“Tribute Sutan Bhatoegana”; Selamat Jalan Sahabat Kami Tersayang

Pukul 08.00, hari Sabtu, tanggal 19 November 2016, Sahabat tercinta Sutan Bhatoegana telah dipanggil untuk menghadap keharibaan-Nya. Setelah didiagnosis menderita kanker hati, kondisinya makin hari semakin menurun, hingga berat badannya turun sampai sekitar 56 kilogram.

Tapi kepribadinya sangat kuat. Dia begitu tegar menghadapi apa yang dicobakan kepadanya saat itu. Termasuk ketika menerima vonis hukuman atas dirinya karena dianggap menerima gratifikasi sebagai pejabat negara.

Dua minggu sebelum jatuh sakit, Sutan mendapat kunjungan dari para sahabat yang menyayanginya ke Sukamiskin. Pada kesempatan tersebut, di depan teman-teman, dia menyempatkan diri untuk menelpon teman-teman lainnya yang tidak ikut datang. Tetap dengan suara khasnya; meledak-ledak. Meski sikapnya terkesan garang, tapi ianya bukanlah tipe pemarah; dia bukan tipikal pendendam, serta sangat mudah memaafkan.

Dalam keadaan sakit Sutan tetap ceria dan bersemangat menerima kunjungan rekan-rekan dan para sahabatnya yang datang menjenguknya. Meskipun ada penurunan drastis dari kondisi kesehatannya.

Bung Sutan Bhatoegana, selalu mengargai persahabatan
Sutan Bhatoegana, “sang demokrat” yang lantang, tegas dan tetap rendah hati

Sebelum musibah menimpanya dalam tuduhan kasus gratifikasi, kesehatan dan daya tubuhnya memang benar-benar prima. Walaupun kurang istirahat, dia tidak pernah mengalami sakit dan tidak pernah mengeluh sakit.

Istirahatnya hanya di dalam kendaraan yang membawanya dari tempat tinggal di Bogor, menuju Senayan tempat dia mengabdi sebagai wakil rakyat dari Partai Demokrat.

Bukan hanya ketika telah bekerja ataupun sebagai wakil rakyat, Sutan kurang istirahat. Kebiasaan kurang tidur juga dilakoni sejak di bangku kuliah.

Sosok pekerja keras

Sutan adalah sosok pekerja keras dan kreatif. Selalu ada ide baru yang dimilikinya untuk diwujudkan. Termasuk dalam hal mencari judul, membuat semboyan, menciptakan slogan dan lain sebagainya. Sutan pulalah yang melemparkan ide menyingkatkan nama Susilo Bambang Yudhoyono menjadi SBY, menjelang pemilu legislatif tahun 2004. Panggilan yang menjadi trademark hingga sekarang.

Pada pemilu 2004 Sutan mewakili Partai Demokrat dari daerah pemilihan 1 Lampung pada nomor urut 2 di bawah Atte Sugandi. Meskipun sebagai pendiri dan ikut menyusun nama-nama caleg yang akan diajukan kepada KPU, Sutan bukanlah pribadi yang ngotot untuk menempatkan dirinya pada ranking atas.

Lampung merupakan salah satu lokasi tempat dia menjalani tugasnya sebagai engineer lapangan di bawah bendera PT Teras Teknik Perdana. Di perusahaan ini pula dia meniti karir selama lebih dari 20 tahun lamanya hingga kemudian bisa meraih prestasi hingga masuk sebagai salah satu anggota top management.

Kisah kesholehan hatinya terus berlangsung jauh sebelum dia menjadi anggota DPR RI. Sutan selalu membantu pihak-pihak yang membutuhkan bantuannya secara ikhlas; tanpa pamrih. Kisah di Lampung adalah sebuah bukti begitu rendah hatinya dia.

Suatu hari menjelang magrib, seorang Ibu bersama anak perempuannya masuk ke halaman mes karyawan PT TTP, dan memohon bantuan sekadar uang yang akan dipergunakan sebagai ongkos untuk kembali ke desanya. Entah bagaimana tidak satupun, kala itu, yang tergerak hatinya untuk membantu kedua orang tamu tersebut. Si Ibu dan anak pergi berlalu menembus hujan yang sedang turun di senja itu.

Setelah waktu berlalu hampir sepuluh menit, Sutan seperti tersentak, dan beranjak bangkit dari tempat duduknya dan bergegas mengambil kedaraan untuk keluar menembus rintik hujan. Dia memacu kendarannya mencari di mana gerangan dua anak manusia yang tadi mampir di tempat tinggalnya.

Syukurlah di depan sebuah toko yang sudah tutup yang hanya berjarak sekitar tiga kilometer dari tempat tinggalnya, Sutan menemukan keduanya sedang berteduh.

Sutan mendekatinya dan memberikan uang sebesar Rp 50.000 rupiah kepada sang Ibu. Nilai yang cukup besar untuk ukuran mata uang, pada saat kurs satu dolar Amerika berada pada angka Rp 1.650. Semua berlaku dengan keikhlasan.

Sutan dan Partai Demokrat

Sutan telah banyak berbuat bagi Partai Demokrat. Sejak awal, bersama pendiri yang lain seperti: Vence Rumangkang, Yanni Wahid, Hari Purnomo, Sys NS, Profesor Subur Budhisantoso, Profesor Irzan Tanjung, Profesor Rusli Ramli dan lainnya, Sutan dengan semangat melaksanakan tugas, sejak dari proses pembentukan, verifikasi, pendaftaran di Kemeterian Menkumham, hingga mensosialisasikan partai baru ini ke beberapa wilayah di Indonesia. Semua menggunakan dana pribadi.

Tugas ini sangat memungkinkan diserahkan kepadanya, waktu itu, karena di antara pendiri yang paling mudah mengatur waktu, adalah dirinya. Sebagai salah seorang petinggi di PT Teras Teknik Perdana, Sutan memiliki kemudahan dalam mengatur waktu. Di samping memang, langkah Sutan mendapat dukungan dari para koleganya di perusahaan tersebut.

Bukan perkara mudah memperkenalkan Partai Demokrat kepada masyarakat, pada awal-awal kehadirannya. Saat itu, figur SBY mulai diperkenalkan sebagai ikon partai, meskipun belum sempat booming dalam respon.

Sebagai partai baru sangat tidak mudah untuk merebut hegemoni partai-partai yang lebih dulu lahir atau yang datang dari era ordebaru. Sehingga oleh karena itu dibutuhkan kerja ekstra untuk mencar-cari dan menawarkan siapa saja yang bersedia menjadi caleg dari partai tersebut.

Meskipun terkesan “main comot” sana sini, akan tetapi kualitas sumber daya manusianya tetap menjadi pertimbangan utama. Hal ini sesuai dengan semangat untuk menjadikan Partai Demokrat, sebagai partai cerdas dimana sebagian di antara pendirinya merupakan akademisi; berasal dari kampus terkemuka

Sutan Bhatoegana menjalani pengabdiannya sebagai wakil rakyat selama dua periode. Dalam pemilu legislatif tahun 2009, Sutan, terpilih kembali sebagai caleg dari daerah pemilihan (Dapil), Sumatera Utara I. Banyak hal yang telah diberikannya bagi Sumatera Utara. Beberapa kali Sutan meminta direksi PLN dan manajer wilayah Sumatera Utara, untuk menjaga agar jangan terjadi lampu mati.

Di hati sahabat, teman dan rekannya pribadi ini sulit untuk dilupakan. Rapat komisi ataupun dengar pendapat yang dilaksanakan di DPR RI, menjadi hidup bila dia hadir di dalamnya: “nggak ada loe, nggak rame! Di mata karyawan Sekretariat serta anggota satuan pengaman dan petugas kebersihan DPRRI, dia juga sangat dekat, dan tidak pernah lupa menyapa ketika keluar dan masuk ke gedung rakyat tersebut, bila berpas-pasan.

Kini “Sang Politikus Yang Rendah Hati” itu telah pergi untuk selama-lamanya. Karyanya tetap tercantum dalam sejarah berdirinya Partai Demokrat. Dia seorang pekerja keras, periang dan tidak pernah mebedakan siapa pun yang menjadi teman dan sahabatnya.

Selamat jalan Bung Sutan Bhatoegana Siregar, anda adalah sahabat, teman dan rekan terbaik yang pernah hadir mengisi keceriaan dalam hari-hari kehidupan kami.…**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *