Memelihara Marwah Kota Medan Sebagai Kota Metropolitan

Sumatera Utara sangat beruntung lantaran memiliki sebuah ibukota provinsi yang sangat strategis dari seluruh aspek. Baik dari aspek geografis maupun dari aspek demografis. Kota Medan yang memiliki luas sekitar 26,5 hektare atau setara dengan 265,10 km², merupakan sebuah kota yang indah, dimana di tengah kotanya dialiri oleh beberapa buah sungai.

Meskipun posisinya ada perbedaan jarak yang mencolok antara kota-kota yang terletak di perbatasan Aceh serta perbatasan Riau dan Sumatera Barat, namun secara keseluruhan kiblat Sumatera Utara adalah Medan yang relatif merupakan kota tertua di Sumatera Utara.

Kota Medan yang semula ditetapkan berdiri pada tahun 1909, kini telah berubah tanggal berdirinya menjadi tanggal 1 Juli 1590. Tanggal ini ditandai dengan kedatangan Guru Patimpus dari tahan Karo menuju Hamparan Perak di Tanah Deli. Dari sinilah menurut sebagian ahli sejarah kota Medan mulai dibangun.

Meskipun ada pendapat yang menyatakan bahwa ketika Guru Patimpus tiba di Tanah Deli, di sini telah ada sebuah perkampungan kecil yang terletak di wilayah Sei Sikambing, namun sejak tahun 1975, hari lahir Medan mulai diperingati pada tanggal 1 Juli. Yang berarti riwayat Kota Medang telah melampaui usia lebih dari empat abad.

Laang Kota Medanmb
Lambang Kota Medan yang memiliki filosofi yang dalam

Bila mengikuti tanggal 1 April 1909, maka usia Medan hingga kini baru mencapai satu abad. Momentum tanggal 1 April diambil dari upaya kolonial Belanda yang memulai pembangunan Kota Medan sebagai kota yang modern sejak tahun 1909.

Di samping itu sebagai daerah pinggiran jalur pelayaran Selat Malaka, Medan memiliki posisi strategis sebagai gerbang (pintu masuk) kegiatan perdagangan barang dan jasa, baik perdagangan domestik maupun luar negeri (ekspor-impor). Posisi geografis Medan yang terletak pada 3°30’–3°43′ Lintang Utara dan 98°.35’–98°.44′ Bujur Timur ini, telah mendorong perkembangan kota dalam dua kutub pertumbuhan secara fisik, yaitu daerah Belawan dan pusat Kota Medan saat ini.

Populasi Kota Medan saat ini sekitar 2.46 juta jiwa. Namun pada siang hari, jumlah ini bisa meningkat hingga sekitar 15 hingga 20 persen dari jumlah populasi yang sebenarnya. Hal ini dipengaruhi oleh jumlah masyarakat komuter yang berasal dari luar kota Medan, yang beraktivitas di Kota Medan pada jam-jam kerja.

Potensi dinamisasi penduduk sangat penting bagi sebuah kota yang berpredikat mentropolitan. Tujuannya adalah untuk menggerakkan seluruh kegiatan kota, yang meliputi perdagangan, bisnis dan kegiatan administratif perkantoran. Peran komuter tentu sangat besar dalam memberikan kontribusi untuk membangun kota Medan ditinjau dari segi ketersediaan dan kesiapan tenaga kerja.

Kota multietnis

Pada dasarnya komposisi penduduk kota Medan terdiri dari: Subetnis Melayu, Jawa, Toba, Mandailing, Karo, Minang dan Aceh serta dari beberapa subetnis lainnya yang bermukim di Kota Medan. Di samping itu masih terdapat dari etnis keturunan India dan Tionghoa. Diperkirakan Kota Medan merupakan salah satu kota di Indonesia yang memiliki populasi orang Tionghoa yang cukup banyak.

Di samping memiliki pelabuhan laut, Belawan, maka sejak pertengahan 2013, Kota Medan juga telah memiliki sebuah bandara baru yang diberi nama Bandara Internasional Kualanamu atau Kualanamu International Airport (KNIA). Bandara ini dibangun untuk menggantikan Bandara Polonia yang telah beroperasi selama delapan puluh tahun lamanya.

Bandara yang diperkirakan dapat melayani dua puluh lima juta penumpang per tahun ini, terletak di Kecamatan Beringin, Kabupaten Deli Serdang, dengan jarak tempuh sekitar 39 kilometer dari Kota Medan.

Identitas Medan selalu melekat erat dengan Sumatera Utara. Medan merupakan ibukota yang menjadi representasi dari wajah Sumatera Utara yang heterogen serta dinamis dari segi perkembangan demografis dan etnografis.

Sebagai suatu wilayah fungsional di pusat kota, Kota Medan, dari sisi tingkat perkembangan dan jumlah penduduk, dipastikan sebagai kota metropolis. Ini bila diukur dari perspektif geografi dan demografi. Kondisi ini mewakili Sumatera Utara secara keseluruhan sebagai baian Kota Metropolitan.

Meskipun sudah menyandang predikat sebagai Kota Metropolitan, namun Kota Medan tidak boleh mengalami stagnasi dalam melakukan perbaikan-perbaikan. Banyak hal yang seyogyanya menjadi perhatian Pemerintahan Kota. Mulai dari penyediaan drainase yang baik, taman kota yang nyaman, pengelolaan sampah yang efektif hingga pencegahan banjir dan pengendalian kemacetan secara terintegrasi.

Selama ini Kota Medan telah menjadi pusat pertumbuhan dan pembangunan dalam wilayah Sumatera Utara. Kelebihan ini diharapkan dapat mempengaruhi daerah-daerah sekitarnya terutama kabupaten-kabupaten yang bersinggungan langsung dengan wilayah kota. Seharusnya perkembangan dan pembangunan Kota Medan akan menjadi prototipe bagi kota-kota lainnya yang merupakan saudara kandung Kota Medan, yang berinduk Sumatera Utara.

Konsep metropolitan

Dengan tingkat kerapatan penduduk sebesar rata-rata 8500 jiwa setiap kilometer serta didukung oleh jumlah angkatan kerja produktif, dapat dimanfaatkan sebagai modal dasar yang kuat bagi Kota Medan untuk dapat “terbang” lebih tinggi mengepakkan sayap menjadi suatu kota yang makmur. Sesuai dengan moto Kota Medan: “Bersama-sama dan sama-sama berkerja untuk kemajuan dan kemakmuran Medan Kota Metropolitan”.

Kota Medan bisa menjadi contoh yang baik dalam hal hidup rukun, damai dan saling menghormati. Terdapat berbagai agama yang dianut oleh masyarakat Kota Medan dengan pemahaman secara baik. Kerukunan beragama yang selalu terbina selama ini, membuat kota ini jauh dari permasalah konflik horizontal. Sehingga kota ini layak menyandang predikat sebagai kota yang relijius.

Konsep metropolitan yang disandang Medan, memang sudah seharusnya dipertahankan dengan mewujudkan sebuah kota representatif untuk segala sektor. Jangan sampai langkah maju ini tidak diikuti dengan pola pemerintahan yang terintegrasi dalam menangani permasalahan yang timbul di tengah kota yang terus berkembang. Berbagai “pekerjaan rumah” seorang kepala daerah selama ini, belum tertangani secara baik dan masih mengalami tumpang tindih, sehingga bertambah sulit untuk di tangani.

Reformasi birokrasi untuk memudahkan segala pengurusan yang berkaitan dengan pelayanan harus dilakukan secara tepat. Masyarakat tidak terbebani oleh berbagai tetek bengek yang tidak perlu, yang dapat menyita waktu dan dana. Demikian pula hal-hal yang berkaitan dengan pihak-pihak yang berkepentingan di dalam mendukung pengembangan usaha. Segala urusan harus benar-benar dapat berlangsung cepat dan tidak bertele-tele, karena ulah oknum aparat pemerintahan yang tidak profesional.

Jangan sampai terjadi, sikap dan kinerja aparat pemerintahan kota sebagai sumber persoalan yang menyebabkan timbulnya kontraproduktif. Yang menjadi penyebab perkembangan Kota Medan mengalami stagnasi dan jalan di tempat; karena status quo.

Sebuah kota metropolitan seyogyanya memiliki pola yang terus diuji efektivitasnya terhadap kemungkinan yang mana yang paling tepat untuk diterapkan. Bila tidak, maka, persoalan macet, banjir, penambahan ruang terbuka hijau, penanganan jalan rusak, pengelolaan sampah dan pengendalian lingkungan hidup tak akan pernah bisa dituntaskan.

Primemover

Sikap penduduk yang fanatik juga menjadi primemover yang dapat mendorong kota ini berjalan lebih cepat dari kota-kota lainnya. Namun hal ini sangat ditentukan bagaimana sistem manajerial pemerintahan dapat berfungsi dengan baik.

Masyarakat hanya bagian dari stakeholder yang tidak memiliki hak dalam menentukan dan mengambil keputusan. Pemerintahan dan perangkatnyalah yang harus berbuat lebih intens.

Beberapa kota-kota besar di Indonesia telah berpacu demikian cepatnya, baik dari segi pengembangana sarana dan prasarana, infrastruktur fisik dan nonfisik, maupun sistem informasi yang berbasis teknologi. Semuanya bertujuan untuk memudahkan pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan sekaligus memberikan kenyamanan.

Bila tidak ingin tertinggal terlalu jauh, maka Kota Medan perlu segera “move-on” menuju sistem manajemen yang lebih profesional, transparan dan memberikan ruang yang lebih besar lagi bagi partisipasi masyarakat untuk ikut bersama membangun kota tercinta ini…*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *