Pendidikan Dan Upaya Meningkatkan Kualitas Guru

Peningkatan kualitas guru seharusnya dibuat terpola dan diterapkan secara berkesinambungan. Kalau ada guru yang di bawah standar, maka kesalahannya berada pada sisi pemerintah. Tidak ada guru yang bodoh, yang benar adalah pemerintah lalai atas salah satu tanggung jawabnya untuk berupaya mendidik guru untuk menjadi pengajar yang hebat.

Seorang guru telah melalui tahapan-tahapan dan syarat-syarat untuk mengabdi sebagai pendidik. Semua syarat dan ketentuannya telah terpenuhi, sejak dia mampu lulus untuk mendapatkan ijazah guru; lulus tes menjadi guru dan mendapatkan misi untuk mengajar pelajaran yang menjadi spesialisasinya di sekolah di mana dia ditempatkan.

Jadi tidak ada yang salah pada seseorang yang telah menyandang predikat guru. Guru adalah pekerjaan professional, maka sistem perekrutan guru juga perlu mendapat sentuhan agar Indonesia bisa memperoleh guru-guru yang berkualitas prima.

Belakangan ini sepanjang perjalanan menjadi guru sering mengalami tekanan yang luar biasa besarnya. Ujian Nasional (UN) bukan hanya momok yang menakutkan bagi tiap-tiap murid. Akan tetapi hal yang sama terbebankan di atas pundak para pengajar. Kelulusan seorang murid juga bagian dari tanggung jawab guru yang selama ini membimbingnya. Ketidakseragaman materi ajar, menjadi persoalan utama yang menyebabkan bahan UN menjadi sesuatu yang asing bagi murid dan guru-guru di daerah.

Memahami apa yang diamatinya

Guru memberikan bimbingan bagi anak didiknya untuk memahami apa yang diamatinya . (foto getfile 3)

Seyogyanya anak murid dan guru harus diberi peluang untuk keluar dari tekan semacam itu. Sistem belajar yang mandiri dan dinamis diperlukan untuk membentuk watak bebas dan berani bereksperimen terhadap bidang yang disukainya. Murid dan guru, sama-sama boleh berekspresi sesuai dengan bakatnya. Guru membimbing murid dengan bijaksana, murid pun menghargai guru dengan penuh rasa hormat. Termasuk dari orang tua yang telah memercayakan anak-anaknya pada sekolah yang dituju.

Permintaan guru untuk negeri jiran

Pada tahun 1972 hingga tahun 1975, pemerintah Indonesia telah mengirimkan kurang lebih 1000 guru ke Malaysia. Pemerintah Malaysia yang waktu itu dipimpin oleh Perdana Menteri Tun Abdur Razaq dengan sengaja meminta guru kepada pemerintah Indonesia untuk menjadi pendidik yang akan ditempatkan di seluruh wilayah negeri tersebut.

Para guru direkrut dari beberapa provinsi, antara lain dari Aceh, Sumatera Utara serta Jawa Barat. Di antara para guru kemudian ada yang menetap dan menjadi warga negara Malaysia, dan ada yang juga kembali ke Indonesia setelah purna tugas sebagai guru di sana.

Terus apa standar kualitas seorang guru? Nyatanya Malaysia mampu mendapatkan sumber daya manusia yang baik dari tangan guru-guru asal Indonesia. Datanglah berobat ke rumah-rumah sakit Malaysia. Rata-rata tenaga medis adalah mereka yang pernah melanjutkan pendidikan dokternya di luar negara. Dari nama yang dipasang di sisi pintu masuk ruang praktek masing-masing dapat dilihat spesialisasi serta asal negara tempat dia menjalani, yang tertera di belakang namanya.

Hal tersebut tidak mungkin terjadi apabila persiapan SDM-nya tidak direncanakan secara baik sejak di dalam negeri; sejak dini. Penyiapan SDM yang baik sebagai “raw material” untuk diproses selanjutnya agar menjadi pakar, tidak mungkin tercapai apabila tidak dibimbing oleh guru-guru yang berkualitas.

Jika dirunut jauh ke belakang maka andil guru-guru asal Indonesia yang mengabdi di Malaysia sangat besar. Sehingga membuat generasi Malaysia terus berkembang ke arah kemajuan yang signifikan.

Sebetulnya di Indonesia juga tumbuh sekolah dan perguruan tinggi yang baik. Sayangnya alumni perguruan tinggi ini tidak mendapat sentuhan lebih lanjut. Kalau pun ingin meng-upgrade diri terpaksa diinisiasi sendiri oleh masing-masing mereka. Tidak selalu ditangani oleh pemerintah.

Perankingan versi Webometric untuk institusi terbaik tingkat dunia edisi Juli 2016, menempatkan beberapa universitas di Indonesia pada tingkat yang lumayan baik. Antara lain Universitas Gajah Mada pada ranking 724; Universitas Indonesia: 808; Institut Teknologi Bandung: 895. Sementara itu untuk kawasan Asia Tenggara, Indonesia masih kalah unggul bila dibandingkan dengan Singapura, yang menempatkan beberapa universitas mereka pada ranking dunia yang lebih baik.

Tertinggi di Asia Tenggara adalah National University of Singapore bertengger pada ranking 68; Nanyang Technology University: 72. Disusul oleh Thailand: Mahidol University: 310; Kasetsart University: 347. Kemudian Malaysia: University of Malaya: 404; University Sains Malaysia: 467.

Peringkat terbaik Asia

Perankingan untuk tingkat Asia, benua kuning tetap menguasai peringkat hingga sampai ke urutan ke 100, meliputi China, Jepang Taiwan dan Korea Selatan. Dan hanya Singapura (ranking 6 dan 8); Thailand 43 dan 52; serta (Malaysia 63 dan 74) yang datang dari Asia Tenggara untuk masuk ke dalam 100 negara Asia untuk meraih peringkat terbaik. Indonesia diwakili oleh Universitas Gajah Mada hanya menempati posisi ke-137, dan Universitas Indonesia (163).

Sedangkan untuk peringkat sepuluh besar terbaik tingkat Asia didominasi oleh China. Selebihnya, Jepang (4); Taiwan (5); Singapura (6 dan 8) dan Korea Selatan (9).

Terlepas apakah hasil evaluasi ini valid atau tidak, tetapi setidak-tidak menjadi peringatan yang bisa memecut pihak-pihak terkait dengan pendidikan unuk melakukan introspeksi.

Dengan kondisi demikian berarti ada masalah yang sangat membutuhkan perhatian dari segenap pihak dan stakeholder yang menjadi bagian dari dunia pendidikan Indonesia.

Sebetulnya Indonesia sudah memiliki banyak kepakaran. Ini perlu dihimpun secara optimal agar menghasilkan sesuatu yang “dahsyat”.

Pemerintah perlu berpikir bahwa IPTN perlu dikembangkan kembali secara serius; Batan perlu didukung kemanfatannya, Pindad harus mendapat perhatian yang lebih besar lagi; teknologi agrikultura harus mendapat ruang yang cukup untuk mewujudkan hasil temuan-temuan dan risetnya. Masih banyak sector lainnya yang telah ada di negeri ini, tapi tidak mendapat perhatian yang cukup.

Indonesia telah memiliki institusi yang dapat menampung kepakaran dalam berbagai bidang. Perusahaan galangan kapal, PT PAL, BPPT Puspitek, LIPI, dan beberapa lembaga lainnya. Membuat terobosan dalam meningkatkan peran lembaga yang telah ada lebih baik, sekali lagi, jauh lebih baik dari pada bongkar pasang pasang kurikulum ataupun mengutak-katik kuota jam belajar peserta didik.

Sejak pertengahan tahun 70-an, di perguruan tinggi Indonesia banyak dijumpai mahasiswa asal Malaysia. Hampir di seluruh universitas terdapat mereka yang menuntut ilmu di sini.

Mereka berhasil menyelesaikan strata 1 di tempat masing-masing mereka kuliah/ menuntut ilmu. Namun selanjutnya, anak-anak mereka lulusan perguruan tinggi dari Indonesia, difasilitasi kerajaan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tidak berhenti pada strata S-1 semata. (bersambung….)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *