Untaian Kisah Duka Di Persada Tanah Rencong

Hari itu, Selasa, 1 Juli 1969, bumi Aceh bergetar keras menghentak-hentak bangunan hingga rubuh satu persatu. Jalan dan tanah ikut terbelah. Kalimat tahlil serempak menghiasi lisan setiap penduduk Aceh pesisir, mulai dari Panton Labu hingga Kabupaten Pidie.

Ini adalah salah satu gempa dahsyat yang pernah meluluhlantakkan bentangan pesisir timur Aceh, sebelum datang peristiwa tsunami menyapu bersih daratan Aceh pada 26 Desember 2004, sembari merenggut nyawa lebih seratus lima puluh ribu manusia dan tak terhitung harta benda.

Kala itu, hampir semua masyarakat awam percaya bahwa ada kerbau jantan penghuni Gunung Enang-enang yang sedang murka berat kepada manusia. Maka dia pun mengeliatkan badannya sehingga memicu terjadinya gempa bumi.

Tidak ada yang mengetahui tentang skala richter, yaitu, skala pengukur kekuatan gempa yang ditemukan oleh Charles Francis Richter; ataupun skala MMI (Modified Mercally Intensity), yang dicetuskan oleh Giuseppe Mercalli; dan bahkan entah apakah gempa itu tektonik ataupun vulkanik.

Kisah memilukan tentang Gempa Aceh

Duka Aceh kembali berulang menyelimuti seluruh perasaan anak negeri

Tak ada yang peduli tentang itu. Tak ada surat kabar. Apalagi televisi. Berita tentang kerusakan hanya diperoleh dari masinis kereta api Aceh yang mundar mandir menjalankan trayek Besitang (Sumut) hingga Sigli (Kabupaten Pidie). Orang-orang kereta api lah yang menyampaikan pesan secara berantai.

PJKA (Perusahaan Jawatan Kereta Api), adalah salah satu instansi yang memiliki alat telekomunikasi telepon model putar waktu itu. Yang memang dipergunakan untuk menginformasikan tentang jam keberangkatan kereta api uap kepada stasiun berikutnya .

Tiga hari setelah gempa bumi. Kami sekeluarga berangkat ke kampung halaman tempat Ibu kami berasal, Jangkabuya. Di sini pula beberapa tahun setelahnya, kami melihat coretan tanggal kejadian gempa, pada dinding salah satu kedai di Pasar Jangkabuya yang ditulis seseorang.

Dari Lhokseumawe, naik kereta api di stasiun Pasai Gambe, menuju ke arah barat, menyusuri kecamatan, dan perkampung yang berjejer berkelindan hutan kecil, kebun dan persawahan.

Kepiluan sepanjang perjalanan

Sejak keluar Peukan Cunda sudah terlihat pemandangan yang memiriskan. Masyarakat korban musibah gempa benar-benar sedang dirundung nestapa. Mereka sedang merasakan kepiluan yang luar biasa.

Jalan-jalan pecah terbelah dua, bangunan di kiri kanan sepanjang perjalanan, rata dengan tanah. Yang tersisa hanya rumah-rumah berbahan kayu.

Wajah murung menyelimuti masyarakat. Puing-puing tak mampu dibersihkan dengan segera. Tidak ada alat berat, tidak ada kendaraan yang bisa membantu memindahkan pecahan bata yang berserakan.

Bantuan dan sokongan hanya alakadarnya dari masyarakat sekitarnya yang luput dari musibah. Sisanya mereka hanya mengadu kepada yang di atas, sebagai tempat mencurahkan rasa sedih yang sedang menimpanya.

Pengurusan mayat pun dilakukan dengan cara sederhana, mengikuti rukun-rukun yang berlaku menurut syariat Islam. Tidak ada air mata yang tersisa untuk dikeluarkan. Semua telah mengering, semua telah pasrah terhadap kenyataan yang ada.

Gempa adalah sunatullah akibat dari pergeseran lempeng-lembeng bumi yang belasan jumlahnya. Sebagian terdapat di dasar samudera dan adakala terhampar di daratan.

Masing-masing lempeng bergerak sesuai arahnya dengan kecepatan sangat relatif. Berkisar antara 5 hingga 10 sentimeter pertahun. Terkesan lambat, tapi terus bergerak dinamis dan tak beraturan.

Ada yang berlawanan ekstrem, adapula yang saling menekan sambil bergesekan ke arah yang berlawanan. Di sana terdapat bidang pengunjaman yang pada suatu saat akan berakhir dengan patahnya salah satu lempeng yang menyebabkan timbulnya enerji yang sangat besar. Besar kecil enerji yang dilepaskan akan menetukan besarnya getaran yang akan dirasakan di permukaan..

Besarnya getaran diukur dalam skala Richter, yang berasal dari nama penemu alat pengukur gempa. Dan berdasarkan penetapan MMI sebagai simpulan dari level tingkat getaran yang terjadi.

Semakin besar skala Richter, semakin kuat pula getaran yang terjadi. MMI diukur berdasarkan tingkat kekuatan merusak dari goncangan yang dimiliki. Hampir tidak ada korelasi di antara kedua parameter tersebut. Yang satu mengukur kekuatan getaran, sedang satu lagi “menduga” tingkat kerusakan.

Sesar Semangko

Pulau Sumatera memang rawan gempa. Mulai yang bersumber di lautan dari pertemuan lempeng Indo-Autralia dan Eurasia yang membentang sepanjang pantai barat, hingga yang bersumber di daratan yang memanjang mulai dari Teluk Semangko Provinsi Lampung, hingga Kecamatan Darul Imarah di Provinsi Aceh. Manusia Sumatera hidup di atas lempengan yang menyimpan potensi gempa.

Hakikatnya gempa tidak membunuh. Tapi reruntuhan bangunan akibat gempa akan menjadi alat untuk melukai dan bahkan melenyapkan nyawa makhluk-makhluk yang tertimpa olehnya.

Rabu, 7 Desember 2016, pukul 05.05 pagi, bumi Aceh kembali dikejutkan dengan goncangan luar biasa besarnya. Dalam skala Richter disebutkan mencapai 6,4 atau diperkirakan  dengan skala kerusakan sekita 6 MMI.

Dengan kedalaman yang relatif dangkal, hanya 10 kilometer di bawah permukaan laut, membuat gempa ini sangat merusak. Meskipun demikian gempa bumi dan tsunami yang terjadi 26 Desember 2004 adalah yang terbesar sepanjang sejarah Aceh, dan salah satu terbesar yang pernah terjadi di dunia. Merupakan tsunami kedua yang melanda Aceh, setelah tahun 1907.

Semua musibah membawa duka yang dalam; meninggalkan kenangan pedih yang tetap terus membekas. Kehilangan selalu akan mengundang duka dan nestapa; pilu dan derita. Sepanjang jalan dari Kabupaten Bireuen hingga Kabupaten Pidie hampir tidak ada bangunan yang bisa tegak berdiri utuh. Semua seperti bersujud keharibaan sang Pemilik jagad raya ini.

Gempa 7 Desember 2016 yang melanda pesisir timur Aceh, mengingatkan kembali kejadian yang sama, pada empat dasawarsa yang lalu. belum kering air mata, belum hilang luka yang menyayat, belum lepas kesedihan dalam hati. Belum lupa tsunami yang melanda, belum lupa gempa Simeulue, belum lupa gempa Aceh Tengah belum pula lupa gempa Bener Meriah, belum pula lupa gempa di Aceh Besar. Kini gempa Pidie Jaya, kembali mengundang pilu dan nestapa.

Manusia hanya mampu menerima dan berdoa, sisanya adalah hak dari yang Maha Kuasa, yang bisa menetapkan segalanya sesuai dengan kehendaknya, sembari mengucapkan istirja’: “Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun…., Allahumma’ jurni fii mushibati wa akhlifli khairan minha“. Sesungguhnya yang datang dari Allah, maka kepada-Nya jua akan kembali…., Ya Allah berilah pahala bagiku dalam musibah ini dan berilah ganti dengan yang lebih baik dari kejadian ini”….**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *