Mengembangkan Sumut Melalui Kerja Sama AntarKota AntarNegara

Melakukan kerja sama dengan kota-kota dari berbagai negara adalah dimaksudkan untuk dapat memperoleh berbagai manfaat yang berkaitan dengan kegiatan ekspor, peluang bisnis antarnegara, pengiriman tenaga kerja dengan perlindungan yang baik, serta untuk mendapatkan investor bagi pembangunan usaha produktif di Sumatera Utara, dan menjadikannya sebagai captive market bagi komoditas Sumatera Utara.

Meskipun saat ini Sumatera Utara yang diwakili oleh Kota Medan telah memiliki hubungan keakraban dengan sistem kota kembar atau sister city dengan beberapa kota lainnya di beberapa negara, seperti antara Medan Medan dan Penang (Malaysia), dengan Kota Ichikawa, Prefektur Chiba (Jepang), dengan Gwangju (Korea Selatan) dan Chengdu (China). Hubungan anatrkedua kota yang dimaksud sudah seharusnya menciptakan peluang yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.

Selengkapnya beberapa kota di beberapa negara telah mendorong pembentukan Persatuan Kota Kembar dengan Kota Medan adalah:

Sister City

Nama-nama kota dalam forum kerja sama dengan Kota Medan (Data dari berbagai sumber).

Forum kerja sama ini telah menjadi ajang saling tukar-menukar informasi dan perundingan untuk membincangkan berbagai masalah ekonomi dan pembangunan perkotaan.

Sumatera Utara

Logo Provinsi Sumatera Utara

Forum kerja sama yang konstruktif

Berbagai kerangka kerjasama antara kota bersaudara, kenyataannya terus berkembang dalam bidang-bidang yang semakin luas, baik soaial maupun pendidikan.

Terbuka kemungkinan untuk meningkatkan kerja sama dalam bidang pendidikan secara timbal balik. Melaksanakan pertukaran pelajar dan mahasiswa secara lebih luas lagi dengan masing-masing kota kembar tersebut untuk program S1, S2 dan S3. Ataupun sekadar kursus singkat dalam rangka untuk meningkatkan kompetensi petani, pelajar, mahasiswa, serta para pegawai negeri sipil di lingkungan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara.

Kerja sama yang pernah berjalan adalah dengan Kota Ichikawa. Program kerja samanya berkaitan dengan bidang sosial, yang memanfaatkan forum ini untuk membantu pengadaan alat bantu dengar bagi mendukung penyediaan sarana kesehatan yang bermanfaat di kota Medan.

Demikian juga untuk pengembangan sumber daya manusia, Pemerintah Kota Ichikawa, Ichikawa pernah memberikan bantuan pelatihan bagi Pemerintah Kota Medan dalam bentuk magang, termasuk mengadakan program pertukaran pelajar di antara kedua kota.

Hal yang sama juga pernah berlangsung dalam program sister city antara Medan dan kota kembar lainnya, adalah di bidang perdagangan. Melalui forum ini Kota Medan bersama Kwangju maupun Pulau Pinang, telah merintis terselengarakannya Pameran Perdagangan Kota Kembar (Sister City Trade Fair) yang bertaraf internasional.

Dengan nyata, kerja sama konstruktif seperti ini mampu mendorong peningkatan perdagangan dan mengupayakan pertemuan pengusaha-pengusaha kota masing-masing, di samping memberikan kepastian dan perluasan pasaran produk yang dihasilkan.

Apa yang telah berjalan baik perlu dipertimbangkan oleh calon gubernur yang akan maju nantinya. Bahkan dengan peningkatan dalam spektrum kerja sama yang lebih luas dan lebih saling menguntungkan.

Program yang belum ada juga harus berani didorong bagi membuka kesempatan bagi kota-kota lainnya di Sumatera Utara untuk melakukan hubungan kerja sama dalam bentuk sister city, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kota Tanjung Balai dengan Port Klang, Malaysia. Gubernur dapat berperan untuk memberikan stimulus dan dukungan bagi kabupaten dan kota mana pun di Sumatera Utara untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan potensi andalan masing-masing.

Memberi nilai tambah

Banyak potensi yang dapat dikembangkan di tingkat kabupaten kota yang ada di dalam wilayah Sumatera Utara. Termasuk potensi pertanian, perkebunan, budaya serta potensi objek pariwisata yang masih berpeluang untuk dieksplorasi.

Tugas gubernur adalah menjadikan setiap potensi yang dimiliki Sumatera Utara agar menjadi sesuatu yang bermanfaat, memiliki nilai dan meningkatkan peluang kerja yang pada gilirannya akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi sektoral yang positif.

Setiap gubernur diharapkan agar memahami betul geografis Sumatera Utara secara detail. Sangat disayangkan bila ada daerah terpencil di dalam wilayah pengbdian dia tapi tak pernah dikunjungi sama sekali oleh bupatinya. Kunjungan kerja hanya pada dearah-daerah yang mudah dijangkau dengan mobil empuk yang menjadi kendaraan dinasnya.

Cukup banyak hasil bumi yang dapat dikembangkan untuk memperoleh nilai tambah, bila ada perhatian yang serius dari kepala derahnya. Masing-masing kabupaten/ kota memiliki keunggulan yang membutuhkan sentuhan penyuluhan, bimbingan dan teknologi untuk meningkatkan harga jual bagi komoditas yang dihasilkan oleh daerah-daerah tersebut. Hanya dengan perlakuan demikian komoditas Sumatera Utara mampu bersaing di pasang yang lebih luas.

Ke depan, tidak ada lagi model gubernur yang hanya terpaku memperhatikan Kota Medan sebagai ibukota provinsi, tapi melupakan daerah lainnya yang membutuhkan lebih banyak perhatian. Jangan cuma cukup dengan slogan “ini Medan, Bung…, tapi yang dibutuhkan adalah “ini Sumut, Bung….!”. Paradigma ini harus mampu diubah oleh Gubernur Sumatera yang baru, siapa pun yang terpilih.

Salah satu yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat Sumatera Utara adalah dapat meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan. Jalan yang perlu ditempuh adalah, membuka lapangan kerja yang lebih banyak lagi, yang dapat menampung angkatan kerja yang ada, dengan gaji yang sesuai dengan UMR Provinsi Sumatera Utara.

Membuka kran investasi

Dengan masuknya para insvestor untuk membangun pabrik di Sumatera Utara, maka keuntungan yang akan diperoleh adalah, membuka lapangan kerja bagi masyarakat dan dapat meningkatkan nilai tambah bagi pengolahan sumber daya alam dari berbagai sektor untuk diubah menjadi barang-barang produksi.

Akan sampai saatnya Sumatera Utara tidak lagi mengekspor bahan baku mentah; melainkan sudah dalam bentuk produk akhir ataupun paling rendah adalah sebagai barang setengah jadi, yang nilainya akan menjadi lebih besar dari bahan mentah ketika dijual.

Dari segi harga jual, mulai dari masyarakat, pengusaha, pemerintah hingga para pekerja ikut diuntungkan. Masyarakat merupakan pemilik bahan baku, pengusaha sebagai pemilik pabrik, pemerintah dari restribusi dan pajak serta para pekerja dengan upah yang memadai. Ini merupakan mata rantai kemajuan yang memiliki aspek multidimensional; memberikan multiplyer effect dalam pengertian yang positif.

Efek ini akan lebih menggairahkan peranserta masyarakat secara aktif di dalam mekanisme produksi, perdagangan, pelayanan jasa serta sektor lainnya yang ikut terpengaruh di dalam pusarannya. Seluruh komponen akan bergerak untuk mendukung segala kegiatan yang produktif.

Sehingga dengan demikian pengangguran dapat ditekan; pasar kerja lebih terbuka; daya beli masyarakat akan semakin meningkat, yang berujung pada peningkatan pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara. Yang lebih penting lagi adalah perolehan dalam bentuk restribusi dan pajak yang akan menambah pundi keuangan pemerintah daerah.

Gubernur, bupati dan walikota harus benar-benar seorang pekerja keras. Bukan sekadar ikut hanya untuk menjaga prestise dan mencatatkan diri sudah pernah mencapai jabatan tertinggi dalam karir. Ketika duduk menikmati jabatan, tidak melalukan apa-apa. Jangankan terobosan baru yang menguntungkan, melanjutkan yang sudah baik saja tak bisa. Ini pikiran rancu yang harus diubah.

Tidak harus smart dan cerdas. Tapi yang terpenting adalah, pimpinan daerah memiliki wawasan yang terbuka sehingga sudi memberikan peluang bagi memanfaatkan kemampuan para akademisi yang berasal dari Universitas Sumatera Utara, atau kepada siapa saja yang memiliki kepakaran tertentu, agar dapat membaktikan diri dan memberikan kontribusi pemikiran bagi kemajuan Sumatera Utara….***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *