Begal Dari Masa Ke Masa

Kata begal dalam bahasa Jawa berarti perampok, penyamun. Begal juga dapat didefinisikan sebagai perampokan yang dilakukan di tempat yang sepi; menunggu mangsanya ditempat sepi untuk merampas harta bendanya dengan cara melumpuhkan sasarannya.

Belakangan ini “begal” menjadi topik berita yang paling menonjol, ketika banyak peristiwa perampokan dengan kekerasan di jalan-jalan di kawasan DKI dan sekitarnya, yang menyebabkan korban berjatuhan dengan kondisi yang menyedihkan. Pelaku begal tidak ragu-ragu bertindak sadis ketika menyakiti korbannya. Korban yang sudah tak berdaya benar-benar dibuat lumat dengan sekujur bedannya penuh bekas luka akibat dibabat dengan pedang, clurit atau kelewang. Senjata ini rata-rata menjadi alat pembunuh yang digunakan oleh para begal.

Sejak dulu Jakarta sudah sering dicekam oleh tindakan begal. Pada tahun 1982, Kapolda Metro Jaya, Mayjen Anton Soedjarwo, berupaya menumpas para penjahat yang sudah sangat meresahkan masyarakat Jakarta. Kapolda menggelar tindakan represif dan menembak mati setiap penjahat yang melawan. Atas keberaniannya tersebut Anton memperoleh anugerah penghargaan dari Presiden RI.

Rupanya kesadisan tindakan para begal kala itu, mendapatkan perhatian serius dari Kepala Negara. Langkah yang diambil Polda Metro Jaya menjadi patron bagi Pak Harto untuk melanjutkan operasi petrus dan tembak di tempat. Membersihkan begal dari seluruh tanah Indonesia.

Begal beraksi
Gambar Ilustratif aksi para begal

Bukan hanya kepolisian yang dilibatkan dalam operasi ini, tetapi unsur Garnisun dari Komando Distrik Militer (Kodim) juga ikut digerakkan untuk menumpas begal yang sudah bertindak di luar batas-batas kemanusiaan. Waktu itu ada yang disebut gali, prokem, preman, dan masih banyak istilah lainnya. Kelakuannya dan tujuannya sama, yaitu, merampas harta dengan melumpuhkan korban.

Alasan Pak Harto sangatlah sederhana. Penjahat ini harus ditreatment; negara harus hadir untuk memberikan rasa aman bagi masyarakatnya; kekerasan harus dilawan dengan kekerasan…. “Ya, harus dengan kekerasan. Tetapi, kekerasan itu bukan lantas dengan tembakan… dor… dor… begitu saja, bukan! Yang melawan, mau tidak mau, harus ditembak. Karena melawan, mereka ditembak. Lalu, ada yang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Itu untuk shock therapy, terapi goncangan. Ini supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya. Tindakan itu dilakukan supaya bisa menumpas semua kejahatan yang sudah melampaui batas perikemanusiaan itu. Maka, kemudian meredalah kejahatan-kejahatan yang menjijikkan itu”. (Ramadhan K.H., 1988).

Negara harus melindungi warga negaranya dari perbuatan sewenang-wenang orang-orang yang tidak berperikemanusiaan. Hingga akhir pemerintahan Pak Harto, Indonesia bebas dari pelaku begal, karena memang resiko membegal sangat nyata dan fatal. Kala itu identitas begal selalu identik dengan tato di badannya. Sehingga begal-begal tanggung yang bertato dengan segala upaya menghilangkannya. Bahkan konon dengan cara menyetrika pada permukaan badan yang bertato.

Pendeknya begal dibikin tidak tenang; sebaliknya masyarakat semakin merasa aman dan berterima kasih kepada aparat. Penumpasan begal memang dilakukan dengan sangat serius. Pimpinan tertinggi negara saat itu mengambil alih seluruh tanggung jawab dari semua jenis operasi yang bertujuan untuk membasmi begal.

Tim Khusus Anti Bandit

Jauh sebelumnya, di Medan juga banyak bermunculan preman sadis. Untuk menindak aksi begal, maka Polri membentuk unit khusus yang beroperasai untuk menciduk para begal. Medan waktu itu tentu sangat akrab dengan sebutan Tekab (Tim Khusus Anti Bandit). Kehadiran Tekab membuat hati masyarakat merasa sedikit merasa lebih aman. Namun dengan keterbatasannya Tekab tidak bisa menumpas begal sampai keakar-akarnya. Kejahatan preman tetap tak kunjung reda; tetap terjadi secara sporadis. Padahal Tekab merupakan tim yang sangat terlatih, taktis dan profesional.

Meskipun banyak yang tertembak, tapi tindakan rampok, begal, rampok, jambret dan penodongan tetap terus terjadi. Banyak begal yang mati di ujung peluru aparat keamanan, tapi tak menyurutkan nyali mereka untuk terus menjalankan aksinya. Salah satu yang membuat keberanian preman memuncak adalah pengaruh minuman keras. Yang menjadi konsumsi rutin para preman atau begal sebelum mereka beraksi.

Masyarakat selalu merasakan was-was dan terancam, sebagai dampak dari aksi brutal para begal. Sehingga tidak mengherankan bila ada orang-orang baik pun, ikut-ikutan membawa senjata tajam sejenis belati atau sebagainya untuk pertahanan diri semata. bila sewaktu-waktu keluar rumah.

Waktu terus berjalan, pemerintah terus berganti. Kini begal sedang mengalami puncaknya di mana-mana. Aksi begal sudah mencapai klimak dan sangat menakutkan. Banyak korban tak berdosa meregang nyawa; mati sia-sia di tangan begal; di ujung alat pembunuh para begal yang tak berperikemanusian. Begal begitu leluasa menunaikan tugasnya. Keterbatasan jumlah personil aparat keamanan ikut membuat begal bersuka ria tanpa rasa takut sedikit pun. Mangsanya pun tak peduli laki perempuan tua atau muda. Asal menghasilkan duit maka pastilah dieksekusi dengan cara sadis.

Pada sekitar awal tahun 1983, seluruh jajaran teritorial Jawa Tengah dan DIY, berkumpul di Semarang untuk mendapatkan “wejangan” dan sekaligus memperoleh restu dari Panglima TNI, kala itu dijabat oleh Jenderal M. Yusuf, berkaitan dengan Operasi Penumpasan Kejahatan (OPK) di wilayah masing-masing.

Yogyakarta merupakan wilayah yang pertama sekali melaksanakan Operasi Petrus (penembakan misterius) yang bersandi “Operasi Clurit”. Baru kemudian menyusul di seluruh Jawa Tengah dan DIY serta daerah Jawa lainnya. Operasi di wilayah Yogyakarta, dipimpin langsung oleh Dandim 0734, Letkol (CZI) M. Hasbi, sebagai Kepala Staf Garnisun. Karena perannya tersebut maka pada waktu itu oleh salah satu koran terbitan Jakarta, menjulukinya dengan sebutan “Jango”.

Para gali di Yogya yang suka mengompas supir dan para pedagang ikut dibasmi dengan cara ditembak mati. Supir angkot dan pedagang yang pendapatannya tak seberapa, dengan leluasa dipalak oleh para gali. Dalam pada itu Garnisun Yogyakarta dianggap ibarat pahlawan oleh orang-orang kecil, seperti para supir dan para pedagang kecil, serta masyarakat pada umumnya.

Hampir seratus gali Yogyakarta mati di tangan aparat, sebagai pembayaran atas aksi brutalnya. Pascapetrus, seluruh kota-kota besar di Pulau Jawa aman tenteram, bebas dari tindakan kejahatan. Begal yang luput mati pun menjadi ciut nyalinya dan menyembunyikan diri hingga bertahun-tahun.

Melanggar HAM

Pegiat hukum hanya berkoar-koar untuk menyalahkan aksi petrus yang melanggar HAM. Tapi mereka lupa berapa banyak korban masyarakat dan juga aparat, yang dibunuh secara sadis tanpa pertimbangan HAM dari pelakunya; bahkan tanpa adanya kritikan ahli-ahli hukum yang suka menyuarakan HAM.

Begal membunuh masyarakat tak bersalah, tidak menyalahi HAM; aparat membunuh para penjahat yang suka membunuh, merampok dan merampas harta orang yang tak berdaya, dianggap melanggar HAM. Padahal tindakan aparat bertujuan untuk melindungi dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.

Pembersihan preman, gali dan begal yang pernah dilakukan negara secara terukur telah berlalu, hampir 40 tahun yang lalu, tak lagi membekas. Kini begal kembali membuat keresahan di tengah masyarakat. Belum lagi keresahan akibat tindakan sadis gank motor yang tidak segan-segan melukai dan membunuh orang tanpa tujuan yang jelas. Kedua aksi ini sudah barang tentu tidak boleh dibiarkan.

Pembentukan Tim Anti Begal, yang saat ini gencar beroperasi di Medan, merupakan titik kekesalan aparat terhadap tindakan para begal yang sudah di luar kepatutan. Hari demi hari selalu ada begal yang ditangkap, ditembak bahkan ada yang tercerabut nyawanya ditembus timah panas para aparat yang sedang menjalankan tugas mulia dalam melindungi masyarakat. Seakan ibarat mati satu tumbuh seribu, begal mati selalu ada pengganti.

Begal bukan hanya meresahkan orang-orang beraktivitas pada malam hari. Begal juga biasa memalak (mengompas) siapa saja yang mereka inginkan dengan dalih uang keamanan (uang reman). Bagi yang keberatan membayarnya akan merasakan akibatnya.

Tugas Tim Anti Begal tidak semudah membalik telapak tangan; sekonyong-konyong mampu menyadarkan begal untuk kembali ke jalan yang benar. Namun masyarakat tetap berharap, agar operasi ini sukses dan bisa mengembalikan rasa aman masyarakat yang sudah lama hilang. Partisipasi masyarakat, meskipun hanya dalam bentuk informasi akan memudahkan aparat untuk secara cepat memburu begal dan kemudian melumpuhkannya…***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *