Running Man, Sebuah Pencapaian Yang Mencengangkan

Ini merupakan variety show yang sangat mengagumkan. Episodenya terus mengalir dengan ide-ide cerita yang baru, tapi tetap membumi. Sangat dinamis dan jauh dari eksplorasi tubuh wanita-wanita montok. Ciri yang selalu ditampilkan adalah melepaskan name tag pemain lawan. Meskipun sederhana, akan tetapi para penggemarnya tetap setia mengikutinya.

Sejenak flash back. Kita sering melihat cerita dalam tiap film Warkop, yang ditonjolkan adalah wanita yang setengah telanjang, bahenol dan seksi. Terus ketawa ketiwi. Miskin kreavitas. Eksploitasi wanita seksi selalu kental terlihat di tiap episodenya.

Dulu pernah ada sekuel film lucu yang datang dari Prancis. Pembuatan film ini lumayan serius. Lokasi dan properti yang disediakan terbilang berbiaya tinggi. Grup Les Charlots yang terdiri dari Gerard Rinaldi, Jean-Guy Fechner, Sean Sarrus dan Gerard Filifelli membawakan peran kocak dengan santai. Padahal sejatinya mereka berangkat dari sebuah grup musik handal di Prancis. Hanya dengan acting serta celotehan sederhana, sudah cukup membuat penonton tertawa. Bukan diatur supaya tertawa seperti berlaku dalam variety show di tv Indonesia.

Film yang tak kalah kocak lainnya adalah Mr. Bean. Kayaknya manusia alien ini sengaja di”jatuh”kan ke bumi untuk membuat penduduk bumi terbahak-bahak. Jelas, properti dan tempat shooting yang berpindah-pindah akan menyerap biaya yang luar biasa besarnya. Mr. Bean yang sebetulnya seorang cendekiawan memiliki bakat kocak dengan penampilan culun dan muke blo’on. Ciri khasnya adalah “mendengus” dengan mimik yang rada-rada “bego”.

Keceriaan kru Running Man
Kekompakan pendukung Running Man di luar dan di dalam acara sebagai modal sukses (런닝맨 RunningMan – https://www.facebook.com/gorunningman/photos/)

Penonton tak pernah jemu meskipun berkali-kali menonton ulang ulah Mr. Bean dalam setiap episodenya. Penggalan-penggalan cerita Mr. Bean yang ada di Youtube, di antaranya ada yang telah mencapai angka hingga menembus 25 juta kali tayang. Ini membuktikan serial Mr. Bean masih tetap digemari khalayak hingga kini.

Di sisi yang lain ada garapan film kocak yang berlabel “The God Must Be Crazy“. Film ini juga ada beberapa sekuel dan hadir dengan ide cerita yang sangat sederhana. Seorang Bushman dari Gurun Kalahari di Afrika sana, menemukan sebotol bekas minuman ringan yang dilempar dari pesawat terbang yang melintas.

Kisah botol dan kepolosan Xi, yang diperankan seorang petani bernama asli Nixau, berasal dari Namibia, terus mengalir, dan membuat orang terpingkal-pingkal sepanjang durasi film. Film ini dibuat dalam empat sekuel dan beberapa serial bagian akhir dibuat di Hongkong dan ditampilkan dalam bahasa bebarapa versi bahasa.

Running Man

Dari Korea ada Running Man yang mengundang decak kagum dan banyak mendapat pujian. Hingga saat ini jumlah episode Running Man telah memasuki angka lebih dari 310 episode. Tapi tetap saja banyak penggemar yang rajin mengikutinya terus menerus setiap keluar episode baru. Tanpa merasa bosan.

Meskipun Running Man dikemas untuk sebuah variety show yang penuh diselingi permainan (game), perlobaan (race) dan adu kesigapan (skip name tag), akan tetapi selalu bisa terselip lawakan yang segar. Dengan kemasan yang lebih dinamis membuat variety show Korea ini memiliki nilai tambah yang sempurna.

Ide-ide dalam Running Man terus mengalir bagaikan air; sangat sederhana, bahkan terkesan kampung. Bukan hanya menjalankan kelanjutan episode berdasarkan ide cerita lokal. Akan tetapi Running Man juga membutikan diri untuk menerima setiap gagasan yang disampaikan penggemarnya yang banyak tersebar di mancanegara.

Tugas pengarah hanyalah mengemas cerita berdasarkan masukan dari para penggemar mereka, terutama yang datang dari kaum remaja dan muda usia. Selebihnya, masing-masing pemain Running Man bisa berimprovisasi secara bebas, hingga terkadang sampai kelihatan watak aslinya. Karena itu Running Man tidak pernah mengalami kekeringan ide. Berpindah-pindah lokasi shooting juga berdasarkan atau melahirkan ide-ide cemerlang yang bermuatan budaya lokal.

Indonesia, Thailand, Vietnam, China dan lain sebagainya merupakan negara yang pernah dijamah oleh para pemain Running Man. Setiap kedatangan mereka ke negara tujuan selalu mendapat sambutan dari masyarakat umum, terutama kaum mudanya. Interaksi dengan lingkungan juga sangat baik. Sehingga sering terjadi secara spontan penonton di lokasi, diajak ikut berpartisipasi di dalam “permainan” yang terdapat dalam kandungan cerita yang akan ditampilkan.

Hasil dari Dubai juga sangat mengesankan. Segenap properti dan kebiasaan lokal digunakan sepenuhnya untuk melengkapi rangkaian cerita. Dua episode yang dilahirkan dari Dubai juga mendapat sambutan yang luar biasa di seluruh dunia.

Prinsip, “apa yang disemai”, maka “itulah yang akan dituai” menjadi bukti bahwa Running Man digemari di mana-mana. Seiap penggarapan Running Man selalu dilakukan dengan kerja keras, serius, fokus dan biaya yang besar. Penyediaan perangkat kamera, kru, pemain, transportasi hingga akomodasi akan menelan biaya yang tidak sedikit. Tapi hasilnya juga tidak mengecewakan produsernya; apalagi fans Running Man yang selalu menanti hadirnya episode terbarunya.

Bahwa hasil yang dicapai sangat mengesankan bagi produser, dapat dilihat dari bagaimana emas sungguhan berupa lantakan pun disediakan pada beberapa episode, sebagai hadiah bagi para pendukung –termasuk bintang tamu– yang memenangkan permainan.

Opera van Java

Sangat berbeda dengan apa yang dapat disaksikan dalam beberapa variety show dari tv Indonesia. Kalau mau jujur cuma Opera van Java yang bisa masuk dalam kategori baik. Permainan Andre, Aziz, Nunung, Sule dan Parto sebagai “juragan”nya, sering tidak mengecewakan. Mereka begitu piawai dalam membawakan peran masing-masing, tanpa dibuat-buat. Bebas, apa adanya, lugas dan kreatif.

Sudah menjadi anugerah mereka dilahirkan sebagai orang yang mampu ber-acting dan meletupkan kata-kata yang bisa mengundang tawa penonton. Andre yang berlatar belakang seorang penyanyi pun mampu mengimbangi permaian teman-temannya yang memang berlatar belakang pelawak. Bukan menertawai diri sendiri; sebagaimana banyak acara serupa yang dapat disaksikan belakangan ini di layar kaca.

Meskipun ada perpindahan lokasi show. Tapi penyajiannya hanya statis di atas panggung. Shooting di Australia beberapa tahun yang lalu juga tak kalah baiknya. Hanya saja program demikian tidak diteruskan.

Akan halnya Running Man yang didukung oleh 7 orang pemain yang datang dari berbagai latar belakang. Tidak melulu pelawak. Mereka adalah Jae-suk, Gary, Ha-ha, Ji Suk-jin, Jong-kook, Kwang-soo dan satu-satunya sang dewi Ji-hyo, yang memiliki kepribadian campur aduk. Dia pribadi yang terkesan suka bingung dan galak; tapi sebetulnya dia memiliki kecerdasan yang tinggi dan baik hati.

Di dalam kerangka episode Running Man dia juga sering kali menjelma menjadi dewi keberuntungan bagi timnya. Tidak mudah menaklukkan Ji-Hyo. Bahkan seorang Jong Kook merasa “kewalahan” jika di akhir babak harus berhadapan dengan Song Ji Hyo.

Running Man tidak lepas dari gencarnya arus K-Pop yang melanda berbagai belahan dunia. Film dan serial drama Korea yang dulunya terasa asing, benar-benar sudah mendapat tempat yang permanen di hati penggemarnya. Bukannya berkurang, para penggemar “Korea” hari demi hari terus bertambah. Seiring banyaknya produksi yang mengagumkan dari beberapa rumah produksi seperti KBS, SBS, MBC dan sebagainya, untuk berbagai acara pertunjukan, film drama dan musik pop Korea.

Kini segala yang berbau Korea telah menembus dinding-dinding negara di lima benua. Meluluhkan hati para penggemarnya dari berbagai latar belakang dan tingkatan usia. Hasil dari sebuah kerja keras dan kekompakan….***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *