Menakar Peluang Dalam Pilkada Aceh 2017 (2-habis)

Dokter Zaini Abdullah (ZA) dan Zakaria Saman (ZS), memiliki basis pemilih di wilayah yang sama, yaitu, Kabupaten Pidie. Tetapi konstituen wilayah ini juga ikut diperebutkan oleh tiga kandidat lainnya.

Sebagai Menteri Kesehatan dan Menteri Pertahanan dalam pemerintahan Atjeh-Sumatera National Liberation Front (ASNLF), yang dipimpin oleh Wali Nanggro, Teungku Hasan Tiro (alm.), ZA dan ZS, memilih hidup lebih lama di pengasingan, Swedia. Sehingga popularitas keduanya tidak terbaca di kalangan masyarakat Aceh.

Keduanya kalah populer dibandingkan Muzakir Manaf, sebagai Panglima Angkatan Bersenjata GAM, yang menggantikan Teungku Abdullah Syafii, setelah syahid dalam sebuah kontak senjata di wilayah Pidie, tahun 2002.

Aceh Utara sudah jelas dimiliki oleh TK, Mualem dan IY. Ketiganya berasal dari kabupaten induk yang sama, Aceh Utara. Meskipun IY bisa mendominasi Kabupaten Bireuen, tapi TK dan MM juga memiliki masa tersendiri di sini. Ada sel-sel yang sudah lama dibangun untuk merangkul para pendukung di daerah ini.

Merebut prestisius di tanah rencong
Pilkada Aceh: antara ambisius, prestisius dan kekuatan basis masa

Sebaran daerah potensial

Dataran tinggi dan sebagian pesisir pantai barat Aceh, bisa jadi dimiliki IY. Calon wakil gubernur Nova Iriyansyah, memiliki keterkaitan emosional di dataran tinggi. Orang tua Nova memang berasal dari Aceh Tengah.

Sebagai mantan anggota DPRRI dari dapil 1 Aceh, Nova juga memiliki modal untuk bisa meraih pemilih di sepanjang pantai barat. Kiprah semasa menjadi wakil rakyat, akan sangat menentukan bagaimana respon masyarakat terhadap dirinya.

Namun demikian Nova tidak sendiri, karena ada Nasaruddin yang merupakan Bupati Aceh Tengah selama dua periode (2007-2012) dan hingga sebelum mencalonkan menjadi wakil gubernur berpasangan dengan Dr. Zaini Abdiullah, masih menjabat sebagai bupati. Serta Machsalmina yang menjadi pasangan TK dalam pilkada kali ini.

Pengaruh Irwandi, Nova dan Nasaruddin sangat terasa di dataran tinggi. Irwandi berperan membuka isolasi dataran tinggi dan pantai barat selatan, dan menggunakan teknokrat asal daerah tersebut untuk berkiprah di dalam pemerintahannya, ketika menjadi gubernur.

Tarmizi Karim sebelum menjadi Bupati Kabupaten Aceh Utara, pernah bertugas di Aceh Tengah untuk mengurus koperasi, meninggalkan kesan yang kurang manis bagi masyarakat di sini. Apalagi terakhir ketika menjadi Pj. Gubernur Aceh, TK menempatkan orang Aceh Utara untuk memimpin Dinas Pekerjaan Umum di Aceh Tengah.

Keputusan ini dinilai kalangan, kurang bijak, dan mengundang multitafsir di masyarakat Aceh. Karena masih banyak tenaga profesional yang ada di lingkungan Pemkab Aceh Tengah dan Bener Meriah, yang memiliki disiplin ilmu terkait dengan pekerjaan tersebut.

Aceh Utara yang pernah kebanjiran dolar, tidak membuat daerah ini melejit dalam segi pembangunan. Terdapat lima objek vital yang siap untuk diajak berpartisipasi di segala bidang. Namun hingga terjadi pemekeran pada tahun 2000, daerah ini telah menyia-siakan keberadaan industri raksasa yang hadir di daerah ini. Kecuali jalan raya sepanjang kurang dari 20 kilometer yang dibangun atas inisiatif sendiri PT Arun bersama PT Pertamina.

Padahal kala itu terdapat begitu besar peluang untuk membangun gedung sekolah, rumah sakit serta fasilitas lainnya yang dibutuhkan oleh pemerintah dan masyarakatnya Aceh Utara.

Daerah lain yang mungkin bisa dijadikan lumbung suara bagi TK adalah Aceh Besar. Istri TK berasal dari sana, dan merupakan keluarga dari seorang ulama yang disegani. Namun TK tidak sendirian. Mualem dan IY atau ZS dan ZA juga punya pendukung tersendiri di sini.

Pasangan TK dan Machsalmina masih berpeluang merebut suara pantai barat – selatan dan akan bersaing dengan Machasalmina pernah menjadi Bupati Aceh Selatan selama dua periode ((1998-2003) dan (2003-2008). Meskipun demikian Mualem, serta IY bersama Nova tidak mudah begitu saja ditaklukkan di sana.

Abdullah Puteh (AP)

Mantan gubernur Aceh periode 2000-2004 ini, masih memiliki taji di Aceh. Banyak di antara pendukungnya yang merasa kesal ketika AP diciduk petugas untuk doboyong ke Jakarta, atas tuduhan korusi. Atas sangkaan tersebut, tahun 2005 AP diganjar sepuluh tahun penjara dan kemudian mendapatkan bebas bersyarat pada tahun 2009.

AP yang banyak menghabiskan waktunya hidup di ibukota, Jakarta, pernah menjadi Ketua Umum KNPI (1984-1987). Pada masa orde baru, AP dikenal sangat dekat dengan tokoh-tokoh penting Golkar, partai yang berkuasa saat itu.

Dia juga dikenal sangat dekat dengan DR. Abdul Gafur, yang dipercayakan Presiden Soeharto sebagai Menteri Pemuda dan Olah Raga dalam Kabinet Pembangunan IV, tahun 1983-1988. Dalam jajaran Dewan Pimpinan Pusat Golkar, AP pernah dipercayakan sebagai salah satu Wakil Sekjen.

Pemetaan kekuatan AP, lebih banyak di wilayah Aceh Timur, yang merupakan tanah kelahirannya dan sebagai tempat karir birokrasinya bermula. Untuk menguasai Aceh Timur, AP bersinerji dengan Nektu, mantan Wakil Panglima (Gerakan Aceh Merdeka GAM, Wilayah Peureulak, yang juga mencalonkan diri sebagai Bupati Aceh Timur (2017-2022).

Dengan segudang pengalaman organisasi yang dimilikinya, AP mendapatkan nilai tambah tersendiri di mata masyarakat, terutama para mantan aktivis mahasiswa dan pemuda, termasuk dari masyarakat Aceh Timur yang merindukan figurnya.

AP juga berhasil meraih gelar doktor dalam usia yang tidak muda lagi. Dan mendapatkan penghargaan MURI sebagai figur yang bisa menyelesaikan gelar tersebut dalam keadaan sebagai terpidana.

Pernah tersangkut masalah korupsi menjadi catatan kelam yang ikut memengaruhi persepsi masyakat pemilih terhadap dirinya. Meskipun masyarakat Aceh Timur dikenal fanatik kepada putra daerah, namun tidak mudah bagi AP untuk menahan lajunya Mualem, atau juga barangkali, IY, di daerah ini.

Pilkada yang sehat

Tanpa ingin mengecilkan arti kehadiran ZA dan ZS, ataupun AP, maka pertarungan TK, Mualem dan IY menarik untuk disimak. Jika pilkada berlangsung jurdil dan bebas pelanggaran, maka dapat dipastikan kompetisi ketiga cabub ini akan berlangsung ketat. KIP sebagai penanggung jawab pelaksanaan pilkada, dan Panwaslu, harus menempatkan diri secara independen dan tidak mudah diatur dengan materi atau berupa uang.

Dalam pilkada yang sehat, selain faktor figur, maka timses masing-masing pasangan ikut menentukan arah dari peta kekuatan bagi seluruh cagub dan cawagub. Seberapa besarnya efektivitas kinerja timses, akan berbanding lurus dengan hasil yang akan diperoleh.

Memang sangat sulit untuk menakar pasangan calon gubernur dan wakil gubernur serta menebak siapa yang akan keluar sebagai pemenang, hingga datang hari penetapan dari KIP.

Di era yang sedang mengangungkan kaum muda untuk berkiprah dalam jabatan publik, meskipun tidak terlalu muda lagi IY (56 tahun) dan Mualem (52 Tahun), berkemungkinan besar akan melakukan pertarungan berikutnya di putaran kedua pilkada.

Namun satu hal yang perlu diingat, siapa pun yang muncul sebagai pemenang, maka dia adalah gebernur dan wakil gubernur bagi seluruh masyarakat Aceh. Figur yang kalah seharusnya ikut berperan untuk menjaga keutuhan hubungan antarpendukung.

Membiarkan gesekan horizontal pada setiap usai pilkada akan membuat daerah ini semakin rapuh, terpuruk dan sulit untuk maju. “Lam udep ta meusare, lam meugle ta meubila; lam lampoh ta meutulong alang, lam meublang ta meusyedara….*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *