Sekilas Pola Hidup Masyarakat Jepang

Jepang merupakan negara Asia yang lebih dulu unggul di bidang teknologi dibandingkan dengan negera-negara Asia lainnya. Terutama di bidang automotive; heavy equipment; dan perangkat elektronik. Hampir semua jenis equipment yang berbasis teknologi canggih ada dibuat di Jepang. Dimulai dari mesin-mesin yang berskala rumah tangga hingga untuk keperluan pabrik berkategori raksasa serta kapal-kapal besar (vessel) dan komponen kapal selam.

Meskipun tetap berpegang teguh pada quality improvement melalui kegiatan invensi dan inovasi, Jepang memiliki komitmen yang kuat untuk selalu memasukkan prinsip “ramah lingkungan” ke dalam proses dan produksi teknologinya. Termasuk di dalamnya ketika memproduksi equipment berlisensi milik fabrikan luar Jepang.

Bahwa Jepang itu bersih dapat disaksikan oleh siapa saja yang pernah melawat ke negeri matahari terbit tersebut. Bukan hanya yang tampak luar dan taman-taman saja yang tertata rapi, akan tetapi juga masyarakat Jepang konsern untuk merawat kamar mandi, WC dan urinoir agar tetap bersih dan tidak menimbulkan bau tidak sedap. Baik di kantor, di sekolah ataupun toilet yang diperuntukkan bagi umum seperti di stasiun kereta api dan sebagainya.

Sudah menjadi kebiasaan (habitual) bagi masyarakat Jepang untuk secara bersama-sama merawat dan menjaga kelestarian, kerapian dan kebersihan lingkungannya. Termasuk untuk tetap menjaga kebersihan sarana yang disediakan bagi kepentingan umum. Dalam penanganan sampah rumah tangga, di dalam kebiasaan yang berlaku, masing-masing anggota masyarakat sudah berusaha memilah jenis sampah yang mereka miliki.

Bunga Sakura

Ilustrasi keindahan lingkungan Jepang pada saat musim bunga tiba (Courtesy of Hitoshi Takumi)

Sejak di rumah sampah sudah diringkas untuk dipisahkan antara yang organik dan nonorganik; sampah kering dan sampah basah; sampah barang bekas elektronik dan jenis sampah lainnya. Sampah tersebut sudah dikemas dan ditata sejak keluar dari rumah untuk diletakkan ditempat pengumpulan, sebelum kemudian diambil oleh petugas kebersihan.

Langkah tersebut bukan hanya memudahkan, akan tetapi juga ikut bersama-sama meringankan beban kerja petugas kebersihan dan menjadikan waktu lebih efisien. Meskipun sebetulnya petugas tersebut telah menerima gaji untuk imbalan atas tugas-tugasnya.

Urinoir

Masing-masing warga Jepang juga sudah memiliki tahap-tahap yang teratur ketika memanfaatkan toilet umum. Ketika memanfaatkan kloset ataupun urinoir, dipastikan bahwa sebelum digunakan, permukaan kloset dan urinoir dibasahkan terlebih dulu. Tujuannya untuk membentuk film air pada permukaan yang akan bersentuhan dengan kotoran dan urin ketika digunakan.

Film air berfungsi untuk melindungi permukaan agar tidak saling bersentuhan secara langsung yang bisa menyebabkan sulit dibersihkan. Prinsip kerjanya (filosofis) sama seperti film oli yang terbentuk untuk menutupi dua permukaan logam yang saling bersentuhan pada komponen mesin yang saling bergesekan, atau ketika sedang berputar.

Dalam perkembangan berikutnya, di depan urinoir sudah dipasang alat sensor yang dapat mengatur pengeluaran air ketika ada sosok yang sedang berdiri di depannya. Air secara otomatis dengan sendirinya pada saat seseorang bersiap-siap untuk menggunakan urinoir. Ketika selesai air akan keluar lagi dengan sendirinya untuk membersihkan bekas urine yang menempel dipermukaannya. Kemudian air akan keluar kembali untuk terakhir kalinya beberapa saat setelah air yang kedua keluar secara otomatis. Kalau diamati, setidak-tidaknya ada tiga kali penyiraman ke permukaan urinoir, setiap kali ada yang mempergunakannya.

Taman-taman di Jepang selalu tampak indah, bersih dan asri. Semua ini menjadi tanggung jawab bersama untuk menjaganya agar tidak terkotori. Semua ini sudah menjadi “custom” yang tertanam baik dalam diri masing-masing orang Jepang; sudah menjadi mindset. Orang-orang dari luar Jepang yang berkunjung ke negeri ini, wajib diberikan pengetahuan tentang custom yang berlaku. Apakah dia sebagai pelancong, pekerja ataupun sebagai pelajar yang akan melanjutkan studi di Jepang. Tujuannya agar pemahaman tentang tanggung jawab dalam memelihara lingkungan (mindset) relatif menjadi seragam.

Orang Jepang konsisten dengan apa yang telah dipelajarinya. Pengaturan pemilahan, penataan, kerapian, kebersihan dan perawatan sudah lama menjadi teori yang banyak diterapkan di dalam praktek sehari-hari. Tidak hanya di perusahaan, pabrik dan perkantoran, melainkan juga hingga masuk menjadi bagian dari tata kelola rumah tangga dan lingkungan. Teori ini merupakan penguraian dari filosofi “kaizen“, yang bertujuan ingin terus berubah menjadi lebih baik, mulai dari dalam struktur berpikir hingga menyentuh pola sikap yang baik untuk diterapkan di mana saja. Di tempat kerja, di tempat umum, di sekolah dan di lingkungan di mana seseorang berada.

Meskipun pola hidup masyarakat cenderung indivialistis akibat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi dan sistem informasi yang sedemikian cepat, tetapi kesan individualistis itu menjadi sirna karena dilandasi oleh kesamaan tujuan dan pemikiran. Di sini juga terbetik sikap empatetik untuk saling memahami hasrat orang lain di sekitarnya, sekaligus pada gilirannya akan berempati kepada alam dan lingkungan hidupnya. Tidak dijumpai ada orang yang merokok di tempat umum ataupun yang membuang sampah sembarangan, apalagi menjadi vadalis yang suka merusak lingkungannya.

Pemandangan di dalam bis, di dalam kereta dan ketika berpas-pasan di jalan, masing-masing orang Jepang sudah terbiasa tidak saling bertegur sapa. Meskipun saling mengenal satu sama lainnya. Mereka mempunyai tujuan sendiri yang harus difokuskan. Kehangatan pergaulan orang Jepang akan terlihat pada saat berada di tempat hiburan, di bar-bar dan pada saat gathering, ataupun pada saat ada perayaan tertentu semisal, merayakan ulang tahun perusahaan yang dihiasi dengan berbagi lomba bagi karyawan dan keluarganya.

Workaholic

]Ketika menikmati hiburan orang Jepang benar-benar menikmatinya dengan segala cara. Banyak ekspesi yang mengiringi orang Jepang di tempat hiburan, termasuk menenggak minuman keras hingga mabuk dan sambil bernyanyi-nyanyi. Anggota Yakuza Jepang yang terkenal sangar pun akan terlihat melankolis ketika membawakan lagu “cinta” dalam iringan musik karaoke dan tenggelam dalam alunan lagu-lagu sentimental, ketika mencari hiburan.

Kepenatan dan kelelahan akibat beban kerja yang ditekuni (workaholic), semuanya lepas ketika menikmati hiburan sambil bersenang-senang. Hiburang seakan-akan menjadi segala-galanya bagi gentelment Jepang. Tingkat apapun jabatan yang dipegannya. Sake atau shochu merupakan minuman tradisonal yang selalu hadir dalam acara hiburan orang Jepang seusai pulang kerja ataupun dalam acaa tertentu. Ketika menikmati minuman, mereka akan saling bersulang dengan mengucapkan kata “kampai”.

Sempai (senior) dan kohai (junior) juga berlaku di dalam acara hiburan. Biasanya kohai yang merasa umurnya lebih muda akan menghindar dari para sempai-nya ketika berada di tempat hiburan. Mereka dengan rela akan menjauh dari tempat sempai-nya berada. Dan tak akan pernah melihat, apalagi menyelidiki tingkah polah para seniornya ketika sedang mabuk-mabukan.

Jepang memang memiliki kebiasan yang unik. Ketika bekerja ataupun menjalankan aktivitasnya, orang Jepang sangat serius dengan apa yang sedang dikerjakannya. Tidak ada sikap kontraproduktif yang terjadi di lingkungan kerja. Semuanya berlaku secara metodologis dengan urutan-urutan kerja yang tertata dengan baik yang dilakukan dengan konsentrasi penuh.

Sebaliknya ketika di tempat-tempat hiburan, orang Jepang akan melupakan semua yang berkaitan dengan pekerjaan dan tugas masing-masing dan mengeksperikan seluruh beban yang ada menjadi kesenangan yang patut didapatkan.

Masyarakat Jepang sangat mencintai keindahan. Dalam acara hiburan, orang Jepang akan senantiasa berkunjung ke tempat-tempat yang indah, menikmati pemandangan, mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan menghabiskan waktunya untuk mengagumi mekarnya bunga-bunga pada saat musim semi yang puncaknya secara merata akan terjadi pada bulan Maret-April.

Waktu yang paling ditunggu-tunggu oleh setiap keluarga Jepang adalah Golden Week (Ōgon shūkan), yang merupakan hari libur masal yang berlaku di seluruh Jepang. Kebijakan ini mulai diterapkan sejak tahun 1948, yang diawali oleh momentum memperingati hari kelahiran Kaisar Jepang, yang benar-benar sangat dihormati oleh masyarakat Jepang. Namun kemudian “golden week” telah menjadi tradisi yang tetap berlaku hingga sekarang…***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *