Pendidikan Indonesia: Menciptakan Kualitas Pendidikan Yang Setara

Kualitas belajar dan jam belajar adalah dua masalah yang berbeda. Jika ingin meningkatkan mutu pendidikan maka orientasi program harus lebih ditekankan pada betapa pentingnya jam efektif belajar yang berorientasi pada kualitas. Jika ingin badan selalu terasa bugar, bukan jam tidur yang harus ditambah, melainkan bagaimana memanfaatkan waktu tidur secara efektif agar raga dan pikiran bisa memperoleh masa istirahat yang berkualitas.

Menciptakan jam belajar yang efektif merupakan bagian dari tanggung jawab pemerintah melalui menteri yang didapuk untuk menangani masalah pendidikan. Memang tidak semudah membalik telapak tangan. Diperlukan konsep yang terintegrasi dengan baik.

Salah satu yang menjadi faktor pendukung adalah upaya yang sungguh-sungguh dan tidak separuh hati. Tidak perlu gonta ganti program dan kebijakan serta dengan cara trial and error. Tentu saja dibutuhkan alokasi dana yang cukup ditujukan untuk secara terus menerus menyediakan fasilitas pelatihan bagi upaya meningkatkan kemampuan dan mengembangkan wawasan para guru. Efektif dan efisien.

Bahkan perlu disediakan program untuk studi banding dalam rangka berbagi dan menyerap ilmu dan metode di tempat lain. Program ini bukan case by case tapi harus bersifat kontinual.

Wisuda di Finlandia
Suasana keceriaan pelajar Finlandia saat wisuda. (www.trigger-proof.com)

Jika saat ini ada program pengiriman guru ke luar negeri, maka itu harus dipertahankan tidak boleh berhenti dan timbul tenggelam. Kadang ada, kadang tidak; tergantung selera atasan. Tidak boleh terjadi program compang camping begitu. Apalagi mengingat di departemen pendidikan banyak terdapat pekerja yang memiliki kecerdasan tinggi. Bukan orang-orang sembarangan. Mulai menteri hingga kepala dinas di daerah diisi oleh orang-orang yang pintar.

Idealnya semua harus seragam. Mulai dari ujung barat hingga ke ujung timur nusantara kualitas guru pada setingkat SD, SMP dan SMA harus setara; harus seragam. Metode dan kurikulum nasional harus sama. Yang berbeda hanya pada muatan lokal. Yang berbeda mungkin hanya pada gaya mengajar. Setiap guru harus memiliki kesempatan yang sama dalam mengikuti pelatihan yang difasilitasi pemerintah.

Pelatihan berkesinambungan

Diklat yang ada, yang dimiliki kementerian harus dimanfaatkan secara optimal untuk melakukan pelatihan bagi guru-guru, yang notabenenya sudah memiliki kualifikasi sebagai guru. Pelatihan tidak hanya pada saat hendak menghabiskan anggaran di akhir tahun, ramai-ramai bikin program untuk menunjukkan bahwa serapan anggaran sudah tercapai. Ini program konyol ala negeri ini yang sudah menjadi rahasia umum; sudah lama berlangsung.

Bukan hanya bagi pegawai kementerian dan dinas yang terus diberikan peningkatan kulaitas SDM melalui tahapan pelatihan. Guru juga butuh pengembangan melalui media yang digagas pemerintah. Dengan jalan meningkatkan kapasitas guru secara berkesinambungan. Ini lebih penting dari pada membuat sistem sekolah “full day learning“.

Jangan memaksakan kehendak dengan program yang hanya dikonsep untuk kepentingan sesaat untuk dilaksanakan. Yang dididik adalah anak manusia, punya kapasitas, punya kebutuhan lainnya selain belajar, butuh bersosialisasi, butuh berkomunikasi dengan orang tuanya, butuh istirahat fisik dan psikis, butuh pengajaran rohani. Jadi semuanya harus menjadi pertimbangan sebelum mengambil kesimpulan untuk menetapkan sesuatu terobosan baru di bidang pendidikan.

Malaysia, Inggris, Perancis dan Amerika Serikat membatasi kegiatan sekolah hingga pukul 15.30 dengan ketentuan, sabtu dan minggu libur. Rata-rata estimasi jumlah waktu belajar akumulatif per tahun berkisar antara 180 hingga 260 hari.

Bahkan negara seperti Finlandia harus bertarung dengan cuaca untuk mencari waktu belajar yang efektif. Meskipun memiliki waktu belajar di sekolah yang sangat kecil; bahkan terkecil di dunia, tapi Finlandia mampu melahirkan pakar yang tidak diragukan lagi kemampuannya.

Mereka terus berjalan jauh di depan kita. Mereka telah mencapai kemajuan di segala bidang. Ketika negara lain sudah sampai ke mana-mana, kita sibuk dengan “wacana-wacana” baru. Siapa pun mengetahui, terobosan di bidang telekomunkasi. Telepon selular bikinan Finlandia lah yang pertama masuk ke Indonesia.

Kuota jam belajar

Thailand, meskipun memiliki jam belajar di atas rata-rata, tapi hasil evaluasi dari “Programme for International Student Assessment (PISA) negeri ini berada dalam peringkat di bawah Indonesia. Demikian juga Negara Tiongkok yang menerapkan kuota belajar di sekolah selama kurang lebih 250 hari per tahun tidak menghasilkan manusia yang handal-handal banget dibandingkan Taiwan, Jepang dan Korea.

Padahal negeri-negeri ini masih di bawah Tiongkok dalam jumlah jam belajar di sekolah. Taiwan, Jepang dan Korea bukan hanya memiliki SDM yang handal dibidang ilmu pengetahuan, tetapi juga nelahirkan generasi yang punya rasa memiliki terhadap kelestarian lingkungan; kaya empati.

Tiongkok dengan jam belajar tertinggi di dunia, masyarakatnya terkenal kurang mengindahkan ketertiban dan terkesan jorok. Bukannya memelihara lingkungan dan kebersihan, malah sebaliknya membuang kotoran secara tidak layak. Tidak mengherankan bila di toilet dan wc umum di kota-kota besar Tiongkok sekalipun, bau pesing menyengat sampai ke mana-mana.

Jika alasannya karena penduduknya terlalu banyak, India dan Amerika Serikat juga memiliki populasi penduduk yang besar. Tapi program character building-nya terarah dan berhasil. Teknologi India termasuk yang terbaik pada tingkat dunia. Beberapa produk heavy machinary dan transportasi terus berkembang dari waktu ke waktu mengikuti teknologi mutakhir dan mendapat tempat dalam kancah perdagangan dunia; bisa menembus pasar dunia.

Kita tidak perlu berkaca kepada negara Amerika Serikat dan Eropa yang telah sangat maju. Kita pantas berusaha untuk sejajar dengan negara Asia dalam hal kemajuan sumber daya manusia dan teknologinya. Itu sasaran yang lebih logis dari pada program menggantang asap.

Apabila mampu meniru sistem pendidikan di  Malaysia, sebetulnya sudah dapat dianggap pendidikan kita mengalami kemajuan. Meniru Singapura, Jepang dan Korea Selatan, mungkin masih dibutuhkan waktu yang panjang. Di Jepang, kualitas pendidikan di Sapporo atau Khusiro daerah paling selatan Jepang, relatif sama dengan mutu pendidikan di Tokyo. Kemampuan akademis masing-masing wilayah setara.

Jika dirasakan perlu pengembangan, belajarlah pada negeri-negeri yang telah maju yang memiliki sumber daya yang baik, mengerti kebersihan, bertanggung jawab kepada kelestarian lingkungan dan mampu menghasilkan berbagai jenis produk yang berkualitas.

Untuk mempersiapkan periodesasi SDM, maka kualitas belajar harus terpenuhi dengan menyediakan guru-guru yang handal. Sebagai professional peran guru benar-benar harus disadari. Dan setiap guru harus memahami tugas dan pengabdiannya untuk mendcerdaskan anak bangsa. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi tetap harus berjalan, tanpa mengenal kata “sudah cukup”…. (bersambung).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *