Menakar Peluang Dalam Pilkada Aceh 2017 (1)

Pilkada serentak untuk beberapa daerah di Indonesia, ikut memengaruhi iklim politik di Aceh. Pascapenetapan calon kepala daerah oleh KIP, laju perubahan politik kian menjadi fenomenal. Sangat dinamis.

Pemilihan gubernur dan wakil gubernur untuk memimpin Aceh lima tahun ke depan, menjadi fokus yang sangat menarik untuk diikuti. Bahkan seorang yang tak begitu “hobi” berpolitik pun ikut-ikutan menjadi analis di arena meja kopi.

Kedai kopi di Aceh adalah tempat yang paling sering dijadikan ajang diskusi untuk semua hal. Mulai dari pertandingan sepakbola level dunia, ekonomi, sosial hingga masalah politik. Maka jika seseorang ingin mendapatkan informasi penting tentang Aceh, “ngetem“lah berlama-lama di dalam kedai kopi.

Orang yang datang silih berganti, masing-masing membawa berita tentang apa yang diketahuinya. Kemudian dilemparkan ke tengah forum informal, dan tentu saja akan menjelma sebagai bahan diskusi yang berkepanjangan.

Merebut prestisius di tanah rencong
Pilkada Aceh: antara ambisius, prestisius dan kekuatan basis masa

Dalam diskusi ini tidak ada moderator, notulen ataupun panelis yang dibentuk. Semua berlangsung multiarah. Siapa pun boleh menanggapi, menambah atau membantah apa yang berkembang.

Para “peserta” diskusi ada yang memang memiliki metode dan alat analisis yang memadai, ada yang cukup hanya mengandalkan kemampuan berkomunikasi dan ada pula yang “asal hajar”.

“Pat-pat nyang didong didonglah”, kalau diartikan secara letterlijk, di mana berhenti berhentilah. Maksudnya, tak terlalu menghiraukan dampak yang akan timbul dari ucapan atau perbuatannya.

Belakangan ini, hampir seluruh kedai kopi di Aceh, hangat kita temukan diskusi tentang pilkada gubernur. Topik ini mengalahkan analisis tentang pertandingan el-clasico, Real Madrid vs Barcelona, ataupun tentang babak kualifikasi Piala Dunia 2018 untuk zona Eropa dan Amerika yang saat ini sedang berlangsung.

Ada enam pasang calon gubernur dan wakil gubernur yang sudah siap bertarung menuju singgasana pemerintahan Aceh untuk periode 2017-2022. Semua kandidat kelihatannya memiliki kapabilitas sesuai dengan urgensi masing-masing.

Setidak-tidaknya ada tiga pasangan calon yang menurut amatan masyarakat, memiliki basis dukungan yang cukup kuat dan merata di seluruh Aceh.

Ada bebarapa faktor yang dapat dijadikan alasan untuk melukiskan peta kekuatan mereka. Ketokohan, pengalaman, popularitas, dan latar belakang dan dukungan politik yang sudah terbentuk

Terdapat pula beberapa pertimbangan yang berkaitan dengan konstelasi politik Aceh sejak MoU perdamaian ditandatangani 15 Agustus 2005, hingga hari ini. Masih ada eforia dan benang merah yang menghubungkan antara masa konflik (tuntutan merdeka) dan kekinian Aceh, terutama di kalangan kombatan GAAM sendiri.

Tarmizi Karim

Tarmizi Karim adalah mantan Bupati Aceh Utara yang sudah berproses hingga pernah dipercayakan pemerintah pusat untuk menjabat sebagai Pejabat (Pj.) Gubernur Kalimantan Selatan dan sebagai Pj. Gubernur Aceh.

Popularitas TK tidak perlu diragukan lagi, baik di kalangan masyarakat umum maupun di kalangan ulama pesantren. TK memiliki kelebihan yang belum dimiliki oleh cagub yang lain. Menjadi khatib dan imam adalah sesuatu yang biasa dilakukannya di mana pun dia berada. Barangkali hanya Doter Zaini Abdullah yang bisa melakukan sebagai yang diperankan TK.

Sehingga nilai tambah TK menjadi momok tersendiri bagi kompetitor lainnya. Bahkan di usianya yang sudah mencapai 60 tahun TK masih bisa mempersembahkan gelar doktor ilmu Alquran yang diraihnya dari IIQ, Jakarta.

Banyak keunggulan yang dimiliki TK, antara lain: dekat dengan pusat, berasal dari jalur birokrat, berpendidikan prestisius, berpengalaman memimpin daerah kabupaten dan provinsi, serta sangat dekat dengan para ulama.

Muzakir Manaf (Mualem)

Mualem, panglima GAM, memiliki basis yang didukung oleh mantan anggotanya. Ketika sebagai wakil gubenur periode sebelumnya, Mualem tetap memelihara hubungan komando dengan jajaran GAM yang ada di bawahnya, di seluruh Aceh. Apalagi Mualem adalah Ketua Umum Partai Aceh, yang mendominasi hampir seluruh DPR yang ada di kabupaten dan kota serta DPR Aceh.

Ini modal dasar yang kuat bagi Mualem dalam membangun pemerintahan yang stabil jika terpilih nanti. Di samping itu, meskipun muncul faksi yang menyebabkan GAM terbelah, akan tetapi basis masa GAM masih cukup solid untuk mendukung PA, terutama di pedesaan.

Belakangan Mualem berhasil meyakinkan pentolan GAM yang pernah mebelot keluar dari garis komando, untuk kembali ke “pelukannya”. “Pulang ke rumah sendiri”; “jak wo u rumoh dro”. Demikian ungkapan sesama mereka.

Dia juga tidak sungkan-sungkan menimpakan kesalahan kepada Malik Mahmud atas disharmoni hubungan antara dia dan anak buahnya selama ini.

Tiga kali pileg dan dua kali pilkada menjadi bukti kuat, bahwa GAM yang bernaung di bawah bendera Partai Aceh, masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.

Irwandi Yusuf

Mantan gebernur 2007-2012, Irwandi Yusuf (IY), tidak kurang pula memiliki tempat yang baik di kalangan GAM dan masyarakat Aceh. Terobosan IY di sektor kesehatan dan pendidikan ketika menjadi gunernur, membuat dia menjadi pioner yang mampu memberikan pengobatan dan biaya sekolah gratis.

Bermula dari nekad, namun bisa terwujud dalam bentuk nyata. Ketika menggagas ide tersebut belum terlihat dari mana sumber dana yang akan dipergunakannya untuk memberikan pengobatan dan pendidikan gratis bagi masyarakat Aceh. Mulanya asal njeblag, tapi akhirnya jadi barang itu.

Modalnya pun cukup hanya dengan menunjukkan KTP Aceh. Tidak perlu syarat yang lain, untuk berobat di puskesmas dan rumah sakit. Begitu mudahnya.

Tipikal gaya kepemimpinan IY banyak disukai oleh sebagian masyarakat Aceh. Latar belakang pendidikan lumayan baik, —mantan pengajar di Fakultas Kedokteran Hewan, Unsyiah—, membuat IY bisa masuk ke dalam wilayah pemilih terpelajar dan kelas menengah ke atas. Bersaing dengan TK di wilayah perkotaan.

Bila Muzakir Manaf, lebih mengandalkan suara masyarakat akar rumput, Irwandi, malah lebih optimis dengan masyarakat perkotaan. Meskipun di pangsa ini ada Tarmizi Karim dan Abdullah Puteh yang juga berpeluang untuk mengais suara di sini. (Bersambung).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *