Thailand Macan Asia Tenggara Yang Sulit Dijinakkan

Negara Asia Tenggara memiliki timnas masing-masing yang kemampuannya setara. Semua tim pernah saling bertemu dan pernah pula saling mengalahkan satu sama lainnya.

Yang masih agak tertinggal hanyalah Timor Leste, Brunei Darussalam dan Filipina. Akan tetapi yang disebut terakhir ini, mulai bangkit sebagai kuda hitam di pelataran sepakbola Asia Tenggara.

Revolusi sepakbola Filipina menjadi perhatian serius dari tim lainnya dalam rumpun Asia Tenggara. Dengan banyaknya pemain naturalisasi, membuat Filipina mampu membangun timnas, yang kapan saja bisa menjadi batu sandungan bagi tim lainnya.

Indonesia pun pernah mengalami kepahitan setelah ditekuk Filipina 4-0, dalam laga leg kedua Piala AFF 2014, di Stadion My Dinh, Hanoi. Kisah sukses pernah menguliti Filipina dua belas tahun yang lalu dengan skor 13-1, menjadi sirna diterpa angin lalu.

Juara AFF Suzuki Cup 2016

Kemenangan yang mengesankan sebagai persembahan kepada Raja Maha Vajiralongkorn

Sejak itu, tim “anjing hibrida” ini terus memberikan jawaban baru di dalam lembaran sepakbola Asia Tenggara dengan permainan yang menakjubkan.

Perlu dicatat bahwa terdapat sekurang-kurangnya empat tim yang pernah berjaya menjuarai perhelatan bergengsi tingkat asia Tenggara ini. Yaitu: Thailand sebanyak lima kali juara (1996, 2000, 2002, 2014, 20160; diikuti, Singapura (1998, 2004, 2007, 2012); Vietnam dan Malaysia, masing-masing satu kali juara tahun: 2008 dan 2010.

Macan Asia Tenggara

Thailand memang tangguh dari sononya, dan terus konsisten menjaga performa permainannya meskipun regenerasi terus berproses; meskipun pelatih terus datang silih berganti. Tidak ada pengaruh yang sangat besar.

Dengan menoreh prestasi menggapai juara sebanyak lima kali, sudah cukup bukti untuk mengukuhkan eksistensi mereka sebagai “Macan Asia Tenggara”. Tim Thailand memiliki segalanya untuk membuatnya ditakuti pada setiap penampilannya. Kekuatan, teknik dan semangat juang yang tinggi.

Talenta anak negeri gajah putih, yang memiliki populasi 68 ribu jiwa ini, terbilang sangat baik, dan dengan kemauan keras serta disiplin yang dimiliki oleh setiap pemainnya, membuat siapa saja yang menjadi pelatih dengan mudah dapat membentuknya.

Demikian juga Singapura yang hanya memiliki populasi sebesar 5,5 juta jiwa, namun sangat mudah mencari pemain berbakat untuk disiapkan membela martabat negaranya melalui sepakbola.

Sementara Indonesia dengan populasi lebih dari seperempat miliyar, ternyata sangat sulit mencari pemain yang mampu menorehkan prestasi yang gemilang di panggung internasional sepakbola. Ironis memang.

Kemenangan Thailanda atas Indonesia pada leg kedua pertandingan final AFF Suzuki Cup 2016, menjadikan tim ini sangat sulit ditaklukkan di kandang sendiri. Baru hanya Vietnam yang bisa menghilangkan aura keramat Stadion Rajamanggala, Bangkok, dan sekaligus  menguburkan niat Thailand dalam pertandingan final AFF tahun 2008 untuk menyabet gelar juara.

“Gajah Perang”

Indonesia yang hanya menjadi pelanggan runner up, menjadikan negeri ini sebagai tim yang paling banyak meraih gelar ranking dua tersebut. Yaitu sebanyak lima kali (2000, 2002, 2004, 2010, 2016); menyusul Thailand sebanyak tiga kali (2007, 2008, 2012); Malaysia (1996, 20140); dan Vietnam (1998).

Thailand benar-benar telah memeragakan permainan bebas nan fleksibel dari pola total pressure football ala “Gajah Perang”. Masing-masing pemain memiliki kemampuan yang sama untuk mengisi posisi mana pun juga. Mereka dengan bebas saling berganti posisi, dan terus memanfaatkan lebar lapangan secara optimal.

Formasi sepanjang pertandingan, penuh dengan improvisasi. Selalu berubah-ubah sesuai dengan keinginan pemain di lapangan. Tiap anggota skuad, siap menjadi penyerang dan selalu siap menjadi pemain bertahan.

Pelatih Thailand tampak tak terlalu menghiraukan formasi apa yang sedang dipertunjukkan oleh anak asuhnya. Yang terpampang adalah “derita” Indonesia yang sepanjang dua kali empat puluh lima menit, hanya bertahan dari gempuran anak-anak Thailand yang menguasai lebih dari separuh lapangan pertandingan.

Angka 2-0 adalah angka keberuntungan bagi Tim Indonesia. Karena sangat sulit membayangkan berapa skor yang pantas untuk sebuah pertandingan yang “berat sebelah”.

Keberuntungan lainnya adalah, —tanpa mengurangi peran pemain lain—, Indonesia memiliki pemain sekelas Kunia Meiga Hermansyah dan Hansamu Yama Pranata, yang selalu berjibaku dan siap mati mempertahankan kekbobolan yang lebih banyak lagi.

Boaz Salosa yang ditinggal sendirian di daerah pertahanan Thailand, tak berkutik di bawah kawalan palang pintu Thailand yang digalang Theeratorn Bunmathan yang liar, dan sering meninggalkan posisi murninya. Dampaknya Boas hanya berlari dan terus berlari mengejar bola yang “disapu” sembarangan menjauh dari daerah pertahanan Indonesia.

Persembahan untuk sang raja

Permainan taktis, anak-anak raja ini telah menempat diri mereka pada level kualitas yang mempesona. Indonesia dengan beban mental yang begitu berat, tak bisa mengembangkan permainan secara sempurna. Permainan taktis Thailand dijawab dengan gagap oleh anak-anak Indonesia.

Melayani Thailand yang memiliki fisik prima, membuat anak-anak Indonesia kehilangan orientasi. Ujung-ujungnya permainan menjadi tidak berpola. Tak ada celah untuk mereduksi permainan Thailand dengan menurunkan tempo permainan.

Bola yang dilepas ke area pertahanan Thailand, selalu membal dan kembali masuk ke wilayah Indonesia, berkali-kali. Sehingga Kawin Thamsatchanan yang berada di bawah mistar Thailand, bisa bersantai sambil menyeruput kopi panas, karena nyaris tidak ada tembakan pemain Indonesia yang sampai ke mulut gawangnya.

Dengan pengalaman mampu menahan imbang Australia pada November 2015 lalu, membuat Thailand benar-benar merupakan tim yang digdaya di kawasan Asia Tenggara.

Thailand yang tak pernah kehabisan talenta, terus membangun timnya ke arah yang menjanjikan untuk lebih percaya diri berbicara di tingkat Asia.

Dengan kualitas fisik, mental dan skill yang terus diasah, rasanya bukanlah hadiah jika Thailand keluar sebagai juara AFF 2016, setelah menyarangkan dua gol ke gawang Kurnia Meiga.

Kemenangan ini menjadi sangat berarti, sebagai persembahan pertama dari Tim Nasional Thailand kepada sang pemimpin baru, Raja Maha Vajiralongkorn Bodindradebayavarangkun, yang naik tahta pada 1 Desember 2016, menggantikan ayahandanya Raja Bhumibol Adulyadej, yang mangkat pada 13 Oaktober 2016….**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *