya ini berkunjung ke Yogyakarta untuk suatu tugas pelatihan tentang ilmu lingkungan hidup di lingkungan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta. Karena sudah beberapa hari terbiasa disuguhi makanan ala Yogyakarta yang rada manis, maka timbul hasrat untuk mencari menu lain yang mirip-mirip dengan cita rasa makanan di Sumatera.

Karena kami dulunya pernah bersama-sama tinggal Aceh, maka saya pun mencoba menawarkan masakan Aceh, yang menunya terdiri dari Nasi Goreng, Kare Ayam, dan Mie Aceh. Rupanya karena ketika di Aceh beliau hobi menyantap mie Aceh, dapat dipastikan pilihannya jatuh kepada mie Aceh. Saya memilih yang banyak kuahnya, sedangkan sahabat saya memilih mie Aceh tumis yang sedikit lebih kental.

Lontong Medan dan mie Aceh di Yogyakarta
Kelezatan kuliner Medan dan Aceh dapat dinikmati di Kota Yogyakarta

Saya menghabiskan apa yang ada di piring hingga sendok terakhir. Ternyata sahabat saya juga menyelesaikan hingga piring nyaris tampak bersih. Sejurus kemudian keluar komentar dari beliau: “rasanya persis kayak mie Aceh di Aceh; kalah mie Aceh yang ada di Titi Bobrok Medan”, katanya.

Titi Bobrok adalah salah satu lokasi penjualan mie Aceh yang ada di Kota Medan. Setiap penggemar mie Aceh di seputar kota Medan pasti hafal dengan lokasi tempat jualan mie Aceh tersebut.

Masakan khas Sumatera

Sejarah mie Aceh yang mengambil lapak di depan asrama putri Aceh “Bale Gadeng”, Sagan, Yogyakarta ini, dimulai sejak tahun 2005, yang dirintis oleh prantau asal Aceh yang membuka usaha warung mie Aceh. Dengan dibantu oleh seorang pemuda asal Kebumen, setiap harinya membuka warung sejak pukul 17.00 hingga pukul 23.00. Biasanya dia bisa menjual  15 hingga sampai 25 kilogram mie setiap harinya, belum termasuk nasi goreng dan nasi kare ayam atau kare kambing, yang taste-nya sama persis dengan masakan yang ada di Aceh.

Warung tersebut hanya memanfaatkan lahan di pinggir jalan yang dipasangkan tenda sementara cukup untuk dapat menempatkan sekitar 20 kursi, untuk menampung 20 orang yang makan berbarengan. Dan bila sedang penuh para penggemar mie Aceh biasanya bersedia untuk mengantri, menunggu sampai yang di bawah tenda selesai makan.

Di sudut perkampungan yang lain —masih di Yogyakarta—, juga terdapat masakan khas Sumatera. Siapa yang tidak pernah dengar “Lontong Medan”. Di warung yang menyediakan lontong Medan ini tersedia beberapa menu, antara lain adalah, Soto Medan, Daun Ubi Tumbuk, Sambal Teri dan Lupis. Tapi yang paling kesohor adalah Lontong Medan. Pengunjung warung ini hampir tak pernah putus. Penggemar kuliner datang silih berganti untuk menikmati menu yang disediakan di sana.

Semua makanan yang tersedia di sana sangat kental Medan-nya. Rasanya persis sama seperti ketika kita menikmati menu tersebut di tempat Kak Lin, Kampung Keling, ataupun Soto Sei Deli, Silalas, Medan. Tidak ada bedanya sama sekali. Terasa seperti sedang berada di Kota Medan.

Berbeda dengan mie Aceh, warung lontong Medan, menempati sebuah bangunan permanen yang memiliki desain minimalis dan sangat nyaman untuk ditempati. Lokasi rumah Makan Kinantan yang menyediakan masakan Medan ini, berada di Kampung Nologaten, yang masih termasuk ke dalam bilangan wilayah Seturan Yogyakarta. Meskipun ini merupakan lokasi baru ditempati, akan tetapi para pemburu kuliner Sumatera, tetap mencarinya hingga ketemu.

Ada hal yang menarik yang terdapat di balik kehadiran kedua masakan khas dari Sumatera ini. Yang satu berasal dari Aceh, yang satunya lagi berasal dari Sumatera Utara, tepatnya dari Kota Medan. Orang-orang yang pertama sekali mampir ke warung Mie Aceh, akan tidak percaya bahwa yang membuat racikan mie Aceh tersebut tidak sedikit pun mengerti tentang Aceh. Bukan hanya tidak mengerti bahasanya, datang ke Aceh pun belum pernah selama hidupnya, sekalipun. Tetapi semua orang yang pernah menikmati kelezatan mie Aceh ketika berada di Aceh akan sepakat bahwa masakan mie Aceh Yogyakarta, yang dimasak oleh Mas Pepeng, nama panggilannya, benar-benar mengingatkan seseorang seperti sedang menyantap mie Aceh di daerah asalnya.

Rasa Medan

Akan halnya Lontong Medan, pengelolanya, Mas Hendriks, juga bukan orang asli dari Medan. Tapi masakannya sangat asli Medan. Rasanya tidak ubah sama sekali, seperti kita sedang berada di Kota Medan. Serasa seperti sedang menikmati masakan Medan di Kota Medan sendiri, bukan sedang di Yogyakarta. Bukan hanya lontongnya yang sangat bercita rasa Medan, tetapi juga lupis, soto, sambal teri dan daun ubi tumbuknya sangat khas rasa Medannya.

Bagi para perantau dari Medan dan Aceh yang sedang kuliah di Yogyakarta, kehadiran dua macam masakan khas Sumatera ini, bisa mengobati rasa rindu akan kampung halaman. Kebetulan karena daerahnya sangat berdekatan, maka lidah orang Medan dan orang Aceh tidak jauh berbeda.

Banyak orang-orang di Aceh yang menyukai lontong Medan. Demikian juga sebaliknya. Orang Medan juga tidak asing dengan masakan Aceh, termasuk untuk menikmati mie Aceh-nya. Di Kota Medan sendiri banyak dijumpai warung mie Aceh dan masakan Aceh. Karena makan mie lebih praktis dibandingkan dengan makan masakan berupa menu nasi Aceh, maka pada umumnya penggemar kuliner Aceh lebih memilih makan mie. Di samping aroma masakannya yang khas, mie Aceh juga bisa untuk meningkatkan selera makan.

Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar, selamanya akan dipenuhi oleh para pencari ilmu yang datang dari berbagai daerah. Setiap tahun ada yang datang dan ada yang pergi. Bagi yang baru datang dibutuhkan waktu adaptasi untuk bisa menikmati masakan khas Yogyakarta seumpama Gudeg Yogya. Rasanya yang manis membuat anak-anak mahasiswa baru dari luar Jawa perlu penyesuaian diri dengan rasa masakan Yogyakarta.

Kehadiran masakan asal kampung sendiri merupakan alternatif yang memberikan jawaban atas persoalan makanan yang dihadapi oleh sebagian besar para mahasiswa pendatang. Meskipun tidak harus rutin bisa menyantap masakan dari daerah asal, sebulan sekali ketika kiriman uang dari orang tua diterima, sudah cukup untuk mengobat rindu masakan Ibu. Alternatif lainnya adalah terus berusaha untuk menyukai masakan Yogyakarta. Banyak pilihan kuliner dari Yogya yang bisa dinikmati dengan harga yang terjangkau. Hampir seluruh masakan nusantara dapat ditemukan di Yogyakarta, dengan rasa khas daerah masing-masing.

Masakan Medan dan masakan Aceh, merupakan sedikit dari sekian banyak masakan nusantara yang hadir di Kota Yogyakarta. Kedua jenis masakan dari daerah tersebut dapat di temukan di Yogyakarta. Meskipun yang meraciknya bukanlah orang asli daerah, tapi cita rasa masakannya persis sama enaknya seperti masakan asli. Selamat menikmati kuliner masakan Ibu. Tak perlu harus menunggu waktu pulang ke kampung, tapi carilah di Yogyakarta. Keduanya ada di kota ini, tentunya, dengan harga yang tetap berpihak kepada mahasiswa…*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *